Ketua Umum DPP IMM: Mahasiswa Harus Jadi Penggerak Peradaban, Bukan Penonton Perubahan

pwmu.co –Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) Riyan Beltra Delza menegaskan bahwa mahasiswa sejati bukan sekadar pandai berorasi, tetapi harus hadir sebagai pejuang dan penggerak perubahan bangsa. Hal itu ia sampaikan dalam sambutan penutupan Tanwir XXXIII DPP IMM yang digelar di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (31/10/2025). “Mahasiswa itu pejuang sejati, bukan cuma pandai dalam berorasi. Bersama Kapolri kita berkomitmen tinggi, membangun bangsa dengan aksi dan prestasi,” ujar Riyan membuka sambutannya. Ryan juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung kesuksesan Tanwir XXXIII, terutama Universitas Muhammadiyah Malang dan Rektor Prof. Dr. Nazaruddin Malik. Ia menilai dukungan dan optimisme seluruh kader menjadi faktor penting terselenggaranya Tanwir dengan baik. “Tanpa kontribusi teman-teman semua yang optimis, mustahil agenda Tanwir ini berjalan dengan baik,” katanya. Menurut Riyan, Tanwir XXXIII menjadi momentum penting bagi IMM untuk meneguhkan arah gerakan dan memperbarui semangat kolektif kader di seluruh Indonesia. “Tanwir ini adalah momentum pencerahan. Di tempat inilah kami meneguhkan arah perjuangan, memperkuat gagasan, dan mempererat silaturahmi,” tuturnya. Ia menegaskan bahwa di tengah upaya bangsa menuju negara maju, IMM tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan. “IMM hadir bukan sekadar penonton, tetapi terlibat penuh sebagai penggerak peradaban,” tegasnya. Riyan juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Kepolisian RI Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang dinilai menjadi mitra kritis dan kolaboratif bagi IMM, serta kepada Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, H. Yandri Susanto. Ia berharap program-program kementerian dapat menjawab keresahan masyarakat desa yang tengah menghadapi tekanan ekonomi. Penyerahan Cendramata dari Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke Kapolri (Foto: Istimewa) Dalam penutupnya, Ryan berpesan kepada seluruh kader IMM untuk menanamkan sikap rendah hati, terbuka, dan siap berkolaborasi dengan semua pihak. “Tidak ada yang bisa hidup tanpa peran dan keterlibatan orang lain. Jangan jadikan kebencian sebagai penghalang untuk bergerak dan bersilaturahmi,” pesan Riyan. Ia menegaskan, semangat kebersamaan dan kolaborasi harus menjadi dasar gerakan IMM ke depan. “Membangun Indonesia tidak bisa sendiri. Jadikan Tanwir XXXIII ini momentum memperkuat konsolidasi, kolaborasi, dan proyeksi gerakan. Semoga semua yang kita perjuangkan bernilai ibadah dan bermanfaat bagi masa depan bangsa,” pungkasnya. (*)

Kapolri dan Menteri Desa Hadiri Penutupan Tanwir XXXIII IMM di UMM, Begini Pesannya

MALANG (SurabayaPost.id) – Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) RI, Yandri Susanto, S.Pt, M.Pd., hadir dalam penutupan Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kumat (31/10/2025). Keduanya memberikan pesan kolaboratif kepada para mahasiswa untuk bersinergi dalam membangun bangsa. Dalam kesempatan tersebut, Kapolri menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap dinamika geopolitik global yang tengah bergejolak. Lebih dari 110 konflik bersenjata di berbagai belahan dunia, termasuk perang Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina, berdampak besar terhadap stabilitas ekonomi, pangan, dan energi dunia. “Meski dunia menghadapi inflasi global dan ketidakpastian, Indonesia masih berada dalam kondisi yang cukup baik. Namun, Indonesia tidak boleh lengah,” tegas Listyo Sigit. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo Listyo Sigit juga menekankan pentingnya sinergi antara generasi muda dan pemerintah dalam menghadapi tantangan global. Ia menyinggung pentingnya bonus demografi yang harus dimanfaatkan secara produktif agar tidak berubah menjadi bencana demografi. “Kita memasuki era citizen journalism. Siapapun bisa mengomentari, siapapun bisa menjadi sumber. Maka, saring dulu sebelum sharing,” ujarnya. Sementara itu, Menteri Yandri Susanto mengajak IMM menjadi bagian dari gerakan pembangunan desa berkelanjutan. Ia menekankan bahwa kehadirannya bukan untuk berceramah, melainkan untuk membangun kemitraan konkret. “Desa telah menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek. Itulah mengapa pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan menjadi fokus utama pemerintah,” jelasnya. Dengan ditandatanganinya MoU ini, diharapkan dapat memperkuat sinergi antara akademisi, pemerintah, dan generasi muda untuk membangun Indonesia dari akar peradaban yaitu desa. (ist). Yandri juga menandatangani MoU dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk kerja sama dalam pembangunan desa. “Saat ini, kami siap menandatangani MoU dengan UMM, semoga bisa memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” tambahnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si menekankan pentingnya melahirkan insan paripurna, manusia seutuhnya yang tidak hanya unggul dalam transfer ilmu, tetapi juga spiritualitas, keagamaan, dan kebangsaan. “UMM sebagai amal usaha Muhammadiyah akan terus mendukung kegiatan seperti Tanwir ini,” ujarnya. Kehadiran keduanya memberikan pesan kolaboratif kepada para mahasiswa untuk bersinergi dalam membangun bangsa. (Foto: Humas UMM). Dengan ditandatanganinya MoU ini, diharapkan dapat memperkuat sinergi antara akademisi, pemerintah, dan generasi muda untuk membangun Indonesia dari akar peradaban yaitu desa. (lil).

Begini Cara UMM Jadikan Dosen Motor Inovasi

MAKLUMAT – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menegaskan komitmennya sebagai kampus yang tak berhenti di ruang akademik. Melalui Forum Penguatan Kampus Berdampak bagi Dosen, di Basement Dome UMM pada Jumat (31/10/2025), universitas ini berupaya memperkuat peran dosen sebagai penggerak inovasi dan perubahan sosial. Forum ini menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Diktisaintek) RI, Prof. Dr. Brian Yuliarto, M.Eng., Ph.D., yang menekankan pentingnya sinergi antara riset kampus dan kebutuhan industri. Menurutnya, banyak hasil penelitian yang berakhir di jurnal tanpa pernah dimanfaatkan masyarakat. “Kalau universitas tidak hadir di tengah industri, maka hasil riset akan berhenti sebagai tumpukan laporan,” ujarnya di hadapan ratusan dosen UMM. Ia menyebut fenomena ini sebagai valley of death—jurang kematian inovasi—ketika penelitian berhenti di tengah jalan karena lemahnya jejaring kolaborasi. Brian menilai, permasalahan utama riset di Indonesia bukan hanya soal pendanaan, tetapi juga absennya ekosistem yang mendorong keberlanjutan inovasi. Banyak proyek penelitian berhenti begitu dana habis, tanpa mekanisme menuju hilirisasi atau penerapan di lapangan. Karena itu, ia mendorong universitas memiliki lembaga khusus yang mampu menjembatani hasil penelitian dengan pihak industri, pemerintah, maupun masyarakat. “Universitas perlu punya unit yang bisa mengurus hak kekayaan intelektual, kemitraan bisnis, hingga skema pendanaan lanjutan. Dengan cara itu, riset tidak sekadar jadi karya ilmiah, tapi solusi nyata bagi bangsa,” jelasnya. Baca Juga  UMM Wakili LLDIKTI 7 di Ajang Mahasiswa Berprestasi Dosen sebagai Agen Perubahan Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyebut forum ini sebagai momen penting untuk memperkuat komitmen sivitas akademika dalam membangun ekosistem kampus yang berdampak. Menurutnya, konsep “kampus berdampak” bukan sekadar slogan, tetapi arah gerak UMM yang ingin memastikan setiap inovasi membawa manfaat langsung bagi masyarakat. “Kita ingin UMM dikenal bukan hanya karena kualitas akademiknya, tapi karena kebermanfaatannya. Setiap dosen adalah agen perubahan. Karena itu, kolaborasi lintas bidang dan riset aplikatif harus terus diperluas,” ujarnya. Langkah konkret ke arah itu diwujudkan melalui pendirian Direktorat Saintek UMM, yang berfungsi sebagai wadah hilirisasi hasil riset dosen dan mahasiswa. Direktorat ini menjadi jembatan antara kampus dan industri, agar ide dan penelitian tidak berhenti di laboratorium. Memecah Kebuntuan Riset Dalam paparannya, Brian Yuliarto menyebut UMM memiliki potensi besar untuk menjadi model universitas yang mampu memecah kebuntuan inovasi. Kultur kolaboratif dan tradisi pengabdian masyarakat yang kuat di kampus ini, menurutnya, bisa menjadi modal membangun sistem riset berkelanjutan. “Kalau dikelola dengan baik, UMM bisa jadi contoh universitas yang tidak hanya unggul akademik, tapi juga produktif dalam menciptakan inovasi yang hidup di masyarakat,” tegasnya. Sementara itu, Wakil Menteri Diktisaintek Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., menilai peran dosen krusial dalam membangun budaya ilmiah yang progresif. Ia menekankan bahwa dosen harus berani keluar dari zona nyaman dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat perubahan sosial. Baca Juga  Gubernur AAL Dorong Lahirnya Pemimpin Baru dari Dome UMM “Penguatan dosen adalah kunci menghadapi tantangan global. Mereka harus mendorong mahasiswa berpikir kritis dan produktif,” ujarnya. Kampus Berdampak, Masyarakat Merasakan Forum tersebut juga diwarnai penyerahan simbolis karya inovasi dari dosen dan mahasiswa. Sebagian hasil riset sudah berhasil dihilirisasi, sementara lainnya tengah dikembangkan di Direktorat Saintek UMM. Langkah ini menjadi bukti bahwa universitas tak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi berkomitmen mengubah hasil riset menjadi solusi bagi dunia industri dan masyarakat luas. Melalui forum ini, UMM menegaskan diri bukan sekadar lembaga pendidikan tinggi, melainkan ruang lahirnya gagasan dan inovasi yang hidup di tengah masyarakat. Kampus berdampak, bagi UMM, berarti kampus yang memberi manfaat nyata—bukan hanya bagi ilmu pengetahuan, tapi juga bagi kehidupan.

Kapolri Ajak Mahasiswa Muhammadiyah Jadi Penggerak Ketahanan Bangsa

JAVASATU.COM– Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengajak kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) untuk menjadi penggerak ketahanan bangsa di berbagai bidang, mulai dari pangan, teknologi, hingga sosial kemasyarakatan. Kapolri Hadiri Penutupan Tanwir IMM di UMM. (Foto: Ist/Javasatu.com) Ajakan itu disampaikan Kapolri saat menghadiri penutupan Tanwir XXXIII IMM 2025 di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (31/10/2025). Acara bertema “Energi Kolektif untuk Negeri” ini dihadiri ribuan mahasiswa dan kader IMM dari berbagai daerah. Kehadiran Kapolri menjadi bentuk dukungan terhadap peran strategis mahasiswa dalam menjaga kemandirian dan ketahanan nasional di tengah tantangan global. Mahasiswa Didorong Jadi Kekuatan Strategis Bangsa Dalam sambutannya, Jenderal Sigit menegaskan pentingnya peran mahasiswa Muhammadiyah sebagai kekuatan moral dan intelektual bangsa. Ia menyebut generasi muda harus mampu menghadirkan solusi nyata atas berbagai persoalan nasional. “Mahasiswa tidak boleh hanya jadi penonton. IMM harus menjadi penggerak, terutama dalam menjaga ketahanan bangsa melalui kreativitas, inovasi, dan kepedulian sosial,” ujar Kapolri. Ia menambahkan, semangat kolaborasi antara mahasiswa dan institusi negara seperti Polri sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas dan memperkuat daya saing nasional. Perkuat Sinergi Polri dan Mahasiswa Kapolres Malang AKBP Danang Setiyo P.S. menuturkan, kehadiran Kapolri di tengah kader IMM menjadi simbol sinergi antara Polri dan generasi muda kampus dalam membangun semangat kebangsaan dan kedisiplinan sosial.

Begini Pesan Kapolri dan Menteri Desa untuk Pemuda di Tanwir IMM

Penutupan Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) diwarnai pesan kolaboratif dari dua tokoh nasional, Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si. dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) RI, Yandri Susanto, S.Pt., M.Pd. Keduanya menekankan pentingnya sinergi antara generasi muda dan pemerintah dalam menghadapi tantangan global dan membangun kemandirian bangsa, khususnya di sektor desa dan ketahanan nasional. Adapun agenda ini dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 31 Oktober 2025 ini. Dalam paparannya, Listyo Sigit menegaskan perlunya kewaspadaan terhadap dinamika geopolitik global yang tengah bergejolak. Ia menyoroti lebih dari 110 konflik bersenjata di berbagai belahan dunia, termasuk perang Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina, yang berdampak besar terhadap stabilitas ekonomi, pangan, dan energi dunia. Ia melanjutkan, meski dunia menghadapi inflasi global dan ketidakpastian, Indonesia masih berada dalam kondisi yang cukup baik. Namun, Indonesia tidak boleh lengah. Ia juga menekankan pentingnya swasembada pangan dan energi sebagai kunci menghadapi krisis dunia. Ia menjelaskan bahwa Polri turut berperan aktif, salah satunya melalui program penanaman jagung di lahan seluas satu juta hektare. Maka menurutnya, Polri sangat terbuka kepada IMM untuk bekerja sama dalam hal tersebut. Selain itu, Listyo Sigit menyinggung pentingnya bonus demografi yang harus dimanfaatkan secara produktif agar tidak berubah menjadi bencana demografi. Ia memaparkan berbagai langkah pemerintah, seperti pembangunan sekolah rakyat, peningkatan kesejahteraan guru, program magang vokasi, serta dukungan terhadap UMKM sebagai bagian dari strategi pembangunan manusia unggul. Kapolri juga mengingatkan bahaya penyalahgunaan teknologi digital, terutama fenomena misinformasi, disinformasi, dan deepfake yang dapat merusak sendi kehidupan sosial. “Kita memasuki era citizen journalism. Siapapun bisa mengomentari, siapapun bisa menjadi sumber. Maka, saring dulu sebelum sharing,” tegasnya. Isu sosial seperti judi online dan penyalahgunaan narkoba turut menjadi perhatian. Data Polri menunjukkan, pengguna judi daring tertinggi berasal dari kelompok berpendapatan rendah, bahkan melibatkan anak di bawah umur. Hingga kini, Polri telah memusnahkan 288 ton narkoba berbagai jenis yang berpotensi memengaruhi lebih dari 629 juta jiwa. Menutup pesannya, Listyo menegaskan dukungan Polri terhadap IMM sebagai mitra strategis dalam menjaga ketertiban dan menjadi kekuatan moral bangsa. Hal tersebut dikarenakan IMM memiliki peran penting sebagai suara moral dan intelektual yang menyeimbangkan kebijakan pemerintah. Sementara itu, Menteri Yandri Susanto hadir dengan semangat kolaboratif, mengajak IMM menjadi bagian dari gerakan pembangunan desa berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa kehadirannya bukan untuk berceramah, melainkan untuk membangun kemitraan konkret. Ia menukil pesan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ‘Kita bukan superman, tetapi superteam’. Ia menyoroti tantangan urbanisasi ekstrem seperti di Jepang dan Korea Selatan, di mana sebagian besar penduduk meninggalkan desa untuk tinggal di kota. Fenomena ini, katanya, berpotensi menimbulkan krisis sosial dan ekonomi. “Desa telah menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek. Itulah mengapa pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan menjadi fokus utama pemerintah,” jelasnya. Yandri menjelaskan capaian positif Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang mencatatkan pendapatan bersih hingga Rp28 miliar per tahun, serta kemajuan desa ekspor di berbagai daerah seperti Blitar dan Banyumas. Pemerintah, tambahnya, kini mendorong munculnya desa tematik, seperti desa ikan nila, desa ayam petelur, hingga desa jagung dan timun. Saat ini, pihaknya telah bekerjasama dengan Polri melalui program Desa Bersinar (Bersih Narkoba), yang melibatkan 20 satgas anti-narkoba di tiap desa. “Adapun hari ini saya siap menandatangani MoU dengan Univesitas Muhammadiyah Malang (UMM), semoga bisa memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” tambahnya. Dengan ditandatanganinya MoU antara Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi bersama UMM di agenda IMM menandai langkah nyata sinergi. Yakni antara akademisi, pemerintah, dan generasi muda untuk membangun Indonesia dari akar peradaban yaitu desa. Sebagai tuan rumah, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menekankan pentingnya melahirkan insan paripurna, manusia seutuhnya yang tidak hanya unggul dalam transfer ilmu, tetapi juga spiritualitas, keagamaan, dan kebangsaan. “UMM sebagai amal usaha Muhammadiyah akan terus mendukung kegiatan seperti Tanwir ini,” ujarnya. Penutupan Tanwir XXXIII IMM menjadi titik penting kolaborasi antara pemerintah dan mahasiswa Muhammadiyah. Melalui kehadiran Kapolri dan Menteri Desa, semangat membangun bangsa dari desa hingga kota mendapat makna baru, bahwa perubahan sosial tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan melalui kerja sama, kepemimpinan moral, dan komitmen kolektif. (bil/wil)

Menteri Diktisaintek di UMM: Riset dan Inovasi Harus Hidup di Masyarakat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen menjadi kampus berdampak. Salah satunya dengan memperkuat kapasitas dan kontribusi tenaga pendidik dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif dan inovatif, melalui forum Penguatan Kampus Berdampak bagi Dosen, yang digelar di Basement Dome UMM pada Jumat 31 Oktober 2025. Forum yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Diktisaintek) RI, Prof. Dr. Brian Yuliarto, M.Eng., Ph.D., menjadi wadah refleksi dan inspirasi bagi para dosen untuk memperkuat peran mereka sebagai pendorong riset, inovasi, dan kontribusi nyata terhadap masyarakat. Penyerahan simbolis karya-karya inovasi dari dosen maupun mahasiswa turut menjadi bagian penting dalam forum ini. Beragam karya yang telah berhasil dihilirisasi dan sebagian lainnya yang masih dalam tahap pengembangan dikumpulkan dan terus dikembangkan di Direktorat Saintek UMM. Ini menjadi bukti nyata eksistensi UMM sebagai Kampus Berdampak. Momen ini menegaskan komitmen UMM untuk tidak hanya menghasilkan inovasi di ruang akademik, tetapi juga memastikan karya tersebut memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan dunia industri. Dalam pemaparannya, Brian menyoroti salah satu persoalan mendasar dalam dunia pendidikan tinggi, yakni lemahnya hubungan antara hasil riset perguruan tinggi dan kebutuhan industri. Menurutnya, banyak penelitian yang berakhir di jurnal ilmiah tanpa pernah sampai ke tahap implementasi yang memberi manfaat bagi masyarakat. Fenomena ini disebutnya sebagai valley of death—jurang kematian inovasi—di mana ide dan hasil penelitian berhenti di tengah jalan karena tidak ada kolaborasi yang kuat antara kampus dan dunia usaha. Ia menambahkan, persoalan ini bukan hanya disebabkan oleh lemahnya jejaring dengan industri, tetapi juga karena belum terbentuknya ekosistem riset yang mendorong keberlanjutan inovasi. Riset sering kali berhenti setelah pendanaan selesai, tanpa ada mekanisme untuk melanjutkan hasilnya ke tahap pengembangan produk, kebijakan, atau teknologi yang dapat diterapkan. “Kita punya begitu banyak penelitian yang potensial, tapi terlalu sedikit yang benar-benar dimanfaatkan. Kalau universitas tidak hadir di tengah industri, maka hasil riset hanya akan berhenti sebagai tumpukan laporan. Perguruan tinggi harus turun tangan agar inovasi bisa hidup dan digunakan masyarakat,” ujarnya. Lebih lanjut, Brian menekankan pentingnya dukungan kelembagaan yang sistematis agar riset dosen dapat terhubung dengan pihak eksternal, baik pemerintah maupun sektor swasta. Ia menilai bahwa universitas perlu memiliki unit atau lembaga khusus yang menjembatani hasil penelitian dengan mitra pengguna, termasuk dalam hal regulasi, hak kekayaan intelektual, dan pendanaan lanjutan. Dengan cara itu, penelitian tidak hanya menjadi ajang akademik semata, tetapi juga berperan sebagai solusi konkret terhadap persoalan bangsa. Ia juga menegaskan bahwa peran dosen menjadi kunci utama dalam menghidupkan ekosistem tersebut. Dosen tidak hanya dituntut menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga mengarahkan risetnya agar selaras dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan nasional. “UMM memiliki potensi besar untuk menjadi contoh universitas yang mampu memecah kebuntuan ini. Karena kultur kolaboratif dan tradisi pengabdian yang kuat di UMM bisa menjadi modal penting untuk membangun sistem inovasi yang berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, UMM dapat menjadi model kampus yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga produktif dalam menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat dan industri,” ujarnya. Sementara itu, Wamendikti saintek Prof. Dr. Fauzan, M.Pd. menyampaikan bahwa UMM selama ini telah membangun landasan kuat untuk menjadi universitas yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga berdampak sosial. Dosen memiliki peran penting dalam menciptakan budaya ilmiah yang progresif dan mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis serta produktif. Penguatan dosen menjadi kunci dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Menurutnya, dosen harus berani keluar dari zona nyaman dan menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat perubahan sosial. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa forum ini menjadi momentum penting bagi sivitas akademika untuk memperkuat komitmen sebagai kampus berdampak. Ia menilai, konsep kampus berdampak bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita yang harus diwujudkan melalui kerja kolektif, pengabdian, dan inovasi berkelanjutan. dosen harus menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat, menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan lokal maupun global. Salah satu langkah besar UMM yakni mendirikan dan menjalankan Direktorat Saintek UMM yang menjadi wadah hilirisasi hasil riset dan ide dosen maupun mahasiswa. “Kita ingin UMM dikenal bukan hanya karena kualitas akademiknya, tapi karena kebermanfaatannya bagi masyarakat. Setiap dosen adalah agen perubahan. Untuk itu, mari kita memperluas kolaborasi lintas bidang dan memperkuat riset yang memiliki nilai aplikatif,” tegasnya. (vin/wil)

Hadiri Tanwir XXXIII IMM, Bahlil Tekankan Kemandirian dan Semangat Kolektif Pemuda

pwmu.co – Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) resmi dibuka dengan penuh semangat di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (29/10/2025) sore.Acara yang mengusung tema “Energi Kolektif untuk Negeri” ini berlangsung meriah dan dihadiri oleh berbagai tokoh nasional, di antaranya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Ketua PP Muhammadiyah Agung Danarto, Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najmudin. Juga hadir Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik. Ribuan kader IMM dari seluruh Indonesia memenuhi Dome UMM, menandai semangat kebersamaan yang membara. Dalam bagian inti pidatonya, Bahlil Lahadalia menyoroti arah kebijakan energi nasional yang kini fokus pada transisi energi bersih dan kemandirian produksi. Ia menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen mengurangi impor minyak dan meningkatkan produksi dalam negeri melalui program campuran bahan bakar berbasis etanol dari jagung, tebu, dan singkong. “Kita tidak boleh terus bergantung pada impor. Indonesia punya sumber daya alam yang melimpah. Sudah saatnya rakyat menjadi tuan di negerinya sendiri,” tegasnya. Bahlil juga menyebutkan bahwa hingga Oktober 2025, target produksi minyak nasional telah mencapai 650 ribu barel per hari, sesuai target APBN. Ia menargetkan pada tahun 2029 Indonesia mampu mencapai 900 ribu barel per hari, serta memastikan seluruh desa di Indonesia teraliri listrik. “Program elektrifikasi ini akan menjangkau hingga pelosok Papua, NTT, dan Maluku. Tidak boleh ada lagi desa tanpa listrik,” katanya optimis. Mengajak Mahasiswa Jadi Mitra Kritis Bahlil menegaskan, pemerintah tidak anti kritik. Ia bahkan mengajak mahasiswa untuk berdiskusi secara terbuka, dengan basis data dan argumen yang kuat. “Silakan kritik saya. Tapi datanglah dengan data, bukan emosi. Saya terbuka untuk dialog, bahkan kalau mau diskusi dari jam tujuh pagi sampai tujuh pagi lagi, saya siap,” ujarnya disambut tawa peserta. Di akhir pidatonya, Bahlil menyampaikan apresiasi kepada seluruh kader IMM atas semangat dan dedikasinya dalam membangun bangsa. Ia kemudian secara resmi membuka Tanwir XXXIII IMM, didampingi oleh Ketua PP Muhammadiyah, Gubernur Jawa Timur, Rektor UMM, dan Ketua Umum DPP IMM Riyan Betra Delza. “Selamat bermusyawarah, teruslah berkontribusi dengan energi kolektif untuk negeri,” pungkasnya. Terakhir Bahlil kemudian secara resmi membuka Tanwir XXXIII IMM dengan memetik Kecambi didampingi oleh PP Muhammadiyah, BPH UMM, Gubernur Jawa Timur, Rektor UMM, dan Ketua Umum DPP IMM. (*) *) Penulis : Alfain jalaluddin ramadlan | Editor : Agus Wahyudi

Menteri ESDM Bahlil Turunkan Tim Khusus Selidiki Kasus BBM Bermasalah di Jatim, Minta Waktu

SURYAMALANG.COM, MALANG – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah telah menurunkan tim khusus untuk menyelidiki dugaan kasus BBM bermasalah yang menyebabkan sejumlah kendaraan rusak usai mengisi bahan bakar di SPBU Pertamina di beberapa wilayah Jawa Timur. Kejadian ini terjadi di sejumlah daerah, yakni di Malang, Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo dan sejumlah daerah lainnya di Jatim. Pernyataan itu disampaikan Bahlil usai menghadiri Pembukaan Tanwir Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (29/10/2025). “Begitu saya mendarat, saya langsung panggil Dirut Pertamina Patra Niaga, BPH Migas, dan Lemigas untuk menerima laporan langsung,” “Sekarang tim saya masih berada di daerah sini, nanti saya akan rapat dengan mereka di bandara,” kata Bahlil. Bahlil menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam apabila ditemukan kesalahan dari pihak Pertamina. Ia memastikan sanksi tegas akan diberikan bila terbukti ada pelanggaran dalam distribusi atau kualitas BBM. “Kalau ditemukan ada pelanggaran yang dilakukan oleh Pertamina, maka pemerintah akan memberikan sanksi tegas,” “Tapi semuanya masih dalam proses. Kita harus cek dulu kebenarannya tentang kualitas minyaknya,” ujarnya. Bahlil menyebut, hasil uji laboratorium Lemigas terkait kualitas BBM yang diduga bermasalah di Jawa Timur akan keluar dalam 1–2 hari ke depan. Ia meminta masyarakat bersabar dan tidak berspekulasi sebelum hasil tersebut diumumkan resmi. “Saya belum bisa menyimpulkan benar atau tidaknya. Kita tunggu hasil kajian dari tim,” “Paling lama saya butuh waktu 1–2 hari, besok saya akan langsung memimpin rapat di Jakarta,” tegasnya. Adapun tim investigasi yang diturunkan terdiri dari perwakilan Ditjen Migas, Lemigas, BPH Migas, dan Pertamina Patra Niaga. Mereka akan memeriksa rantai distribusi BBM, mulai dari sumber hingga ke SPBU, untuk mencari tahu di mana letak persoalan sebenarnya. Sementara itu, ketika ditanya soal skema ganti rugi bagi masyarakat yang kendaraannya terdampak, Bahlil mengatakan hal itu baru bisa dibahas setelah hasil penyelidikan keluar. “Nanti kami akan melakukan pertemuan dengan Pertamina baru akan kami cek,” “Kalau memang benar rusak, nanti saya minta kepada Pertamina untuk membenahi semuanya,” tandasnya.

Ketua DPD RI kenalkan demokrasi hijau bentuk kebijakan berkelanjutan

Antaranews – Malang, Jawa Timur (ANTARA) – Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan Bachtiar Najamudin memperkenalkan konsep atau demokrasi hijau untuk membentuk kebijakan politik yang seimbang dan berkelanjutan bagi lingkungan. “Jadi green democracy memang istilah yang agak baru dan coba kami kembangkan, kami menginginkan agar demokrasi semakin sejuk dan pro terhadap lingkungan. Memang tidak mudahayah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kota Malang, Jawa Timur, Rabu. Menurut dia, dengan memasifkan pengenalan konsep demokrasi hijau ke depannya bisa melahirkan seorang pejabat negara maupun politikus yang mampu menjalankan roda pemerintahan melalui pembuatan kebijakan, salah satu soal perekonomian, tetapi tak boleh mengesampingkan kewajiban melestarikan alam. Dia menyebut kebijakan perekonomian memang sangat dibutuhkan, tetapi untuk mewujudkan sebuah keberlanjutan perlu menakar dampak terhadap sektor lain, salah satunya memastikan bahwa setiap regulasi tetap memiliki fokus terhadap proses dan mekanisme meminimalkan dampak kerusakan alam. “Sebab, jika tidak dijalankan kerusakan alam justru akan menimbulkan dampak kerugian terhadap masyarakat. Jadi keduanya harus bisa berjalan paralel,” ujarnya. Soal alasan menggaungkan demokrasi hijau di dalam pelaksanaan Tanwir XXXIII IMM, disebutnya merupakan upaya untuk mendekatkan konsep tersebut kepada para mahasiswa. Dia tak memungkiri bahwa IMM merupakan salah satu organisasi yang banyak melahirkan pejabat publik maupun politisi di level daerah atau pusat sehingga perlu diperkenalkan dengan konsep tersebut. Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Pusat IMM Riyan Betra Delza mengingatkan kepada seluruh anggota organisasi itu agar membuat sebuah kebijakan yang bernilai bagi seluruh masyarakat, bisa dipertanggungjawabkan, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Riyan menyampaikan setiap orang yang tergabung di IMM harus mampu memikirkan dan menempatkan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi serta golongan. Selain itu, dia berharap IMM mampu menganggap jajaran eksekutif, legislatif, yudikatif sebagai mitra kritis dan strategis dalam misi menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. “Sejauh mana kualitas kami dalam bersilaturahmi, sejauh mana kualitas kami dalam membangun soliditas dan solidaritas, dan sejauh mana kualitas kami dalam berjamaah. IMM tidak bisa sendiri, kita harus selalu bersama,” ujar dia.

Di Hadapan Kader IMM, Bahlil Dorong Pemuda Jadi Pelopor Kemandirian Energi

Metrotvnews – Malang: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan masa depan bangsa berada di tangan pemuda yang siap berproses dan berkontribusi nyata. Pernyataan itu disampaikannya saat membuka Tanwir XXXIII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “IMM adalah kader yang kelak menjadi pemimpin negara ini. Jangan hanya berhenti pada wacana, tapi harus turun tangan mengeksekusi gagasan. Negara ini butuh anak muda yang punya visi dan keberanian mengambil keputusan,” ujar Bahlil, Rabu, 29 Oktober 2025. Dalam orasinya, Bahlil menyoroti dua fokus kebijakan energi nasional: kemandirian energi dan transisi energi berkelanjutan. Ia menegaskan Indonesia tidak boleh terus bergantung pada impor bahan bakar yang dapat melemahkan kedaulatan ekonomi. “Saya tegaskan, kita tidak bicara soal oplos bensin. Yang sedang kami kembangkan adalah etanol energi bersih yang bisa dibuat dari jagung dan singkong. Ini bukan akal-akalan, tapi langkah nyata agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor,” tegas Bahlil. Etanol mampu menggantikan sebagian kebutuhan bensin sekaligus menekan emisi karbon. Bahlil mencontohkan kesuksesan Brasil dan India dalam memanfaatkan etanol untuk mengurangi biaya impor dan meningkatkan nilai ekonomi pertanian. “Indonesia punya bahan baku melimpah dari hasil pertanian. Saya ingin mahasiswa, termasuk kader IMM, ikut terlibat dalam pengembangan energi alternatif ini,” tambahnya. Sebagai bentuk dukungan, Bahlil memberikan 10 beasiswa bagi kader IMM berprestasi di bidang energi dan kepemimpinan. Ia berharap generasi muda Muhammadiyah mampu menjadi pelopor inovasi yang memadukan nilai-nilai Islam, nasionalisme, dan kemajuan teknologi. Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik mengapresiasi terselenggaranya Tanwir IMM di kampusnya. Menurutnya, forum ini menjadi ruang strategis untuk mengonsolidasikan gagasan besar tentang masa depan Indonesia. “Tanwir IMM bukan sekadar forum seremonial, melainkan momentum untuk meneguhkan peran mahasiswa sebagai penggerak perubahan. Kami di UMM berkomitmen mendukung lahirnya generasi muda yang berani, cerdas, dan siap memimpin masa depan Indonesia,” pungkas Nazaruddin.