Komunikasi UMM Sosialisasikan Literasi Media di SMKM 2 Pagak

TIM Literasi Media yang terdiri dari tiga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yaitu Nurudin MSi, Novin Farid Styo Wibowo  MSi dan Isnani Dzuhrina MAdv melakukan pengabdian kepada masyarakat melalui sosialisasi melek media pada SMK Muhammadiyah 2 Pagak, Kabupaten Malang, Sabtu (2/4).       Nurudin, yang memimpin jalannya sosialisasi ini menyebutkan, kegiatan ini dibagi menjadi tiga kelas, yang pertama kelas literasi media, kedua kelas manajemen media sekolah, dan ketiga kelas membuat media presentasi yang baik dan benar. “Ini merupakan bentuk pengabdian kami kepada masyarakat, terutama sekolah Muhammadiyah,” ujarnya.       Di kelas media literasi yang diikuti sekitar 18 siswa, Novin Farid Styo Wibowo  MSi banyak memberikan materi tentang tayangan-tayangan televisi yang baik untuk ditonton. Materi disampaikan dengan memutar video-video terkait media literasi, dan meminta siswa kritis dengan menanggapi video tersebut. Selain itu, mereka diminta untuk membuat daftar tayangan-tayangan televisi apa saja yang baik dan tidak baik untuk ditonton.       Sementara di kelas membuat media presentasi, Isnani Dzuhrina MAdv memberikan materi dan teknik-teknik membuat media presentasi yang baik. Sebelum memberikan materi, ia meminta ke-19 siswa di kelasnya untuk membuat media presentasi yang dibandingkan saat siswa mendapatkan materi dari Isnani.       Tak ketinggalan, di kelas manajemen media sekolah, Nurudin mengajarkan dasar-dasar jurnalistik kepada 20 siswa di kelasnya. Selain memberikan materi dan teknik-teknik menulis serta manajemen media sekolah, ia kemudian meminta para siswa membentuk manajemen redaksi kecil yang akan menjadi cikal bakal media sekolah. Untuk latihan, mereka kemudian diminta untuk melakukan liputan di sekitar sekolah tersebut. Hasil liputan kemudian dikumpulkan dan dikoreksi bersama.       Kepala SMKM 2 Pagak, Sukadi SPd, mengatakan sangat terbantu dengan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Komunikasi UMM. “Kami ini kan masih kurang wawasan di luar. Dengan kehadiran dari UMM ini diharapkan bisa menambah wawasan kami sehingga siswa siswi kami juga meningkat wawasan dan kualitasnya,” kata Sukadi.       Ia kemudian berharap kerjasama antara UMM dan SMKM 2 Pagak dapat terus berlangsung. “Kalau perlu kegiatan ini akan terus berkelanjutan,” pungkasnya. (zul/han)

Muhadjir Effendy: Al-Qur’an Inspirasi Perubahan

SEIRING perkembangan zaman, kehadiran Al-Quran di dunia melahirkan ragam pemahaman dan penafsiran. Namun perbedaan tersebut harus disikapi dengan bijaksana. Hal ini diungkapkan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP dalam seminar Islam bertajuk “Futuring Your Life with Al-Quran: Peran Al-Quran dalam Membangun Peradaban” yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Jama’ah AR Fachruddin (UKM-K JF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (02/04).       “Al-Quran itu absolut, tapi juga memberikan ruang bagi umat Islam untuk mempelajarinya sehingga wajar jika memunculkan banyak perbedaan. Ini harus dihargai dan dijadikan modal untuk ber-Islam. Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin,” ujarnya di hadapan ratusan peserta yang hadir.       Ia lantas mencontohkan tokoh pemimpin dari tiga negara yang mampu membawa perubahan di negaranya, yakni Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, Pemimpin Partai Islam Al-Nadha di Tunisia, Rasyid Al-Ganousyi dan Tokoh Mesir, Hassan Al-Banna. “Mereka mampu mengimplementasikan pemahamannya dari Al-Quran dengan kepemimpinannya sehingga timbul suatu gerakan revolusioner,” terang Muhajir yang juga pakar di bidang kemiliteran ini.       Ia berharap, dengan memaknai kandungan-kandungan keilmuan yang ada di dalam Al-Quran, para generasi muda saat ini bisa menjadi pemimpin yang mampu membawa perubahan lebih baik bagi negaranya. “Jangan menunggu ilmu kita tinggi dan jangan ragu lagi untuk menggali nilai dan makna yang ada di dalam Al-Quran,” imbuhnya.       Sementara itu, founder Tahfidz Quran Tematik (TQT), Lailatul Fithriyah Azzakiyah SHI, MPdI yang memberikan pengarahan tentang mudahnya mempelajari dan memaknai Al-Quran mengatakan, Quran diturunkan ke bumi untuk dijadikan pedoman bagi kehidupan di dunia maupun akhirat. “Jadi tidak ada alasan bagi umat Islam untuk tidak mempelajari, mengerti dan mengamali segala nilai yang terkandung dalamnya,” ucapnya dalam seminar yang dibuka langsung oleh Pembantu Rektor (PR) III, Dr. Diah Karmiyati, Psi.       Ia pun memberikan langkah-langkah untuk mempelajari Quran di antaranya dengan tartil, tarjamah, tafsir, tadabur, ta’lim, tadarus dan tabligh. “Allah itu Maha Kreatif, makanya kita juga harus tau cara mengkaji, mentadabburi dan mengamalkan segala nilai yang terkandung dalam Al-Quran,” ujar Laila.       Pembina UKM-K JF, Dr. Pradana Boy ZTF, MA(AS) berharap, dengan segala rangkaian kegiatan yang diselenggarakan UKM-K JF ini bisa semakin mengembangkan ilmu-ilmu Al-Quran dan Keislaman. “Jika yang jadi tren di masyarakat hanya menghafal Al-Quran saja, mari kita tingkatkan dengan memaknai Quran untuk memecahkan segala permasalahan yang ada sehingga Al-Quran bisa dijadikan fitur di kehidupan masa depan kita,” pungkasnya.       Seminar Islam ini merupakan puncak gelaran Rektor Cup UMM 2016 yang digelar UKM-K JF. Dalam pelaksanaan Rektor Cup kali ini UKM-K JF mengadakan delapan bidang perlombaan. Diantaranya musabaqoh tilawatil Quran (qori), musabaqoh khatil Quran (kaligrafi), musabaqoh fahmil Quran (cerdas cermat), syahril Quran (da’i), lagu religi (nasyid), musabaqoh tartil Quran, karya tulis ilmiah Al-Quran dan musabaqoh hifdzil Quran (hafalan). Kompetisi yang diselenggarakan Senin-Kamis (28-31/03) ini diikuti lebih dari 200 mahasiswa dari sepuluh fakultas yang ada di UMM. (gas/han)

Rector Cup Ikabama Usung Tema Perdamaian

UNIT Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ikatan Aktivitas Band Mahasiswa (Ikabama) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengsung tema “HiPeace” dalam gelaran Rector Cup 2016 kali ini. Setiap tahunnya, Ikabama UMM memang selalu mengangkat tema yang bebeda.       Ketua Pelaksana Rektor Cup UKM IKABAMA, Pratyaksa Kartika Wahyu Putra mengatakan, tema HiPeace ini merupakan kependekan dari Hipster Peace. Hipster merupakan musik yang populer di Amerika tahun 1980-an. Menurutnya, musik hipster kala itu mampu membawa kedamaian.       Ia berharap, melalui bermusik, mahasiswa UMM bisa selalu mempromosikan perdamaian. “Sportivitas dan fairplay penting diutamakan dalam setiap kompetisi, tidak terkecuali dalam kompetisi musik, harus bebas dari kerusuhan,” ujarnya saat ditemui saat pelaksanaan kompetisi band di UMM, Sabtu (02/04).       Seperti tahun-tahun sebelumnya, UKM Ikabama mengadakan festival dan kompetisi band antar fakultas. Tahun ini, ada 16 band yang mengirimkan perwakilan, yaitu So Funny HAHA dan Chuncy (Fakultas Kedokteran), With Slowly Man (Fakultas Agama Islam), H2SO4 dan Peter K  (Fakultas Pertanian Peternakan), With Flash dan Renaisans (Fakultas Psikologi), CNE dan KINKET (Fakultas Teknik), Muhajid (Fakultas Hukum), Alzheimer (Fakultas Ilmu Kesehatan), Mission Band dan Thum Band (Fakultas Ekonomi Bisnis), Three B (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) serta Capilanos (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik).       Selain festival band antar fakultas, kegiatan Rektor Cup kali ini juga dimeriahkan penampilan band bintang tamu, di antaranya Tropical Forest dan Crimson Diary. UKM FISIP Dance, UKM Sansekarta, UKM Lentera, Komunitas Malang Vespa, Ocarinesia dan Falcon Malang Fingerboard juga turut meramaikan ajang tahunan ini. (gas/han)

UMM Jadi Tuan Rumah Lokakarya Peningkatan Mutu FK PTM se-Indonesia

ASOSIASI Pendidikan Kedokteran Kesehatan Muhammadiyah (APKKM) menggelar lokakarya mengenai Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD), Jumat (01/04) di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM). Lokakarya ini diikuti sebelas Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Indonesia yang memiliki program profesi dokter.       Selain UMM sebagai tuan rumah, perguruan tinggi yang mengikuti lokakarya ini diantaranya UM Yogyakarta, UM Jakarta, UM Surakarta, UM Semarang, UM Purwokerto, UM Makasar, UM Sumatera Utara, UM Palembang, UM Surabaya dan Universitas Ahmad Dahlan.       Dekan FK UMM, dr. Irma Suswati M.Kes mengatakan lokakarya yang bertajuk “Item Bank Administrator (IBA) dan Benchmarking (BM) / BM FK PTM” ini bertujuan menjamin mutu lulusan kedokteran di PTM. “UKMPPD ini merupakan bagian dari proses evaluasi pembelajaran yang terintegrasi dalam sistem pendidikan saat ini,” ujarnya.       Ia mengungkapkan, tingkat kelulusan UKMPPD FK PTM yang bervariasi di kisaran 50 hingga 90 persen menimbulkan kesenjangan tingkat kelulusan antar FK PTM. Selain itu, lanjut Irma, permasalahan lainnya adalah pengelolaan re-taker yang perlu mendapatkan perlakuan khusus dalam proses bimbingan sehingga peserta dapat lulus UKMPPD dengan baik. “Oleh karenanya perlu dilakukan solusi pemecahan seperti pemaparan soal UKMPPD dan proses bimbingan perlu diperhatikan dengan harapan tingkat kelulusan UKMPPD FK PTM bisa lebih meningkat,” paparnya.       Saat ini FK PTM memang berkomitmen untuk saling bekerjasama dalam bebagai bidang untuk meningkatkan kelulusan UKMPPD. Pelaksanaan UKMPPD dilaksanakan sebelum kelulusan peserta didik yang digunakan sebagai ujian kelulusan bagi mahasiswa yang mengambil program profesi dokter.       Lebih spesifik, Ketua Pelaksana Lokakarya, dr. Rubayat Indradi, MOH menjelaskan ada empat fokus dalam peningkatan kelulusan UKMPPD. Pertama, mengembangkan Tim IBA dan BM FK PTM. Kedua, mengembangkan bank soal dengan Multiple Choice Question Computer Based Test (MCQ-CBT).       Ketiga, mengembangkan model bimbingan UKMPPD dan keempat adalah mengembangkan kurikulum pengajaran FK PTM. “Akan ada komisi yang akan membahas empat fokus pengembangan sesuai dengan target yang telah ditetapkan,” terangnya.       Ia berharap, diskusi yang dihasilkan dalam lokakarya ini mampu menjadi solusi untuk meningkatkan dan menjamin mutu lulusan profesi pendidikan dokter di PTM.“Diharapkan lulusan dokter dari PTM memiliki ciri khas yang menjadi keunggulan di bandingkan lulusan perguruan tinggi lainnya,” pungkasnya. (gas/nas)

BPH UM Mataram Studi Banding ke UMM

TUJUH orang dari unsur Badan Pembina Harian (BPH) dan pimpinan Universitas Muhammadiyah Mataram (UM Mataram) berkunjung ke kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat, 01/04. Rombongan dipimpin langsung oleh ketua BPH, Abdul Muhiet El Lefaqy, disertai sekretaris, Lukmanul Hakim. Mereka diterima rektor UMM, Fauzan, asisten rektor bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Nur Hakim, dari Badan Pengembangan Akreditasi (BPA), Surya Anoraga, dan kepala Humas Nasrullah. Muhiet mengaku masih terkesan ketika tahun 2005 ikut Muktamar Muhammadiyah di UMM dan menginap di kampus ini. Pada waktu itu ia berfikir kampus sebesar UMM ini pasti memiliki visi yang kuat sehingga bisa terus maju hingga seperti sekarang. “Saya juga sering baca di Republika, selalu ada laporan panjang lebar tentang UMM. Kami selalu mengikuti perkembangan kampus ini dari Mataram,” akunya. Kepada UMM, Muhiet berharap dapat memperoleh bimbingan agar secara teknis UM Mataram memiliki kemampuan mengelola aset, keuangan, akreditasi, hingga persoalan IT. “Ini sangat penting bagi kami, karena sebagai kampus kecil kami ini ingin memiliki kualitas yang baik,” ungkapnya. Menanggapi permintaan UM Mataram, Fauzan membuka selebar-lebarnya kesempatan agar ada tim teknis yang dikirim ke UMM untuk magang dan belajar di sini. Sedangkan dengan BPH, ia mengajak berbicara tentang tema yang lebih visioner. Sebab, BPH tidak perlu mengurusi hal-hal teknis. “Biarlah nanti yang teknis-teknis langsung dipelajari, bukan dibicarakan,” kata rektor. Menurut Fauzan, masing-masing Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) memiliki karakter dan cara manajemen yang khas. Di UMM, misalnya, BPH tidak terlalu mengurusi teknis, termasuk soal keuangan. “BPH di UMM ini menjadi rujukan konsultasi dan laporan kita-kita yang mengelola universitas. Sepanjang apa yang kami lakukan benar, tidak terlalu banyak yang dibicarakan dengan BPH,” kata Fauzan terkait sikap saling percaya antara universitas dengan BPH. Lebih lanjut, Fauzan mengungkapkan dalam membina PTM lain, UMM tidak hanya memberi bantuan pinjaman tetapi juga menyiapkan mental para pengelolanya agar bisa mengelola keuangan dengan baik. Mereka harus bisa bekerja sama satu sama lain, sehingga dalam membangun atau mengelola kampus tidak terjadi konflik. “Saya kira manusiawi jika sudah ada ‘gula’ lantas ada benih-benih konflik untuk berebut, tetapi kalau itu tidak bisa diatasi maka tidak akan bisa maju. Jadi yang penting adalah mentalitas pengelolanya,” ujar Fauzan. Dalam mengelola akreditasi institusi UM Mataram juga meminta UMM memberi advice tentang bagaimana menyiapkan visitasi. Sampai saat ini pihaknya sudah mengirimkan berkas borang ke BAN PT, dan dalam waktu dekat akan divisitasi oleh asesor. “Yang penting semua standard harus terpenuhi. Jika ada bagian yang kurang, maka harus ada standar lain yang lebih baik sehingga nilainya bisa menutupi kekuarangan. Kadang-kadang penilaian kualitatif sangat diperlukan oleh asesor untuk menentukan nilai akreditasi,” pesan Surya. UM Mataram merupakan salah satu PTM di bawah binaan UMM. PTM ini dikenal sebagai kampus yang agresif dan memiliki semangat untuk maju. Tak sedikit alumni UMM yang kini menjadi dosen dan pimpinan di sana.  (nas)

Rendra Kresna: Kabupaten Malang Butuh Sentuhan Mahasiswa UMM

BUPATI Malang, Dr H Rendra Kresna, mengucapkan terimakasih kepada mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) atas bantuannya merehabilitasi sejumlah rumah di Desa Jambesari Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Ia menilai, Kabupaten Malang masih butuh inovasi dan sentuhan-sentuhan dari mahasiswa, khususnya dari UMM. “Saya sangat senang mahasiswa UMM ikut membantu program bedah rumah ini. Apalagi saya dengar sampai berinisiatif menggalang dana untuk membantu merehabilitasi rumah yang tidak mendapat bantuan dari Kemensos (Kementerian Sosial),” katanya saat ditemui seusai peresmian program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni menjadi Rumah Layak Huni di Balai Desa Jambesari, Kamis (31/3). Dalam peresmian ini, Bupati Malang secara simbolis meresmikan satu dari 20 rumah yang dibedah di Desa Jambesari oleh tim KKN UMM. Ketua Kelompok KKN UMM di Desa Jambesari, Dian Eko Wicaksono, mengatakan tim KKN sejak awal dilibatkan dalam merencanakan dana, pencairan, pembelian bahan bangunan, hingga selesai rehabilitasi rumah. “Ada yang dibangun dari nol, ada juga yang hanya renovasi saja,” ujar mahasiswa Psikologi 2013 ini. Kata Dian, butuh waktu sekitar 10 hari untuk membangun dan merenovasi satu rumah. Cepatnya waktu pembangunan karena seluruh warga gotong royong membantu membangun rumah tersebut. “Bahkan Pak RTnya juga sampai ikut-ikutan bantu angkat-angkat, mas. Misalnya kami tinggal cek pembangunan rumah yang lain, begitu kami kembali sudah jadi separuh,” kenangnya. Tak hanya merehabilitasi ke-20 rumah sesuai jatah dari Kemensos, tim KKN UMM ini juga mendapatkan donasi sekitar Rp 20 juta dari berbagai pihak. Uang donasi ini akhirnya digunakan untuk merehabilitasi lima rumah lain yang tidak mendapatkan bantuan dari Kemensos. “Alhamdulillah banyak pihak yang memberikan donasi, sehingga total ada 25 rumah di Jambesari ini yang kami rehabilitasi,” tutur Dian. Wakil Direktur II Bidang Pengabdian Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM, Dr Masduki MSi menyebut, UMM mendapatkan bantuan dari Kemensos untuk merehabilitasi 99 rumah di Kabupaten Malang. Ke-99 rumah itu tersebar di delapan desa dalam lima kecamatan, yakni Kecamatan Wajak sebanyak 16 rumah, Donomulyo 17 rumah, Wonosari 30 rumah, Pagak 16 rumah, dan Jambesari 20 rumah. “Semua anggaran untuk program ini berasal dari Kemensos RI yang pencairannya langsung ke masyarakat. Besarnya dana untuk program rehabilitasi rumah tersebut maksimal Rp 10 juta per rumah,” kata Masduki. Sedangkan untuk pendataan rumah-rumah mana saja yang layak direhabilitasi, DPPM UMM mengerahkan tim KKN baik yang reguler maupun yang khusus sejak Februari 2015 lalu. “Program ini akan terus berkelanjutan. Untuk ditahun ini juga kami akan kembali mengajukan proposal ke Kemensos untuk program ini,” ujarnya. Selain UMM, Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Islam Malang (Unisma) juga mendapatkan program serupa dari Kemensos. Kedua kampus tersebut juga melaksanakan rehabilitasi rumah di berbagai desa yang lain di Kabupaten Malang. (zul/nas)

UMM-AS Perluas Skema Kerjasama

LAWATAN presiden United States-Asia International Educational Exchanges, Stanley Harsha dan ketua Program Pascasarjana (the graduate dean) University of North Carolina at Greensboro (UNCG), Amerika Serikat (AS) Dr William R Wiener ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (29/3), semakin memperluas skema kerjasama UMM dengan AS.       Sebelumnya, UMM setiap tahunnya menjadi host Pre­Sevice Training (PST) bagi relawan AS yang tergabung dalam Peace Corp. Para relawan itu merupakan duta perdamaian yang menyebar ke berbagai pelosok kampung di Jawa Timur dan Jawa Barat. UMM juga telah memiliki American Corner sejak 2004 sebagai pusat pembelajaran, riset, informasi beasiswa, serta fasilitator kerjasama dengan pihak berwenang Amerika di Indonesia.       Menurut staf International Relations Office (IRO) UMM, Dr Rinjani Bonavidi MEd, dengan kedatangan dua tokoh tersebut,  UMM akan memperluas lingkup kerjasama dengan serangkaian program, di antaranya riset akademik, pertukaran mahasiswa dan dosen, kredit transfer, home stay program dan learning express (LEx).       “Ke depan. UMM akan semakin memperbanyak program kerjasama dengan AS. Untuk bisa kuliah di UNCG, mahasiswa UMM bisa mengikuti program kredit transfer dengan melakukan pembayaran di UMM, namun studinya di sana. Begitu juga untuk pengajar di UMM, mereka dapat mengajar di AS selama beberapa waktu untuk menambah pengalaman mengajar di luar negeri,” ujar Rinjani.      Selain untuk memperkuat kemitraan akademik, kehadiran Stanley dan William juga sekaligus memberikan kuliah tamu bagi bagi mahasiswa UMM. Pada sesi kuliah tamu, Stanley menyampaikan tentang kehidupan, suasana perkuliahan, serta tips dan trik agar bisa kuliah di AS. Stanley yakin mahasiswa UMM bisa bersaing karena kampus ini dinilainya memiliki tradisi akademiki yang sangat kuat.       Pada pertengahan April, Stanley direncanakan akan kembali mengunjungi UMM untuk membedah bukunya berjudul “Like the Moon and the Sun” yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Sepertu bulan dan matahari”.       Sementara itu William mengaku gembira terkait kerjasama kedua pihak. Apalagi, UMM dinilainya sangat kooperatif dalam bekerjasama. Rencananya, selepas kembali ke AS, Willian akan membahas hasil kesepakatan ini dengan pihak UNCG agar mewujudkannya dalam bentuk memorandum of understanding (MoU). (nov/han)

Hadirkan Pakar Jordania, RS UMM Kenalkan Metode Baru

BEKERJASAMA dengan Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rumah Sakit UMM mengundang dosen Jurusan Perawatan Ibu dan Anak School of Nursing, University of Jordan (UJ), Jordania, Dr Nadin M. Abdel Razeq untuk memberikan kuliah tamu bagi para perawat RS UMM.       Mengangkat tema “Evidence Based Practice of Stablization of Preterm Infant During The First Hours of Life to Increase Survival and Reduce Mortality by Nursing”, kegiatan yang berlangsung di RS UMM, Selasa (29/3) ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan keilmuan baru pada perawat terutama tentang metode Intervensi Surfaktan.       Menurut Nadin, bayi terutama yang lahir prematur rata-rata memiliki paru-paru yang belum berkembang secara sempurna, sehingga ada bayi yang mengalami sesak napas bahkan bisa menyebabkan kematian saat baru saja dilahirkan. “Istilah medisnya, bayi tersebut mengalami asfiksia. Agar bayi dapat selamat, maka perlu dilakukan metode intervensi surfaktan agar dapat menyelamatkan bayi tersebut,” kata peraih gelar doktor dari University of Nebraska Medical Center, Amerika Serikat ini.       Wakil Direktur RS UMM, dr Thontowi Djauhari NS MKes, mengungkapkan metode ini sudah lazim digunakan di beberapa rumah sakit di luar negeri. “Namun untuk di Indonesia sendiri, sangat jarang yang menggunakan metode tersebut. Hanya beberapa rumah sakit besar saja. Melalui kuliah tamu ini, semoga RS UMM dapat segera mengadopsi metode ini untuk digunakan ketika ada kasus serupa,” ucapnya.       Sementara menurut Pembantu Dekan III Fikes UMM, Shobrun Jamil, kuliah tamu ini bisa membuka jalan kerjasama antara UMM dengan University of Jordan di masa yang akan datang. “Kami harap ke depan bisa bekerjasama lebih lanjut di bidang joint research ataupun skema kerjasama yang lain,” katanya. (zul/han)

Festival Al-Quran UKM-K JF Warnai Gelaran Rector Cup

MEMERIAHKAN Ajang Rector Cup 2016, Unit Kegiatan Mahasiswa-Kerohanian Jamaah AR Fachruddin (UKM-K JF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Islamic Competition Festival (ICOMFEST). Tema yang diusung UKM JF dalam Rector Cup 2016 kali ini yaitu “Futuring Your Life with Al-Quran”.       Ketua Umum JF Muhammad Kamal Hafidz mengatakan, dengan tema ini diharapkan mahasiswa UMM mampu merespon tantangan jaman serta berbagai persoalan kenegaraan dengan memaknai dan memperdalam keilmuan Al-Quran. “Sebagaimana semangat Ahmad Dahlan dalam membangun bangsa ini,” ujarnya.       Perlombaan dibagi menjadi delapan cabang keilmuan, di antaranya musabaqoh tilawatil Qur’an (qori), musabaqoh khatil qur’an (kaligrafi), musabaqoh fahmil qur’an (cerdas cermat), lomba syahril quran (da’i), lagu religi (nasyid), musabaqoh tartil Qur’an, karya tulis ilmiah al-Quran dan musabaqoh hifdzil quran (hafalan). Kompetisi yang diikuti lebih dari 200 mahasiswa ini diladakan pada Senin-Kamis  (28-31/03) Aula Masjid AR Fachruddin lantai 1 dan 2.       Hafiz memaparkan, kedelapan bidang lomba ini disesuaikan dengan perlombaan di tingkat nasional. Para pemenang di masing-masing cabang lomba ini nantinya akan mewakili UMM ke kompetisi di tingkat nasional yang akan diselenggarakan Juni mendatang. “Sebelum itu, para delegasi akan kita bekali dulu selama dua bulan,” paparnya.       Di puncak acaranya, JF akan mengadakan seminar akbar bertajuk “Peran Al-Quran dalam Membangun Peradaban” pada Sabtu (02/04) di Aula BAU UMM. Adapun tokoh yang akan menjadi pembicara dalam seminar tersebut adalah Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. H. Mudhajir Effendy, MAP dan Founder Tahfizh Quran Tematik (TQT) Lailatul Fithriyah Azzakiyah SHI MPd.       Dengan segala rangkaian kegiatan ini, Hafidz berharap UMM memiliki semakin banyak mahasiwa yang unggul di bidang keislaman dan mampu bersaing di kompetisi tingkat nasioanal. Selain itu, ia beritikad JF bisa menjadi wadah mahasiswa UMM untuk menyalurkan dan mengembangkan keilmuannya di bidang keislaman. “Sehingga bisa mensyiarkan Islam lebih dalam dan menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar,” pungkasnya. (gas/han)

Muhammadiyah, Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah Kota Malang Dilantik

TIGA pimpinan organisasi satu rumpun, yakni Muhammadiyah, Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah Kota Malang resmi dilantik, di UMM Dome, Minggu (27/3). Acara bertajuk Pelantikan Bersama Pimpinan Muhammadiyah Daerah (PDM), Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) dan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Malang itu dimeriahkan berbagai atraksi seni. Antara lain, atraksi Hisbul Wathan Matsamutu Kota Malang, Orkestra SMPM 1 Kota Malang, serta Pendekar Tapak Suci Kota Malang. Hadir dalam acara ini, Ketua PP Muhammadiyah, Dr. dr. Agus Taufikurrahman, MKes, Wakil Ketua PWM Jawa Timur Sulthon Amien, rektor UMM Fauzan, serta perwakilan pejabat Pemkot Malang. Ribuan warga Muhammadiyah, Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah juga menghadiri acara pelantikan bersama itu. Ketua PDM kota Malang, Dr Abdul Haris, MA, mengajak seluruh jajaran pimpinan yang dilantik  siap lahir dan batin, siap menerima pekerjaan, siap menerima amanah. “Yang penting lagi adalah menata niat, karena diberi amanah itu bukan suatu yang ringan, tetapi juga bukan tidak menguntungkan,” katanya sembari mengutip hadits riwayat Muslim tentang kesungguh-sungguhan  melaksanskan amanah. Untuk itu Haris berpesan agar menerapkan lima prinsip kerja. Yakni kerja ihlas, jerja cerdas, kerja keras dan tuntas, kerja bersama, dan kerja yang bermanfaat. Di Malang, kata Haris, pengurus PDM memiliki potensi yang luar biasa. Hal ini tidak akan berarti jika tidak dikelola dan dirancang secara cerdas dan matang. “Makna kerja cerdas itu adalah mengelola potensi tersebut untuk merancang program riil. Gerakan Muhammadiyah harus by design, dan dilakukan secara berjamaah sebagian amal soleh kita semua,” tukas dosen FAI UMM ini. Sementara itu Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, Hj Rukmini, mengingatkan gerakan Muhammadiyah tidak akan bisa berjalan dengan baik tanpa dukungan Aisyiyah. Sejak awal KH Ahmad Dahlan sudah menyadari bahwa perlu melibatkan perempuan untuk berdakwah. “Muhammadiyah tidak bisa tanpa pasangannya. Mencegah kemungkaran, bertakwa pada Allah, taat pada rasul, butuh kebersamaan,” kata Rukmini. Ia berharap para suami yang istrinya aktif di Aisyiyah tidak kuatir. “Percayalah bapak-bapak, istri yang aktif di Aisyiyah akan aman. Sebab, kalau sudah di Aisyiyah mereka pasti berinfak untuk Islam, bukan untuk boros-borosan berbelanja,” pungkas Rukmini usai melantik kepengurusan PDA kota Malang, periode 2016-2021. Di sisi lain, Pemuda Muhammadiyah diminta memperhatikan literasi ilmu, politik dan ekonomi. Ketua PWPM Jatim, Pradana Boy, PhD, mendorong agar Pemuda Muhammadiyah mengambil peran sentral dalam tiga gerakan. Pertama, gerakan literasi ilmu, ekonomi dan politik. Kedua, gerakan untuk menangkal ekstrimisme beragama. Dan, ketiga, gerakan membangun sinergi organisasi. “Ketiganya memerlukan kekuatan penggerak dan sinergi,” ujar dosen Fakultas Agama Islam UMM ini usai melantik PDPM Kota Malang yang diketuai Ahmad Sobron Jamil. Dalam tausyiyahnya, Ketua PP Muhammadiyah, Agus Taufikurrahman, menganalogikan berkiprah di Muhammadiyah seperti kelapa. “Cara ngambilnya kasar, dengan dilempar atau dijatuhkan, setelah itu harus kuliti sabut kelapanya, kemudian dipecahkan batok kelapanya, setelah itu masih harus dicukil daging kelapanya.” Tak hanya itu, ternyata penderitaan kelapa tidak hanya sampai di situ. Si kelapa masih harus diparut dan kemudian diperas diambil santannya. “Tapi setelah santan dituangkan di makanan atau sayuran sehingga jadi enak, kelapa tidak pernah disebut-sebut,” tutur Agus menggambarkan betapa orang Muhammadiyah bekerja harus iklhas, tidak mencari nama dan keuntungan. Oleh karenanya, lanjut Agus,  kalau tidak terpilih jadi pimpinan atau pengurus  harus tetap bekerja karena tidak beorientasi nencari nama. “Bagaimana dengan makanan atau minuman yang menyebut kelapa dalam namanya, seperti es degan atau kelapa muda serta es kopyor?” tanya Agus. Katanya, itu artinya, kalau ada orang bermuhammadiyah demi nama dan untuk gagah-gagahan, berarti orang tersebut masih muda bermuhammadiyahnya atau malah sudah kopyor pikiranya. (nas)