Winter Project AIESEC UMM Angkat Isu Lingkungan dan Kesehatan

PROGRAM pertukaran yang dilakukan AIESEC Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan warga asing tak hanya terfokus pada misi pendidikan, namun lebih dari itu, juga mengangkat isu-isu yang berkembang di Malang Raya, seperti lingkungan dan kesehatan.       Hal itu terungkap dalam acara Grand Launching Winter Project pada Senin (25/1) di Aula Biro Administrasi Umum (BAU) UMM. Dalam setahun, menurut project manager AIESEC Dian Kresnawan, ada dua proyek yang dilakukan, yaitu Summer Project dan Winter Project.       Winter Project dimulai sejak grand launching hingga 22 Februari mendatang yang akan diikuti oleh 15 exchange participants dari Cina, Vietnam dan Taiwan. “Ada lima proyek dari kami, tiga di antaranya di bidang kesehatan khususnya ginjal, yaitu Hometown Project. Lalu ada Dream School Project di bidang edukasi lingkungan dan Entrevolution Project di bidang kewirausahaan,” tuturnya.       “Semester kemarin bertepatan dengan summer (musim panas, red) dan bulan ini bertepatan dengan winter (musim dingin, red), makanya disebut Winter Project.” Bedanya, kata Dian, pada liburan musim panas kebanyakan yang berkunjung ke Indonesia adalah warga Eropa, sementara pada musim dingin hanya diikuti mahasiswa Asia.       Menurut Asisten Rektor Bidang Kerjasama Luar Negeri Soeparto, acara seperti ini harus selalu diadakan untuk menambah jiwa kepemimpinan di kalangan mahasiswa. “Mahasiswa harus mempunyai jiwa take a risk, seperti yang diajarkan dalam konsep leadership,” ujarnya.       Soeparto juga menjelaskan, acara ini bisa untuk saling memperkenalkan budaya antarbangsa dan juga untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). “Mungkin mahasiswa Cina dan Indonesia bisa bertemu dan saling memperkenalkan. Karena saya yakin, ke depan Asia akan semakin di puncak.” (dik/han)

MDMC Gandeng UMM, Jadikan Malang Tangguh Bencana

BERUPAYA menjadikan Malang Raya sebagai area tangguh bencana, Lembaga Penanggulangan Bencana Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menggandeng sejumlah kalangan, baik di Kota Malang, Kabupaten Malang maupun Kota Batu. Inisiasi kerjasama berlangsung di Aula Ahmad Dahlan Rumah Sakit Islam Aisyiyah (RSIA) Malang, Senin (25/1) melalui penandatanganan nota kesepatakan bersama.       Sekretaris MDMC PP Muhammadiyah, Arif Nur Kholis berharap, melalui kesepakatan ini, seluruh elemen di Malang Raya dapat bersama-sama berencana dan beraksi hadapi bencana. Arif menyebut nama MDMC sengaja dipakai sebagai brand lantaran lembaga ini tidak hanya menangani bencana dalam negeri saja. “Terakhir kami turut membantu penanggulangan bencana di Nepal,” ujarnya.       Adapun lembaga yang terlibat dalam kerjasama ini yaitu Kepolisian Resort se-Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu), Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Malang Raya, Dinas Kesehatan (Dinkes) se-Malang Raya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) se-Malang Raya, RSIA Malang, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), serta Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Malang. Berbagai elemen tersebut menjadi bagian dari program Kesiapsiagaan Rumah Sakit dan Kesiapsiagaan Masyarakat untuk Kedaruratan dan Bencana atau Hospital Preparedness and Community Readiness for Emergency and Disaster (HPCRED).       Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit serta Penyehatan Lingkungan Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif dalam sambutannya menyebut, di Malang terdapat 57 kelurahan yang telah dilatih sebagai desa tangguh bencana. “Pekerjaan kita jadi lebih mudah karena mereka telah mengikuti pelatihan penanganan bencana. Untuk wilayah Jawa Timur, pembentukan kota tangguh bencana kita mulai dari Malang,” papar Husnul.       Sementara itu, dalam penanganan bencana, UMM dapat berperan secara internal maupun eksternal. Secara internal melalui distribusi relawan mahasiswa dan dosen, untuk tenaga medis maupun non-medis. Sedangkan secara eksternal, melalui Humas UMM dapat dilakukan komunikasi dengan media massa terkait hal-hal yang perlu disampaikan pada publik.       Program Kesiapsiagaan Bencana yang diinisiasi MDMC ini merupakan kelanjutan dari hasil kesepatakan antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia (Departemen Luar Negeri-nya Ausralia, red). Untuk melaksanakan program ini, tiga rumah sakit (RS) Muhammadiyah dipercaya sebagai pusat pengembangan perangkat pelatihan dan dan pusat koordinasi program yaitu RSIA Malang, RS Muhammadiyah Gresik, dan RS Siti Khadijah Makassar. (han)

LK UMM Gagas Cipta Lagu Islami untuk Pesta Pernikahan

Lembaga Kebudayaan Universitas Muhammadiyah Malang (LK UMM) menyatakan keprihatinannya terhadap sering diperdengarkannya lagu-lagu tidak semestinya dalam acara resepsi pernikahan secara Islam. Disadari atau tidak, penyelenggara pesta telah melakukan kesalahan dengan mengurangi kesakralan ritual menikah dengan memperdengarkan lagu-lagu yang justru tidak Islami. Itulah sebabnya, lembaga ini menggelar Workhsop Islamic Wedding Songs di UMM Inn, Minggu (17/1). Ketua LK UMM, Dr. Tri Sulityaningsih, MSi menuturkan lagu-lagu yang biasanya didengarkan dalam resepsi pernikahan sering tidak bernuansa Islami. “Pernikahan merupakan narasi ikatan yang sakral, oleh karena itu lagu-lagu yang diperdengarkan dalam rangkaian resepsi mestinya yang mampu menggetarkan dan menguatkan ikatan sakral itu,” ujarnya ketika membuka workshop yang diikuti seluruh pengurus LK UMM itu. Workshop menampilkan narasumber yang dikenal sebagai pencipta lagu yang intens dalam gerakan lagu-lagu edukatif dan Islami, Sigit Baskara.  Sigit menyatakan, pesta pernikahan adalah wahana yang potensial untuk membumikan dakwah kultural. Namun, faktanya banyak pesta pernikahan Islami yang hiburannya tidak Islami. Hal ini dikarenakan sedikitnya lagu pernikahan Islami yang ada di masyarakat. “Itulah sebabnya perlu sosialisasi tata cara pernikahan yang Islami melalui sebuah video klip,” tutur Sigit. Komitmen LK UMM terhadap lagu-lagu Islami, bukan hanya kali ini. Sebelumnya LK UMM telah menggelar Pelatihan, Pemilihan, dan Penciptaan Lagu Anak-Anak yang Edukatif dan Islami untuk para guru PAUD dan TK se Jatim (9/11/2015).  Nuryadin, salah satu pembicara Workshop  dari Bumi Yogja Studio, menuturkan  upaya yang dilakukan LK UMM ini sejalan dengan spirit Bumi Yogja Studio selama ini. “Ini juga bisa dikatakan sebagai salah satu implementasi dari komitmen Pedoman Hidup Islami seperti yang digagas dalam Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarya.” Follow up dari pelatihan-pelatihan ini akan ditampilkan pada kegiatan Malam Ekspresi Seni Budaya (Maksidaya) bulan Mei depan. Maksidaya merupakan kegiatan rutin LK UMM setiap tiga bulan sekali yang selalu mengusung tema khusus. (nas)

Rektor Ingatkan Mahasiswa UMM Jangan Jadi Follower

DALAM Silaturahim antara rektor dan fungsionaris lembaga intra, unit kegiatan mahasiswa (UKM), serta Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Jumat (15/1) Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Muhadjir Effendy MAP menyebut mahasiswa saat ini lebih baik dibandingkan mahasiswa saat ia baru menjabat sebagai Pembantu Rektor (PR) III, 33 tahun yang lalu.       Dulu, kata rektor, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sedikit jumlahnya tapi nakal. Setiap ujian akhir, lanjutnya, mahasiswa selalu demo minta ditunda pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). “Sampai-sampai, ada mahasiswa UMM dulu tidak bayar sampai selesai kuliah. Tapi ya tidak banyak, paling hanya satu atau dua orang saja,” kenang Muhadjir.       Karena terbatasnya mahasiswa dan Sumber Daya Manusia (SDM) di UMM, beberapa mahasiswa bahkan waktu itu juga merangkap sebagai karyawan UMM. “Biarpun saya dulu PR III, tapi kadang-kadang saya juga ngrangkap menjadi supir,” ceritanya disambut tawa mahasiswa.       Selama bernostalgia dihadapan sekitar 250 fungsionaris mahasiswa, rektor mengucapkan maafnya karena sangat jarang dekat dengan mahasiswa. “Saya sengaja, supaya PR III lebih deket dengan mahasiswa. Kalo saya datang terus gimana PR III, itu namanya tidak memberi kesempatan. Itulah pemimpin. Saya juga dulu fungsionaris mahasiswa seperti anda,” katanya.       Dalam belajar menjadi pemimpin, Muhadjir bercerita bahwa semasa menjadi mahasiswa ia merangkap di beberapa organisasi. Baginya, menjadi mahasiswa harus pandai mengatur waktu. Jangan sampai ada waktu yang terbuang sia-sia. “Menurut saya, semakin kita multiplayer, kekuatan kita makin berlimpah. Pandai-pandai saja me-manage energi. Saya tidak suka mahasiswa boros waktu, tidak investasi masa depan,” tegasnya.       Namun, lanjutnya, kesehatan juga harus dijaga, jika tidak nanti penyakitnya panen. “Apa artinya Anda pinter tapi di hari tua tidak bisa digunakan, malah sakit-sakitan. Makanya olahraga bagi aktivis itu mutlak,” tandas pria yang juga menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah ini.       Muhadjir juga memberikan beberapa petuah kepada para fungsionaris yang memadati ruang Theater UMM Dome, salah satunya mengenai pengkaderan. Ia bahkan punya cara sendiri yang dibagikan kepada mahasiswa. “Dalam hal pengkaderan saya itu pakai teori anak Indian belajar renang, dicemplungi saja nanti ketemu sendiri caranya. Kalau terlalu banyak minta nasehat nanti malah tidak jalan-jalan. Orang yang suka minta saran itu follower,” jelas rektor.       Untuk itu, Muhadjir berpesan kepada calon-calon pemimpin bangsa ini untuk menemukan model kepemimpinannya sendiri. “Pemimpin itu harus memanfaatkan style, karakter, dan potensi masing-masing. Tunjukkan Anda beda. Optimalkan dengan gaya itu. Kalo ada yang mulai meniru Anda, berarti Anda mulai jadi role model,” ujarnya.       Sebelum mengakhiri ceritanya, rektor berpesan agar siapapun nantinya yang terpilih menjadi Rektor UMM menggantikan Muhadjir, mahasiswa dapat menerimanya dengan baik dan didukung penuh. “Karena pilihan tersebut berasal dari bawah dan sudah sesuai dengan tata aturan. Prosesnya memang panjang karena mendengar masukan dari berbagai pihak, tapi hasilnya semoga itu yang terbaik buat UMM,” ucap Muhadjir. (zul/han)

Rektor Nilai UMM Besar Karena Majemuk

SILATURRAHIM Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan fungsionaris lembaga intra, unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) berlangsung hangat. Selain bercerita tentang dinamika mahasiswa UMM dalam rentang tiga dekade terakhir, Rektor UMM Prof Dr Muhadjir Effendy MAP juga memaparkan tentang perjalanan UMM hingga menjadi kampus swasta yang disegani.       “Ini saya silaturrahim sekaligus pamitan, karena saya sebagai rektor UMM tinggal menghitung hari, menunggu SK (Surat Keputusan) PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah. Tapi saya masih akan tetap di sini mendampingi secara informal,” kata rektor pada acara silaturrahim, Jumat malam (15/1) di theater UMM Dome.       Muhadjir menjelaskan, dulu tak ada yang bisa dikenal di UMM selain tradisi demonstrasi dan berkelahi. “Dulu saya sempat bingung apa yang bisa dipamerkan. Akhirnya saya coba ngangkat sepakbola. Pemain-pemain Persema (Persatuan Sepakbola Malang) saya tarik kesini, gratis SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan),” kata salah satu ketua PP Muhammadiyah ini.       Sewaktu menjabat Pembantu Rektor III pada 1986, Muhadjir berusaha membangun rasa bangga mahasiswa melalui sepakbola. Karena kiprahnya, UMM sangat aktif dalam kompetisi Baladhika Jaya Cup memperebutkan Piala Korem Malang. “Kalau ada pertandingan, kita libur. Stadion penuh dengan mahasiswa UMM, Rektor juga ikut nonton,” kenangnya.       Bahkan, sebut Muhadjir, UMM sampai menang berturut-turut pada kejuaraan tersebut. “Pialanya masih kita pegang sampai sekarang. Kita bahkan pernah menjuarai Piala Presiden mengalahkan Untag (Universitas 17 Agustus 1945) Surabaya.”       Karena itu, melihat perkembangan UMM yang sepesat ini, Muhadjir meminta agar mahasiswa bangga menjadi bagian dari UMM. “Anda harus bangga, karena UMM memang membanggakan,” kata guru besar Universitas Negeri Malang ini.       Bagi Muhadjir, UMM bisa besar karena mampu me-manage keanekaragaman. “UMM ini besar karena majemuk. UMM telah menciptakan miniatur masyarakat berkemajemukan. Karena itu, saya senang kalau dinamika mahasiswa itu tidak diwarnai satu organisasi, nanti kita tidak berkembang kalau begitu.”       Saat ini, tambahnya, UMM telah menjadi social enterprise. Karenanya, ia berharap suatu saat share dana dari mahasiswa tidak sampai 75 persen, sehingga sekitar 25 persen biaya ditanggung dari unit bisnis kampus. “Sekarang ini masih di bawah 10 persen, kalau kampus seperti Harvard itu sekarang sudah 50 persen. Tapi itu wajar, Harvard sudah merintis itu sejak 500 tahun yg lalu,” ungkap Rektor.       Jika terus dikembangkan, UMM diyakini bisa menjadi perguruan tinggi terdepan, mengalahkan kampus-kampus negeri. Menariknya, Muhadjir menambahkan, fenomena keunggulan kampus swasta sudah terjadi di Amerika. Di negara tersebut, kampus swasta seperti Harvard University Stanford University, dan Yale University lebih bergengsi daripada kampus negeri.       “Di Amerika itu, kalau kuliah di kampus negeri itu malu. Itulah mengapa anda harus bangga kuliah di sini,” ucap Muhadjir di hadapan lebih dari 250 aktivis mahasiswa UMM. (han)

Mahasiswa Asing UMM Jadi Duta Budaya Indonesia

SEBANYAK 20 mahasiswa asing Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berasal dari 13 negara (Jerman, Polandia, Maroko, Usbekistan, Irak, Afganistan, Aljazair, Thailan Vietnam, Jepang, Kamboja, Sudan, Ukraina) menjadi duta nusantara dengan mengenalkan keunikan dan kerifan lokal yang dimiliki berbagai daerah di Indonesia.       Melalui presentasi berbahasa Indonesia yang dilakukan di depan kantor BIPA UMM, Kamis (14/1), ke-20 mahasiswa asing program Beasiswa Darmasiswa ini bergantian mengenalkan budaya Indonesia. Masing-masing mahasiswa diharuskan menjelaskan tentang salah satu provinsi di Indonesia.       Salah satunya adalah Isabel Kaufman yang berasal dari Jerman. Isabel menjadi duta budaya Kalimantan Barat. “Saya menjelaskan tentang Kalimantan Barat. Semula, ketika saya mencari tahu tentang Kalimantan Barat, saya merasa sangat terkejut karena ada tragedi potong kepala. Mungkin itu dulu saat konflik. Namun, ketika saya gali budayanya, ternyata sangat banyak dan beragam. Saya senang semakin mengenal Indonesia,” ungkapnya.       Bagi Isabel, Indonesia adalah negara yang sangat eksotis, “Di sini banyak sekali jenis tanaman dan buah. Penduduknya pun santai dan ramah,” ujarnya.       Di tahun kedua mereka belajar bahasa dan budaya Indonesia, Isabel bersama teman-temannya memang dituntut untuk mengerti keanekaragaman budaya dan karakteristik daerah-daerah yang ada di Indonesia.       Dosen BIPA UMM Arina Restian MPd menyebut kegiatan ini sangat positif karena mahasiswa asing mengenal budaya Indonesia maka internasionalisasi budaya nusantara akan semakin mudah dilakukan. “Dengan begitu, negara lain akan semakin kesulitan mengklaim budaya kita karena sudah terlanjur dikenal terlebih dahulu di dunia Internasional,” ucapnya.       Staf BIPA Muhammad Isnaini selaku penyelenggara program ini berharap, mahasiswa asing tersebut betul-betul menyatu dengan Indonesia sehingga bisa mewakili Indonesia di negaranya. Ia berharap, hal tersebut dapat menguatkan kebanggaan mereka terhadap Indonesia.       Isnani  menambahkan, kegiatan ini sekaligus menjadi ajang seleksi awal bagi mahasiswa peraih Beasiswa Darmasiswa  UMM untuk berkompetisi dalam closing ceremony Program Darmasiswa yang akan diadakan di UMM pada Mei mendatang. (nov/han)

Mahasiswa KKN Siapkan Program Bedah Rumah Hingga Buta Aksara

Kamis (14/1).REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Muhadjir Effendy MAP melepas 973 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) semester genap 2016. Dalam pelepasan dan pembekalan peserta KKN yang diadakan di UMM Dome, Kamis (14/1), rektor berpesan agar fokus terhadap program kerja yang sudah dirancang. Muhadjir juga mengingatkan pada peserta KKN agar menjaga etika dan moral serta menjaga nama baik UMM di desa. “Kalian adalah role model bagi masyarakat di desa, jika kalian bersikap dan berperilaku yang baik, maka tak hanya kalian saja yang dapat nama baik, namun UMM pun juga akan dipandang baik,” ujarnya saat memberi pengarahan. Meskipun hanya sebulan, rektor berharap program yang dijalankan untuk membina desa dapat dilaksanakan secara maksimal. “Mahasiswa UMM yang baik adalah dia yang datang ke suatu tempat, kemudian dia tinggalkan hal-hal yang baik pula di tempat tersebut. Saya harap kalian meninggalkan hal-hal yang baik selama di tempat KKN,” harapnya. Sementara itu, Kepala Divisi KKN Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM, Ir Amir Syarifuddin MP mengatakan, ke 973 mahasiswa KKN ini akan ditempatkan di 14 kecamatan yang tersebar di empat kabupaten, yakni di Kabupaten Malang, Tulungagung, Lumajang, dan Madiun. “Mereka akan diberangkatkan mulai 17 Januari hingga menyelesaikan tugasnya pada 17 Februari mendatang,” kata Amir. Untuk KKN kali ini, DPPM bekerjasama dengan dua kementerian, yakni Kementerian Sosial (Kemensos) dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) untuk menjalankan beberapa program. “Kalau dari Kemensos akan diadakan program bedah rumah sampai pemberantasan buta aksara,” ujar Amir. Selain KKN reguler, DPPM UMM tengah menunggu pemberitahuan resmi dari Pemerintah Daerah (Pemda) Papua untuk memberangkatkan beberapa mahasiswa UMM yang terpilih menjalankan program KKN di Papua. “Kita tinggal tunggu konfirmasi resminya saja. Kalau jadi berangkat, ya berangkat,” ucapnya. (zul/han)

BPSDM Bekali 74 Dosen Kontrak Baru

SEBANYAK 74 dosen kontrak baru mengikuti pembekalan dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rabu (13/1). Menurut Sekretaris BPSDM, Wasis SH MSi MHum, pembekalan ini merupakan simbol penyambutan selamat datang dari UMM pada para dosen baru tersebut.       Dalam pembekalan yang diadakan di Ruang Sidang Senat (RSS) UMM ini, puluhan dosen baru mendapatkan materi-materi dari sejumlah pejabat kampus dan pakar pembelajaran. “Di pembekalan ini, dosen dikenalkan dengan seluk beluk UMM, Muhammadiyah, cara pembelajaran, dan sebagainya,” ujar Wasis.       Menurut Kepala Biro Administrasi Umum (BAU) UMM Dr Muslimin Mahmud PhD, salah satu kelebihan mengajar di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terutama di lingkungan Muhammadiyah adalah labeling. “Dengan menyebut UMM, maka nama Muhammadiyah bisa jadi acuan atau pedoman buat setiap orang bergerak berdasarkan arti nama tersebut,” katanya saat memberikan materi tentang kode etik dosen UMM.       Sementara itu Pembantu Rektor II UMM, Drs Fauzan MPd dalam sambutannya mengucapkan selamat datang pada dosen-dosen baru di UMM. Pembekalan ini menurut Fauzan dapat menjadi ajang berkenalan antar dosen di lingkungan UMM. “Berbaur satu sama lain agar rasa kekeluargaan antar dosen UMM dapat terjalin erat,” ucap Fauzan.       Ia juga menghimbau dosen-dosen baru ini untuk mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, seperti pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. “Jangan lupa juga untuk terus mencari link beasiswa luar negeri, serta perbanyak publikasi berupa buku-buku ajar dan penelitian yang bermanfaat untuk masyarakat,” tambahnya. (zul/han)

Kuliah Tamu Pemerintahan Bincangkan Kegaduhan Politik Bangsa

KEPALA Program Studi (Prodi) Ilmu Pemerintahan, Hevi Kurnia Hardini SIP MAGov menyebut, fenomena kegaduhan politik di Indonesia saat ini merupakan hal yang wajar. Berbeda dengan 10 tahun lalu, kata Hevi, saat ini setiap orang dapat dengan bebas mengkritik dan bersuara terhadap pemerintah. Namun, suara-suara tersebut dinilainy belum punya tempat yang baik sehingga terkesan membuat gaduh.       Berpijak dari hal tersebut, maka prodi Pemerintahan mengadakan Kuliah Tamu bertema ‘’Menata Kegaduhan Politik untuk Membangun Pemerintahan yang Efektif”. Bertempat di Aula Biro Administrasi Umum (BAU) UMM, Selasa (12/1), kuliah tamu dihadiri pakar politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogjakarta, Prof Purwo Santoso dan ratusan mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMM.       “Kedudukan kuliah tamu yang mengangkat tentang kegaduhan politik membuat saya merasa merasa berat, karena membuat rekomendasi perbaikan dalam menata kegaduhan politik saat ini,” ujar Purwo saat membuka kuliah tamu.       Ia menilai, pemerintahan yang efektif itu lahir dari konflik, dan dari pertengkaran itulah muncul kecerdasan. “Oleh karena itu anda tidak perlu mengeluh dalam kegaduhan politik ini. Kegaduhan itu adalah proses negosiasi, saling memojokkan, dan menuju konsensus. Lebih baik gaduh daripada diam-diam,” kata Purwo.       Pemerintahan yang diam-diam, lanjut Purwo, tidak menjamin keadaan akan lebih baik, karena yang dikedepankan hanya egoisme. “Berbeda dengan pemerintahan yang gaduh, setiap orang akan berani menyampaikan aspirasinya. Ide atau gagasan akan terkumpul dengan sebanyak-banyaknya,” jelasnya.       Solusinya, menurut Purwo bukan berada pada Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), berada pada partisipasi masyarakat. “Partisipasi publik yang dimaksud adalah masyarakat tidak melanggar hukum yang telah diberlakukan. Yang bermasalah bukan gaduhnya politiknya, tapi bagaimana merawat dan komitmen partai politik,” katanya.       Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM, Dr Asep Nurjaman MSi menyebut revolusi mental tidak akan terwujud tanpa didasari dengan stabilitas politik. “Karena stabilitas politik yang terganggu akan membuat kesenjangan ekonomi dan sosial,” katanya. (zul/han)

Kuliah Tamu Sosiologi Kaji Kebijakan Industri Kota Batu

PROGRAM Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kuliah tamu bertema “Kebijakan Industri untuk Membangun Identitas Lokal”. Kegiatan yang berlangsung di  Aula Biro Administrasi Umum (BAU), Senin (11/1) ini diikuti 166 mahasiswa baru prodi.  Hadir sebagai pembicara, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Batu, Ir Chairul Sjarif Tartilla Sjafi’i dan Dosen Sosiologi UMM, Drs Sulismadi MSi.       Chairul memaparkan, Kota Batu saat ini sedang mengarah ke kota pertanian berbasis pariwisata. “Perkembangan Kota Batu menjadi Kota Wisata saat ini tidak melupakan kearifan lokal yang berlimpah,” ujarnya.       Kesuksesan Kota Batu menjadi Kota Wisata yang terkenal dengan slogannya “Shining Batu” ini sekarang membalik visinya dari kota wisata berbasis pertanian menjadi kota pertanian berbasis pariwisata. “Jika melihat peta SDA (Sumber Daya Alam), pertanian menjadi komoditas utama di Kota Batu. Terbukti banyak pula tempat wisata yang mengandalkan pertanian, seperti wisata bunga, wisata apel, agrowisata Batu, dan lain-lain,” tutur Chairul.       Keberhasilan implementasi kebijakan industri di Kota Batu tak lepas dari beberapa faktor, seperti komitmen dan dukungan dari pemerintah, dukungan SDA lokal, dan lain-lain. Meski demikian, Chairul menekankan untuk terus meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), kemampuan pemasaran, kualitas produk, dan penguatan permodalan untuk usaha-usaha di Kota Batu. “Karena keempat faktor inilah yang kadang menjadi permasalahan pengembangan industri di suatu daerah, termasuk di Kota Batu,” katanya.       Ketua Prodi Sosiologi UMM, Muhammad Hayat MA mengatakan, kuliah tamu ini dapat membuka wawasan mahasiswa mengenai kebijakan industri dalam perspektif sosiologi. “Ini berkaitan dengan salah satu konsentrasi prodi kami yakni sosiologi industri, disamping kita juga punya konsentrasi sosiologi pembangunan dan sosiologi lingkungan,” ujarnya saat diwawancara di sela-sela acara.       Dihadirkannya praktisi dari Kota Batu, menurut Hayat merupakan salah satu cara agar mahasiswa selain paham dengan konsep, namun juga mengerti praktik di lapangan dari orang-orang yang sudah berkecimpung di dalamnya. “Kami banyak menghadirkan akademisi-akademisi dari kampus-kampus luar, namun untuk praktisinya, saya rasa di Malang Raya banyak contoh praktisi yang bisa dijadikan contoh dan pembelajaran bagi mahasiswa,” ucap Hayat. (zul/han)