Ketua DPD RI Sultan Bakhtiar Usung Konsep “Green Democracy” di Tanwir IMM ke-33 UMM

RMOL JATIM – Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia, Sultan Bakhtiar Najamudin, mengusung gagasan baru bertajuk Green Democracy atau Demokrasi Hijau dalam pembukaan Tanwir ke-33 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (29/10/2025). Dalam pidatonya, Sultan menyampaikan bahwa Green Democracy merupakan paradigma baru dalam praktik demokrasi modern — yakni demokrasi yang tidak hanya menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. “Demokrasi yang sehat harus mampu melindungi ekologi dan menjamin keberlanjutan lingkungan,” tegas Sultan. Sultan menjelaskan, konsep Green Democracy dapat diturunkan menjadi berbagai kebijakan turunan seperti Green Parliament dan Green Economy, yang berorientasi pada pengurangan penggunaan bahan kimia berbahaya serta mendorong kebijakan ramah lingkungan. “Demokrasi hijau ke depan harus berpihak pada tiga kelompok utama, yaitu generasi muda (pro youth), masyarakat pinggiran (pro poor), dan lingkungan (pro environment),” ujarnya. Ia menekankan, politik hijau yang berkeadilan adalah demokrasi yang berpihak bukan hanya pada elit politik, tetapi juga pada anak muda, masyarakat kecil, dan keberlanjutan bumi untuk generasi mendatang. Sebagai Ketua DPD RI termuda, Sultan mengungkapkan kebanggaannya mendapat kepercayaan memimpin 152 anggota DPD yang sebagian besar merupakan tokoh senior, mulai dari mantan gubernur, bupati, wali kota, hingga menteri dan jenderal. “Fakta bahwa saya dipercaya memimpin para tokoh besar ini menunjukkan bahwa ruang bagi anak muda di dunia politik semakin terbuka lebar,” ungkapnya. Sultan menegaskan komitmennya untuk mentransformasi DPD RI menjadi lembaga legislatif yang lebih efektif, kolaboratif, dan kontributif, khususnya dalam memperjuangkan isu-isu keberlanjutan dan pemberdayaan daerah. Tanwir IMM ke-33 di UMM ini juga dihadiri oleh sejumlah anggota DPD RI dari berbagai provinsi, antara lain Lampung, Yogyakarta, Maluku Utara, dan Papua Pegunungan, serta ratusan kader dan aktivis IMM dari seluruh Indonesia. “Mahasiswa Muhammadiyah harus menjadi pelopor demokrasi hijau yang beretika, cerdas, dan berpihak pada masa depan bumi,” pungkas Sultan.
Buka Tanwir XXXIII IMM di UMM, Menteri Bahlil Dorong Pengembangan Etanol sebagai Energi Alternatif untuk Kemandirian Bangsa

MALANG (SurabayaPost.id) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, S.E., M.Si, mendorong pengembangan etanol sebagai energi alternatif untuk meningkatkan kemandirian bangsa. Hal ini disampaikan Bahlil saat membuka Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan tema “Energi Kolektif untuk Negeri”, Rabu (29/10/2025). Bersama gubernur Jawa Timur Timur Khofifah Indar Parawansa, Ketua PP Muhammadiyah Dr. Agung Danarto, M.Ag, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. dan Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., Bahlil membuka Tanwir IMM tersebut dengan memainkan dan memetik alat musik dawai. Suasana pembukaan berlangsung meriah, mencerminkan semangat kebersamaan dan simbol kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan kader muda Muhammadiyah dalam membangun energi kolektif untuk negeri. Adapun tema tersebut selaras dengan pesan utama Bahlil tentang pentingnya kemandirian bangsa yang hanya bisa terwujud melalui generasi muda yang siap berproses, berdaya saing, dan memiliki semangat kolektif membangun negeri. Dalam orasinya, Bahlil menekankan bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh kesiapan pemuda untuk beradaptasi dan berinovasi, terutama dalam menghadapi tantangan energi dunia yang terus berubah. Ia menilai IMM memiliki peran strategis dalam mencetak kader pemimpin yang tidak hanya kritis secara intelektual, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan nasional. “IMM adalah kader yang kelak menjadi pemimpin negara ini. Jangan hanya berhenti pada wacana, tapi harus turun tangan mengeksekusi gagasan. Negara ini butuh anak muda yang punya visi dan keberanian mengambil keputusan,” ujarnya. Lebih jauh, Bahlil menyoroti arah kebijakan energi nasional yang kini difokuskan pada dua hal utama, yaitu kemandirian energi nasional dan transisi energi berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh terus bergantung pada impor bahan bakar, karena hal itu dapat melemahkan kedaulatan ekonomi bangsa. Bahlil kemudian menyoroti persoalan energi yang tengah dihadapi Indonesia. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak sedang berbicara soal oplos bensin, melainkan tengah mengembangkan etanol sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berbasis pada kekayaan alam Indonesia sendiri. “Saya tegaskan, kita tidak bicara soal oplos bensin. Yang sedang kami kembangkan adalah etanol—energi bersih yang bisa dibuat dari jagung dan singkong. Ini bukan akal-akalan, tapi langkah nyata agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor,” tegasnya. Bahlil menjelaskan bahwa etanol merupakan bentuk bahan bakar bioenergi yang mampu menggantikan sebagian kebutuhan bensin, sekaligus mengurangi emisi karbon. Ia mencontohkan negara seperti Brazil dan India yang telah sukses mengembangkan industri etanol, sehingga dapat menekan biaya impor bahan bakar dan meningkatkan nilai ekonomi pertanian. Ia mengatakan kalau serius mengembangkan etanol, petani akan diuntungkan, lapangan kerja bertambah, dan devisa negara bisa diselamatkan. Maka Indonesia akan punya potensi itu, tinggal kemauan dan keberanian untuk mengeksekusinya. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki bahan baku melimpah untuk memproduksi etanol, terutama dari hasil pertanian. Karena itu, ia mendorong agar riset dan inovasi di perguruan tinggi terus dikembangkan guna memperkuat ketahanan energi nasional. “Saya ingin mahasiswa, termasuk kader IMM, ikut terlibat dalam pengembangan energi alternatif ini. Jangan biarkan potensi negeri ini diambil alih pihak luar karena kita ragu untuk mulai,” tambahnya. Sebagai bentuk dukungan terhadap generasi muda, Bahlil juga mengumumkan pemberian 10 beasiswa kepada kader IMM berprestasi sebagai bentuk dukungan terhadap regenerasi sumber daya manusia unggul di bidang energi dan kepemimpinan. Ia berharap kader IMM menjadi pelopor inovasi yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam, nasionalisme, dan kemajuan teknologi dalam kerja nyata bagi bangsa. Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Sultan Bachtiar Najamudin, S.Sos., M.Si., turut menegaskan pentingnya kolaborasi lintas generasi dan lembaga dalam membangun masa depan Indonesia yang berkelanjutan. Ia memperkenalkan konsep Green Democracy, yakni demokrasi yang tidak hanya menekankan partisipasi politik, tetapi juga tanggung jawab terhadap lingkungan dan kesejahteraan sosial. “Tidak ada lagi namanya one man show. Membangun bangsa sebesar ini hanya bisa dilakukan dengan kolaborasi. Demokrasi kita harus pro-pemuda, pro-rakyat kecil, dan pro-ekologi,” ucap Sultan. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Tanwir IMM di kampus yang dikenal dengan semboyan “Kampus Putih” itu. Ia menilai forum ini bukan sekadar pertemuan organisasi, melainkan ruang strategis untuk mengonsolidasikan gagasan besar tentang masa depan Indonesia. “Tanwir IMM bukan sekadar forum seremonial, melainkan momentum untuk meneguhkan peran mahasiswa sebagai penggerak perubahan. Kami di UMM berkomitmen mendukung lahirnya generasi muda yang berani, cerdas, dan siap memimpin masa depan Indonesia,” pungkasnya. (lil).
Bahlil Buka Tanwir IMM di UMM, Bahas Etanol Tekan Angka Impor

Malangpariwara.com – Masa depan negara ini ada di tangan pemuda, tetapi bukan sembarang pemuda—melainkan mereka yang benar-benar menyiapkan diri. Hal itu ditegaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia Bahlil Lahadalia, S.E., M.Si., saat membuka Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bertema “Energi Kolektif untuk Negeri”. Pembukaan acara Tanwir IMM yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu berlangsung pada 29 Oktober 2025. Bersama gubernur Jawa Timur Timur Khofifah Indar Parawansa, Ketua PP Muhammadiyah Dr. Agung Danarto, M.Ag, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P. dan Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., Bahlil membuka Tanwir IMM tersebut dengan memainkan dan memetik alat musik dawai. Suasana pembukaan berlangsung meriah, mencerminkan semangat kebersamaan dan simbol kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan kader muda Muhammadiyah dalam membangun energi kolektif untuk negeri. Adapun tema tersebut selaras dengan pesan utama Bahlil tentang pentingnya kemandirian bangsa yang hanya bisa terwujud melalui generasi muda yang siap berproses, berdaya saing, dan memiliki semangat kolektif membangun negeri. Dalam orasinya, Bahlil menekankan bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh kesiapan pemuda untuk beradaptasi dan berinovasi, terutama dalam menghadapi tantangan energi dunia yang terus berubah. Ia menilai IMM memiliki peran strategis dalam mencetak kader pemimpin yang tidak hanya kritis secara intelektual, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan nasional. “IMM adalah kader yang kelak menjadi pemimpin negara ini. Jangan hanya berhenti pada wacana, tapi harus turun tangan mengeksekusi gagasan. Negara ini butuh anak muda yang punya visi dan keberanian mengambil keputusan,” ujarnya. Lebih jauh, Bahlil menyoroti arah kebijakan energi nasional yang kini difokuskan pada dua hal utama, yaitu kemandirian energi nasional dan transisi energi berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh terus bergantung pada impor bahan bakar, karena hal itu dapat melemahkan kedaulatan ekonomi bangsa. Bahlil kemudian menyoroti persoalan energi yang tengah dihadapi Indonesia. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak sedang berbicara soal oplos bensin, melainkan tengah mengembangkan etanol sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berbasis pada kekayaan alam Indonesia sendiri. “Saya tegaskan, kita tidak bicara soal oplos bensin. Yang sedang kami kembangkan adalah etanol—energi bersih yang bisa dibuat dari jagung dan singkong. Ini bukan akal-akalan, tapi langkah nyata agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor,” tegasnya. Bahlil menjelaskan bahwa etanol merupakan bentuk bahan bakar bioenergi yang mampu menggantikan sebagian kebutuhan bensin, sekaligus mengurangi emisi karbon. Ia mencontohkan negara seperti Brazil dan India yang telah sukses mengembangkan industri etanol, sehingga dapat menekan biaya impor bahan bakar dan meningkatkan nilai ekonomi pertanian. Ia mengatakan kalau serius mengembangkan etanol, petani akan diuntungkan, lapangan kerja bertambah, dan devisa negara bisa diselamatkan. Maka Indonesia akan punya potensi itu, tinggal kemauan dan keberanian untuk mengeksekusinya. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki bahan baku melimpah untuk memproduksi etanol, terutama dari hasil pertanian. Karena itu, ia mendorong agar riset dan inovasi di perguruan tinggi terus dikembangkan guna memperkuat ketahanan energi nasional. “Saya ingin mahasiswa, termasuk kader IMM, ikut terlibat dalam pengembangan energi alternatif ini. Jangan biarkan potensi negeri ini diambil alih pihak luar karena kita ragu untuk mulai,” tambahnya. Sebagai bentuk dukungan terhadap generasi muda, Bahlil juga mengumumkan pemberian 10 beasiswa kepada kader IMM berprestasi sebagai bentuk dukungan terhadap regenerasi sumber daya manusia unggul di bidang energi dan kepemimpinan. Ia berharap kader IMM menjadi pelopor inovasi yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam, nasionalisme, dan kemajuan teknologi dalam kerja nyata bagi bangsa. Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Sultan Bachtiar Najamudin, S.Sos., M.Si., turut menegaskan pentingnya kolaborasi lintas generasi dan lembaga dalam membangun masa depan Indonesia yang berkelanjutan. Ia memperkenalkan konsep Green Democracy, yakni demokrasi yang tidak hanya menekankan partisipasi politik, tetapi juga tanggung jawab terhadap lingkungan dan kesejahteraan sosial. “Tidak ada lagi namanya one man show. Membangun bangsa sebesar ini hanya bisa dilakukan dengan kolaborasi. Demokrasi kita harus pro-pemuda, pro-rakyat kecil, dan pro-ekologi,” ucap Sultan. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Tanwir IMM di kampus yang dikenal dengan semboyan “Kampus Putih” itu. Ia menilai forum ini bukan sekadar pertemuan organisasi, melainkan ruang strategis untuk mengonsolidasikan gagasan besar tentang masa depan Indonesia. “Tanwir IMM bukan sekadar forum seremonial, melainkan momentum untuk meneguhkan peran mahasiswa sebagai penggerak perubahan. Kami di UMM berkomitmen mendukung lahirnya generasi muda yang berani, cerdas, dan siap memimpin masa depan Indonesia,” pungkasnya. (Djoko W)
Rektor UMM: Tanwir IMM Harus Lahirkan Gagasan Mencerahkan untuk Indonesia

pwmu.co – Pembukaan Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) berlangsung meriah dan penuh semangat di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (29/10/2025) sore. Acara bergengsi tingkat nasional yang digelar oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM ini mengusung tema besar “Energi Kolektif untuk Negeri”. Ribuan kader IMM dari seluruh Indonesia hadir memadati arena Dome UMM, menghadirkan suasana kekeluargaan dan militansi kader yang kuat. Turut hadir dalam pembukaan, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto, Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najmudin, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. Dari tuan rumah, hadir pula Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, Ketua BPH UMM Prof. Dr. Muhadjir Effendy, serta sejumlah tokoh nasional dan daerah lainnya. Dalam sambutannya, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik M.Si, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas kepercayaan yang diberikan kepada UMM sebagai tuan rumah Tanwir IMM tahun ini. “Selamat datang di Universitas Muhammadiyah Malang, anak-anakku sekalian. Kita selalu berharap mendapat ilmu dan inspirasi dari tokoh-tokoh bangsa. Karena itu, mari kita dengarkan dengan khidmat setiap gagasan dan nasihat yang disampaikan,” ujarnya. Nazaruddin juga menyampaikan apresiasi khusus kepada seluruh pihak yang hadir, mulai dari pimpinan Muhammadiyah, pejabat pemerintah, hingga panitia penyelenggara. “Kita hormati Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bapak Dr. Agung Danarto, juga Bapak Prof. Dr. Muhadjir Effendy yang sekaligus Ketua BPH UMM. Tidak lupa, ucapan terima kasih kepada Ibu Gubernur Jawa Timur, Dr. Khofifah Indar Parawansa, yang selalu hadir bersama UMM dalam berbagai kesempatan,” tambahnya. Menurutnya, UMM selalu berkomitmen menjadi ruang terbuka bagi pertukaran gagasan dan inspirasi dari berbagai kalangan, terutama bagi generasi muda yang menjadi penggerak perubahan. “Tradisi di UMM, siapapun tamu yang datang selalu kami sambut dengan penuh hormat. Sebab setiap pertemuan adalah kesempatan untuk menimba ilmu dan membuka cakrawala masa depan yang lebih baik,” tutur Nazaruddin. Di akhir sambutannya, Nazaruddin berharap Tanwir IMM XXXIII ini menjadi momentum penting bagi kader IMM untuk memperkuat semangat kebangsaan dan keislaman dalam bingkai kemajuan bangsa. “Semoga Tanwir ini melahirkan gagasan-gagasan mencerahkan bagi kehidupan bangsa. Kami percaya IMM memiliki energi besar untuk menjadi motor perubahan dan pencerahan bagi Indonesia,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta. Dia juga menutup sambutannya dengan kalimat khas yang menggambarkan semangat kampus UMM. “Selamat bertanwir bagi seluruh kader IMM se-Indonesia. Semoga suasana di UMM memberikan pencerahan yang berkemajuan. UMM, pancen istimewa!” (*)
Bahlil Buka Tanwir IMM di UMM, Bahas Etanol Tekan Angka Impor

Tagar.co — Masa depan negara ini ada di tangan pemuda, tetapi bukan sembarang pemuda—melainkan mereka yang benar-benar menyiapkan diri. Hal itu ditegaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, S.E., M.Si., saat membuka Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bertema “Energi Kolektif untuk Negeri”. Pembukaan Tanwir yang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 29 Oktober 2025 itu berlangsung meriah. Bahlil hadir bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Ketua PP Muhammadiyah Dr. Agung Danarto, M.Ag., Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., serta Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Mereka membuka resmi acara dengan memainkan alat musik dawai, menandai simbol kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan kader muda Muhammadiyah dalam membangun energi kolektif untuk negeri. Tema Tanwir IMM tersebut selaras dengan pesan utama yang disampaikan Bahlil: pentingnya kemandirian bangsa yang hanya dapat diwujudkan melalui generasi muda yang siap berproses, berdaya saing, dan memiliki semangat kolektif membangun negeri. Baca Juga: Afirmasi Pendidikan Berkeadilan: Ujian Baru Sekolah Swasta di Era Prabowo Dalam orasinya, Bahlil menekankan bahwa masa depan Indonesia ditentukan oleh kesiapan pemuda untuk beradaptasi dan berinovasi, terutama dalam menghadapi tantangan energi dunia yang dinamis. “IMM adalah kader yang kelak menjadi pemimpin negara ini. Jangan hanya berhenti pada wacana, tapi harus turun tangan mengeksekusi gagasan. Negara ini butuh anak muda yang punya visi dan keberanian mengambil keputusan,” ujarnya. Etanol Bahan Bakar Alternatif Pada kesempatan tersebut, Bahlil menyoroti arah kebijakan energi nasional yang kini difokuskan pada dua hal utama: kemandirian energi nasional dan transisi energi berkelanjutan. Indonesia, katanya, tidak boleh terus bergantung pada impor bahan bakar karena dapat melemahkan kedaulatan ekonomi bangsa. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak sedang berbicara soal oplos bensin, melainkan tengah mengembangkan etanol sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berbasis pada kekayaan alam dalam negeri. “Saya tegaskan, kita tidak bicara soal oplos bensin. Yang sedang kami kembangkan adalah etanol—energi bersih yang bisa dibuat dari jagung dan singkong. Ini bukan akal-akalan, tapi langkah nyata agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor,” tegas Bahlil. Etanol, menurutnya, merupakan bioenergi yang mampu menggantikan sebagian kebutuhan bensin sekaligus mengurangi emisi karbon. Ia mencontohkan Brazil dan India yang sukses mengembangkan industri etanol hingga mampu menekan biaya impor bahan bakar dan meningkatkan nilai ekonomi pertanian. Jika Indonesia serius mengembangkan etanol, lanjutnya, petani akan diuntungkan, lapangan kerja bertambah, dan devisa negara dapat diselamatkan. Indonesia sudah memiliki bahan baku melimpah, tinggal kemauan dan keberanian untuk mengeksekusi. Bahlil juga mendorong perguruan tinggi untuk menguatkan riset dan inovasi di bidang energi terbarukan. Ia ingin mahasiswa, termasuk kader IMM, terlibat aktif dalam pengembangan energi alternatif. “Saya ingin mahasiswa, termasuk kader IMM, ikut terlibat dalam pengembangan energi alternatif ini. Jangan biarkan potensi negeri ini diambil alih pihak luar karena kita ragu untuk mulai,” tambahnya. Sebagai wujud dukungan terhadap regenerasi SDM unggul, Bahlil mengumumkan pemberian 10 beasiswa kepada kader IMM berprestasi. Ia berharap kader IMM menjadi pelopor inovasi yang mengintegrasikan nilai Islam, nasionalisme, dan teknologi dalam kerja nyata bagi bangsa. Green Gemocracy Di sisi lain, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, S.Sos., M.Si., menegaskan pentingnya kolaborasi lintas generasi dalam pembangunan bangsa. Ia memperkenalkan konsep green democracy, yakni demokrasi yang menekankan partisipasi politik yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan rakyat. “Tidak ada lagi namanya one man show. Membangun bangsa sebesar ini hanya bisa dilakukan dengan kolaborasi. Demokrasi kita harus pro-pemuda, pro-rakyat kecil, dan pro-ekologi,” ucapnya. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan apresiasi atas dipilihnya UMM sebagai tuan rumah Tanwir IMM. Ia menilai forum ini sebagai ruang strategis konsolidasi gagasan masa depan Indonesia. “Tanwir IMM bukan sekadar forum seremonial, melainkan momentum untuk meneguhkan peran mahasiswa sebagai penggerak perubahan. Kami di UMM berkomitmen mendukung lahirnya generasi muda yang berani, cerdas, dan siap memimpin masa depan Indonesia,” ujarnya. (*) Penyunting Mohammad Nurfatoni
Menteri ESDM: Bukan Oplos Bensin Tapi Strategi, Etanol dari Jagung untuk Stop Impor BBM

Malang (beritajatim.com) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membantah anggapan bahwa pemerintah sedang mewacanakan program oplos bensin. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa fokus utama adalah pengembangan etanol sebagai energi bersih untuk menekan angka impor bahan bakar minyak (BBM). Penegasan ini disampaikan Bahlil saat memberikan orasi ilmiah dalam pembukaan Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (29/10/2025). Di hadapan ribuan kader IMM, Bahlil meluruskan persepsi publik mengenai arah kebijakan energi nasional. “Saya tegaskan, kita tidak bicara soal oplos bensin. Yang sedang kami kembangkan adalah etanol—energi bersih yang bisa dibuat dari jagung dan singkong,” ujarnya dengan tegas. Menurut Bahlil, pengembangan bioenergi ini bukanlah akal-akalan, melainkan sebuah langkah strategis dan nyata untuk melepaskan Indonesia dari ketergantungan impor BBM yang terus menggerus devisa negara dan melemahkan kedaulatan ekonomi bangsa. Bahlil menjelaskan, etanol merupakan bahan bakar alternatif yang terbukti mampu menggantikan sebagian kebutuhan bensin sekaligus lebih ramah lingkungan karena mengurangi emisi karbon. Ia mencontohkan negara seperti Brazil dan India yang telah sukses mengembangkan industri etanol skala besar. Keberhasilan tersebut, lanjutnya, tidak hanya menekan biaya impor bahan bakar, tetapi juga berhasil meningkatkan nilai ekonomi di sektor pertanian. “Kalau kita serius mengembangkan etanol, petani akan diuntungkan, lapangan kerja bertambah, dan devisa negara bisa diselamatkan,” jelas Bahlil. Indonesia, menurutnya, memiliki potensi luar biasa karena berlimpahnya bahan baku seperti jagung dan singkong. “Indonesia akan punya potensi itu, tinggal kemauan dan keberanian untuk mengeksekusinya,” tambahnya. Acara Tanwir IMM yang mengusung tema “Energi Kolektif untuk Negeri” ini dibuka secara meriah. Bahlil bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Ketua PP Muhammadiyah Dr. Agung Danarto, M.Ag, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., dan Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., secara simbolis memetik alat musik dawai sebagai tanda kolaborasi. Dalam orasinya, Bahlil menantang kader muda IMM untuk tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi harus berani mengambil peran eksekusi. “Masa depan negara ini ada di tangan pemuda. IMM adalah kader yang kelak menjadi pemimpin negara ini. Jangan hanya berhenti pada wacana, tapi harus turun tangan mengeksekusi gagasan,” serunya. Ia mendorong mahasiswa dan kader IMM untuk terlibat aktif dalam riset dan inovasi energi alternatif. “Jangan biarkan potensi negeri ini diambil alih pihak luar karena kita ragu untuk mulai,” tegasnya. Sebagai bentuk dukungan nyata, Bahlil juga mengumumkan pemberian 10 beasiswa bagi kader IMM berprestasi untuk regenerasi SDM unggul di bidang energi. Dukungan terhadap kolaborasi juga datang dari Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Sultan Bachtiar Najamudin, S.Sos., M.Si. Dalam kesempatan yang sama, ia memperkenalkan konsep Green Democracy. “Tidak ada lagi namanya one man show. Membangun bangsa sebesar ini hanya bisa dilakukan dengan kolaborasi. Demokrasi kita harus pro-pemuda, pro-rakyat kecil, dan pro-ekologi,” ucap Sultan. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyambut baik gelaran Tanwir IMM di Kampus Putih. Ia menilai forum ini adalah momentum strategis untuk meneguhkan peran mahasiswa sebagai penggerak perubahan. “Kami di UMM berkomitmen mendukung lahirnya generasi muda yang berani, cerdas, dan siap memimpin masa depan Indonesia,” pungkasnya. [dan/aje]
Menteri Bahlil Diteriaki Hoaks Saat Jelaskan Etanol di Hadapan Mahasiswa UMM

Ketik.Malang – Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Ri Bahlil Lahadalia diteriaki hoaks ketika menjelaskan pencampuran etanol pada Pertalite di hadapan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Diketahui, Ketua Umum Golkar tersebut menjadi keynote speaker pada pembukaan Tanwir XXXIII Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) yang digelar di Dome Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu 29 Oktober 2025. Di tengah pemaparannya, terdengar sekelompok mahasiswa yang berteriak hoak. Namun, Bahlil tidak bergeming. ”Saya mau jelaskan ini (Etanol). Enggak apa apa, om suka kalau kalian agak sedikit gimana-gimana gitu,” ucapnya menanggapi teriakan tersebut. ”Biar kalian tidak liar dengar di sosmed apa itu etanol,” tambah Ketum Partai Golkar tersebut. Bahlil menjelaskan, Etanol adalah bahan baku yang didapatkan dari jagung, tebu dan singkong. Etanol dicampur dengan pertalite dalam rangka menurunkan emisi dan energi yang bersih. Baca Juga: Menteri ESDM Bahlil Tinjau Langsung Tambang Nikel di Raja Ampat Bahlil menekankan bahwa penggunaan etanol sebagai campuran BBM merupakan praktik umum di berbagai negara dan bukan hal baru dalam industri energi global. ”Di Amerika sekarang sudah ada mandatori E 20. Di Brasil itu sudah ada E85. Di India sudah E30, di Thailand sudah mandatori E20,” jelasnya. Menurut Bahlil, jika ada masyarakat yang mengatakan hoax, itu adalah orang-orang yang tidak ingin untuk kuota impornya dipangkas. Pencampuran etanol selain mendukung program transisi energi berkelanjutan, dikatakannya juga untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah. ”Kalau kita campur ini dengan etanol, maka kuota impor bensin yang selama ini diambil alih oleh importir, maka berlahan lahan importir kita kurangi. Maka ruang pekerjaan mereka berkurang dan mereka tidak pingin agar Indonesia mengurangi impor,” jelasnya. Bahlil menegaskan, penemuan manfaat etanol pada BBM bukan hanya berasal dari ahli minyak Indonesia. Hampir semua negara menemukan etanol tersebut. ”Saya juga meminta kepada mahasiswa Cipayung Plus. Silakan bikin diskusi saya datang untuk kita bisa beradu argumentasi. saya siap untuk berdiskusi yang kalian. Yang penting punya data, enggak ada masalah,” tegasnya. (*) Sumber: Ketik.com | Media Kolaborasi Indonesia. https://ketik.com/berita/menteri-bahlil-diteriaki-hoaks-saat-jelaskan-etanol-di-hadapan-mahasiswa-umm
Di Hadapan Kader IMM, Bahlil Dorong Pemuda Jadi Pelopor Kemandirian Energi

Metrotvnews – Malang: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan masa depan bangsa berada di tangan pemuda yang siap berproses dan berkontribusi nyata. Pernyataan itu disampaikannya saat membuka Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “IMM adalah kader yang kelak menjadi pemimpin negara ini. Jangan hanya berhenti pada wacana, tapi harus turun tangan mengeksekusi gagasan. Negara ini butuh anak muda yang punya visi dan keberanian mengambil keputusan,” ujar Bahlil, Rabu, 29 Oktober 2025. Dalam orasinya, Bahlil menyoroti dua fokus kebijakan energi nasional: kemandirian energi dan transisi energi berkelanjutan. Ia menegaskan Indonesia tidak boleh terus bergantung pada impor bahan bakar yang dapat melemahkan kedaulatan ekonomi. “Saya tegaskan, kita tidak bicara soal oplos bensin. Yang sedang kami kembangkan adalah etanol energi bersih yang bisa dibuat dari jagung dan singkong. Ini bukan akal-akalan, tapi langkah nyata agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor,” tegas Bahlil. Etanol mampu menggantikan sebagian kebutuhan bensin sekaligus menekan emisi karbon. Bahlil mencontohkan kesuksesan Brasil dan India dalam memanfaatkan etanol untuk mengurangi biaya impor dan meningkatkan nilai ekonomi pertanian. “Indonesia punya bahan baku melimpah dari hasil pertanian. Saya ingin mahasiswa, termasuk kader IMM, ikut terlibat dalam pengembangan energi alternatif ini,” tambahnya. Sebagai bentuk dukungan, Bahlil memberikan 10 beasiswa bagi kader IMM berprestasi di bidang energi dan kepemimpinan. Ia berharap generasi muda Muhammadiyah mampu menjadi pelopor inovasi yang memadukan nilai-nilai Islam, nasionalisme, dan kemajuan teknologi. Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik mengapresiasi terselenggaranya Tanwir IMM di kampusnya. Menurutnya, forum ini menjadi ruang strategis untuk mengonsolidasikan gagasan besar tentang masa depan Indonesia. “Tanwir IMM bukan sekadar forum seremonial, melainkan momentum untuk meneguhkan peran mahasiswa sebagai penggerak perubahan. Kami di UMM berkomitmen mendukung lahirnya generasi muda yang berani, cerdas, dan siap memimpin masa depan Indonesia,” pungkas Nazaruddin.
Khofifah dan Jas IMM Tanpa Kepala: Simbol Pemimpin Baru yang Akan Lahir

pwmu.co –Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan apresiasi dan pesan penuh makna dalam sambutannya pada pembukaan Tanwir Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) XXXIII di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (29/10/2025). Dalam suasana hangat dan penuh semangat, Khofifah mengawali sambutan dengan menyoroti desain panggung Tanwir yang menarik perhatian. Di atas panggung terdapat gambar jas merah khas IMM dengan kepala kosong—sebuah simbol terbuka yang menunggu untuk diisi oleh kader terbaik IMM masa depan. “Di sini ada jaket bukan UMM tapi IMM. Tinggal nanti kalau yang di situ dipasang fotonya Prof. Muhadjir, maka nasabnya Mendikbud dan Menko PMK, amin. Kalau yang dipasang adalah foto almarhum Pak Malik Fadjar, maka nasabnya Mendikbud dan Menteri Agama, amin,” tutur Khofifah disambut tawa hadirin. Ia menilai desain tersebut sangat penuh makna. Kekosongan kepala pada jas IMM itu, menurutnya, menggambarkan ruang bagi kader-kader IMM sebagai calon pemimpin masa depan bangsa. “Sengaja sepertinya dikosongkan karena kader dan pemimpin masa depan ada pada pertemuan pembukaan Tanwir IMM ini. Jadi silakan pasang di sana fotonya masing-masing,” ucapnya sambil tersenyum. Khofifah memuji ide kreatif panitia yang menghadirkan simbolisme kuat itu. Dalam sambutannya, Khofifah juga mengenang kedekatannya dengan almarhum Prof. Dr. A. Malik Fadjar, mantan Mendikbud dan tokoh Muhammadiyah. Ia bercerita dengan hangat tentang persahabatan mereka yang dilandasi rasa saling menghormati meski berasal dari latar organisasi berbeda. “Beberapa kali kami bertemu, beliau merokok. Padahal di Muhammadiyah, merokok itu kan haram. Saya sering bercanda, ‘Pak Malik, kok merokok? Di Muhammadiyah kan haram.’ Lalu beliau menjawab, ‘Mbak Khofifah, kalau saya sedang merokok berarti saya sedang jadi NU. Setelah itu saya Muhammadiyah lagi,’” kenangnya disambut tawa dan tepuk tangan peserta Tanwir. Dari kisah itu, Khofifah ingin menegaskan bahwa persaudaraan antara NU dan Muhammadiyah adalah pilar penting dalam menjaga persatuan bangsa. “Persaudaraan ini begitu kuat, persahabatan ini begitu erat. Maka antar-pilar bangsa ini harus terus membangun kebersamaan dalam berbagai program,” ujarnya. Ia pun mengajak seluruh kader IMM untuk terus menjaga semangat kolaborasi lintas organisasi, terutama dalam mewujudkan keputusan-keputusan strategis hasil Tanwir. “Tetaplah membangun sinergi, tetaplah membangun kolaborasi. Bangun negeri ini dengan seluruh energi yang sahabat-sahabat miliki,” pesan Khofifah. Di akhir sambutannya, Khofifah menegaskan kembali pentingnya semangat persaudaraan yang diwariskan para pendiri organisasi Islam besar di Indonesia. “Persaudaraan antara Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan adalah teladan besar bagi kita semua. Keduanya sama-sama memberikan ijazah kepada umat, dan ijazah itu seperti yang disampaikan pada salam penutup kita—‘Nasrum minallah wa fathun qarib’,” tutupnya penuh harap. (*)
Ketua DPD RI Dorong Anak Muda Tak Ragu Terjun ke Politik

JATIMTIMES – Di hadapan ribuan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan Baktiar Najamudin melontarkan ajakan yang maknanya menggetarkan: “Ayo, anak-anak muda jangan ragu masuk politik. Justru makin banyak yang terjun, makin baik bagi negeri.” Nada suaranya tenang tapi tegas. Ia berdiri di depan para mahasiswa UMM, diapit para senator dari berbagai provinsi, membawa semangat kolaborasi dan gagasan baru yang ia sebut green democracy, demokrasi yang berpihak pada pertumbuhan, lingkungan, dan generasi muda. “Negara sebesar Indonesia ini tidak bisa dibangun dengan pola one man show. Harus kolaboratif, harus kontributif,” ujarnya dalam sambutannya di Pembukaan Tanwir Ke-33 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang, yang juga dihadiri civitas akademika UMM dan para tokoh daerah, Rabu (29/10/2025). Bagi Sultan, demokrasi bukan sekadar sistem politik, melainkan ruang hidup bersama yang harus tumbuh seimbang antara ekonomi dan ekologi. “Green itu identik dengan tumbuh, segar, berkesinambungan. Maka demokrasi hijau berarti demokrasi yang tidak hanya memikirkan kekuasaan atau ekonomi, tapi juga menjaga lingkungan dan masa depan,” ucapnya. Gagasan “green democracy” itu, katanya, kini telah menjadi konsep yang ia bukukan dan dorong menjadi arah baru bagi parlemen Indonesia, menuju green parliament dan green diplomacy. Ide itu bukan sekadar wacana akademik, melainkan komitmen agar kebijakan negara berpihak pada keberlanjutan. Namun di tengah idealisme itu, Sultan juga menyoroti sisi gelap demokrasi Indonesia: biaya politik yang terlampau mahal. “Untuk jadi anggota DPR, DPD, apalagi kepala daerah, biayanya luar biasa mahal. Ini tidak adil bagi anak-anak muda yang punya idealisme tapi tidak punya modal besar,” tegasnya. Ia menilai, sistem demokrasi pasca-reformasi perlu ditinjau ulang agar lebih efisien dan inklusif bagi generasi baru. Maka dari itu, Sultan menegaskan, sudah waktunya anak muda tidak hanya menjadi penonton atau “generasi penerus”, tetapi penentu arah bangsa. “Jangan mau cuma dibilang generasi penerus. Kita ini penentu arah bangsa,” katanya, disambut tepuk tangan mahasiswa. Ia mencontohkan banyak pemimpin muda yang kini sudah mengambil peran nyata di tingkat nasional, seperti Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak. “Kepemimpinan muda itu bukan hal baru. Sejak zaman Rasulullah, energi kepemimpinan muda sudah terbukti paling kuat,” ujarnya. Dalam momen itu, Sultan juga menyinggung bonus demografi Indonesia yang harus dikelola dengan serius. “Jumlah kita besar, tapi harus seimbang dengan kualitas. Kalau tidak, justru bisa jadi beban negara,” ucapnya. Sambil tersenyum, ia menutup orasinya dengan filosofi yang khas: menanam pohon sebagai simbol harapan. “Kalaupun hari ini kiamat, dan di tanganmu ada pohon, tanamlah. Menanam pohon itu menanam harapan, keseimbangan, sesuatu yang akan kita tuai nanti,” ujarnya, mengutip hadis yang selama ini ia pegang teguh dalam hidup dan kepemimpinannya. Sebelum meninggalkan lokasi untuk melanjutkan agenda ke Yogyakarta, Sultan berjanji akan membuka ruang kolaborasi lebih luas bagi IMM dan mahasiswa Indonesia. “Kalau nanti pengurus baru IMM terbentuk, saya undang ke Jakarta. Kita buat sesuatu yang besar untuk Indonesia,” katanya menutup pidato.