UMM-Pemkot Batu Perkuat Program 1000 Sarjana, Akses Kuliah Warga Kian Terbuka

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Pemerintah Kota Batu menegaskan komitmen bersama dalam mempercepat pembangunan sumber daya manusia melalui Program 1000 Sarjana. Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang digelar di GOR Gajah Mada Kota Batu, 9 Desember 2025. Program ini dirancang untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Batu sekaligus memperluas akses pendidikan tinggi bagi generasi muda, khususnya pada program studi unggulan yang mendukung potensi lokal seperti pertanian dan pariwisata. Dalam kolaborasi ini, UMM dipercaya menjadi mitra strategis sebagai support system pendidikan bagi daerah. Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan bahwa investasi di bidang pendidikan merupakan kebutuhan mendesak yang tidak dapat ditunda. Pemerintah daerah, menurutnya, berkomitmen memastikan setiap pelajar memiliki kesempatan menempuh pendidikan tinggi tanpa terkendala biaya. “Pendanaan beasiswa menjadi prioritas untuk melahirkan sumber daya manusia yang lebih kompetitif,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Bagian Kerja Sama Bidang IV UMM, Muhammad Fath Mashuri, M.A., menyampaikan bahwa UMM tidak hanya berorientasi pada dampak nasional, tetapi juga ingin memberikan kontribusi nyata bagi wilayah terdekat, termasuk Kota Batu. Ia menjelaskan bahwa UMM turut memberikan subsidi tambahan dalam skema beasiswa tersebut. “Sebagian biaya SPP mahasiswa asal Kota Batu ditanggung oleh UMM, sedangkan sisanya dibayarkan oleh Pemerintah Kota Batu,” jelasnya. Dalam mekanisme pelaksanaan Program 1000 Sarjana, proses seleksi dilakukan melalui verifikasi bersama antara UMM dan Pemerintah Kota Batu dengan fokus pada mahasiswa aktif ber-KTP Kota Batu. Program ini menerapkan persyaratan IPK minimum serta batas maksimal studi hingga semester delapan guna memastikan penerima beasiswa memiliki komitmen akademik yang kuat. Selain itu, Pemerintah Kota Batu secara berkala menerima laporan perkembangan studi mahasiswa dari UMM sebagai bagian dari sistem evaluasi berkelanjutan. Evaluasi ini diselaraskan dengan visi pembangunan daerah, khususnya pada sektor pertanian dan ketahanan pangan, yang selama ini menjadi salah satu kekuatan akademik UMM. Tidak hanya berfokus pada bantuan biaya pendidikan, UMM juga membekali mahasiswa melalui penguatan soft skill dan karakter. Hal ini dilakukan melalui program P2KK (Pengembangan Kepribadian dan Kepemimpinan) serta pelatihan teknis bahasa pemrograman Python, sehingga lulusan diharapkan memiliki kompetensi akademik, kepemimpinan, dan digital yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Fath menutup dengan pesan kepada generasi muda Kota Batu agar memanfaatkan peluang ini secara maksimal. “Pemerintah Kota Batu telah menunjukkan kepedulian besar terhadap pembangunan manusia. Tugas generasi muda adalah menyerap sebanyak mungkin pengetahuan dan keterampilan selama menempuh pendidikan tinggi,” pungkasnya.
MTCC UMM Gelar-Sekolah Tani-Mandiri Muhammadiyah di Selo-Boyolali

RRI – KBRN, Boyolali : Pusat Studi Pengendalian Tembakau (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM) kembali menggelar Sekolah Tani Mandiri Muhammadiyah yang rutin diselenggarakan sejak tahun 2021. Kegiatan yang kini memasuki periode ke-9 tersebut dilaksanakan di kawasan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (17/12/2025). Direktur MTCC UMM, Retno Rusdjijati, mengatakan sekolah tani ini diikuti oleh 40 peserta yang berasal dari kalangan petani dan keluarga petani muda berusia 18 hingga 35 tahun. “Sekolah Tani Mandiri Muhammadiyah ini memang rutin kami selenggarakan sebagai upaya membangun kembali minat generasi muda terhadap dunia pertanian,” ujar Retno. Menurutnya, saat ini muncul isu bahwa kaum muda semakin tidak tertarik menekuni sektor pertanian. Oleh karena itu, MTCC UMM berupaya memotivasi para pemuda agar kembali melirik pertanian, namun dengan konsep yang lebih modern dan sesuai dengan karakter generasi muda. “Kami ingin menunjukkan bahwa pertanian bisa dikelola secara modern, inovatif, dan menjanjikan secara ekonomi,” jelasnya. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional. Mengingat MTCC merupakan pusat studi pengendalian tembakau, sasaran utama program ini adalah petani tembakau yang dinilai saat ini sudah tidak terlalu menjanjikan secara ekonomi. “Kami mendorong petani tembakau untuk beralih ke tanaman pangan yang lebih menguntungkan dan lebih bermanfaat. Di sisi lain, kami juga membawa misi edukasi tentang dampak rokok yang selama ini berbahan dasar tembakau,” imbuh Retno. Dalam kegiatan ini, MTCC UMM menghadirkan empat narasumber dari berbagai latar belakang. Di antaranya Sofyan, petani muda sekaligus founder sayuran organik Merbabu yang berbasis di Kopeng, Boyolali. Sofyan dikenal sukses mengembangkan pertanian organik dan telah menjadi Duta Kementerian Pertanian di tingkat nasional. Selain itu, hadir pula akademisi dari Universitas Muhammadiyah Magelang yang membahas digitalisasi pertanian, konten kreator asal Purworejo yang fokus pada isu pengendalian tembakau, serta perwakilan dari lembaga keuangan yang memberikan gambaran akses permodalan bagi pemuda yang ingin terjun ke sektor pertanian. “Harapan kami, para peserta bisa mengarah ke pengembangan tanaman pangan yang lebih bermanfaat dan berkelanjutan,” kata Retno. Ke depan, MTCC UMM juga berencana memilih tiga aktor muda dari wilayah yang telah dibina, yang dinilai berhasil dan fokus mengembangkan pertanian, untuk dihadirkan sebagai pemapar dalam pertemuan nasional pengendalian tembakau yang akan digelar pada Januari 2026 mendatang. Salah satu peserta, Kharisudin, anggota Kelompok Tani Petani Milenial Selo, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, Sekolah Tani Mandiri Muhammadiyah sangat bermanfaat bagi petani, khususnya di wilayah Selo. “Acara ini sangat bagus dan bermanfaat untuk masyarakat Selo. Selama ini petani masih terpaku pada tembakau, padahal belakangan banyak yang mengalami kerugian,” ungkapnya. Ia menyebutkan, pada musim tanam terakhir harga tembakau mengalami penurunan. “Tahun ini harga tembakau paling tinggi hanya sekitar Rp60 ribu per kilogram, turun dibanding tahun sebelumnya. Produksi memang naik, tapi karena curah hujan tinggi kualitas menurun, sehingga banyak petani merugi,” katanya..(Kisno/Rill)
Program Magang CoE PAI UMM Masuk Babak Baru di Bojonegoro

MALANG POST – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi menutup program magang Center of Excellence (CoE) sekaligus menandatangani kerja sama dengan Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro serta empat sekolah Muhammadiyah, Kamis (11/12/2025). Kegiatan yang berlangsung di Aula PDM Bojonegoro ini menjadi langkah strategis memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan di daerah. Penutupan magang CoE PAI UMM dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Prodi PAI UMM dengan PDM Dikdasmen Bojonegoro dan empat sekolah mitra. Antara lain, SMP Muhammadiyah 2 Bojonegoro, SMP Muhammadiyah 4 Balen Bojonegoro, MTs Muhammadiyah 1 Banjaranyar, serta MI Muhammadiyah 26 Mudung Bojonegoro. Kerja sama ini diharapkan menjadi pondasi penguatan pelaksanaan pendidikan, pengembangan pembelajaran serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ketua Prodi PAI UMM, Zulfikar Yusuf, M.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa penutupan magang bukanlah akhir dari proses pembelajaran mahasiswa. Menurutnya, pengalaman langsung di sekolah mitra selama program CoE merupakan bekal penting bagi mahasiswa untuk menjadi pendidik yang adaptif, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan zaman. Ia juga menegaskan bahwa kerja sama yang terjalin harus berorientasi pada program konkret dan berkelanjutan. “Pengalaman lapangan inilah yang akan membentuk mahasiswa menjadi guru yang kontekstual dan siap menghadapi dinamika dunia pendidikan,” tegasnya. Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UMM, Dr. Imamul Hakim, M.Sh., menambahkan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk nyata komitmen FAI UMM dalam mewujudkan konsep link and match antara dunia akademik dan praktik pendidikan di lapangan. Kampus, lanjutnya, tidak boleh terjebak pada teori semata, melainkan harus hadir langsung untuk menjawab tantangan pendidikan di masyarakat. “Kampus harus turun tangan dan menjadi bagian dari solusi atas persoalan pendidikan yang dihadapi sekolah-sekolah,” ujarnya. Dari pihak mitra, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro, Mustadjid, S.Ag., menyambut positif kerja sama tersebut. Ia berharap program magang dan kolaborasi ke depan dapat diperluas ke lebih banyak sekolah, tidak hanya terbatas pada kegiatan magang, tetapi juga mencakup riset bersama dan inovasi pembelajaran. “Kehadiran mahasiswa PAI UMM membawa semangat baru dan kami berharap kerja sama ini terus berlanjut secara berkesinambungan,” tuturnya. Melalui penutupan magang CoE dan penandatanganan kerja sama ini, Prodi PAI UMM menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan Islam yang berlandaskan nilai keislaman dan kemuhammadiyahan, sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
UMM-Pemkot Batu Hadirkan Program 1000 Sarjana, Mimpi Kuliah Semakin Nyata!

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan komitmen kuat dalam mempercepat pembangunan sumber daya manusia di Kota Batu melalui kolaborasi strategis dengan Pemerintah Kota Batu. Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) terkait pelaksanaan Program 1000 Sarjana. Kegiatan yang bertujuan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ini digelar di GOR Gajah Mada Kota Batu pada 9 Desember lalu. Penandatanganan kerja sama tersebut menjadi simbol sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan pemerintah daerah dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat. Program 1000 Sarjana merupakan inisiatif Pemerintah Kota Batu sebagai langkah konkret mendorong generasi muda daerah untuk melanjutkan pendidikan tinggi, khususnya pada program studi unggulan yang menopang potensi lokal seperti pertanian dan pariwisata. UMM, sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Kota Pendidikan, dipercaya menjadi mitra strategis dan support system bagi pengembangan sumber daya manusia Kota Batu. Wali Kota Batu Nurochman menegaskan bahwa investasi di bidang pendidikan merupakan hal yang tidak bisa ditawar. Pemerintah, kata dia, berkomitmen memastikan setiap pelajar memiliki kesempatan menempuh pendidikan tinggi tanpa terkendala biaya. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan program beasiswa sebagai langkah strategis meningkatkan kualitas sumber daya manusia daerah. “Pendanaan beasiswa menjadi prioritas untuk melahirkan SDM yang lebih kompetitif,” ujarnya. Sementara itu, Kepala Bagian Kerja Sama UMM Bidang IV Muhammad Fath Mashuri MA menyampaikan bahwa UMM tidak hanya ingin memberikan dampak luas bagi Indonesia, tetapi juga dampak nyata bagi wilayah terdekat, salah satunya Kota Batu. Menurut Fath, UMM tidak semata mengandalkan anggaran dari Pemerintah Kota Batu, tetapi juga memberikan subsidi tambahan berupa potongan biaya studi bagi mahasiswa asal Kota Batu. Dalam skema tersebut, sebagian biaya SPP ditanggung oleh UMM, sementara sisanya dibiayai oleh Pemerintah Kota Batu. Dalam mekanisme Program 1000 Sarjana, proses seleksi penerima beasiswa dilakukan melalui verifikasi dua pihak, yakni UMM dan Pemerintah Kota Batu. Kedua institusi bekerja sama mengidentifikasi mahasiswa aktif yang ber-KTP Kota Batu. Untuk menjamin kualitas penerima, program ini menerapkan sejumlah kriteria, di antaranya batas minimal IPK dan masa studi maksimal hingga semester delapan. Fath menjelaskan, ketentuan tersebut penting untuk memastikan bahwa penerima beasiswa benar-benar memiliki komitmen serius dalam menjalani proses perkuliahan. Selain itu, Pemerintah Kota Batu juga secara rutin menerima laporan perkembangan studi mahasiswa dari UMM sebagai bahan evaluasi keberlanjutan program setiap semester. Evaluasi ini selaras dengan visi UMM dalam mendukung percepatan pembangunan daerah, khususnya di sektor pertanian dan ketahanan pangan. Sektor tersebut menjadi fokus karena UMM dikenal memiliki kekuatan akademik dan riset yang mumpuni di bidang tersebut. “Pemerintah Kota Batu menilai efektivitas kinerja UMM di sektor ini sangat baik. Karena itu, lulusan UMM diharapkan memiliki kesiapan kompetensi untuk langsung mendukung program-program unggulan daerah,” pungkasnya. Selain dukungan beasiswa, UMM juga mengintegrasikan pengembangan soft skill dan karakter mahasiswa melalui Program Pengembangan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK), serta pembekalan keterampilan teknis seperti bimbingan bahasa pemrograman Python. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga kepemimpinan, etika, kerja sama, dan kompetensi digital yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Di akhir, Fath mengajak generasi muda Kota Batu untuk memanfaatkan peluang besar ini secara optimal. Menurutnya, kepedulian Pemerintah Kota Batu terhadap pembangunan manusia dan pengembangan soft skill sudah sangat nyata, sehingga perlu disambut dengan kesungguhan belajar dan berproses di perguruan tinggi. (Faqih/AS)
Balap Liar Marak, Dosen UMM Nilai Anak Muda Kehilangan Ruang Ekspresi Sehat

Malangpariwara.com – Maraknya aksi balap liar di sejumlah ruas jalan Kota Malang kembali menjadi perhatian publik. Fenomena yang banyak melibatkan anak muda ini tidak hanya mengganggu ketertiban. Tetapi juga menimbulkan pertanyaan lebih besar mengenai ketersediaan ruang ekspresi dan pembinaan generasi muda di kota yang dikenal sebagai kota pendidikan. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menilai persoalan ini tidak bisa dipandang semata sebagai pelanggaran lalu lintas. Persoalan Sosial Dosen Sosiologi UMM, Luluk Dwi Kumalasari, M.Si., menyebut balap liar sebagai persoalan sosial yang dalam kajian sosiologi masuk dalam kategori kenakalan remaja. Menurutnya, fenomena ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Mulai dari lemahnya pengawasan orang tua, kondisi ekonomi keluarga yang rentan, pergaulan yang kurang sehat, hingga minimnya pengawasan pemerintah dan aparat. Di sisi lain, keterbatasan fasilitas motorsport legal serta kuatnya pengaruh media sosial turut memperparah situasi. “Dari beragam faktor tersebut, pergaulan menjadi pemicu yang paling dominan. Anak muda secara alamiah memiliki dorongan untuk mencari teman sebaya, mencoba hal baru, dan mendapatkan pengakuan sosial,” katanya. Dalam konteks ini, balap liar kerap dijadikan ajang adu gengsi sekaligus sarana pembentukan jati diri,” ujarnya saat diwawancara tim humas UMM, pada Selasa (16/12/2025). Selain faktor pergaulan, persoalan ekonomi juga berperan cukup besar. Tidak sedikit pelaku balap liar berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah dan melihat aktivitas tersebut sebagai peluang memperoleh uang. Baik dari taruhan maupun bayaran sebagai joki. Kondisi ini menjadi ironi tersendiri bagi Malang sebagai Kota Pendidikan. Karena praktik balap liar mencerminkan realitas sosial yang seharusnya tidak dilegitimasi oleh generasi muda. “Malang, seharusnya mampu berfungsi sebagai kota yang mengedukasi warganya dengan melibatkan berbagai pihak. Agar balap liar tidak dimaknai sebagai bentuk keberanian, kebebasan, atau jalan sah dalam pencarian identitas,” ujarnya. Pencarian Jati Diri Remaja Ia menjelaskan bahwa fase remaja memang identik dengan pencarian jati diri dan kebutuhan akan pengakuan sosial. Ketika pengakuan tersebut diperoleh, meski melalui cara yang berisiko, remaja akan merasa diakui dan memiliki nilai di lingkungannya. Faktor kelas sosial juga memperkuat kecenderungan ini, mengingat balap resmi membutuhkan biaya besar yang tidak dapat diakses semua kalangan. “Penertiban dan razia yang selama ini dilakukan memang belum mampu menghentikan balap liar secara berkelanjutan. Jumlah pelaku cukup banyak dan mereka kerap berpindah-pindah lokasi. Bahkan, tidak sedikit yang sudah memahami pola patroli aparat,” katanya. “Karena itu, penegakan hukum perlu diperkuat agar benar-benar menimbulkan efek jera. Namun, upaya tersebut tidak boleh berhenti pada penindakan saja,” tuturnya. “Media sosial juga harus diarahkan menjadi agen perubahan dengan menampilkan risiko dan dampak nyata dari balap liar, bukan justru mengglorifikasinya,” ujarnya. Balap liar, lanjut Luluk, membawa dampak sosial yang luas, mulai dari gangguan ketertiban umum, rasa tidak aman bagi pengguna jalan, hingga ancaman keselamatan jiwa. Untuk menjaga citra Malang sebagai kota pelajar, diperlukan langkah komprehensif yang mencakup pendekatan preventif, represif, sekaligus edukatif. Di akhir, ia berharap kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat bersinergi menciptakan ruang ekspresi yang sehat bagi anak muda. Penyediaan sarana penyaluran bakat yang legal dinilai penting agar energi, keberanian, dan kreativitas generasi muda tidak lagi tersalurkan di jalanan. Melainkan diarahkan ke ruang yang lebih aman dan bermakna. (Djoko W/Yaya)
Dari Kampus ke Lokasi Bencana, Koas UMM Dampingi Warga Agam Bangkit

METRO TV NEWS – Malang: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menurunkan tim koas kedokteran untuk memperkuat layanan kesehatan dan pemulihan psikososial bagi warga terdampak bencana di Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Tim diberangkatkan pada Selasa, 16 Desember 2025, dan dijadwalkan bertugas hingga 27 Desember 2025. “Sebelumnya pada tanggal 8 Desember lalu sudah ada tim yang datang kesana, nah ini merupakan lanjutannya. Yang sekarang ini kami fokuskan kepada ranah kesehatan,” ungkap koordinator kegiatan, Arina Restian, Rabu, 17 Desember 2025. Kehadiran tim ini merupakan bagian dari program Optimalisasi Layanan Medis dan Dukungan Psikososial Pascabencana, hasil kolaborasi UMM dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti-Saintek). Dalam program ini, UMM dipercaya menangani secara penuh wilayah terdampak bencana di Kabupaten Agam. Tim yang diterjunkan terdiri atas 10 mahasiswa koas Fakultas Kedokteran UMM, didukung berbagai elemen kesehatan di lingkungan kampus. Mereka membawa sejumlah logistik penting, mulai dari alat kesehatan, obat-obatan, perangkat kefarmasian, teknologi tepat guna, sistem filtrasi air bersih, hingga alat pemeriksaan darah untuk mendukung layanan medis di lapangan. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menegaskan kondisi pascabencana di Kabupaten Agam masih memerlukan perhatian serius. Proses pemulihan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat karena jumlah penyintas yang terdampak cukup besar. “Program ini menjadi semangat bagi kami untuk hadir langsung membantu para penyintas yang terdampak bencana. Ini adalah panggilan kemanusiaan,” ujar Salis. Tim koas kedokteran untuk memperkuat layanan kesehatan dan pemulihan psikososial bagi warga terdampak bencana di Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat/Dok. UMM Keterlibatan UMM dalam misi kemanusiaan ini merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Salis mengingatkan kepada seluruh tim untuk menjaga nilai-nilai Muhammadiyah, kode etik profesi, serta nama baik institusi selama menjalankan tugas di lokasi bencana. “Niatkan seluruh kegiatan sebagai ibadah dan amal jariyah. Fokus pada kebermanfaatan dan hindari segala bentuk kerugian,” pesan Salis. Melalui program yang berlangsung hingga akhir Desember ini, UMM menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang aktif dalam respons kebencanaan. UMM juga mengedepankan pendekatan kemanusiaan dan keilmuan untuk mendukung pemulihan masyarakat terdampak di Kabupaten Agam.
Anggapan Kebun Sawit Sama dengan Hutan Alam Dinilai Menyesatkan

MALANG – Penanews.co.id – Ramainya wacana pemerintah membuka ratusan ribu hektare lahan baru untuk perkebunan sawit kembali memantik perdebatan soal dampak ekologis komoditas tersebut. Di tengah isu ini, muncul anggapan di masyarakat bahwa kebun sawit dapat berfungsi layaknya hutan alam, terutama dalam menyerap air dan mencegah banjir. Namun, pandangan tersebut dinilai berpotensi menyesatkan dan menimbulkan pemahaman yang keliru tentang fungsi sebenarnya dari ekosistem hutan. Akademisi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Febri Arif Cahyo Wibowo, menegaskan bahwa pohon sawit tidak dapat disamakan dengan pohon hutan dari segi fungsi ekologis. Menurutnya, perbedaan paling mendasar terletak pada struktur akar dan karakter vegetasi yang menjadi penentu kemampuan tanaman dalam menjaga keseimbangan lingkungan. “Akademisi Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Febri Arif Cahyo Wibowo, menegaskan bahwa pohon sawit tidak dapat disamakan dengan pohon hutan dari segi fungsi ekologis. Menurutnya, perbedaan paling mendasar terletak pada struktur akar dan karakter vegetasi yang menjadi penentu kemampuan tanaman dalam menjaga keseimbangan lingkungan,” ujarnya pada Sabtu (13/12/2025) lalu, sebagaimana dilansir UMM,ac.id Dalam penjelasannya, akar sawit bersifat serabut dengan kedalaman rata-rata sekitar satu meter, membuat daya serap dan kemampuan menyimpan air relatif terbatas. Kondisi ini berbeda jauh dengan pohon hutan yang memiliki sistem perakaran lebih dalam, umumnya mencapai dua hingga tiga meter, bahkan bisa menembus hingga sepuluh meter pada kondisi tertentu. Kedalaman akar ini berperan penting dalam menjaga cadangan air tanah sekaligus menstabilkan struktur tanah. “Sawit adalah tanaman perkebunan bukan tanaman hutan. Masyarakat tidak bisa begitu saja menyamakan kapasitas ekologis sawit dengan pohon hutan alam. Kalau soal mempertahankan air, pohon jelas lebih unggul,” katanya. Ia menambahkan, kerentanan ekologis kebun sawit juga dipengaruhi oleh sistem tanam monokultur. Lantai kebun yang minim tumbuhan bawah membuat air hujan langsung jatuh ke permukaan tanah tanpa penghalang alami. Berbeda dengan hutan alam yang memiliki lapisan vegetasi mulai dari pohon, semak, hingga daun di tanah yang membantu menahan dan memperlambat aliran air hujan sebelum meresap ke tanah. Kondisi vegetasi berlapis tersebut sangat penting untuk menjaga kelembapan tanah dan menekan risiko erosi. Sebaliknya, pada kebun sawit, terutama di wilayah berbukit atau lereng, potensi erosi justru meningkat apabila tidak disertai pengelolaan lahan yang memadai. “Dalam konteks kebijakan ekspansi sawit, risiko erosi merupakan ancaman paling dekat terutama pada kawasan dengan topografi miring. Banyak penelitian menunjukkan tingkat erosi di lahan sawit pada lereng tergolong tinggi. Kalau intensitas hujan tinggi dan tidak ada vegetasi penahan, dampaknya bisa sangat besar. Regulasi sebenarnya sudah sangat jelas, tinggal ditaati saja,” tutur Febri. Febri juga mengingatkan bahwa perubahan iklim dengan intensitas hujan yang kian ekstrem dapat memperparah kerentanan lingkungan tersebut. Ia menilai ekspansi sawit harus dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan karakteristik lahan dan daya dukung lingkungan. Pemerintah diminta memastikan pengembangan perkebunan tidak menyasar kawasan rawan bencana atau wilayah yang secara ekologis tidak sesuai. Menurutnya, regulasi terkait pengelolaan hutan produksi maupun hutan tanaman industri sejatinya sudah tersedia. Yang dibutuhkan saat ini adalah konsistensi dalam penerapan aturan agar fungsi ekologis hutan tidak dikorbankan demi kepentingan ekonomi jangka pendek. “Buat blok-blok khusus untuk sawit, dan kembalikan fungsi hutan pada kawasan yang secara ekologis tidak cocok untuk kebun. Jangan memaksakan sawit tumbuh di tempat yang memang bukan habitatnya. Kalau konservasi ingin berjalan, fungsikan hutan sesuai peruntukannya,” tegasnya. Ia berharap diskursus tentang sawit tidak terjebak pada dikotomi ekonomi versus lingkungan, melainkan ditempatkan secara proporsional. Sawit memang memiliki nilai ekonomi strategis, tetapi tidak dirancang oleh alam untuk menggantikan fungsi ekologis hutan alam. Oleh karena itu, arah kebijakan ke depan harus memastikan ekspansi sawit tidak menggerus ketahanan ekologis hutan maupun meningkatkan risiko bencana bagi masyarakat.
Pembudidaya Ganja di Mojongapit Jombang, Ditinjau dari Psikologi Sosial

JOMBANG BANGET – PENGGEREBAKAN budidaya ganja di rumah kontrakan Jalan Pakubuwono, Dusun Mojongapit, Desa Mojongapit, Kecamatan Jombang baru-baru ini, mengungkap sejumlah fakta mengejutkan. Lokasi yang tampak sepi itu ternyata dijadikan greenhouse ganja dengan skala cukup besar oleh seorang pria berinisial R (43). Dari hasil penyidikan, polisi telah menetapkan dua orang tersangka. R dan seorang pria bernama Y, yang membantu kegiatan budidaya ganja tersebut. Kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut penyalahgunaan lingkungan perumahan dan lingkungan kampus untuk aktivitas narkotika. Sekaligus menunjukkan perlunya kewaspadaan lebih ketat dari warga dan institusi pendidikan terhadap aktivitas mencurigakan di sekitar mereka. Kasus pembudidaya ganja di Mojongapit ini juga dapat dilihat dari sudut pandang psikologi sosial. Terduga pelaku diduga mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar, termasuk lingkungan kampus, tanpa menimbulkan kecurigaan berarti. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai kamuflase sosial, yakni kemampuan individu menyesuaikan perilaku agar terlihat ’’normal’’ di tengah komunitas tertentu. Psikolog sosial menilai bahwa pelaku kejahatan terencana sering kali memiliki kemampuan membangun citra yang aman dan tidak mencolok. Dengan berbaur di lingkungan kampus dan asrama, pelaku diduga menciptakan identitas sosial palsu sebagai mahasiswa atau bagian dari komunitas akademik, sehingga keberadaannya tidak dipertanyakan oleh orang sekitar. Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep cognitive dissonance pada lingkungan sosial. Orang-orang di sekitar pelaku cenderung menepis kecurigaan karena citra kampus diasosiasikan dengan pendidikan dan intelektualitas. Akibatnya, muncul anggapan bahwa individu yang berada di lingkungan tersebut kecil kemungkinan terlibat kejahatan narkotika. Dari sisi psikologi kriminal, tindakan membudidayakan ganja secara tertutup dalam jangka waktu lama menunjukkan adanya perencanaan matang dan kontrol diri tinggi, meski diarahkan pada perilaku menyimpang. Pelaku tidak bertindak impulsif, melainkan sistematis, yang menandakan pola kejahatan terorganisir skala individu. Psikolog juga menyoroti kemungkinan adanya mekanisme rasionalisasi. Yakni upaya pelaku membenarkan tindakannya secara internal. Misalnya dengan menganggap perbuatannya tidak merugikan secara langsung atau hanya bersifat ekonomi. Mekanisme ini umum ditemukan pada pelaku penyalahgunaan narkotika non-pengguna. Selain itu, lingkungan kampus sebagai ruang terbuka sosial dapat dimanfaatkan oleh individu tertentu untuk mencari rasa aman psikologis. Dengan berada di tengah komunitas mahasiswa, pelaku mungkin memperoleh perasaan anonimitas. Yakni merasa ’’tersembunyi di tengah keramaian’’, sehingga menurunkan kecemasan akan terungkapnya kejahatan. Kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan narkotika tidak selalu dilakukan oleh individu dengan perilaku mencolok. Dari perspektif psikologi, penampilan, status sosial, dan lingkungan tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator risiko, sehingga kewaspadaan kolektif tetap diperlukan.
Realisasi Program 1000 Sarjana, UMM-Pemkot Batu Teken MoU

MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan komitmen kuatnya dalam mempercepat pembangunan sumber daya manusia di Kota Batu melalui kolaborasi strategis. Hal ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara UMM dan Pemerintah Kota Batu untuk pelaksanaan Program 1000 Sarjana. Kegiatan yang bertujuan meningkatkan indeks pembangunan manusia ini dilaksanakan di GOR Gajah Mada Kota Batu pada 9 Desember lalu. Menandai komitmen bersama antara institusi pendidikan dan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan akses pendidikan tinggi. Inisiatif Program 1000 Sarjana Pemerintah Kota Batu digagas sebagai upaya konkret untuk mendorong remaja daerah agar melanjutkan studi pada program-program unggulan. Terutama yang menopang keunggulan sumber daya alam lokal seperti pertanian dan pariwisata. UMM, sebagai salah satu institusi pendidikan terkemuka di Kota Pendidikan. Digandeng sebagai mitra strategis untuk menjadi support system bagi daerah Kota Batu. Wali Kota Batu, Nurochman, menyebut investasi pendidikan tak bisa ditawar dan pemerintah akan terus memastikan setiap pelajar memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi tanpa terkendala biaya. Ia menegaskan bahwa komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan program beasiswa sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah. “Pendanaan beasiswa menjadi prioritas untuk melahirkan SDM yang lebih kompetitif,” ujarnya Disisi lain, Muhammad Fath Mashuri, M.A., Kepala Bagian Kerjasama UMM pada Bidang IV, menjelaskan bahwa UMM tidak hanya ingin berdampak luas untuk Indonesia, tetapi juga ingin memberikan dampak nyata pada wilayah terdekat, salah satunya Kota Batu. “UMM tidak hanya mengandalkan anggaran dari Pemerintah Kota Batu, tetapi juga turut memberikan subsidi tambahan. Bentuk dukungan tersebut berupa potongan biaya studi bagi mahasiswa asal Kota Batu, di mana sebagian biaya SPP ditanggung oleh UMM dan sisanya dibayarkan oleh Pemerintah Kota Batu,” ujar Fath, menyoroti peran UMM yang proaktif dalam kemitraan ini. Dalam mekanisme Program 1000 Sarjana, proses seleksi penerima beasiswa melibatkan verifikasi dua pihak. UMM dan Pemerintah Kota Batu yang bekerja sama dalam mengidentifikasi mahasiswa aktif ber-KTP Batu. Untuk menjamin kualitas penerima, program ini menerapkan filter IPK minimum dan batas maksimal studi semester 8. Fath sapaan akrabnya menjelaskan, batasan ini penting untuk menjamin bahwa benar-benar penerima award ini adalah mahasiswa yang memiliki komitmen serius dalam menjalani proses perkuliahan. Fath yang juga merupakan dosen psikologi UMM itu juga menambahkan, bahwa Pemerintah Kota Batu secara rutin menerima laporan perkembangan studi mahasiswa dari UMM. Hal ini menjadi bahan evaluasi yang ketat untuk memastikan keberlanjutan program beasiswa setiap semesternya. Sistem evaluasi ini diselaraskan dengan visi UMM dalam mendukung percepatan pembangunan daerah, khususnya di sektor pertanian dan ketahanan pangan. “Sektor ini menjadi fokus utama karena UMM dikenal kuat dalam program-program tersebut, dan Pemerintah Kota Batu secara langsung menyoroti efektivitas kinerja UMM di bidang ini sangat mumpuni,” pungkas Fath. Oleh karena itu lulusan UMM diharapkan memiliki kesiapan kompetensi yang mumpuni untuk langsung mendukung program-program unggulan Kota Batu. Selain beasiswa pendidikan, pengembangan soft skill dan karakter juga telah terintegrasi dalam kurikulum UMM melalui program P2KK (Pengembangan Kepribadian dan Kepemimpinan) serta bimbingan teknis bahasa pemrograman Python. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan kepemimpinan, etika, kerja sama, serta kompetensi digital yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Terakhir, Fath berpesan bahwa penting bagi generasi muda Kota Batu agar memanfaatkan peluang besar ini. “Pemerintah daerah Kota Batu dalam hal ini memberikan kepedulian yang besar, terhadap pembangunan manusia dan pengembangan soft skill generasi muda. Oleh karena itu generasi muda di Kota Batu harus memanfaatkan dan menyerap sebanyak mungkin pengetahuan yang bisa didapatkan di perguruan tinggi,” pungkasnya.(*M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
Pengamat Sebut Bus Transjatim Malang Raya Bawa Dampak Ekonomi Signifikan

TRIBUN JATIM – Pandangan tersebut disampaikan dalam acara Tribun Talks yang digelar di Rayz Hotel UMM Malang, Jawa Timur, Rabu (17/12/2025). Menurut Ratih, kehadiran Bus Transjatim dapat dipahami melalui dua pendekatan teori utama, yakni manajemen transportasi publik dan manajemen destinasi pariwisata. Keduanya saling berkaitan dan menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. “Kalau kita melihat secara teoritis, Transjatim ini menjadi penghubung antara pemerintah sebagai pengelola dengan masyarakat sebagai pengguna,” ujarnya. “Dalam konteks pariwisata, transportasi publik adalah faktor penting yang menentukan aksesibilitas,” ujarnya. Ratih menilai, aksesibilitas menjadi kekuatan utama Transjatim di Malang Raya. Dengan tarif yang terjangkau serta fasilitas yang nyaman, layanan ini mampu menarik antusiasme masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. “Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Bus sering penuh,” ujarnya. “Ini menunjukkan bahwa harga murah dan kenyamanan menjadi daya tarik utama,” katanya. Dari sisi ekonomi, Ratih menegaskan, Bus Transjatim Malang Raya berpotensi menciptakan multiplier effect yang positif. Aktivitas ekonomi mulai tumbuh di sepanjang rute yang dilalui, terutama di kawasan terminal dan halte. “Penggerak ekonomi lokal mulai terlihat, khususnya di area terminal dan pemberhentian bus,” ujarnya. “Ini perlu didukung oleh pemerintah daerah, misalnya dengan membuka kios UMKM atau tenda-tenda usaha agar dampaknya semakin terasa,” jelasnya.