Summer Course FPP UMM Diikuti Mahasiswa Jepang hingga Filipina

Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyelenggarakan Summer Course Internasional 2025. Belasan mahasiswa dari berbagai negara ASEAN dan bahkan Jepang ikut serta. Mulai dari mereka yang berasal dari kampus Universiti Putra Malaysia, Universiti Sultan Zainal Abidin, Kasetsart University, Prince of Songkla University, Western Philippines University, hingga Itchy University, Jepang. Ini juga menjadi cara FPP UMM berikan pengalaman intrnasional bagi para mahasiswanya. Program yang berlangsung pada 19-29 Agustus ini menghadirkan berbagai pakar dan memberikan beragam workshop untuk meningkatkan kreativitas mahasiswa. Mereka bahkan diberi materi teori design thinking  untuk mempersiapkan penelitian di beberapa lokasi proyek. Hal menarik yang bisa ditemui dalma summer course ini adalah dinyanyikannya lima lagu kebangsaan, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Jepang. Ini juga sekaligus menjadi simbol semangat kebersamaan antar bangsa. “Program ini menjadi wadah yang tepat bagi para mahasiswa untuk mengembangkan inovasi dan potensi diri. Teman-teman mahasiswa akan diajak langsung ke lokasi-lokasi proyek lalu mengembangkan prototipe yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Wakil Rektor IV UMM Salis Yuniardi, Ph.D. dalam sambutannya. Para peserta summer course juga diajak ke beberapa lokasi di Batu. Mulai dari petani jamur, kebun wortel, dan peternakan. Dari situ, mereka menciptakan sederet prototipe yang menarik. Salah satunya Ergonomic Sorting Table yang hadir dengan desain baru dan lebih efisien serta cepat untuk mendukung proses produksi wortel. Mesin ini dilengkapi penutup celah berbahan karet untuk menjaga wortel tetap utuh, penampung di bawah mesin agar wortel tidak tercecer, serta tangga untuk memudahkan akses pekerja. Selain itu, terdapat konveyor yang berfungsi sebagai jembatan penghubung dari keranjang wortel menuju area sortasi. Meja kerja dirancang sebagai stasiun khusus bagi penyortir dan pengemas, di mana wortel dapat tersebar merata di atas meja sehingga proses sortasi lebih mudah, cepat, dan nyaman. Dengan Ergonomic Sorting Table, tenaga kerja menjadi lebih efektif, produksi meningkat, dan keuntungan pun bertambah besar. Ada empat tahap yang diikuti oleh para peserta. Diawali dengan sense & sensibility, proses orientasi desa dan interaksi dengan masyarakat. Kemudian juga ada empathy, ideation, prototyping, hingga presentasi proyek yang sudah dilakukan. Pada penutupan, Dekan FPP UMM, Prof. Dr. Ir. Aris Winaya menyampaikan bahwa Summer Course ini menjadi salah satu wujud komitmen fakultas dalam meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperkuat jejaring internasional. “Kami berharap kegiatan Summer Course ini tidak hanya memberi pengalaman akademik, tetapi juga mempererat hubungan antarbangsa melalui pertanian, peternakan, dan keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya. (*/wil)

UMM Beri Beasiswa Pengembalian Biaya Studi pada Ghozi dan Jadi Wisudawan Anumerta

Suasana haru menyelimuti Wisuda Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang digelar di Dome UMM pada Selasa, 2 September 2025. Sebanyak 3.046 wisudawan resmi dikukuhkan pada momen penuh kebanggaan tersebut. Namun, di tengah kegembiraan kelulusan, terselip duka mendalam atas kepergian almarhum A. Ghozi Mubarok, sosok mahasiswa inspiratif sekaligus influencer pendidikan yang wafat sebelum hari wisudanya. Hari ini, UMM tetap menganugerahkan gelar kelulusan secara anumerta bagi almarhum. Adapun Ghozi merupakan influencer pendidikan yang terus menyerukan pendidikan yang baik bagi semua. Ia sering diundang dan menjadi pembicara di hadapan mahasiswa berbagai kampus. Bahkan ia juga menjadi sosok pemimpin di digital team UMM yang memproduksi konten-konten pendidikan berkemajuan. Pada wisuda tersebut, Rektor UMM juga memberikan beasiswa pada Ghozi dalam bentuk pengembalian biaya studi selama berkuliah di Kampus Putih. Momen wisuda tersebut juga menghadirkan kesaksian penuh makna dari Danang Giru Sadewa, influencer pendidikan yang dekat dengan almarhum Ghozi. Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan bahwa perjuangan hidup seseorang sering kali tersembunyi di balik senyum dan canda. “Dikenal penuh tawa, ternyata almarhum menyimpan sakit yang tak banyak diketahui. Meski singkat, hidupnya memberi makna besar bagi sesama. Gelar anumerta ini bukan sekadar penghargaan, melainkan bukti kerja kerasnya untuk UMM,” ujarnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan bahwa Ghozi merupakan sosok yang bersemangat dan produktif. Menurutnya, Ghozi bukan hanya aktif, tapi juga influencer muda yang membawa nama UMM lewat karya kreatif dan pesan-pesan positif yang ia sebarkan di media sosial. “Ghozi telah menjadi inspirasi kita semua.  Maka, hari ini UMM memberikan penghargaan tertinggi dengan mengukuhkannya menjadi wisudawan anumerta. Ghozi sah menyandang gelar sarjana hubungan internasional,” katanya. Sebagai bentuk dedikasi, pengabdian dan perjuangan Ghozi untuk kampus tercinta dan masyarat, UMM memberikan apresiasi penghargaan berupa beasiswa penuh. Beasiswa ini diberikan denagn bentuk pengembalian biaya studi Ghozi di UMM kepada keluarga. Pidato inspiratif juga oleh Nazar yang menekankan bahwa lulusan harus memiliki sense of ownership atau rasa kepemilikan agar mampu menjadi solution provider bagi bangsa. Menurutnya, pendidikan di UMM tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga berkepribadian tangguh, adaptif, kolaboratif, dan berlandaskan nilai-nilai etika serta kepedulian sosial Muhammadiyah. “Transformasi sumber daya manusia ini sangat penting untuk melahirkan generasi new colar workers—lulusan yang adaptif, kuat, dan siap tumbuh bersama teknologi. Harapannya, alumni UMM dapat menjadi pribadi yang membanggakan, memiliki daya tahan mental, serta tetap berpegang pada ketakwaan kepada Allah SWT,” tegasnya. (vin/wil)

Kontribusi Maharesigana di World Humanitarian Day 2025

Peringatan World Humanitarian Day (WHD) 2025 yang diselenggarakan pada Jumat, 22 Agustus 2025 di Pos Bloc, Jakarta Pusat, menghadirkan beragam kegiatan yang meneguhkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam isu kemanusiaan. Salah satu sorotan utama tahun ini adalah keterlibatan Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana), Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang didaulat sebagai pembicara workshop. World Humanitarian Day diperingati setiap 19 Agustus sebagai bentuk penghormatan kepada para pekerja kemanusiaan dan sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas global. Di Indonesia, acara ini menjadi ruang refleksi, edukasi, serta kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan generasi muda, untuk memperkuat penanggulangan bencana yang inklusif. Dalam kegiatan ini, tiga delegasi Maharesigana yakni Nata Hendriati, Gifa Farabi, dan Sukma Ayu terlibat langsung dalam penyelenggaraan serta diskusi. Kehadiran mereka sebagai representasi mahasiswa menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam gerakan kemanusiaan. Sukma Ayu tampil sebagai pembicara yang memperkenalkan Maharesigana dan menjelaskan pergerakan mereka yang fokus pada tiga fase bencana: pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana. Pendekatan ini menjadi ciri khas Maharesigana sebagai gerakan mahasiswa yang konsisten mendukung penanggulangan bencana secara menyeluruh. Selain itu, mereka juga memperkenalkan diri sebagai agen muda yang siap terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan. Sementara itu, Nata Hendriati, sebagai perwakilan Maharesigana sekaligus akademisi yang aktif dalam praktik penanggulangan bencana, menyampaikan perlunya kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Harapannya, penanggulangan bencana dapat dilakukan secara maksimal dengan berbagai pendekatan yang komprehensif dan melibatkan banyak unsur. “Ini menjadi satu aksi nyata dalam meningkatkan kolaborasi dan koordinasi dalam memberikan layanan terbaik dalam isu-isu kemanusiaan. Semoga Maharesigana bisa terus berkontribusi positif dan aktif dalam setiap proses penanganan isu kemanusiaan, dimulai dari gerakan mahasiswa,” katanya. Kehadiran dan kontribusi Maharesigana mendapatkan apresiasi dari berbagai tokoh yang hadir. Pendeta Victor Rembeth, Pendiri Humanitarian Forum Indonesia (HFI) sekaligus Unsur Pengarah BNPB menilai bahwa inisiatif Maharesigana luar biasa. Apalagi mengingat bahwa kemanusiaan merekat di semua sisi kehidupan. “Mahasiswa harus terus berkarya, membangun nilai kemanusiaan dan kebangsaan, serta menjadi penerus Sang Pencerah KH Ahmad Dahlan,” katanya. Sementara itu, Lilik Kurniawan, Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, menegaskan pentingnya peran generasi muda. Lewat Hari Kemanusiaan Sedunia 2025 ini, mengingatkan manusia bahwa bencana begitu dekat dengan kita. Semua pihak harus terlibat, tidak terkecuali mahasiswa. Ia berharap Maharesigana dapat menjadi agen perubahan yang mengedukasi masyarakat agar memiliki budaya tangguh bencana. Keterlibatan Maharesigana sebagai pembicara workshop tidak hanya menjadi pengalaman berharga, tetapi juga inspirasi bagi generasi muda lain untuk aktif dalam isu kemanusiaan. Melalui momen ini, mereka membuktikan bahwa mahasiswa dapat menjadi jembatan antara ide-ide dan aksi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat luas. (*/wil)

Gandeng Kampus Taiwan, Teknik UMM Dalami Metode Cepat Penggunaan Robot dan AI

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperluas jejaring internasional melalui kerja sama dengan dua universitas ternama di Taiwan. Kerja sama yang dilakukan oleh Fakultas Teknik (FT) UMM ini dibuka dalam sebuah seminar yang menghadirkan dosen serta mahasiswa UMM bersama dua profesor dari Taiwan, pada 29 Agustus 2025. Topik utama yang mejadi sorotan yakni, High-Level Synthesis (HLS) untuk percepatan perangkat keras heterogen berbasis SoC FPGA dan metode ultra-lightweight dehazing untuk visi robotic, serta penerapan pengembangan AI Computer Vision melalui konsep deep learning. Prof. Hsieh Jun-Wei, Professor National Yang Ming Chiao Tung University, Taiwan membahas perkembangan dan penerapan AI Computer Vision dari aspek teori hingga paraktik. Pemaparan dimulai dengan konsep Deep Learning dalam konteks individu, perusahaan, hingga negara. Proses ini bertujuan untuk memaksimalkan peluang keberhasilan dan kemenangan. Sejarah menunjukkan bahwa manusia kerap meremehkan hadirnya teknologi baru, padahal pertumbuhan teknologi yang berkembang secara eksponensial dan membawa konsekuensi besar yang sulit diprediksi seperti Hukum Moore. Perkembangan AI Computer Vision bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan perubahan mendasar yang memengaruhi ekonomi, etika, dan struktur sosial di masa depan. Kini, AI hadir dalam berbagai bentuk yaitu, Computer Vision, Generative AI, Large Language Models (LLM), serta aplikasi praktis di bidang kesehatan, pertanian, transportasi, dan kreativitas digital. Seperti GPT, DALL-E, Whisper, dan Codex yang menunjukkan kemampuan AI belajar dari teks, gambar, suara, hingga kode. Ini menjadi peluang besar untuk dikembangkan dan dimanfaatkan oleh manusia. Sementara itu, Prof. Dr. Ing. Chi-Chia Sun selaku Professor and Head of Department of Electrical Engineering National Taipei University, Taiwan menyoroti perkembangan FPGA (Field Programmable Gate Array) yang ditelusuri dari SOPC, SoC FPGA, hingga Cloud FPGA dan RFSoC. FPGA terkenal berperan penting dalam komputasi heterogen yang mengombinasikan prosesor multi-core, ARM CPU, ADC/DAC, dan akselerasi AI/ML. Ia juga menekankan peran High-Level Synthesis (HLS) sebagai solusi dalam mempercepat desain perangkat keras. “Dengan HLS, kode tingkat tinggi seperti C/C++ bisa langsung dikompilasi menjadi RTL, sehingga proses perancangan lebih cepat, hemat biaya, dan lebih menghasilkan efisiensi tinggi, jika dibandingkan dengan metode konvensional,” katanya melanjutkan. Lebih lanjut, Prof. Sun juga menguraikan terkait metode dehazing ultra-lightweight yang ditujukan bagi sistem visi robotik. Faktor seperti kabut, hujan, hingga pencahayaan rendah sering kali menurunkan akurasi deteksi objek dan klasifikasi. Sistem ini terbukti meningkatkan kualitas visual, melalui pendekatan baru berbasis ekstraksi dark channel, estimasi transmission map, dan pemulihan citra. Ini tekbukti pada uji coba COCO dataset yang menunjukkan peningkatan akurasi deteksi hingga 7,9 persen menggunakan YOLOv7-tiny pada kondisi kabut tebal. Dalam sambutannya, Dekan FT UMM menyampaikan apresiasi besar atas kesempatan berharga ini. Kerja sama ini diharapkan tidak berhenti pada program seminar saja, tetapi berlanjut pada berbagai program akademik lainnya. Beberapa dosen UMM sebelumnya juga telah menempuh studi lanjutan di universitas Taiwan sehingga menjadi penguat jejaring kolaborasi. Melalui langkah ini, UMM menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan, riset, dan publikasi internasional guna mencetak lulusan yang kompetitif di level global. Bersama pembukaan peluang beasiswa S2/S3 di National Taipei University dengan dukungan penuh biaya kuliah dan tunjangan bulanan. “Kolaborasi ini menjadi peluang besar, tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga dosen untuk menjalin kerja sama riset, publikasi bersama, hingga melanjutkan studi master, doktoral, maupun post-doctoral di Taiwan,” ungkapnya. (din/wil)

Sempat Tak Ada Biaya, Wisudawan UMM Malah Jadi Wisudawan Berprestasi

Dinobatkan sebagai lulusan berprestasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ternyata menyimpan sebuah cerita perjuangan yang luar biasa. Ayu Suryandari, gadis asal Bengkulu, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah tembok penghalang untuk meraih segudang prestasi. Ia, seorang anak petani yang dibesarkan di tengah kebun, berhasil menaklukkan tantangan dan mengukir namanya dengan tinta emas di almamaternya. Perjalanan Ayu di Kampus Putih tidak dimulai dengan mudah. Lahir dari keluarga petani dengan ekonomi menengah ke bawah, tantangan finansial menjadi rintangan pertama yang harus dihadapinya. Kegalauan akan biaya kuliah sempat membayangi mimpinya, namun semangatnya untuk menimba ilmu di tanah Jawa jauh lebih besar. Ayu tidak menyerah. Di sela-sela kesibukan akademisnya, ia rela bekerja paruh waktu di sebuah kedai kopi demi menambah uang saku dan meringankan beban orang tuanya. Bahkan ia sempat bingung karena tidak ada biaya ketika menginjak semester tiga. Beruntung, berkat berbagai informasi dan peluang beasiswa di UMM, ia mampu melanjutkan kuliah. Titik terang mulai muncul ketika Ayu mendapatkan Beasiswa Bakti Tani dari Yayasan Khow Kalbe. Beasiswa dengan syarat utama merupakan anak petani, berkuliah di jurusan pertanian, dan memiliki IPK di atas 3,5, membuat Ayu percaya diri mendaftar dan berhasil lolos. Beasiswa tersebutlah yang menopang biaya pendidikannya, sehingga membuatnya lebih fokus dalam perkuliahan dan prestasi. Dan prestasi itu datang silih berganti. Sejak menjadi mahasiswa baru, Ayu sudah menunjukkan taringnya dengan masuk melalui jalur prestasi non-akademik dan meraih penghargaan UMM Students Awards 2021. Keaktifannya berlanjut di dunia organisasi, mulai dari menjabat sebagai Sekretaris Bidang Organisasi HMPS Agribisnis, Bendahara Umum Senat Mahasiswa, hingga menjadi Sekretaris di UKM Business Entrepreneur. Tak hanya di bidang organisasi, Ayu juga unjuk gigi dalam berbagai kompetisi dan program bergengsi. Ia menjadi bagian dari Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) yang lolos hingga ke ajang Abdidaya Nasional 2023, serta berhasil lolos Insentif Program Kreativitas Mahasiswa Artikel Ilmiah (PKM AI) 2024 yang artikelnya terbit di jurnal terindeks Sinta 3. Pengalaman internasional pun ia jajaki melalui program International Company Visit ke Singapura. Motivasi terbesar Ayu berakar kuat dari tanah kelahirannya. Keprihatinannya melihat fluktuasi harga hasil pertanian yang kerap merugikan para petani di desanya menjadi alasan utama ia memilih jurusan Agribisnis. Meskipun tak jarang menerima cemoohan karena memilih jurusan pertanian meski telah merantau jauh ke Pulau Jawa, tekadnya tak goyah. “Kalau saya bisa kuliah pertanian, siapa tahu saya bisa memajukan minimal pertanian di daerah saya,” ungkap Ayu dengan sorot mata penuh harapan, menjelaskan cita-cita mulianya. Kini, setelah menyelesaikan studi sarjananya, Ayu tidak berhenti. Ia melanjutkan pendidikannya melalui program fast track dan sudah memasuki semester kedua di Agribisnis UMM. Harapannya sederhana, yaitu menyelesaikan pendidikan dan kembali untuk mengimplementasikan ilmunya, membawa mimpi yang lebih besar untuk tanah kelahirannya. “Berharapnya dengan saya mendapatkan fasilitas pendidikan yang lebih baik, harapannya juga saya bisa membawa mimpi yang lebih besar saat nanti pulang,” ucapnya. (bil/wil)

Mahasiswa UMM Kembangkan Teknologi Augmentarium Atasi Hama Jeruk

Menghadapi tantangan pertanian di era modern, inovasi menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas. Ini bukan sekadar teori, melainkan aksi nyata yang diwujudkan oleh tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang beranggotakan 12 orang. Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2025, mereka memperkenalkan teknologi Augmentarium dan konservasi parasitoid berbasis IoT 5.0 untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas jeruk. Program ini dilaksanakan di Desa Bocek, Kabupaten Malang, sejak Juli lalu. Proyek ambisius ini tidak hanya bertujuan menekan populasi hama, tetapi juga menciptakan ekosistem pertanian yang lebih berkelanjutan. Program yang didanai Kemenristek Dikti ini berawal dari permasalahan yang dihadapi petani jeruk di Desa Bocek yang merupakan sentra produksi jeruk terbesar di Malang. Meski memiliki produksi melimpah, kualitas jeruk di desa tersebut kerap kali rendah akibat serangan hama lalat buah. Hal ini diungkapkan oleh salah satu anggota tim, M. Ahdi Furqon yang akrab disapa Ahdi. “Kami memilih Desa Bocek karena merupakan sentra produksi jeruk terbesar di kota Malang. Banyak produksi yang melimpah, tetapi kualitas jeruknya itu masih banyak yang jelek dan pohon-pohon banyak yang terkena serangan,” terang Ahdi. Melihat kondisi ini, tim berinisiatif mencari solusi inovatif yang dapat mengurangi kerugian petani. Setelah berdiskusi dengan Kelompok Tani Tri Rejeki, mereka menemukan bahwa masalah utama terletak pada buah jeruk yang rontok akibat serangan hama lalat buah. Untuk mengatasi masalah tersebut, tim menciptakan Augmentarium. Teknologi ini bekerja dengan cara mengumpulkan buah-buah jeruk yang terserang lalat buah ke dalam sebuah bangunan khusus. Desain bangunan ini dibuat agar parasitoid, musuh alami lalat buah dapat keluar dan menyebar ke kebun akan tetapi lalat buah terperangkap di bangunan tersebut. “Teknologi Augmentarium sendiri itu adalah teknologi yang mana kita mengkarantina atau mengisolasi buah-buah yang terkena serangan lalat buah,” jelas Ahdi. Proses ini memungkinkan tim untuk mengkonservasi parasitoid, yaitu membudidayakan musuh alami lalat buah di lingkungan yang terkontrol. Uniknya, teknologi ini diintegrasikan dengan sistem IoT 5.0. Ini memungkinkan tim memantau kondisi suhu dan kelembapan secara real-time. Hal ini memastikan lingkungan di dalam Augmentarium optimal bagi perkembangbiakan parasitoid. Adapun Ahdi mentakan, program tersebut tidak akan berjalan tanpa bimbingan dan dukungan dari dosen pembimbing, Ilmam Zul Fahmi, S.P., M.Sc. Ia merupakan dosen yang sangat aktif dan berdedikasi. “Pak Ilmam juga sering berkunjung dan mengarahkan mengenai bagaimana cara kita menggunakan jurnal, bagaimana cara kita membuat modul, bagaimana cara kita melobi-lobi ke kelompok tani yang lain, dan masih banyak lagi,” tutur Ahdi. Kehadiran program yang telah mencapai 90% penyelesaian ini telah memberikan dampak nyata bagi petani. Selain mendapatkan modul dan panduan teknis, petani juga memperoleh pengetahuan baru tentang pentingnya musuh alami dalam ekosistem pertanian. Jangka panjangnya, program ini diharapkan dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia, menciptakan pertanian yang lebih ramah lingkungan, dan meningkatkan kualitas serta kuantitas panen jeruk. Proyek ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga mampu mengaplikasikan ilmu untuk memecahkan masalah di masyarakat. Dengan dukungan penuh dari UMM, dosen, dan masyarakat desa, inovasi ini diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan pertanian berkelanjutan di daerah lain. (ali/wil)

Pesan OJK Pusat untuk Wisudawan UMM, Berdayakan UMKM dan Inovasi Pembiayaan Digital

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mencatat momen penting dengan menggelar Wisuda ke-119 pada Kamis, 28 Agustus 2025. Ribuan wisudawan dari berbagai fakultas resmi dilepas untuk mengabdi di masyarakat. Momentum akademik ini kian bermakna dengan hadirnya Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Prof. Dr. Agusman, S.E., Akt., MBA., Ph.D. Selain memotivasi para mahasiswa, ia juga menyampaikan orasi ilmiah mengenai pembiayaan digital. Hal menarik juga disuguhkan dalam wisuda tersebut. Belasan mahasiswa asing menunjukkan kebolehan dengan ikut bergabung dengan tim gamelan dan membawakan sederet lagu tradisional. Mereka membawakan tiga lagu yakni Suwe Ora Jamu, Mentok, dan Gundul-gundul Pacul. Hal ini membuat para tamu bertepuk tangan akan tampilan tersebut. Dalam paparannya,  Agusman menegaskan bahwa keuangan global tengah mengalami transformasi besar akibat perkembangan teknologi digital. Layanan pembiayaan kini tidak lagi terbatas pada perbankan konvensional, tetapi merambah ke model peer-to-peer lending dan platform digital lain yang lebih cepat, mudah, dan murah. Data per Juni 2025 menunjukkan, pembiayaan digital telah melibatkan lebih dari 160 juta pengguna dengan nilai penyaluran menembus Rp83 triliun. Menurutnya, fenomena ini membuka peluang besar bagi inklusi keuangan, khususnya bagi UMKM yang selama ini kesulitan memperoleh akses pembiayaan. Namun, di sisi lain terdapat tantangan yang tidak bisa diabaikan, mulai dari risiko gagal bayar, lemahnya literasi keuangan, hingga ancaman kebocoran data dan kejahatan siber. “Digitalisasi keuangan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan. Generasi muda harus harus hadir sebagai penggerak inovasi agar pembiayaan digital memberi manfaat. Dengan ilmu dan keberanian, tantangan bisa diubah menjadi peluang untuk memberdayakan UMKM, mendorong ekonomi hijau, dan memperkuat keuangan syariah,” ungkapnya. Sambutan positif juga datang dari Prof. Erwin Akib, M.Pd., Pd.D. anggota Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang hadir mewakili PP Muhammadiyah. Ia menyampaikan bahwa capaian UMM dalam berbagai bidang merupakan bukti nyata komitmen kampus ini untuk terus bertransformasi menjadi universitas kelas dunia. Menurutnya, akreditasi unggul dan inovasi penyelesaian studi melalui karya monumental tanpa skripsi adalah langkah progresif yang mencerminkan keberanian UMM dalam merespons kebutuhan zaman. “Keberhasilan UMM bukan hanya milik institusi, melainkan juga menjadi kebanggaan Persyarikatan Muhammadiyah. UMM telah menunjukkan diri sebagai kampus yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga menanamkan karakter Islami. Alumni UMM diharapkan mampu menjadi pionir perubahan, menghadirkan solusi bagi masyarakat, dan memberi kontribusi nyata bagi bangsa,” tegasnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan para wisudawan harus menjadi pribadi thrivers yang tangguh secara emosional, kuat secara mental, dan mampu memberi makna dalam setiap langkah kehidupan. Menurutnya, generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam mengarahkan perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Pentingnya integritas dan kecerdasan digital di tengah perubahan yang serba cepat. Ia menilai bahwa alumni UMM harus menjadi agen inovasi yang tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga berkontribusi bagi kemaslahatan masyarakat.  “Perubahan zaman menuntut adaptasi cepat, visi jauh ke depan, dan semangat untuk terus belajar,” pungkasnya. (vin/wil)

Pesmaba UMM Belum Dimulai, Gen 25 Digoyang Ndarboy Genk

Ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) padati helipad pada 27 Agustus 2025. Mereka siap menyambut Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM dengan asyik bernyanyi dan berjoget bersama guest star, Ndarboy Genk. Terhitung, 10 lagu dibawakan Ndarboy Genk untuk menghibur para mahasiswa baru. Adapun ini menjadi agenda pra sebelum memasuki Pesmaba UMM bagi para mahasiswa baru yang akan dilaksanakan awal September nanti. Sebelum konser dimulai, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik juga secara langsung meluncurkan beasiswa pendidikan Indonesia Emas untuk para generasi muda. Terutama mereka yang memiliki potensi dan siap ditempa UMM untuk menjadi pemimpin masa depan. Ndarboy Genk mengawali aksi panggungnya dengan berbagai lagu seperti Ambyar, Pergi Pagi, Lanang Tenan, dan lainnya. Bahkan mereka juga mengajak penonton untuk menari bersama mengiringi lagu yang dibawakan. “Untuk para mahasiswa baru, belajar yang serius, jangan banyak main. Semoga kuliahnya lancar hingga skripsinya selesai,” kata vokalis Ndarboy Genk, Helarius Daru. Sebelum menyanyikan beberapa lagu terakhir, Rektor Nazar juga sempat menyematkan almamater UMM kepada vokalis Ndarboy Genk. Kemudian ikut menari bersama para wakil rektor sehingga membuat para peserta smeakin ramai dan riuh. “Konser ini menjadi bentuk syukur karena UMM kedatangan Gen 25 UMM, para mahasiswa baru yang akan menimba ilmu di kampus putih tercinta ini.  Walaupun di tengah hujan rintik, tapi saya lihat semangat saudara terus menyala. Selamat datang di UMM dan bersiaplah mengikuti Pesmaba,” kata Nazar. Di sisi lain, salah satu mahasiswa baru Angel mengungkapkan rasa senangnya bisa bergabung menjadi keluarga besar UMM. Menurutnya, mengawali dunia perkuliahan dengan seru dan menyenangkan, membuatnya semakin bersemangat. Apalagi ia juga baru saja menjadi bagian dari Digital Team Kampus Putih. “Rasanya seneng banget bisa jadi mahasiswa UMM. Apalagi pihak kampus menyambut kami dengan sangat meriah. Cuma di UMM, pembukaan ospeknya seseru ini. Bahkan ini belum ospek Pesmaba, tapi sudah seasyik ini. Saya semakin tidak sabar untuk menyambut Pesmaba UMM 2025 dan menjadi Gen 25,” kata mahasiswa jurusan Hubungan Internasional itu. (wil)

FDI UMM Atasi Masalah Eceng Gondok hingga Jadi Produk Bernilai

Desa Kaumrejo kini tidak hanya dikenal sebagai desa dengan potensi alam yang besar, tetapi juga sebagai pionir dalam mengubah limbah menjadi berkah. Berkat inisiatif dari UKM Forum Diskusi Ilmiah (FDI) Universitas Muhammadiyah Malang melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa), hadir sebuah gerakan inovatif yakni ‘Rumah Inovasi Wirausaha berbasis Eceng Gondok’. Program yang diketuai oleh Azli Julianto ini telah berlangsung sejak Juli dan akan terus digulirkan hingga Desember 2025. Fokus utamanya adalah memberdayakan masyarakat desa melalui pengolahan eceng gondok menjadi produk bernilai ekonomi tinggi seperti briket bahan bakar, pupuk organik, hingga kerajinan tangan. “Tujuan utama kami adalah membentuk ekosistem wirausaha baru yang berkelanjutan di Desa Kaumrejo, dengan menjadikan eceng gondok sebagai solusi, bukan masalah,” ujar Azli. Desa Kaumrejo dipilih sebagai lokasi utama karena memiliki permasalahan serius dengan penyebaran eceng gondok di waduk desa. Tanaman gulma ini telah menutupi sekitar 150 hektare atau 20% dari luas waduk, menghambat aktivitas masyarakat, terutama nelayan. Melalui pendekatan kreatif, kelompok FDI menghadirkan pelatihan-pelatihan intensif yang melibatkan ibu-ibu PKK, karang taruna, BUMDes, hingga mitra lokal. Salah satu momen paling menarik adalah Workshop Briket Eceng Gondok yang digelar di Posko PPK Ormawa FDI, yang dihadiri oleh lebih dari 90% anggota kelompok Wirausaha Baru. Mereka diajarkan langsung cara membuat briket dari campuran arang eceng gondok, parafin, tepung kanji, dan air. Menghasilkan briket yang lebih hemat, ramah lingkungan, tahan lama, dan tentunya bernilai jual tinggi. “Selama ini eceng gondok dianggap sebagai pengganggu. Tapi lewat inovasi ini, kami melihat potensi luar biasa untuk menjadikannya sebagai sumber energi alternatif,” ujarnya. Manfaat program ini sangat dirasakan oleh masyarakat. Hera, salah satu peserta pelatihan, menyampaikan bahwa kegiatan ini membuka matanya akan nilai ekonomi dari eceng gondok. Ia mengaku optimis, produk seperti briket dan kerajinan bisa menjadi tambahan penghasilan yang nyata bagi keluarga. “Program ini membuka wawasan kami. Eceng gondok kini tak lagi jadi limbah, tapi bisa jadi energi baru dan peluang usaha nyata,” ungkapnya. Tak hanya menyasar pada aspek ekonomi, program ini juga menargetkan pengurangan populasi eceng gondok hingga 40% per tahun serta peningkatan pendapatan masyarakat sekitar sebesar 15%. Hal ini sejalan dengan Asta Cita pemerintah, khususnya dalam mendorong kewirausahaan dan industri kreatif berbasis potensi lokal. “Harapan kami ke depan, Rumah Inovasi Wirausaha ini menjadi pusat pembelajaran dan produksi yang terus hidup bahkan setelah program berakhir. Kami ingin masyarakat Desa Kaumrejo bisa mandiri, kreatif, dan menjadi contoh bagi desa-desa lain,” kata Azli. Dengan semangat kolaboratif, inovasi lokal, dan keberlanjutan, Desa Kaumrejo membuktikan bahwa eceng gondok bukan sekadar gulma, tapi juga sumber energi dan harapan baru bagi ekonomi desa. (vin/wil)