Rektor UMM di Hardiknas 2026, Pendidikan Tinggi Harus Menjadi Solution Center Excellence

Transformasi budaya dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang terjadi bersamaan dengan menipisnya daya dukung Sumber Daya Alam (SDA) merupakan tantangan modern yang harus dipecahkan oleh sektor pendidikan. Hal tersebut ditegaskan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam amanat upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Sabtu (2/5/2026) yang diikuti ribuan dosen dan karyawan kampus putih. Pernyataan ini menjadi penekanan utama yang membuka arah refleksi pendidikan di tengah perubahan global yang semakin kompleks. Ia menempatkan pendidikan sebagai pemeran kunci yang tidak hanya merespons, tetapi juga menyelesaikan persoalan zaman. Nazar sapaan akrabnya menekankan bahwa tantangan global saat ini tidak bisa lagi dihadapi dengan pendekatan pendidikan yang konvensional. Ia menyoroti keterbatasan SDA di tengah meningkatnya kebutuhan dasar manusia sebagai ancaman serius bagi kualitas kehidupan. Kondisi ini menuntut pendidikan untuk bertransformasi menjadi lebih adaptif, inovatif, dan berorientasi pada solusi. “Pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM harus hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri, serta inkubator inovasi dan talenta. Peran tersebut hanya dapat dicapai melalui perbaikan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran, tata kelola institusi, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Lebih lanjut, Ia menjadikan pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai fondasi pendidikan nasional yang harus diterjemahkan secara kontekstual dalam menghadapi tantangan modern. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada simbol historis semata, melainkan menjelma menjadi kekuatan transformasi sosial. Untuk mewujudkan hal tersebut, UMM menetapkan tiga pilar strategis pengembangan universitas. Ketiga pilar tersebut meliputi Service Excellence Hub yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, Industry Solution Partner yang berperan aktif dalam menjawab kebutuhan riil dunia industri, serta Innovation and Talent Incubator yang bertujuan mendorong lahirnya inovasi dan pengembangan talenta-talenta unggul. “Ketiga pilar ini adalah jaminan mutu universitas yang sesungguhnya. Ini bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata. Implementasi pilar tersebut menjadi indikator keberhasilan perguruan tinggi dalam menjawab tantangan zaman. Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat,” tegasnya. Sebagai bagian dari rangkaian upacara peringatan Hardiknas, UMM turut memberikan penghargaan kepada sivitas akademika yang berprestasi. Penghargaan diberikan kepada dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak sekaligus peraih rekor MURI tahun 2026. Selain itu, apresiasi juga dianugerahkan kepada dosen dengan masa pengabdian 25 tahun, humas terbaik tingkat fakultas dan program studi, serta mahasiswa berprestasi tingkat universitas. Momentum Hardiknas di UMM tahun ini mempertegas bahwa pendidikan tidak bisa lagi berjalan di jalur yang sama (status quo). Pidato Rektor menjadi penanda kuat bahwa perguruan tinggi dituntut untuk bergerak lebih kritis, responsif, dan solutif. Di tengah dinamika global, pendidikan harus hadir sebagai jawaban yang nyata, bukan sekadar wacana.(Vin/Faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Gandeng PT Charoen Pokphand, UMM Gelar Campus Hiring yang Dipadati Ribuan Pelamar

Memasuki era persaingan kerja yang semakin kompetitif, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus membuktikan komitmennya dalam menjembatani karier para lulusannya. Langkah konkret tersebut salah satunya diwujudkan melalui program Campus Hiring di Aula BAU Kampus Putih pada Kamis (30/04/2026). Acara ini menjadi peluang emas bagi mahasiswa maupun alumni untuk langsung unjuk gigi di hadapan industri, sekaligus mempercepat dan mengarahkan mereka untuk segera terserap di dunia kerja. Kegiatan ini menghadirkan perusahaan besar yaitu PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, yang sedang membuka rekrutmen besar-besaran. Sebanyak 1.700 pelamar tercatat mendaftar, baik dari UMM maupun luar kampus. Dari jumlah tersebut, sekitar 460 kandidat diundang untuk mengikuti tahapan seleksi yang diprioritaskan bagi lulusan UMM, baik fresh graduate maupun yang telah berpengalaman. Human Capital Strategic PT Charoen Pokphand Indonesia, Dian Eko Wicaksono, hadir langsung memantau jalannya rekrutmen. Menurutnya, UMM bukan sekadar tempat pelaksanaan seleksi, melainkan mitra strategis perusahaan dalam berburu sumber daya manusia (SDM) unggul. Terlebih, rekam jejak alumni UMM yang banyak mengisi posisi strategis di perusahaannya membuat sinergi ini semakin kokoh. “Campus hiring di Universitas Muhammadiyah Malang adalah tujuannya untuk menjaring talenta-talenta terbaik,” tegasnya. Terpilihnya UMM sebagai titik rekrutmen tentu bukan tanpa alasan. Reputasi kampus yang besar, fasilitas mumpuni, serta jejaring kerja sama yang luas. Mulai dari program beasiswa, kolaborasi rumah sakit, hingga pusat riset menjadikan daya tarik tersendiri. Hal ini membuktikan bahwa UMM tidak hanya fokus mencetak sarjana di ruang kelas, tetapi juga mematangkan kesiapan karier mereka di lapangan. Mengenai tahapan seleksi, pihak perusahaan menerapkan standar kualifikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap posisi. “Kriteria utama tentu jurusan, karena beberapa posisi memang membutuhkan latar belakang tertentu,” jelas Dian. Walau begitu, ia menekankan bahwa kompetensi personal atau soft skills seperti daya juang, inisiatif, kreativitas, dan empati tetap menjadi parameter penilaian yang krusial. Guna mengoptimalkan proses seleksi dan menyesuaikan kapasitas ruangan, pihak penyelenggara membaginya ke dalam beberapa kloter. Para peserta langsung menjalani rangkaian psikotes hingga wawancara dalam satu hari. Menariknya, sejumlah hasil seleksi diumumkan secara langsung di hari yang sama, membuat proses rekrutmen berjalan sangat efisien dan transparan. Abdul Gafur, salah satu alumni prodi Informatika UMM, menjadi peserta yang antusias mengikuti program ini. Ia membidik posisi Production Control Analyst dan telah melakukan persiapan matang, mulai dari mendalami profil perusahaan hingga berlatih psikotes. “Salah satunya karena proses rekrutmennya dilaksanakan langsung di kampus, sehingga lebih mudah dijangkau, dan juga karena perusahaan yang membuka lowongan merupakan perusahaan besar dengan reputasi yang sudah dikenal luas, sehingga menjadi kesempatan yang sayang untuk dilewatkan,” ungkap Abdul saat ditanya alasannya melamar. Abdul menyambut positif langkah kampus dan berharap kegiatan Campus Hiring dapat terus ditingkatkan frekuensinya agar semakin banyak mahasiswa dan alumni merasakan manfaat akses langsung ke peluang karier. Harapan tersebut menjadi cerminan tingginya antusiasme mahasiswa terhadap program yang mampu menjembatani dunia akademik dan realitas industri. Melalui gelaran ini, UMM semakin mengukuhkan diri sebagai kampus unggul yang proaktif mengawal lulusannya menembus gerbang dunia profesional, membuktikan bahwa mereka siap unjuk gigi dan menjawab tantangan zaman.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Sarjana Pendidikan Terancam Dihapus Demi Industri, Ini Kata Akademisi UMM

Dunia pendidikan tinggi Indonesia tengah dihangatkan oleh perdebatan serius menyusul munculnya wacana penghapusan program studi keguruan. Usulan yang dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) RI ini didasarkan pada alasan relevansi lulusan dengan kebutuhan industri. Namun, kebijakan tersebut dinilai berisiko menyederhanakan makna pendidikan dan mengancam masa depan pembentukan karakter bangsa. Kritik tajam datang dari kalangan akademisi yang melihat kebijakan ini sebagai bentuk ‘tragedi kalkulator pendidikan’. Istilah ini merujuk pada cara pandang pragmatis yang menilai keberhasilan sebuah lembaga pendidikan hanya melalui angka statistik dan tingkat serapan kerja semata. Jika logika ini terus digunakan, peran perguruan tinggi dikhawatirkan akan tereduksi menjadi sekadar ‘pabrik’ pemasok tenaga kerja bagi industri. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. M. Isnaini, M.Pd., menyatakan bahwa wacana tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam memetakan arah pendidikan nasional secara komprehensif. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual tersebut akan tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat,” ujarnya 29 April lalu pada Tim Humas UMM. Ia menambahkan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses untuk memanusiakan manusia, sebagaimana filosofi yang diusung oleh bapak pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan tidak hanya membekali lulusan dengan keterampilan teknis agar siap bekerja, tetapi juga membangun cara berpikir, sikap, estetika, dan tanggung jawab sosial. “Jika guru atau lulusan kependidikan hanya diukur dari serapan kerja, itu sangat tidak ideal. Kalau logikanya hanya soal keterampilan teknis, lebih baik kita cukup membangun Balai Latihan Kerja (BLK) saja, tidak perlu ada perguruan tinggi. Lulusan yang hanya cakap teknis tanpa bekal nilai estetika dan moral berisiko menjadi pekerja yang kehilangan arah,” tegasnya. Lebih lanjut, Isnaini sapaan akrabnya menekankan bahwa sarjana pendidikan memiliki fleksibilitas karier yang luas. Mereka tidak harus selalu menjadi guru formal di kelas. Banyak lulusan prodi kependidikan yang berkontribusi di berbagai sektor industri dengan membawa perspektif humanistik yang tidak dimiliki oleh lulusan non-kependidikan. Sentuhan etika dan moral inilah yang sering kali tidak masuk dalam hitungan statistik serapan kerja, namun sangat krusial dalam dunia profesional. Mengenai isu surplus atau ketidaksesuaian jumlah lulusan, ia menilai persoalan utama bukan pada keberadaan prodinya, melainkan pada sistem distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang belum optimal secara nasional. Ketimpangan jumlah guru antarwilayah menunjukkan adanya hambatan struktural yang seharusnya dibenahi oleh pemerintah. Sebagai solusi, ia menyarankan agar pemerintah memperketat regulasi melalui sistem on/off program studi berdasarkan akreditasi dan evaluasi kualitas, bukan dengan menutupnya secara menyeluruh. Pengutamaan prodi dengan akreditasi “Unggul” dinilai lebih bijak untuk menjamin kualitas lulusan tanpa menghancurkan ekosistem keilmuan kependidikan. “Yang harus dibenahi adalah sistemnya. Regulasi bisa diperketat dan kualitas dievaluasi secara berkala. Persoalan pendidikan adalah persoalan masa depan peradaban, sehingga tidak bisa hanya dilihat dari kacamata statistik angka semata,” pungkasnya. Jika kebijakan ini terus dipaksakan hanya demi mengejar angka serapan industri, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan sebuah program studi, melainkan kualitas manusia Indonesia di masa depan.(vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Kolaborasi Lintas Negara dan Inovasi Turbin Angin Bawa Mahasiswa UMM Tembus Scopus Q3 Hingga Jadi Lulusan Terbaik

Kualitas riset dan iklim akademik bertaraf internasional kembali dibuktikan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui inovasi turbin angin ramah lingkungan dan kolaborasi riset lintas negara, Abi Mufid Octavio, mahasiswa Program Studi Teknik Mesin, sukses mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal terindeks Scopus Q3. Pencapaian akademik tingkat global ini sekaligus mengantarkannya meraih ekuivalensi bebas skripsi dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada gelaran Wisuda ke-121 UMM, Kamis (28/4/2026). Riset yang mengusung judul Effect of Number of Blades with 90° Angle on the Performance of Helix Savonius Vertical Wind Turbine ini bukan sekadar pemenuhan tugas akhir. Proyek ini merupakan wujud nyata kolaborasi riset strategis lintas disiplin dan lintas negara. Penelitian tersebut melibatkan kepakaran dosen Teknik Mesin dan Teknik Industri UMM, serta menggandeng mahasiswa dari National Formosa University, Taiwan. Fokus utama penelitian ini adalah hilirisasi teknologi. Mufid mengembangkan turbin angin sumbu vertikal yang dirancang khusus agar tetap beroperasi maksimal pada kecepatan angin rendah, memberikan solusi konkret bagi krisis energi di kawasan pedesaan. Dengan memanfaatkan material lokal yang mudah dijangkau di pasaran, teknologi tepat guna ini dapat dirawat secara mandiri oleh masyarakat tanpa memakan biaya besar. “Teknologi yang bagus adalah teknologi yang mampu diterapkan sesuai dengan keadaan lingkungan sekitarnya, serta dapat diperbaiki sendiri oleh masyarakat setempat,” tegasnya. Rekam jejak akademik Mufid menjadi representasi nyata dari komitmen UMM dalam mencetak lulusan unggul yang kompetitif secara global. Portofolio risetnya sangat komprehensif; tidak hanya diakui lewat publikasi Scopus, ia juga tercatat sebagai pemegang Hak Cipta (HKI) untuk alat deteksi dini Rheumatoid Arthritis dan telah menerbitkan buku panduan teknik mesin ber-ISBN. Inovasinya pun secara rutin mendapatkan pendanaan bergengsi dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemendikbudristek. Di level kompetisi, daya saingnya tak perlu diragukan. Mufid pernah menyabet gelar Juara Kategori Anugerah Pemberdaya Masyarakat pada Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025, meraih medali perak pada kompetisi sains tingkat ASEAN, serta membawa pulang gelar Juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional pada divisi Leisure Boat. Mufid menyadari bahwa seluruh pencapaian intelektualnya tidak lepas dari ekosistem akademik UMM yang sangat progresif dalam mewadahi potensi mahasiswanya. “Di UMM, semua mahasiswa diberikan kesempatan yang sama. Semua bentuk prestasi pasti dihargai di sini,” ungkap pemuda asal Jawa Timur tersebut. Ke depan, Mufid bersiap melanjutkan studi ke jenjang magister untuk terus mengembangkan kapasitas riset dan pengabdiannya. Sebagai peneliti muda yang telah teruji ketekunannya melalui berbagai fase simulasi dan kegagalan desain, ia menekankan pentingnya resiliensi dalam dunia akademik. “Kalau sedang stuck di penelitian, rehat sebentar untuk menyegarkan pikiran itu boleh. Tapi ingat, penelitian yang bagus itu bukan sekadar berkualitas, melainkan penelitian yang selesai,” pungkasnya membagikan pesan inspiratif bagi para akademisi muda lainnya.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Tembus Ketatnya Industri Otomotif Jepang, 10 Mahasiswa UMM Magang di Daihatsu Kyushu

Menembus ketatnya industri otomotif Jepang yang terkenal dengan kedisiplinan dan standar tinggi bukanlah perkara mudah. Namun, tantangan tersebut berhasil dijawab oleh para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui program magang bergengsi di Daihatsu Kyushu, Jepang, kampus putih kembali mengukuhkan kualitas mahasiswanya di level internasional. Nicholas Saputra, mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2022, menjadi salah satu dari 10 mahasiswa tangguh yang berhasil lolos seleksi untuk menjalani program ini selama satu tahun penuh, terhitung sejak 6 Agustus 2025. Kesempatan emas ini diperoleh melalui jalur resmi kampus yang diinformasikan langsung oleh program studi. Untuk mencapai titik tersebut, Nicholas dan kesembilan rekannya harus melewati proses seleksi yang panjang dan tidak sederhana. Rangkaian ujiannya meliputi tes fisik yang menuntut kebugaran prima, psikotes, evaluasi kemampuan akademik, hingga pelatihan bahasa Jepang dasar guna memastikan kesiapan mereka. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi pencapaian personal, tetapi juga mencerminkan kesiapan mahasiswa UMM dalam menghadapi persaingan global yang sesungguhnya. Pasalnya, dunia industri Jepang sangat lekat dengan budaya kerja yang disiplin, ritme cepat, dan menuntut profesionalisme tinggi. Dalam program tersebut, kesepuluh mahasiswa ditempatkan di berbagai divisi krusial. Mereka terlibat langsung di divisi welding (pengelasan) yang membutuhkan ketelitian menyambung rangka presisi, divisi painting (pengecatan) untuk pelapisan anti-karat dan pewarnaan bodi, hingga divisi assembly (perakitan) yang bertugas merangkai ribuan komponen menjadi mobil utuh. Pengalaman ini memberikan pembelajaran praktis berharga di luar ruang kelas, sekaligus memperkuat kompetensi teknis mereka. “Kalau kerjanya ya disiplin, tepat waktu, terus gak boleh sembarangan, benar-benar harus profesional,” ungkapnya. Ia mengaku sempat mengalami culture shock dengan ritme kerja yang padat. Jam kerja yang panjang serta kewajiban lembur yang hampir ada setiap hari sempat membuatnya kaget. Namun di sisi lain, sistem tersebut memberikan kompensasi yang adil dan jelas. Upah lembur yang diterima lebih tinggi dibanding jam kerja normal, sehingga memberikan semangat ekstra bagi para mahasiswa. Di balik capaian tersebut, kendala bahasa dan adaptasi budaya tetap menjadi hambatan utama dalam komunikasi di pabrik. Namun, hal itu justru diubah menjadi proses pembelajaran yang membentuk ketangguhan mental. “Kerja di luar negeri itu menarik, buat nyari skill baru, pengalaman baru, biar tahu rasanya kerja sama orang Jepang,” tuturnya. Capaian ini memperkuat citra UMM yang senantiasa sukses menjembatani kualitas akademik dengan realitas industri global. Kisah Nicholas membuktikan bahwa mahasiswa dari daerah mampu menembus panggung internasional berbekal kesiapan, keberanian, dan dukungan ekosistem kampus yang kuat.(alg/faq) Penulis: Mustafa Ahmad Al Ghifary | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Buktikan Keunggulan Sebagai Kampus Inovatif Dibidang Kehumasan

Kinerja luar biasa dan adaptasi teknologi dalam bidang kehumasan kembali mengantarkan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih prestasi membanggakan. Kampus Putih sukses menyabet penghargaan bergengsi Innovative Public Relation and Information. Momen penyerahan penghargaan ini dilangsungkan pada Sabtu (25/4) bertempat di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., mengungkapkan rasa syukurnya. Ia menegaskan bahwa apresiasi ini memiliki makna mendalam dan menjadi pemacu semangat bagi UMM untuk terus menyajikan informasi yang cepat, akurat, dan berdampak. “Penghargaan ini memiliki makna yang sangat besar bagi UMM. Ini bukan sekadar trofi, melainkan pengakuan atas komitmen kami yang selalu berupaya relevan dengan perkembangan zaman. Ini adalah hasil kerja keras kolektif seluruh tim dalam membangun jembatan komunikasi yang efektif antara kampus dan masyarakat,” tegasnya. Menanggapi inovasi yang menjadi kunci keberhasilan UMM di bidang public relations, Maharina sapaan akrabnya menjelaskan bahwa kuncinya terletak pada keberanian melakukan konvergensi media. UMM tidak lagi sekadar mengandalkan rilis berita konvensional, melainkan aktif melakukan integrasi platform digital. Mulai dari pemanfaatan media sosial yang interaktif, produksi konten audio visual secara masif, hingga optimalisasi sistem informasi yang ramah pengguna. “Dampak dari strategi komunikasi yang kami bangun sangat terasa. Bagi civitas akademika, mereka kini lebih cepat mendapatkan akses informasi. Sementara bagi publik luas, mereka bisa melihat secara transparan berbagai capaian prestasi, riset, dan kontribusi nyata UMM bagi bangsa. Keterbukaan inilah yang membuat trust masyarakat kepada UMM terus meningkat,” tambahnya. Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa UMM telah menyiapkan sejumlah langkah strategis ke depan untuk terus mengembangkan inovasi informasi agar tidak tertinggal oleh disrupsi digital. “Ke depan, kami akan terus memperkuat ekosistem informasi dengan mengadopsi teknologi terbaru, termasuk kecerdasan buatan, untuk menganalisis tren publik. Kami ingin menciptakan inovasi informasi yang jauh lebih interaktif. Harapannya, UMM akan terus menjadi trendsetter dalam praktik public relations perguruan tinggi di tingkat nasional,” pungkasnya. Prestasi yang dianugerahkan oleh portal berita PWMU.co. ini pada akhirnya semakin mengukuhkan posisi Universitas Muhammadiyah Malang sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif dalam berkomunikasi. Melalui semangat tiada henti untuk berinovasi, Kampus Putih UMM berkomitmen untuk terus hadir memberikan pencerahan, inspirasi, dan menebar manfaat yang lebih luas bagi masyarakat melalui penyajian informasi yang profesional, relevan, dan tepercaya.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Retno Marsudi di Wisuda UMM, Sebut Inovasi Air Kampus Putih Berdampak Besar bagi Dunia

Di tengah bayang-bayang krisis air yang mengancam dunia, Sejarah baru tercipta bahwa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mencetak tonggak pencapaian monumental. Kampus Putih resmi dikukuhkan sebagai pemegang mandat bergengsi UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem Sustainability of Indonesia 2026. Tak main-main, pengakuan prestisius level dunia ini diapresiasi langsung oleh Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, LL.M. Hal itu sekaligus menahbiskan UMM sebagai garda terdepan dari Indonesia dalam menjaga nadi kehidupan ekosistem perairan global. Momen bersejarah ini menjadi sorotan utama dalam prosesi Wisuda ke-121 UMM yang digelar pada Selasa (28/4/2026). Hadir secara khusus untuk memberikan orasi ilmiah, Retno Marsudi sapaan akrabnya yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI 2014-2024 juga memberikan apresiasi tinggi atas rekam jejak riset serta pengabdian masyarakat yang dilakukan UMM. “UMM selalu gigih mendorong pengembangan ekosistem perairan, tidak hanya terfokus pada aspek pelestarian namun juga penguatan ekonomi masyarakat. Universitas ini mengambil langkah-langkah kecil yang kemudian menjadi bagian penting dari langkah besar dunia,” puji Retno disambut gemuruh tepuk tangan ribuan wisudawan dan orang tua yang memadati arena. Dalam orasinya, diplomat senior ini membongkar realitas mengerikan terkait kondisi air global yang makin terancam oleh perubahan iklim, termasuk lenyapnya 600 gigaton gletser dunia di tahun 2023. Secara garis besar, dunia kini dihadapkan pada tiga krisis air ekstrem. Tercatat 80-90% bencana alam dalam sepuluh tahun terakhir adalah banjir. Di tahun 2024 saja, bencana ini mengganggu 400 juta nyawa dan merugikan ekonomi hingga 550 miliar Dolar AS. Ancaman kekeringan juga diproyeksikan akan memaksa 700 juta orang mengungsi pada 2030, dan berdampak pada tiga perempat populasi bumi di tahun 2050. Serta tercatat 2,2 miliar penduduk dunia belum memiliki akses air minum aman, memicu rentetan penyakit mematikan akibat sanitasi yang buruk. Krisis ini, lanjut Retno, berpotensi melumpuhkan ketahanan pangan dunia mengingat 70% serapan air tawar digunakan secara langsung untuk sektor pertanian. Oleh karena itu, melalui mandat UNESCO Chair ini, ia menaruh harapan besar agar UMM terus menjadi penggerak inovasi dalam riset teknologi efisiensi air, daur ulang, desalinasi, hingga sistem pendingin (cooling system) hemat air. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam sambutannya menegaskan bahwa arah pengembangan kampus tidak lagi semata berorientasi pada capaian akademik. Melalui program Center of Excellence, UMM mengintegrasikan kurikulum dengan pengalaman belajar berbasis ekosistem dan kebutuhan riil masyarakat. Pengelolaan air menjadi salah satu fokus utama yang dikembangkan sebagai solusi strategis, termasuk melalui pemanfaatan energi mikrohidro dan penguatan ketahanan wilayah. “Pengelolaan air yang kami kembangkan tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi menjadi bagian dari solusi berkelanjutan yang langsung dirasakan masyarakat. Kolaborasi lintas institusi menjadi kunci dalam menghadirkan akses air yang lebih layak, terutama bagi wilayah yang sebelumnya mengalami keterbatasan. Menurutnya, capaian ini menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya. Terakhir, ia menitipkan pesan kepada ribuan wisudawan agar terus membawa semangat pelestarian lingkungan ke tengah masyarakat, mengingat mandat UNESCO yang diterima Kampus Putih bukan sekadar penghargaan, melainkan sebuah amanah besar. Beliau mendorong para lulusan UMM untuk membuktikan diri sebagai agen perubahan yang tidak hanya tangguh secara intelektual, tetapi juga peduli pada kelestarian bumi dan masa depan peradaban, serta mampu menjadi sumber kebaikan di mana pun mereka berkarya demi menjaga titipan kehidupan bersama untuk Indonesia dan dunia. (vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Gelar Kejuaraan Karate Nasional, UMM Siapkan Hadiah Puluhan Juta dan Golden Ticket Mahasiswa Baru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat eksistensinya di bidang olahraga dengan menggelar ajang bergengsi bertajuk UMM Open Karate Championship 2026. Turnamen yang dijadwalkan berlangsung pada 2 Mei 2026 mendatang itu merupakan kejuaraan karate terbuka perdana yang diselenggarakan oleh Kampus Putih sebagai tuan rumah. Ketua Pelaksana Kejuaraan, Ir. Ary Bakhtiar, M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyatakan bahwa persiapan telah dilakukan secara maksimal guna menyambut ribuan karateka dari berbagai penjuru tanah air. Meski secara administratif merupakan kejuaraan tingkat regional, kualitas peserta yang berkomitmen hadir telah mencapai level nasional. Tercatat, atlet dari lima provinsi besar telah mengonfirmasi kehadiran mereka, yakni dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, Bali, hingga Papua. “Kami menyiapkan yang terbaik untuk kegiatan ini. Ini adalah event open perdana di UMM, tidak hanya untuk cabang olahraga karate, tetapi juga menjadi pionir bagi cabang olahraga lainnya. Target kami jelas, yakni sukses penyelenggaraan, sukses prestasi bagi kontingen UMM sendiri, serta sukses penjaringan bibit atlet berprestasi,” ujarnya 27 April pada Tim Humas UMM. Kejuaraan ini akan diikuti oleh sekitar 1.200 atlet yang akan berlaga di dua kategori utama, yaitu kategori Festival dan kategori Open. Tingginya minat peserta menunjukkan bahwa UMM Open Karate Championship telah menjadi magnet baru bagi pegiat olahraga bela diri di Indonesia. Selain memperebutkan podium juara, panitia telah menyiapkan total hadiah uang pembinaan sebesar Rp24 juta. Namun, daya tarik yang paling dinantikan oleh para atlet pelajar adalah ketersediaan Golden Ticket untuk masuk menjadi mahasiswa UMM. Program ini secara khusus dirancang untuk menjaring atlet berbakat agar dapat menempuh pendidikan di Kampus Putih, terutama pada Program Studi Kepelatihan Olahraga maupun program studi lainnya melalui jalur prestasi. Ary menjelaskan bahwa sebelumnya kegiatan karate di UMM hanya terbatas pada lingkup internal, seperti Rektor Cup. Kejuaraan terbuka ini diharapkan menjadi pemantik bagi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lainnya di lingkungan UMM untuk berani menyelenggarakan acara serupa dengan skala yang lebih luas. “Harapannya, turnamen ini memberikan awalan yang baik bagi kawan-kawan UKM untuk membuat event sekaliber ini. Setelah karate, kami sudah menyiapkan rangkaian kegiatan susulan untuk cabang bela diri lain seperti Tapak Suci dan Taekwondo,” pungkasnya. Melalui ajang ini, UMM membuktikan komitmennya dalam mendukung pengembangan bakat generasi muda sekaligus menciptakan ekosistem olahraga yang kompetitif dan profesional di lingkungan universitas.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Inisiasi Board Game Edukasi Lingkungan, Mahasiswa UMM Sabet Gelar Best Delegate di Kancah Internasional

Siapa sangka, sebuah permainan papan (board game) bisa membawa harum nama bangsa sekaligus menanamkan kepedulian ekologis bagi generasi muda. Berkat inovasi board game edukasi lingkungan bertajuk “Pahlawan PRIMA”, mahasiswa Magister Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Izza Amalia, sukses menyabet penghargaan Best Delegate dalam ajang International Youth Connection Batch 4 di Singapura dan Malaysia, pada 20–23 April 2026. Capaian membanggakan tersebut berawal dari keresahan Izza melihat metode edukasi lingkungan yang kerap kali terasa kaku. Melalui inisiasi pribadinya, ia merancang Pahlawan PRIMA sebagai terobosan metode pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan berdampak nyata. “Board game Pahlawan PRIMA ini saya inisiasi sebagai media edukasi yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendorong pemain untuk benar-benar memahami dan melakukan aksi nyata dalam menjaga lingkungan,” ujar Izza. Permainan ini membawa pemain masuk ke dalam narasi Pulau PRIMA, sebuah kawasan yang awalnya asri, seimbang, dan penuh kehidupan dengan air jernih serta pepohonan subur. Namun, kondisi itu perlahan rusak akibat tumpukan sampah, krisis air, dan bencana alam yang dipicu oleh minimnya kesadaran manusia. Di sinilah para pemain ditantang untuk mengambil peran sebagai “pahlawan” penyelamat pulau. Setiap keputusan yang diambil dalam permainan akan langsung berdampak pada nasib Pulau PRIMA, sehingga merangsang nalar kritis sekaligus menuntut tindakan yang solutif. Secara mekanis, “Pahlawan PRIMA” dirancang dengan berbagai kartu interaktif yang saling melengkapi. Terdapat kartu aksi untuk memperagakan perilaku positif, kartu tantangan yang mendorong pemain melakukan aksi nyata secara langsung, hingga kartu risiko yang memicu pemain untuk berdiskusi memecahkan masalah dalam kelompok. Kombinasi ini membuat proses pembelajaran menjadi lebih hidup, kolaboratif, dan aplikatif. Pendekatan ini menjadikan proses belajar tidak sekadar berhenti pada tataran teoritis, melainkan memberikan pengalaman langsung yang membekas. Izza menilai, metode pembelajaran berbasis permainan mampu meningkatkan keterlibatan sekaligus kesadaran peserta secara jauh lebih efektif. “Saya melihat bahwa edukasi lingkungan sering kali terasa membosankan. Karena itu, saya ingin menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian, sehingga pesan yang disampaikan bisa lebih membekas dan mendorong perubahan perilaku,” tambahnya. Menariknya, di akhir kompetisi, inovasi ini tidak hanya mengantarkan Izza meraih penghargaan individu. Tim yang digawanginya juga berhasil dinobatkan sebagai Best Group. Prestasi ganda ini kian menegaskan bahwa inovasi yang diusung mahasiswa UMM memiliki nilai kolaboratif tinggi dan dampak kuat yang diakui di tingkat internasional.(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Bukti Nyata Kampus Inklusif, UMM Antarkan Mahasiswa Berkursi Roda Lulus dengan Deretan Prestasi

Pendidikan tinggi yang bermutu sejatinya adalah hak semua orang, tak terkecuali bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Komitmen mewujudkan ekosistem pendidikan yang setara dan inklusif ini dibuktikan secara nyata oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui penyediaan infrastruktur ramah disabilitas dan budaya akademik yang suportif, Kampus Putih sukses mengantarkan Akhmad Ali Akbar, mahasiswa pengguna kursi roda dari Program Studi Psikologi, menyelesaikan masa studinya dengan deretan prestasi gemilang. Pria yang akrab disapa Akbar ini merasakan betul komitmen UMM dalam menyediakan lingkungan kampus yang ramah disabilitas. Dukungan tersebut ia rasakan sejak hari pertama berstatus sebagai mahasiswa. Keberadaan infrastruktur yang memadai, seperti akses khusus jalur kursi roda di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 hingga kemudahan mobilitas di berbagai fasilitas praktikum, membuatnya leluasa bergerak. Baginya, kenyamanan aksesibilitas fisik adalah kunci utama yang melancarkan rutinitas perkuliahannya selama empat tahun terakhir. “Sedari awal hingga kelulusan, UMM benar-benar membantu dan mendukung sehingga saya tidak merasa berat menjalani setiap proses perkuliahan meski dengan keterbatasan fisik,” ucapnya. Menariknya, ia menegaskan bahwa kemudahan tersebut murni sebatas pada aspek fasilitas penunjang mobilitas. Dalam urusan akademik, Akbar tidak mendapatkan perlakuan khusus atau keistimewaan. Ia harus melewati standar evaluasi, beban tugas, dan ujian yang sama ketatnya dengan rekan sebaya. Prinsip kesetaraan inilah yang memacu semangatnya untuk bersaing secara sehat dan membuktikan kualitas diri secara objektif di dalam ruang kelas. Selain di bidang akademik, kapasitas kepemimpinan Akbar juga terasah tajam. Kampus memberikannya panggung yang sama untuk berkontribusi secara nyata. Akbar tercatat pernah mengemban amanah sebagai eksekutif muda di Kementerian Luar Negeri Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas periode 2023-2024. Puncaknya, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Pelaksana Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Fakultas Psikologi 2024. Di bawah arahannya bersama tim, rangkaian acara tersebut sukses menyabet juara tiga sebagai Pesmaba terbaik tingkat universitas. “UMM sudah siap menjadi kampus inklusif dan pastinya akan selalu mendukung teman-teman disabilitas untuk menempuh perkuliahan dengan lancar, bagaimanapun caranya,” tegasnya. Kiprah Akbar rupanya tidak berhenti di lingkungan kampus saja. Ia juga mendedikasikan dirinya pada kegiatan sosial kemasyarakatan dengan bergabung di komunitas Turun Tangan Malang. Mengawali langkah sebagai staf Hubungan Masyarakat (Humas) pada periode 2022-2023, kinerjanya yang cemerlang mengantarkannya pada posisi Ketua Umum di periode berikutnya. Perjalanan memimpin organisasi diakuinya penuh dinamika dan lika-liku. Namun, pasang surut tersebut justru meneguhkan tekadnya untuk terus mencari pengalaman berharga. Di akhir masa studinya, Akbar memberikan pesan bagi seluruh pejuang mimpi, baik yang memiliki keterbatasan fisik maupun tidak. Ia percaya bahwa setiap doa dan kerja keras akan membuahkan hasil manis pada waktunya. “Jangan pernah berhenti berharap, berdoa, dan bermimpi karena sejatinya mimpi-mimpi itu akan terwujud di masa yang akan datang,” pungkasnya. (ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman