Mahasiswa UMM Ciptakan Board Game Edukasi, Ikhtiar Merawat Warisan Intelektual Malik Fadjar

KLIKMU.CO – Upaya merawat wawasan dan semangat literasi Guru Bangsa almarhum Prof Dr Abdul Malik Fadjar terus diwujudkan melalui berbagai inovasi yang relevan dengan generasi masa kini. Salah satunya melalui pengembangan sembilan purwarupa board game edukasi karya mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025. Karya yang dikembangkan bersama Lets Play Indonesia dan Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute tersebut resmi diuji coba di hadapan para santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF), Jumat (19/6/2026). Direktur RBC Institute Dr Faizin MPd menjelaskan bahwa media edukasi tersebut dirancang secara intensif selama tiga bulan sebagai langkah strategis untuk memajukan pendidikan nasional sekaligus mewariskan nilai-nilai intelektual Abdul Malik Fadjar kepada generasi muda. “Kami sangat berharap game-game inovatif ini nantinya tidak hanya beredar di lingkungan PPI AMF, tetapi juga dapat didistribusikan secara nasional untuk mendongkrak kapasitas, kualitas pendidikan, dan mutu sumber daya manusia kita,” ujarnya. Sementara itu, Manajer Riset RBC Institute AMF Ahmad Sulaiman MEd MAg menjelaskan, proyek hilirisasi tersebut merupakan hasil integrasi delapan pertemuan kelas yang dirancang sebagai instrumen pengukur ketangguhan psikologis (psychological capital) melalui skema pretest dan posttest. Ke depan, karya tersebut juga akan didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). “Sembilan purwarupa game ini akan segera kami publikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi dan didaftarkan HAKI-nya atas nama institusi serta mahasiswa pembuatnya,” paparnya. CEO Lets Play Indonesia, Arif Bawono Surya, turut mengapresiasi kinerja mahasiswa dalam mengembangkan purwarupa tersebut. Ia mengarahkan agar evaluasi uji coba difokuskan pada aspek fungsionalitas permainan yang dimainkan santri tingkat SMP dan SMA. “Bagi teman-teman pembuat game, presentasikan karya kalian dan terbukalah menerima masukan. Upayakan penyempurnaan ke depan lebih difokuskan pada penguatan alur mekanika permainan atau gameplay, tanpa perlu merombak desain visual yang sudah sangat baik ini,” pesannya. Lahirnya sembilan board game edukasi tersebut menunjukkan bahwa luaran akademik perguruan tinggi dapat bertransformasi menjadi instrumen dakwah pendidikan yang interaktif. Lebih dari sekadar media bermain yang menyenangkan, inovasi ini menjadi upaya menjaga semangat literasi yang diwariskan Abdul Malik Fadjar sekaligus mendorong lahirnya generasi yang memiliki kecerdasan kognitif dan ketangguhan mental dalam menghadapi tantangan zaman.
Lonjakan Tegangan Usai Listrik Menyala Lebih Berbahaya, Pakar UMM Ingatkan Risiko Kerusakan Elektronik

Malangpariwara.com – Pemadaman listrik yang terjadi berulang kali tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerusakan serius pada berbagai perangkat elektronik rumah tangga. Menariknya, risiko terbesar justru bukan terjadi saat listrik padam, melainkan ketika aliran listrik kembali menyala. Pakar Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Machmud Effendy, ST., M.Eng., IPM., Asean Eng.(Ist) Pakar Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Machmud Effendy, ST., M.Eng., IPM., Asean Eng., menjelaskan bahwa banyak masyarakat masih salah memahami penyebab utama kerusakan perangkat elektronik pasca pemadaman listrik. Menurutnya, saat pasokan listrik kembali dipulihkan, sering terjadi lonjakan tegangan sesaat atau power surge yang dapat melampaui tegangan normal 220 volt. Lonjakan inilah yang berpotensi merusak berbagai perangkat elektronik karena komponen di dalamnya dirancang untuk bekerja pada rentang tegangan tertentu. “Secara umum, yang lebih berpotensi merusak alat elektronik adalah saat listrik kembali menyala. Pada saat jaringan listrik dipulihkan, sering terjadi lonjakan tegangan sesaat yang dapat jauh melebihi tegangan normal 220 volt. Kondisi ini berisiko merusak televisi, komputer, charger, router Wi-Fi, mesin cuci, hingga AC,” ujar Machmud, Rabu (24/6). Ia menuturkan, dampak pemadaman mendadak tidak hanya mengancam perangkat elektronik rumah tangga, tetapi juga perangkat digital yang menyimpan data penting seperti komputer dan server. Saat listrik terputus ketika perangkat sedang melakukan proses penyimpanan data, risiko kehilangan data hingga kerusakan sistem menjadi sangat besar. “Pada perangkat yang sedang menulis data, dampaknya bisa sangat serius. Tidak hanya kehilangan data, tetapi file dapat menjadi rusak, sistem operasi gagal berjalan, hingga terjadi kerusakan fisik pada media penyimpanan seperti hard disk jika kejadian berlangsung berulang,” jelasnya. Machmud juga mengingatkan adanya risiko kerusakan pada perangkat pendingin seperti kulkas dan AC. Kompresor pada perangkat tersebut dapat mengalami tekanan kerja yang tinggi ketika listrik kembali menyala dalam kondisi yang belum stabil. Selain kerusakan yang langsung terlihat, terdapat pula ancaman latent damage atau kerusakan tersembunyi. Kerusakan jenis ini terjadi pada tingkat mikroskopis sehingga tidak langsung memengaruhi kinerja perangkat, tetapi mempercepat penurunan kualitas komponen dan memicu kerusakan di kemudian hari. “Banyak perangkat tampak normal setelah listrik kembali menyala. Namun, bisa saja komponen di dalamnya telah mengalami kerusakan mikroskopis yang baru menimbulkan masalah di kemudian hari. Karena itu, setiap gangguan listrik sebaiknya dianggap sebagai peristiwa yang serius,” paparnya. Untuk meminimalkan risiko tersebut, masyarakat diimbau segera mencabut steker perangkat elektronik sensitif saat terjadi pemadaman listrik. Setelah aliran listrik kembali normal, pengguna juga disarankan menunggu sekitar dua hingga lima menit sebelum menyalakan perangkat secara bertahap. Selain itu, penggunaan surge protector atau alat pelindung lonjakan tegangan dinilai menjadi investasi penting bagi rumah tangga modern. Perangkat ini mampu menyerap lonjakan listrik sehingga dapat melindungi peralatan elektronik, menjaga keamanan data digital, serta memperpanjang usia pakai perangkat. Dengan meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap perangkat elektronik dan digital, kesadaran akan bahaya lonjakan tegangan pasca pemadaman listrik menjadi hal yang perlu diperhatikan. Kerusakan yang ditimbulkan tidak selalu terlihat seketika, namun dapat menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar di masa mendatang.(Djoko W)
Ciptakan Lingkungan Inklusif, Mahasiswa PPG UMM Dilatih Tangkal Perundungan dan Kekerasan Seksual

MALANG POST – Maraknya kasus perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi di lingkungan pendidikan menegaskan bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang aman. Dampaknya sangat fatal, tidak hanya merusak prestasi akademik, tetapi juga mengancam kesehatan mental siswa hingga memicu depresi dan tindakan bunuh diri. Menjawab kondisi darurat ini, Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bertindak tegas dengan membekali para mahasiswa calon guru melalui “Seminar Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual, Perundungan dan Sikap Anti-Intoleransi” di Hotel Rayz UMM, Senin (22/6/2026). Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa PPG calon guru semester 1 tahun akademik 2026 ini menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Ir. Alfi Nurhidayat, S.T., M.T., Ph.D., sebagai pemateri utama. Ia memaparkan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang makin kompleks akibat teknologi digital dan penetrasi gawai yang mengubah pola pikir, interaksi, serta perilaku siswa. Alfi mengingatkan, karena pendidik adalah figur teladan yang perilakunya akan ditiru, penyelesaian masalah intoleransi dan perundungan tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah, melainkan menuntut kolaborasi komprehensif antara guru, orang tua, pemerintah, dan masyarakat. “Ketika guru mengajar dengan cinta, kebahagiaan, dan ketulusan, maka anak-anak akan merasa aman dan nyaman di sekolah. Sekolah yang aman itu bukan dicari, tetapi diciptakan bersama,” tegas Alfi. Melengkapi pandangan tersebut, Dosen Psikologi UMM, Yudi Suharsono, S.Psi., M.Si., menekankan vitalnya peran guru sebagai active bystander atau sosok yang aktif mencegah dan sigap merespons berbagai bentuk kekerasan di sekolah. Ia menyoroti fakta bahwa korban sering kali memilih bungkam dan memendam traumanya cukup lama. Yudi juga mengingatkan bahwa sepuluh menit pertama ketika seorang siswa melapor merupakan momen sangat krusial; guru dituntut untuk mampu mendengarkan secara utuh, memvalidasi perasaan korban, serta menjamin kerahasiaan agar siswa tersebut bersedia menceritakan kejadian sepenuhnya. “Kasus yang tercatat sesungguhnya hanyalah puncak gunung es. Banyak korban tidak melapor karena takut, malu, atau merasa tidak akan mendapatkan perlindungan,” jelas Yudi. Melihat tingginya urgensi pencegahan kekerasan tersebut, Ketua Program Studi PPG UMM sekaligus Koordinator PPG Nasional, Prof. Dr. Trisakti Handayani, F.M., mewajibkan setiap calon lulusan untuk memiliki pemahaman pencegahan yang terpadu. Ia menyoroti bahwa kewajiban utama guru masa kini bukan sekadar mentransfer ilmu di dalam kelas, melainkan juga harus mampu secara aktif menjamin terpenuhinya hak peserta didik untuk belajar tanpa adanya ancaman kekerasan. “Jadilah guru yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Ketika nanti terjun ke dunia pendidikan, jadilah garda terdepan dalam menciptakan sekolah yang aman, inklusif, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik,” ujar Trisakti. Langkah konkret PPG UMM melalui seminar ini mengirimkan pesan kuat bagi dunia pendidikan nasional. Calon pendidik masa depan tidak boleh hanya pandai berteori, namun dituntut terjun membela siswa dan mempraktikkan pencegahan kekerasan secara nyata di lapangan. Kolaborasi antar pemangku kepentingan, kepekaan sosial guru, dan ketegasan dalam bertindak adalah kunci utama untuk mengembalikan muruah sekolah sebagai ruang belajar yang benar-benar aman, inklusif, serta senantiasa menghargai keberagaman.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Pakar UMM Ingatkan Bahaya Lonjakan Listrik Setelah Padam, Ini Cara Melindungi Perangkat Elektronik

pwmu.co –Pemadaman listrik yang terjadi berulang kali tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi merusak berbagai perangkat elektronik rumah tangga. Menurut Pakar Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Ir. Machmud Effendy, ST., M.Eng., IPM., ASEAN Eng., kerusakan paling berbahaya justru kerap terjadi saat aliran listrik kembali menyala. Prof. Dr. Ir. Machmud Effendy, ST., M.Eng., IPM., ASEAN Eng Machmud menjelaskan bahwa banyak masyarakat mengira perangkat elektronik rusak ketika listrik padam. Padahal, risiko terbesar muncul saat pasokan listrik kembali normal karena adanya lonjakan tegangan (power surge) yang berlangsung dalam waktu sangat singkat. “Secara umum, yang lebih berpotensi merusak alat elektronik adalah saat listrik kembali menyala. Pada saat jaringan listrik dipulihkan, sering terjadi lonjakan tegangan sesaat yang dapat jauh melebihi tegangan normal 220 volt. Kondisi ini berisiko merusak televisi, komputer, charger, router Wi-Fi, mesin cuci, hingga AC,” tegasnya. Menurutnya, lonjakan tegangan tersebut dapat membuat komponen elektronik menerima arus listrik melebihi kapasitas yang dirancang, sehingga mempercepat kerusakan bahkan menyebabkan perangkat tidak lagi berfungsi. Selain berdampak pada perangkat elektronik rumah tangga, pemadaman listrik juga berisiko terhadap perangkat digital seperti komputer dan server. Machmud mengatakan, ketika listrik padam saat perangkat sedang melakukan proses penyimpanan data, kemungkinan terjadinya kehilangan data maupun kerusakan sistem menjadi lebih besar. “Pada perangkat yang sedang menulis data, dampaknya bisa sangat serius. Tidak hanya kehilangan data, tetapi file dapat menjadi rusak, sistem operasi gagal berjalan, hingga terjadi kerusakan fisik pada media penyimpanan seperti hard disk jika kejadian berlangsung berulang,” jelasnya. Ia juga mengingatkan adanya risiko latent damage atau kerusakan tersembunyi yang sering kali tidak langsung terlihat setelah listrik kembali menyala. Kerusakan tersebut dapat mempercepat penurunan kualitas komponen elektronik, terutama pada perangkat yang menggunakan kompresor seperti AC dan lemari pendingin. “Banyak perangkat tampak normal setelah listrik kembali menyala. Namun, bisa saja komponen di dalamnya telah mengalami kerusakan mikroskopis yang baru menimbulkan masalah di kemudian hari. Karena itu, setiap gangguan listrik sebaiknya dianggap sebagai peristiwa yang serius,” paparnya. Machmud mengimbau masyarakat agar tidak menganggap pemadaman listrik sebagai hal yang sepele. Ia menyarankan beberapa langkah sederhana untuk meminimalkan risiko kerusakan perangkat elektronik. Saat listrik padam, masyarakat sebaiknya segera mencabut steker perangkat elektronik yang sensitif terhadap lonjakan tegangan. Setelah aliran listrik kembali normal, perangkat sebaiknya tidak langsung dinyalakan, melainkan diberi jeda sekitar dua hingga lima menit sebelum digunakan secara bertahap. Selain itu, penggunaan surge protector berkualitas juga menjadi salah satu bentuk perlindungan yang disarankan untuk mengurangi dampak lonjakan tegangan. Dengan langkah-langkah tersebut, masyarakat dapat melindungi perangkat elektronik, menjaga keamanan data digital, sekaligus memperpanjang usia pakai berbagai peralatan elektronik di rumah.
UMM Gandeng Martha Tilaar Group, Cetak Mahasiswa Jadi Inovator Industri Kosmetik Berbasis Kearifan Lokal

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat kolaborasi dengan Martha Tilaar Group untuk mendorong lahirnya generasi muda yang mampu berinovasi di industri kosmetik berbasis kearifan lokal. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Kuliah Tamu Kewirausahaan bertajuk “Glow Economy: Beautypreneurs Take the Lead” yang digelar di Aula GKB IV Lantai 9 UMM, Selasa (23/6/2026). Kegiatan ini diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas, di antaranya Fakultas Teknik, Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Farmasi, hingga Program Studi Fisioterapi. Melalui kolaborasi tersebut, UMM dan Martha Tilaar Group ingin membangun semangat kewirausahaan sehingga mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen produk kecantikan, tetapi juga mampu menjadi pelaku usaha (beautypreneurs). Dalam kesempatan itu, Co-Founder Smith, Tri Putra Salim, membagikan pengalaman membangun bisnis perawatan kulit berbahan organik yang berawal dari sebuah eksperimen sederhana di dapur rumah kos. Ia melihat masih besarnya peluang pengembangan produk kosmetik lokal berbahan alami karena sebagian besar produk di pasaran masih bergantung pada bahan kimia. Menurutnya, pelaku usaha muda harus mampu membaca perubahan tren pasar sekaligus berani melakukan inovasi, termasuk pada desain kemasan dan strategi pemasaran digital. “Jika kalian ingin membangun bisnis yang kuat, jangan hanya menjual barang yang sama dengan pesaing, karena kecepatan membaca tren dan keberanian untuk terus berinovasi adalah kunci agar produk lokal bisa mendunia,” tegasnya. CEO Martha Tilaar Group, Dr. Kilala Tilaar, menjelaskan bahwa industri kecantikan nasional memiliki daya tahan yang kuat menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Ia menceritakan perjalanan Martha Tilaar Group yang berkembang dari sebuah salon kecil hingga menjadi perusahaan kosmetik nasional. Meski demikian, menurutnya industri kosmetik Indonesia masih menghadapi tantangan besar berupa tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku. “Bangsa kita mewariskan ribuan resep kecantikan tradisional dan keanekaragaman hayati yang kaya, sehingga jika potensi ini tidak segera kita olah menjadi inovasi, selamanya kita hanya akan menjadi sasaran pasar bagi negara lain,” urainya. Kilala menyebut sekitar 85 persen bahan baku kosmetik nasional masih berasal dari luar negeri, padahal Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat melimpah. Sementara itu, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST., MT., mengatakan kampus telah menyiapkan berbagai program untuk mendukung mahasiswa menjadi wirausahawan. Salah satunya melalui Center of Excellence (CoE) yang menghubungkan pembelajaran di kampus dengan kebutuhan dunia industri sekaligus menyediakan fasilitas inkubasi bisnis. “Fasilitas Center of Excellence ini secara khusus kami hadirkan untuk mendekatkan mahasiswa dengan realitas industri, agar kalian memiliki kemampuan teknis dan praktis yang mumpuni untuk menjadi pengusaha sukses,” pungkas Subeki. Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri, UMM berharap lahir inovasi baru di bidang kosmetik berbasis kekayaan alam Indonesia. Kolaborasi tersebut juga diharapkan mampu melahirkan pelaku usaha muda yang tidak hanya menciptakan produk bernilai tambah, tetapi juga membuka lapangan kerja serta meningkatkan daya saing industri kosmetik nasional di pasar global.
Dukung Net Zero Emission 2060, UMM Diakui DEN sebagai Kampus Mandiri Energi

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat apresiasi dari Dewan Energi Nasional (DEN) atas komitmennya dalam mengembangkan energi baru terbarukan (EBT). Pengakuan tersebut disampaikan dalam Diskusi Publik bertajuk “Arah Kebijakan Energi Menuju Net Zero Emission Melalui Pembangkit Energi Baru Terbarukan” yang digelar di Ruang Sidang Senat UMM, Kamis (25/6/2026). Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Prof. Dr. Ir. Johni Jonatan Numberi, M.Eng., IPM., ASEAN Eng., menilai UMM menjadi salah satu perguruan tinggi yang telah menunjukkan komitmen nyata dalam pengembangan energi terbarukan sejak 2007. “Di satu sisi, UMM sudah melakukan praktik-praktik energi baru terbarukan, yaitu dengan adanya PLTMH di kampus UMM maupun PLTS. Ini memberikan kontribusi nyata. Selain pembelajaran di ruang kelas yang sesuai dengan kurikulum, hal-hal yang berkaitan dengan praktik bidang energi baru terbarukan sudah benar-benar dilaksanakan sebagai laboratorium hidup,” tegasnya. Menurut Numberi, kunjungan DEN ke UMM dilatarbelakangi kebutuhan memperkuat ketahanan energi nasional di tengah menurunnya produksi minyak bumi dan meningkatnya impor minyak mentah serta bahan bakar minyak (BBM). Di sisi lain, pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia masih tergolong rendah sehingga diperlukan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, dalam mempercepat transisi energi. Pemerintah sendiri menargetkan puncak emisi karbon pada 2035 serta pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada 2060 melalui dekarbonisasi sebesar 129 juta ton CO2e. Untuk mewujudkan target tersebut, bauran energi primer dari EBT ditargetkan mencapai 70 hingga 72 persen pada tahun 2060. Dalam kesempatan itu, Numberi juga mengapresiasi berbagai inovasi yang dikembangkan sivitas akademika UMM, salah satunya teknologi desalinasi air laut menjadi air bersih di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memanfaatkan energi surya sebagai sumber pembangkit. Menurutnya, inovasi tersebut menjadi contoh nyata bagaimana penelitian kampus mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama di wilayah dengan rasio elektrifikasi yang masih terbatas. “Tadi dari hasil presentasi, saya lihat beberapa kegiatan sudah dilakukan oleh teman-teman di UMM. Misalnya, desalinasi air laut menjadi air tawar (air bersih) di NTT dengan memanfaatkan energi surya untuk pembangkitnya. Ini adalah wujud pengabdian dan penelitian yang bagus, yang diterapkan langsung ke masyarakat,” ungkapnya. Melalui kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi, UMM diharapkan terus berkontribusi dalam pengembangan riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat guna mendukung transisi energi hijau serta mewujudkan kemandirian energi nasional menuju target Net Zero Emission 2060.
Marak Siswa Ditahan karena Tunggakan, Guru Besar UMM: Dampaknya Bisa Merusak Psikologis

KETIK, BATU – Praktik penahanan siswa akibat tunggakan biaya pendidikan dinilai berpotensi menimbulkan dampak psikologis yang serius bagi peserta didik. Dekan Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendy, M.M., menilai lembaga pendidikan perlu mencari solusi yang lebih bijak dan kreatif agar persoalan administrasi tidak berujung pada tekanan mental bagi siswa. Guru Besar bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum tersebut menjelaskan bahwa persoalan keterlambatan pembayaran biaya pendidikan sebenarnya tidak hanya terjadi di jenjang sekolah menengah, tetapi juga di perguruan tinggi. Menurutnya, ketika siswa atau mahasiswa tiba-tiba dihadapkan pada kondisi yang mempermalukan mereka karena persoalan biaya, dampak yang muncul bukan hanya persoalan akademik, tetapi juga menyentuh aspek psikologis. “Nah, seperti yang banyak disampaikan, siswa itu kan tidak tahu persoalan seperti itu. Kemudian ketika muncul situasi yang tidak mereka duga, hal tersebut dapat memengaruhi kondisi psikologisnya. Itu yang paling berbahaya menurut saya. Karena itulah kasus bullying dan persoalan sejenis menjadi perhatian, sebab dampaknya menyentuh aspek psikologis,” ujarnya, Kamis, 25 Juni 2026. Ia menegaskan bahwa dampak psikologis tidak boleh dianggap sepele karena dapat membekas dalam jangka panjang. Menurutnya, pengalaman negatif selama menempuh pendidikan berpotensi terus diingat oleh peserta didik hingga bertahun-tahun kemudian. “Saya sering mengatakan bahwa siswa mungkin lupa materi pelajaran yang pernah diajarkan. Namun, mereka akan selalu mengingat bagaimana guru atau sekolah memperlakukan mereka. Perlakuan itulah yang biasanya melekat paling lama dalam ingatan,” katanya. Prof. Mahfud menilai sekolah memiliki tanggung jawab untuk mengantisipasi kasus serupa agar tidak terus berulang. Terlebih, pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, sekolah, dan pemerintah. “Kalau ada salah satu pihak yang mengalami kesulitan, maka pihak lain harus ikut mencari jalan keluar. Sekolah perlu memahami kondisi siswanya dan tidak membiarkan persoalan biaya berkembang menjadi masalah psikologis,” tuturnya. Ia juga mengingatkan bahwa mengandalkan bantuan pemerintah semata bukanlah solusi yang mudah dilakukan. Karena itu, sekolah didorong untuk lebih kreatif dalam mencari alternatif pembiayaan maupun skema bantuan bagi siswa yang mengalami kendala ekonomi. “Sekolah harus memiliki inovasi untuk membantu peserta didik yang benar-benar membutuhkan. Bisa melalui skema pinjaman sementara, potongan biaya, beasiswa, atau program lain yang memungkinkan siswa tetap mendapatkan hak pendidikannya,” ujar dosen Program Studi Pendidikan Matematika tersebut. Prof. Mahfud mencontohkan sejumlah sekolah kejuruan yang mampu memanfaatkan hasil karya siswa sebagai sumber pendapatan tambahan bagi lembaga pendidikan. Langkah semacam itu, paparnya, dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat pembiayaan pendidikan. Selain itu, ia mengaku pernah menerapkan pendekatan serupa di lingkungan perguruan tinggi. Saat menemukan mahasiswa yang mengalami kendala pembayaran, pihak fakultas berupaya memetakan potensi yang dimiliki mahasiswa tersebut agar tetap dapat melanjutkan pendidikan tanpa tekanan berlebihan. “Saya pernah mendapati mahasiswa yang memiliki usaha kuliner. Kami membantu mempertemukan usaha tersebut dengan kebutuhan kegiatan kampus sehingga usahanya bisa berkembang. Pendekatan seperti ini lebih baik dibandingkan membiarkan mereka menghadapi beban sendirian,” bebernya. Prof. Mahfud bahkan mendorong adanya kerja sama antara sekolah, perbankan, dan orang tua untuk menghadirkan mekanisme pembayaran yang lebih fleksibel. Dengan skema tersebut, biaya pendidikan dapat ditanggung sementara oleh pihak ketiga tanpa harus mempermalukan siswa di lingkungan sekolah. “Saya pernah menerapkan kerja sama dengan bank untuk membuat tabungan pendidikan atau sistem talangan biaya. Dengan begitu, siswa tidak perlu menerima label atau pemberitahuan yang dapat menimbulkan rasa malu di depan teman-temannya,” ujarnya. Menurut Prof. Mahfud, kasus siswa yang mengalami kendala biaya sebenarnya hanya terjadi pada sebagian kecil peserta didik. Karena itu, sekolah seharusnya mampu memberikan perhatian khusus kepada mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan. “Jumlahnya tidak banyak, mungkin hanya sebagian kecil. Justru karena sedikit, sekolah harus bisa memberikan solusi yang lebih manusiawi dan tidak merugikan kondisi mental mereka,” katanya.
Kuliah Tamu di UMM, CEO Martha Tilaar Dorong Mahasiswa Jadi Inovator Dunia Kosmetik

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalin kolaborasi strategis dengan Martha Tilaar Group untuk mendorong mahasiswa menjadi inovator tangguh di industri kosmetik berbasis kearifan lokal. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Kuliah Tamu Kewirausahaan bertajuk Glow Economy: Beautypreneurs Take the Lead di Aula GKB IV Lantai 9, Selasa (23/6/2026). Kegiatan ini diikuti ratusan mahasiswa UMM dari berbagai latar belakang keilmuan, mulai Fakultas Teknik (FT), Fakultas Psikologi (Fapsi), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Farmasi, hingga Fisioterapi. Sinergi ini dirancang untuk menjawab tantangan industri kecantikan sekaligus mendorong generasi Z bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi pengusaha kecantikan (beautypreneur). Co-Founder Smith, Tri Putra Salim, membagikan pengalaman saat merintis bisnis perawatan kulit organik asli Nusantara dari sebuah eksperimen di dapur kos-kosan. Menurutnya, banyak produk lokal masih bergantung pada bahan kimia sehingga peluang pengembangan produk berbahan organik masih terbuka lebar. Dia menekankan bahwa pengusaha muda harus berani memperbaiki desain kemasan agar lebih eksklusif serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi konsumen. “Jika kalian ingin membangun bisnis yang kuat, jangan hanya menjual barang yang sama dengan pesaing. Kecepatan membaca tren dan keberanian untuk terus berinovasi adalah kunci agar produk lokal bisa mendunia,” tegasnya. Di sisi lain, CEO Martha Tilaar Group, Dr Kilala Tilaar, mengajak mahasiswa menjadi inovator dunia kosmetik. Menurutnya, industri kecantikan nasional terbukti tangguh dan mampu bertahan di tengah berbagai krisis ekonomi. Dia menceritakan perjalanan Martha Tilaar Group yang bermula dari salon kecil berukuran 4 x 6 meter hingga berkembang menjadi salah satu perusahaan kosmetik nasional terkemuka berkat kemampuan membaca tren pasar di era digital. Di hadapan para mahasiswa, Kilala mengingatkan bahwa tantangan terbesar industri kosmetik Indonesia saat ini adalah tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku yang mencapai 85 persen. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan bahan alam yang melimpah. “Bangsa kita mewariskan ribuan resep kecantikan tradisional dan keanekaragaman hayati yang kaya. Jika potensi ini tidak segera diolah menjadi inovasi, selamanya kita hanya akan menjadi sasaran pasar bagi negara lain,” ujarnya. Sementara itu, Wakil Rektor III UMM, Dr Nur Subeki ST MT, menyampaikan bahwa Kampus Putih telah menyiapkan ekosistem pembelajaran aplikatif untuk mencetak lulusan yang siap terjun ke dunia usaha. Hal tersebut diwujudkan melalui program Center of Excellence (CoE) yang menjembatani teori akademik dengan praktik industri sekaligus menyediakan akses inkubasi bisnis bagi mahasiswa. “Fasilitas Center of Excellence ini kami hadirkan untuk mendekatkan mahasiswa dengan realitas industri agar memiliki kemampuan teknis dan praktis yang mumpuni untuk menjadi pengusaha sukses,” ungkapnya. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan praktisi industri ini diharapkan menjadi angin segar bagi masa depan ekonomi kreatif Indonesia. Keterlibatan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu diyakini mampu melahirkan kolaborasi multidisiplin untuk memodernisasi warisan kecantikan lokal. Ke depan, langkah strategis tersebut tidak hanya diharapkan mampu menekan angka impor bahan baku kosmetik, tetapi juga melahirkan generasi muda yang mampu menciptakan lapangan kerja baru serta membawa merek kosmetik Indonesia bersaing di tingkat global.
UMM dan Martha Tilaar Group Bahas Peluang Industri Kosmetik Berbasis Kearifan Lokal

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kuliah tamu kewirausahaan bertajuk Glow Economy: Beautypreneurs Take the Lead bersama Martha Tilaar Group di Aula GKB IV Lantai 9, Selasa (23/6/2026). Kegiatan tersebut membahas peluang pengembangan usaha kosmetik berbasis bahan alam dan kearifan lokal Indonesia. Kuliah tamu diikuti ratusan mahasiswa dari sejumlah fakultas di UMM, antara lain Fakultas Teknik, Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Farmasi, serta Fisioterapi. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh pemaparan mengenai perkembangan industri kecantikan, inovasi produk, dan peluang kewirausahaan di bidang kosmetik. Co-Founder Smith, Tri Putra Salim, membagikan pengalaman saat merintis usaha perawatan kulit organik berbasis bahan lokal. Ia mengatakan usaha tersebut berawal dari eksperimen produk yang dilakukan di tempat tinggalnya ketika masih berkuliah. Menurutnya, peluang pengembangan kosmetik berbahan organik masih terbuka karena sebagian produk lokal masih menggunakan bahan kimia. Tri menyampaikan bahwa pelaku usaha muda perlu memperhatikan pengembangan produk, kemasan, serta pemanfaatan media sosial dalam membangun merek. Ia menilai media sosial dapat digunakan untuk mengenalkan produk sekaligus memberikan edukasi kepada konsumen mengenai bahan dan manfaat produk yang digunakan. “Jika kalian ingin membangun bisnis yang kuat, jangan hanya menjual barang yang sama dengan pesaing, karena kecepatan membaca tren dan keberanian untuk terus berinovasi adalah kunci agar produk lokal bisa mendunia,” tegasnya. CEO Martha Tilaar Group, Dr. Kilala Tilaar, memaparkan perkembangan industri kecantikan di Indonesia serta tantangan yang dihadapi pelaku usaha kosmetik nasional. Ia menyebut salah satu tantangan tersebut adalah ketergantungan terhadap impor bahan baku kosmetik. UMM dan Martha Tilaar Group Bahas Peluang Industri Kosmetik Berbasis Kearifan Lokal Menurut Kilala, Indonesia memiliki beragam bahan alam dan pengetahuan tradisional yang dapat dikembangkan menjadi produk kosmetik. Ia juga menyampaikan bahwa pengolahan bahan lokal membutuhkan inovasi, riset, dan pengembangan agar dapat memiliki nilai tambah dalam industri. “Bangsa kita mewariskan ribuan resep kecantikan tradisional dan keanekaragaman hayati yang kaya, sehingga jika potensi ini tidak segera kita olah menjadi inovasi, selamanya kita hanya akan menjadi sasaran pasar bagi negara lain,” urainya. Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, S.T., M.T., mengatakan kampus menyediakan ekosistem pembelajaran yang menghubungkan teori akademik dengan kebutuhan dunia industri. Salah satu program yang disiapkan UMM ialah Center of Excellence (CoE), yang memberikan ruang pembelajaran praktis dan pendampingan pengembangan usaha bagi mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan. “Fasilitas Center of Excellence ini secara khusus kami hadirkan untuk mendekatkan mahasiswa dengan realitas industri, agar kalian memiliki kemampuan teknis dan praktis yang mumpuni untuk menjadi pengusaha sukses,” pungkas Subeki. Kegiatan kuliah tamu tersebut menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan pelaku industri kosmetik. Materi yang disampaikan mencakup pengembangan produk berbasis bahan lokal, pembacaan tren pasar, pemanfaatan media digital, serta peluang kolaborasi lintas disiplin dalam industri kecantikan.
Kolaborasi UMM dan Martha Tilaar, Dorong Mahasiswa Jadi Inovator Dunia Kosmetik

www.majelistabligh.id –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjalin kolaborasi strategis dengan Martha Tilaar Group guna mendorong mahasiswa menjadi inovator tangguh di industri kosmetik berbasis kearifan lokal. Komitmen ini diwujudkan melalui Kuliah Tamu Kewirausahaan bertajuk “Glow Economy: Beautypreneurs Take the Lead” di Aula GKB IV Lantai 9, Selasa (23/6). Kegiatan ini berlangsung antusias dan diikuti ratusan mahasiswa UMM yang berasal dari berbagai latar belakang keilmuan, seperti Fakultas Teknik (FT), Fakultas Psikologi (Fapsi), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Farmasi, hingga Fisioterapi. Sinergi ini dirancang secara khusus untuk menjawab tantangan industri kecantikan sekaligus merangsang generasi Z agar bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi pengusaha (beautypreneurs). Co-Founder Smith, Tri Putra Salim, membagikan pengalaman inspiratifnya saat merintis bisnis perawatan kulit organik asli Nusantara dari sebuah eksperimen di dapur kos-kosan. Ia menyadari banyak produk lokal masih bergantung pada bahan kimia, sehingga peluang untuk mengembangkan produk berbahan organik sangat terbuka lebar. Ia menekankan kepada para mahasiswa bahwa untuk membangun merek yang adaptif, pengusaha muda harus berani memperbaiki desain kemasan agar lebih eksklusif dan gencar memanfaatkan media sosial sebagai medium edukasi konsumen. “Jika kalian ingin membangun bisnis yang kuat, jangan hanya menjual barang yang sama dengan pesaing, karena kecepatan membaca tren dan keberanian untuk terus berinovasi adalah kunci agar produk lokal bisa mendunia,” tegasnya. Disisi lain, CEO Martha Tilaar Group, Dr. Kilala Tilaar, memaparkan bahwa industri kecantikan Tanah Air terbukti solid dan mampu bertahan di tengah berbagai krisis ekonomi. Ia menceritakan rekam jejak perusahaannya yang bermula dari salon kecil berukuran empat kali enam meter hingga sukses menjadi raksasa kosmetik nasional berkat kegesitan membaca tren pasar di era digital. Di hadapan ratusan mahasiswa tersebut, Kilala mengingatkan bahwa tantangan terberat industri lokal saat ini adalah tingginya ketergantungan impor bahan baku kosmetik yang mencapai 85 persen, padahal Indonesia sangat kaya akan bahan alam nusantara. “Bangsa kita mewariskan ribuan resep kecantikan tradisional dan keanekaragaman hayati yang kaya, sehingga jika potensi ini tidak segera kita olah menjadi inovasi, selamanya kita hanya akan menjadi sasaran pasar bagi negara lain,” urainya. Sementara itu, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, ST MT menyampaikan, Kampus Putih telah merancang ekosistem pembelajaran aplikatif untuk mencetak lulusan unggul yang siap terjun ke dunia wirausaha. Hal ini direalisasikan melalui program Center of Excellence (CoE) yang berfungsi menjembatani kesenjangan teori akademik dengan praktik riil di industri, sekaligus memberikan akses inkubasi bisnis yang relevan dengan berbagai disiplin ilmu. “Fasilitas Center of Excellence ini secara khusus kami hadirkan untuk mendekatkan mahasiswa dengan realitas industri, agar kalian memiliki kemampuan teknis dan praktis yang mumpuni untuk menjadi pengusaha sukses,” pungkas Subeki. Kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi dan praktisi industri ini membawa angin segar bagi masa depan ekonomi kreatif di Indonesia. Keterlibatan ratusan mahasiswa dari keilmuan teknik, sosial, hingga kesehatan diharapkan mampu melahirkan kolaborasi multidisiplin untuk memodernisasi warisan kecantikan lokal. Ke depannya, langkah strategis ini diproyeksikan tidak hanya menekan angka impor bahan baku, tetapi juga mencetak generasi tangkas yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan membawa merek kosmetik nasional bersaing secara global.