Tiket Sold Out di Australia, Film Kepaten Obor Karya Dosen UMM Melaju ke Amerika Serikat

Tiket Sold Out di Australia, Film Kepaten Obor Karya Dosen UMM Melaju ke Amerika Serikat pwmu.co –Karya sineas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Film berjudul Kepaten Obor garapan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., sukses ditayangkan di Australia dan kini bersiap tampil dalam festival film internasional di Washington DC, Amerika Serikat. Film tersebut sebelumnya terpilih dalam ajang Indonesia Western Australia Film Festival (IWAFF) yang berlangsung di Perth, Australia. Selama sepekan, Kepaten Obor diputar di sejumlah bioskop dan mendapatkan sambutan positif dari penonton. “Alhamdulillah tiketnya sold out semua dan tembus ribuan penonton. Selanjutnya, atas undangan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat, film ini juga terpilih untuk ditayangkan di Euro Asia Shorts 2026, sebuah Festival Film di Washington DC,” ungkap Novin. Film Kepaten Obor mengangkat kehidupan masyarakat Tengger di Jawa Timur dengan menyoroti hubungan emosional antara ibu dan anak yang dibalut nilai-nilai budaya serta filosofi Jawa tentang pentingnya menjaga tali silaturahmi. Menurut Novin, proses produksi film yang dimulai sejak 2024 tidak hanya bertujuan menghasilkan karya sinema, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa. Sebanyak 95 persen tim produksi berasal dari mahasiswa dan alumni Program Studi Ilmu Komunikasi UMM. “Mahasiswa saya ajak belajar bersama. Mereka terlibat langsung mulai dari proses produksi sampai pasca produksi, menjadikan proyek ini ruang belajar riil bagi mereka di lapangan,” jelasnya. Sebelum menembus festival internasional, Kepaten Obor telah lebih dahulu meraih berbagai pencapaian di tingkat nasional. Film tersebut berhasil menjadi Juara 1 Kompetisi Film Asli Jawa Timur (Komfilasi), masuk nominasi penghargaan AKTIF dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta lolos seleksi Klik Film Festival. Novin menilai keberhasilan sebuah film tidak hanya ditentukan oleh kualitas produksi, tetapi juga strategi distribusi yang dirancang sejak awal. Salah satunya dengan menyiapkan subtitle bahasa Inggris agar karya dapat menjangkau audiens yang lebih luas. “Film jangan hanya selesai diproduksi lalu disimpan saja. Film harus didistribusikan dan diperluas jaringannya supaya bisa dinikmati lebih banyak orang,” tegasnya. Keberhasilan Kepaten Obor menembus festival film di Australia dan Amerika Serikat diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus berkarya dan berani menampilkan potensi di tingkat global. Sebagai penutup, Novin mengajak generasi muda yang tertarik pada dunia perfilman untuk memperbanyak referensi, memperkuat literasi, serta meningkatkan kepekaan terhadap realitas sosial di sekitar mereka. Menurutnya, pemahaman yang baik terhadap kehidupan masyarakat akan melahirkan karya sinema yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki pesan yang kuat dan relevan. “Semakin banyak referensi yang dimiliki, maka semakin bagus film yang dihasilkan,” pungkasnya. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

UMM Ajak Mahasiswa Cegah Kejenuhan Mental Lewat Kuliah Subuh

Ratusan mahasiswa UMM mengikuti kajian keislaman dalam program Kuliah Sabtu Subuh di masjid A.R. Fachruddin UMM (Tagar.co/Humas UMM) Kita lebih sering merayakan keluasan daripada kedalaman, reaksi cepat daripada refleksi yang matang. Kita terhubung dengan banyak hal, tetapi pada saat yang sama kita mengalami kelelahan batin. Tagar.co – Alarm berbunyi saat sebagian besar mahasiswa mungkin masih terlelap. Namun, Sabtu (6/6/2026) dini hari itu, ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) justru memulai aktivitas lebih awal. Mereka berkumpul sejak pukul 03.00 WIB untuk melaksanakan qiyamul lail, salat Subuh berjamaah, dan mengikuti kajian keislaman dalam program Kuliah Sabtu Subuh. Di tengah padatnya aktivitas akademik, tuntutan organisasi, hingga tekanan untuk terus berprestasi, ruang-ruang semacam ini menjadi semakin relevan. Tidak sedikit mahasiswa yang menghadapi kelelahan mental atau burnout akibat ritme kehidupan yang serba cepat dan penuh target. Melalui Bagian Pendidikan dan Pengajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK), UMM menghadirkan Kuliah Sabtu Subuh sebagai bagian dari praktikum mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) II. Bertempat di Masjid A.R. Fachruddin UMM, kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda akademik, tetapi juga ruang refleksi untuk mengisi kembali energi spiritual mahasiswa. Guru Besar Fakultas Agama Islam (FAI) sekaligus Wakil Direktur I Pascasarjana UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., yang hadir sebagai pemateri mengajak mahasiswa melihat ibadah dari sudut pandang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam kajian bertajuk “Energi Positif dari Ibadah, Charger Spiritual di Tengah Kesibukan Mahasiswa”, Syamsul menggambarkan kondisi manusia modern layaknya gawai yang terus digunakan tanpa pernah diisi ulang dayanya. Menurutnya, banyak orang terus menjalani berbagai aktivitas tanpa meluangkan waktu untuk berhenti dan merefleksikan diri. “Kita lebih sering merayakan keluasan daripada kedalaman, reaksi cepat daripada refleksi yang matang. Kita terhubung dengan banyak hal, tetapi pada saat yang sama kita mengalami kelelahan batin,” ujarnya, mengutip gagasan dalam buku The Power of Full Engagement. Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di kalangan pekerja, tetapi juga mahasiswa. Di tengah berbagai tuntutan akademik dan sosial, banyak mahasiswa berusaha memenuhi beragam target. Namun, mereka tidak menyadari bahwa kondisi mental dan spiritual juga membutuhkan perhatian. Baca Juga:  Pembelajaran Kolaboratif Lintas Sekolah Tiga Modal Utama Kesuksesan Sejati Menurut Syamsul, seseorang tidak dapat mengukur kesuksesan sejati hanya dari capaian akademik atau materi. Ada tiga modal utama yang saling berkaitan dalam kehidupan manusia, yakni modal spiritual, sosial, dan material. Di antara ketiganya, modal spiritual menjadi fondasi yang memberi arah dan makna. Karena itu, umat Islam tidak seharusnya menjalankan ibadah sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Dalam pandangan Tarjih Muhammadiyah, umat Islam menjadikan ibadah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus media relaksasi mental di tengah berbagai tekanan kehidupan. “Ibadah itu adalah satu konsep yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa perbuatan maupun perkataan, yang tampak maupun yang tersembunyi dalam batin,” jelasnya. Wakil Direktur I Pascasarjana UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., menyampaikan materi dalam program Kuliah Sabtu Subuh (Tagar.co/Humas UMM) Lebih jauh, Syamsul menyoroti pentingnya menghadirkan kesadaran penuh atau mindfulness saat beribadah. Menurutnya, tidak sedikit orang yang menjalankan ibadah secara fisik, tetapi pikirannya justru berada di tempat lain. “Sering kali tubuh kita berada di tempat salat, tetapi pikiran kita berada di mana-mana. Padahal hakikat ibadah adalah menghadirkan seluruh diri kita di hadapan Allah,” tuturnya. Baca Juga:  Kemegahan Kurikulum yang Belum Menyentuh Sekolah Kecil Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia tetap membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak. Bukan untuk meninggalkan berbagai aktivitas, melainkan menata kembali arah dan tujuan yang ingin dicapai. Bagi mahasiswa, jeda semacam itu bisa menjadi bekal penting untuk menjaga keseimbangan. Sebab, keberhasilan tidak hanya dengan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi dan aktif berorganisasi, melainkan juga dengan merawat diri, menjaga ketenangan batin, dan menjadikan setiap aktivitas bernilai ibadah. Melalui keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kematangan spiritual, UMM berharap mahasiswa mampu tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga tangguh menghadapi tantangan zaman serta memiliki karakter yang kuat. (#) Penulis Faqih Ahmad Wafir Rahman Penyunting Terry Angria Putri Perdana

Motor Listrik dan Ribuan Peserta Mewarnai Fun Tahes UMM 2026

Pemberangkatan Fun Tahes Rektor Cup UMM 2026, Ahad (7/6/26) (Tagar.co/Humas UMM) Ribuan peserta memadati Fun Tahes Rektor Cup UMM 2026. Tak hanya berburu hadiah undian berupa smartphone dan sepeda motor listrik, mahasiswa juga berkesempatan meraih dana pembinaan prestasi senilai ratusan juta rupiah. Tagar.co—Deretan doorprize menarik memeriahkan Fun Tahes Rektor Cup UMM 2026, dari tablet, smartphone, hingga hadiah utama berupa sepeda motor listrik siap dibawa pulang oleh peserta yang beruntung, Lebih dari 6.000 sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti Fun Tahes, dengan garis start di Helipad Kampus III UMM, Ahad (7/6/26). Ada berbagai hiburan menarik mulai dari senam sehat hingga musik yang menghadirkan Band SemalamSuntuk. Hadir menyapa para peserta, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan harapannya terhadap kegiatan ini agar menjadi suntikan energi positif bagi seluruh elemen kampus. Ia berpesan agar para mahasiswa tetap konsisten menjaga keseimbangan antara fisik yang bugar dan semangat menimba ilmu. “Mudah-mudahan kebahagiaan yang kita rasakan pagi ini menjadi awal yang baik untuk perjalanan kalian selama di UMM. Tetap jaga kesehatan, terus semangat belajar, dan jangan pernah berhenti mengejar cita-cita yang ingin diwujudkan,” jelasnya. Lebih lanjut, kemeriahan giat ini juga bagian dari rangkaian penutupan Student Day bagi mahasiswa baru angkatan 2025. Student Day telah berlangsung selama satu semester untuk membekali mahasiswa baru dengan berbagai pengalaman sosial dan kemasyarakatan. “Melalui garis start ini, resmi mulai kompetisi bergengsi tingkat universitas, sekaligus menutup kegiatan Student Day angkatan 2025. Selamat berlari dan junjung tinggi sportivitas,” ungkapnya. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si memberikan sambutan Fun Tahes Rector Cup UMM 2026 (Tagar.co/Humas UMM) Dukungan Minat Bakat Mahasiswa Di sisi lain, Ketua Panitia Rektor Cup sekaligus Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, M.Si., IPM., ASEAN Eng., menegaskan bahwa Kampus Putih selalu siap dan berkomitmen penuh dalam mewadahi berbagai potensi mahasiswanya. Ia menjelaskan bahwa ajang Rector Cup ini bertujuan untuk melakukan penjaringan bibit-bibit unggul, guna mempersiapkan delegasi mahasiswa untuk bersaing di kompetisi bergengsi tingkat nasional hingga internasional. Baca Juga:  Rektor UMM: Pendidikan Tinggi Harus Jadi Motor Solusi Zaman “Sebagai bentuk keseriusan dan dukungan nyata, UMM juga telah menyiapkan dana pembinaan dengan total mencapai ratusan juta rupiah bagi para pemenang Rector Cup. Kami ingin memastikan bahwa setiap minat dan bakat yang dimiliki mahasiswa tidak hanya terwadahi, tetapi juga mendapatkan apresiasi dan pembinaan secara berkelanjutan agar mereka siap menorehkan prestasi di kancah yang lebih luas,” tegasnya. Kemeriahan acara ini mendapatkan apresiasi langsung oleh para peserta. Nayla Auvara Izzetiyya, salah satu mahasiswa, mengungkapkan rasa antusiasmenya karena bisa berbaur dengan ribuan sivitas akademika. Ia merasa kegiatan semacam ini sangat efektif untuk menghilangkan penat setelah menjalani rutinitas perkuliahan. “Acaranya benar-benar seru. Selain bisa olahraga bareng teman-teman dari berbagai jurusan, ada hiburan musik dan doorprize-nya sangat menggiurkan. Harapannya UMM bisa terus rutin mengadakan acara sebesar dan semeriah ini,” ujarnya. (#) Penyunting Mahyuddin Syaifulloh

Semarak Gebyar Fun Tahes Tandai Dibukanya Rektor Cup UMM 2026

SEMARAK: Gebyar Fun Tahes menandai dibukanya Rektor Cup UMM 2026. MALANG, RADAR MALANG – Lebih dari 6.000 sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti giat Fun Tahes Rektor Cup 2026, Minggu (7/6). Mengambil garis start di Helipad Kampus III, kegiatan lari sejauh lima kilometer ini digelar untuk mengampanyekan gaya hidup sehat. Antusiasme ribuan peserta ini tidak hanya dari giat Fun Tahes saja, tetapi juga deretan doorprize mulai dari tablet, smartphone, hingga hadiah utama berupa sepeda motor listrik siap dibawa pulang oleh peserta yang beruntung. Tak hanya itu, berbagai hiburan menarik mulai dari senam sehat hingga musik yang menghadirkan Band SemalamSuntuk. Hadir menyapa para peserta, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi suntikan energi positif bagi seluruh elemen kampus. Ia berpesan agar para mahasiswa tetap konsisten menjaga keseimbangan antara fisik yang bugar dan semangat menimba ilmu. “Mudah-mudahan kebahagiaan yang kita rasakan pagi ini menjadi awal yang baik untuk perjalanan kalian selama di UMM. Tetap jaga kesehatan, terus semangat belajar, dan jangan pernah berhenti mengejar cita-cita yang ingin diwujudkan,” jelasnya. Lebih lanjut, kemeriahan giat ini juga dirangkai dengan penutupan Student Day bagi mahasiswa baru angkatan 2025. Kegiatan Student Day telah dilaksanakan selama satu semester untuk membekali mahasiswa baru dengan berbagai pengalaman sosial dan kemasyarakatan. “Melalui garis start ini, kompetisi bergengsi tingkat universitas resmi dimulai, sekaligus menutup kegiatan Student Day angkatan 2025. Selamat berlari dan junjung tinggi sportivitas,” ungkapnya. Disisi lain, Ketua Panitia Rektor Cup sekaligus Kepala Bagian Minat Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, M.Si., IPM., ASEAN Eng., menegaskan bahwa Kampus Putih selalu siap dan berkomitmen penuh dalam mewadahi berbagai potensi mahasiswanya. SEMANGAT: Peserta mengikuti Fun Tahes yang seru dan menguji fisik.   Ary menjelaskan bahwa ajang Rektor Cup ini dirancang secara khusus sebagai langkah strategis universitas dalam melakukan penjaringan bibit-bibit unggul, guna mempersiapkan delegasi mahasiswa untuk bersaing di kompetisi bergengsi tingkat nasional hingga internasional. “Sebagai bentuk keseriusan dan dukungan nyata, UMM juga telah menyiapkan dana pembinaan dengan total mencapai ratusan juta rupiah bagi para pemenang Rektor Cup,” ujar Ary. Menurutnya, melalui kegiatan ini, UMM ingin memastikan bahwa setiap minat dan bakat yang dimiliki mahasiswa tidak hanya difasilitasi, tetapi juga diapresiasi serta dibina secara berkelanjutan. “Hal agar mereka siap menorehkan prestasi di kancah yang lebih luas,” tegasnya. Kemeriahan acara ini diakui langsung oleh para peserta. Nayla Auvara Izzetiyya, salah satu mahasiswa, mengungkapkan rasa antusiasmenya karena bisa berbaur dengan ribuan sivitas akademika. Ia merasa kegiatan semacam ini sangat efektif untuk menghilangkan penat setelah menjalani rutinitas perkuliahan. HILANGKAN PENAT: Peserta Fun Tahes saat start.   “Acaranya benar-benar seru. Selain bisa olahraga bareng teman-teman dari berbagai jurusan, ada hiburan musik dan doorprize-nya sangat menggiurkan. Harapannya UMM bisa terus rutin mengadakan event sebesar dan semeriah ini,” pungkasnya.(*) Editor : A. Nugroho

UMM Cegah Mahasiswa Burnout, Kuliah Subuh Jadi Wadah Recharge Energi Spiritual

Mahasiswa UMM dihindarkan dari potensi burnout dengan Kuliah Subuh sebagai recharge energi spiritual./dok.UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut memperhatikan fenomena hustle culture dan rentannya mahasiswa Generasi Z mengalami burnout atau kelelahan mental. Maka dari itu, demi menjaga kesehatan mental yang tidak cukup hanya dengan sekadar berlibur, UMM melalui Bagian Pendidikan dan Pengajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) menggelar Kuliah Sabtu Subuh pada Sabtu, 6 Juni. Kegiatan ini menjadi bagian dari praktikum mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) II dan dirancang secara khusus sebagai wadah pengisian ulang atau recharge energi spiritual mahasiswa. Guru Besar Fakultas Agama Islam (FAI) sekaligus Wakil Direktur I Pascasarjana UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., dihadirkan dengan membawa kajian keislaman. Tema yang diangkat pun lekat dengan keseharian sivitas akademika, yakni ‘Energi Positif dari Ibadah, Charger Spiritual di Tengah Kesibukan Mahasiswa’. Ratusan mahasiswa yang hadir sejak pukul 03.00 WIB diajak untuk melaksanakan qiyamul lail dan salat Subuh berjamaah, sebelum mendalami refleksi sosiologis tentang makna ibadah yang mulai tergeser oleh padatnya aktivitas akademik. Syamsul menganalogikan kondisi mahasiswa yang sering merasa kelelahan, stres, dan overthinking layaknya baterai gawai pintar yang kehabisan daya. Ia menyoroti bagaimana ritme kehidupan komunikasi manusia modern yang serba digital kerap kali kehilangan arah karena bergerak terlalu cepat dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa jeda. “Kita lebih sering merayakan keluasan daripada kedalaman, reaksi cepat daripada refleksi yang matang. Kita terhubung dengan banyak hal, tetapi pada saat yang sama kita mengalami kelelahan batin,” ujar Syamsul mengutip gagasan dari buku The Power of Full Engagement. Syamsul memaparkan, kesuksesan sejati manusia dibangun di atas relasi tiga modal utama, yakni spiritual, sosial, dan material. Modal material dinilai akan kehilangan arah jika tidak ditopang oleh modal spiritual sebagai fondasi penentu makna hidup. Kemudian, dalam pandangan Tarjih Muhammadiyah, ibadah sejatinya adalah sarana bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah yang berfungsi krusial sebagai relaksasi mental di tengah penatnya perkuliahan. “Ibadah itu adalah satu konsep yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah SWT, baik berupa perbuatan maupun perkataan, yang tampak maupun yang tersembunyi dalam batin,” jelas Syamsul. Guru Besar Fakultas Agama Islam (FAI) sekaligus Wakil Direktur I Pascasarjana UMM, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., mengisi Kuliah Sabtu Subuh (6/6)./dok.UMM Ia juga menekankan pentingnya mindfulness atau kesadaran penuh dalam beribadah, bukan sekadar rutinitas jasmani belaka. Menurutnya, banyak orang di era modern yang terjebak pada sekadar gerakan fisik demi menggugurkan kewajiban agama, tanpa menghadirkan hati dan jiwa di dalamnya. “Sering kali tubuh kita berada di tempat salat, tetapi pikiran kita berada di mana-mana. Padahal hakikat ibadah adalah menghadirkan seluruh diri kita di hadapan Allah,” beber Syamsul. Ia juga mengingatkan kembali esensi syair Ibnu Arabi tentang orang yang salat namun hanya mendapatkan kelelahan fisik. Kesuksesan sejati seorang mahasiswa, menurut Syamsul, tidak hanya diukur dari tingginya Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) atau jabatan mentereng di organisasi, melainkan kemampuannya menjadikan seluruh interaksi sosial dan aktivitasnya bernilai ibadah. Menurutnya, setiap langkah di bangku perkuliahan sepatutnya dilandasi dengan ikhlas (niat karena Allah), ihsan (menghadirkan kebaikan), dan itqan (kesungguhan). Melalui keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kematangan spiritual inilah, mahasiswa UMM diharapkan mampu terus bertumbuh menjadi insan yang tangguh, berilmu, sekaligus berakhlak mulia di era yang kian kompleks. *** Editor: YAN

Menuju Kursi Sekda Definitif Kota Batu, Pengamat Bedah Dua Calon Terkuat

Ilustrasi Balai Kota Among Tani Batu. Pemkot Batu tengah menanti hasil seleksi terbuka Sekda Kota Batu untuk pimpinan definitif tertinggi ASN yang masih kosong.(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES) JATIMTIMES – Seleksi Terbuka (Selter) Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batu menyisakan tiga kandidat terbaik menuju penentuan. Hal ini turut menuai sorotan dari berbagai kalangan. Di balik berjalannya tiap tahapan birokrasi tersebut, figur Sekda ke depan dinilai memegang peran krusial yang wajib memiliki integritas kokoh sekaligus piawai menjadi jembatan penghubung antara kepentingan korps pegawai dengan kepala daerah. Hingga saat ini, tiga pejabat senior Pemkot Batu yang masih bertahan dalam bursa calon jenderal birokrasi tersebut meliputi Kepala Dinas Pendidikan Alfi Nurhidayat, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Arief As Siddiq, dan Kepala Badan Pendapatan Daerah Mohammad Nur Adhim. Sementara yang gugur sebelumnya yakni ada Kepala Bakesbangpol Akhmad Dahlan, Kepala Bapelitbangda Bangun Yulianto, serta Inspektur Kota Batu Endro Wahjudi. Menanggapi peta persaingan yang kian mengerucut tersebut, Pengamat Sosial Politik dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si., angkat bicara mengenai kriteria ideal pemimpin administrasi tertinggi di Bumi Kota Wisata. Dirinya menggarisbawahi bahwa sosok Sekda terpilih nantinya tidak boleh hanya sekadar unggul dalam kecakapan administratif semata. Lebih dari itu, calon Sekda definitif dituntut harus mampu menunjukkan loyalitas, dedikasi, serta komitmen yang kuat, baik dalam menjalankan roda pemerintahan maupun dalam menjaga marwah kehidupan pribadinya di ruang publik. Rekam jejak yang bersih tanpa cacat moral maupun hukum menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi demi melahirkan iklim birokrasi yang sehat. “Sekda ideal tentu harus memiliki rekam jejak yang bersih, berpengalaman, mempunyai jiwa pengabdian tinggi, serta memiliki komitmen, loyalitas, dan integritas yang tidak diragukan,” tutur Wahyudi saat memberikan pandangan akademisnya, belum lama ini. Melihat peta kekuatan dari nama-nama yang ada, Wahyudi tidak menampik jika dalam dinamika yang berkembang di lapangan, muncul dua figur yang dinilai merepresentasikan kandidat kuat. Kedua nama yang santer disebut-sebut bakal bersaing ketat tersebut adalah Alfi Nurhidayat dan Mohammad Nur Adhim, di mana masing-masing dinilai memiliki keunggulan komparatif pada bidang kerjanya. Sosok Alfi Nurhidayat dipandang memiliki kelebihan dalam hal penguasaan lapangan serta memiliki kedekatan emosional yang baik dengan elemen masyarakat bawah. Pengalaman kepemimpinannya juga teruji lantaran sebelum menakhodai Dinas Pendidikan, ia tercatat pernah memimpin Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Batu yang sarat dengan program pembangunan infrastruktur fisik. “Mas Alfi merupakan salah satu ASN yang memiliki komitmen, loyalitas, dan integritas tinggi terhadap pimpinan maupun lembaga tempat ia mengabdi,” katanya. Di sisi lain, figur Mohammad Nur Adhim dinilai sebagai birokrat yang memiliki kompetensi teknis sangat kuat dalam urusan pengelolaan keuangan dan pendapatan daerah. Keahliannya yang spesifik dalam menata sektor pajak dan retribusi daerah dianggap menjadi modal berharga bagi masa depan kemandirian fiskal Pemerintah Kota Batu. Selain membedah profil kandidat, Prof. Wahyudi juga memberikan catatan kritis mengenai pentingnya menjaga independensi tim Panitia Seleksi (Pansel) agar seluruh proses penilaian berjalan objektif. Hal ini krusial untuk memastikan hasil akhir selter benar-benar murni bebas dari intervensi kepentingan pribadi maupun kedekatan tertentu dengan para calon. Kendati demikian, ia mengakui bahwa mewujudkan independensi mutlak di tingkat lokal bukanlah perkara mudah, mengingat lingkup geografis dan relasi antarkomunitas di wilayah Malang Raya tergolong relatif sempit. Realitas tradisi di Indonesia menunjukkan bahwa mencari personalia pansel yang benar-benar steril dan tidak memiliki hubungan emosional atau kerja dengan para kandidat adalah tantangan tersendiri. Oleh sebab itu, Wahyudi menegaskan bahwa benteng terakhir dari objektivitas seleksi ini bertumpu penuh pada komitmen personal dari para anggota pansel serta pemegang kekuasaan tertinggi di daerah. Seluruh pihak yang terlibat wajib menyingkirkan potensi konflik kepentingan agar Sekda yang lahir dari rahim seleksi ini benar-benar sosok terbaik yang mampu menakhodai birokrasi. Sebagai informasi, perjalanan enam calon yang mengerut menjadi tiga kandidat Sekda ini sebelumnya telah melewati ujian asesmen manajerial dan sosial kultural (mansoskul) yang digelar di Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Jawa Timur di Surabaya. Dalam tahapan tersebut, kemampuan para peserta dikuliti lewat berbagai instrumen mulai dari analisis studi kasus, simulasi penyelesaian problem pemerintahan, tes intelektual, hingga penggalian potensi personal. Usai merampungkan tahapan di Surabaya, para peserta dijadwalkan akan melanjutkan perjuangan di Balai Kota Among Tani melalui ujian pemaparan makalah dan wawancara akhir langsung di hadapan tim pansel. Menutup rangkaian seleksi formal, seluruh kandidat juga diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan jasmani dan rohani secara menyeluruh di RSUD Karsa Husada sebagai prasyarat mutlak sebelum nama Sekda definitif ditetapkan.

Penyebab Euforia Piala Dunia 2026 Tak Semeriah Dulu, Kenaikan Nilai Tukar Dolar Ikut Berpengaruh

Link copied! lihat foto X/FIFAWorldCup PIALA DUNIA SEPI – Jelang bergulirnya Piala Dunia 2026, gaung turnamen sepak bola terbesar di dunia dinilai tidak semeriah edisi-edisi sebelumnya. TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Euforia jelang turnamen sepak bola terbesar di dunia, Piala Dunia 2026, dinilai tidak semeriah edisi sebelumnya. Dulunya, menjelang Piala Dunia bergulir, banyak perkampungan yang mulai bersolek diri dalam menyambut event Akbar sepak bola dunia tersebut. Mulai dari menghiasi kampung dengan berbagai negara kontestan Piala Dunia, hingga menjadi obrolan hangat setiap hari di pojok kampung atau warung kopi. Namun, antusiasme tersebut kini terasa biasa-biasa saja. Seperti yang terasa di Malang, sebagai salah satu daerah yang cukup kuat dengan budaya sepak bola. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Luluk Dwi Kumalasari menilai, perubahan tersebut erat kaitannya dengan transformasi sosial. Hal itu akibat dari perkembangan teknologi digital yang mengubah cara masyarakat mengkonsumsi informasi dan hiburan. Menurut Luluk, masyarakat saat ini hidup dalam era digital yang membuat pola konsumsi media menjadi semakin instan dan terfragmentasi. “Kalau dulu menonton sepak bola menjadi aktivitas kolektif. Orang rela begadang bersama keluarga atau teman-teman untuk menyaksikan pertandingan. Sekarang yang penting tahu hasil akhirnya saja,” katanya kepada TribunJatim.com, Sabtu (6/6/2026). Ia menjelaskan, generasi muda saat ini cenderung tidak lagi menikmati proses pertandingan secara utuh. Mereka lebih memilih mengakses informasi singkat melalui media sosial atau portal berita daripada menghabiskan waktu berjam-jam menyaksikan pertandingan. “Orang sekarang mencari yang praktis. Daripada menonton pertandingan selama 90 menit lebih, mereka cukup melihat skor akhir atau cuplikan pertandingan. Pola konsumsi informasi sudah berubah,” ucapnya. Perubahan juga dipengaruhi oleh hadirnya berbagai pilihan hiburan digital lain yang lebih menarik bagi generasi muda. Seperti bermain gim, media sosial, hingga aktivitas nongkrong bersama teman. Selain faktor teknologi, Luluk menilai, perbedaan zona waktu juga menjadi penyebab berkurangnya antusiasme masyarakat terhadap Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sebagian besar pertandingan diperkirakan berlangsung pada dini hari waktu Indonesia, sehingga berbenturan dengan kebutuhan istirahat masyarakat yang memiliki ritme kerja semakin padat. “Tuntutan kerja sekarang tinggi. Banyak orang memilih tidur dan menjaga kondisi tubuh untuk bekerja keesokan harinya daripada begadang menonton pertandingan,” jelasnya. Kenaikan nilai tukar dolar juga berpengaruh Di sisi lain, Luluk melihat adanya faktor psikologis berupa kekecewaan kolektif terhadap prestasi sepak bola nasional. Menurutnya, minimnya pencapaian Indonesia di level dunia membuat sebagian masyarakat merasa tidak memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap Piala Dunia. Seperti langkah Timnas Indonesia yang harus terhenti di putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Padahal, saat itu, publik sangat berharap Jay Idzes dan kawan-kawan bisa menembus Piala Dunia 2026. “Mungkin ada semacam rasa kecewa karena tim nasional kita belum pernah sampai ke level itu. Akhirnya masyarakat merasa cukup mengikuti kompetisi yang lebih dekat dengan mereka, seperti liga lokal atau sepak bola Asia Tenggara,” ungkapnya. Luluk juga menyoroti kondisi ekonomi yang turut memengaruhi antusiasme masyarakat. Melemahnya daya beli akibat tekanan ekonomi membuat perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada kebutuhan sehari-hari dibandingkan mengikuti ajang olahraga internasional. “Kenaikan dolar dan tuntutan ekonomi juga berpengaruh. Orang sekarang lebih fokus pada kebutuhan hidup dibandingkan mengikuti euforia olahraga internasional,” katanya. Tak hanya itu, faktor geopolitik dinilai ikut memengaruhi minat publik. Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, yang kerap menjadi sorotan dalam isu politik global, disebut dapat memunculkan sikap apatis dari sebagian kelompok masyarakat. “Ada sebagian masyarakat yang melihat konteks geopolitik dan isu kemanusiaan. Itu juga bisa memengaruhi minat mereka untuk mengikuti Piala Dunia,” ujarnya. Untuk mengembalikan euforia sepak bola di tengah masyarakat, Luluk menilai, diperlukan dukungan yang lebih kuat dari pemerintah dan pemangku kepentingan olahraga. Salah satunya dengan memberikan penghargaan yang layak kepada atlet berprestasi sehingga masyarakat melihat bahwa prestasi olahraga benar-benar dihargai. Selain itu, promosi sepak bola perlu menyesuaikan perkembangan zaman dengan memanfaatkan media sosial dan platform digital yang dekat dengan generasi muda. “Karena sekarang eranya digital, promosi dan sosialisasi juga harus dilakukan melalui media yang digunakan masyarakat saat ini,” “Tetapi yang paling penting adalah menghadirkan prestasi yang nyata sehingga publik memiliki kebanggaan dan alasan untuk kembali antusias,” tandasnya.    

Ribuan Sivitas Akademika UMM Ikuti Fun Tahes Rector Cup 2026, Kampanyekan Gaya Hidup Sehat

Antusiasme para peserta dalam giat Fun Tahes Rector Cup 2026. Foto: Dok UMM MAKLUMAT — Keseimbangan antara fisik yang bugar dan semangat menimba ilmu sangat penting bagi semua orang, tak terkecuali pada mahasiswa. Pesan itu disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof Nazaruddin Malik dalam giat Fun Tahes Rector Cup 2026, Ahad (7/6/2025). “Mudah-mudahan kebahagiaan yang kita rasakan pagi ini menjadi awal yang baik untuk perjalanan kalian selama di UMM. Tetap jaga kesehatan, terus semangat belajar, dan jangan pernah berhenti mengejar cita-cita yang ingin diwujudkan,” ujarnya dalam agenda yang diikuti oleh lebih dari 6.000 sivitas akademika UMM itu. Mengambil garis start di Helipad Kampus III UMM, kegiatan lari sejauh lima kilometer ini digelar untuk mengampanyekan gaya hidup sehat. Berbagai hiburan turut meramaikan acara, mulai dari senam sehat hingga penampilan musik dari Band SemalamSuntuk. Prof Nazaruddin menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi suntikan energi positif bagi seluruh elemen kampus. “Melalui garis start ini, kompetisi bergengsi tingkat universitas resmi dimulai, sekaligus menutup kegiatan Student Day angkatan 2025,” ujarnya. Kemeriahan giat ini juga dirangkai dengan penutupan Student Day bagi mahasiswa baru angkatan 2025. Kegiatan ini telah dilaksanakan selama satu semester untuk membekali mahasiswa baru dengan berbagai pengalaman sosial dan kemasyarakatan. Baca Juga  Djazman English Scholarship Luluskan 26 Kader Terbaik IMM Komitmen Kampus Putih Wadahi Potensi Mahasiswa Ketua Panitia Rector Cup UMM 2026, Ir Ary Bakhtiar menegaskan bahwa UMM yang juga dikenal sebagai Kampus Putih selalu siap dan berkomitmen penuh dalam mewadahi berbagai potensi mahasiswanya. Ia menjelaskan bahwa ajang Rector Cup ini dirancang secara khusus sebagai langkah strategis universitas dalam melakukan penjaringan bibit-bibit unggul, guna mempersiapkan delegasi mahasiswa untuk bersaing di kompetisi bergengsi tingkat nasional hingga internasional. “Sebagai bentuk keseriusan dan dukungan nyata, UMM juga telah menyiapkan dana pembinaan dengan total mencapai ratusan juta rupiah bagi para pemenang Rector Cup,” jelas pria yang juga adalah Kepala Bagian Minat Bakat Kemahasiswaan UMM tersebut. “Kami ingin memastikan bahwa setiap minat dan bakat yang dimiliki mahasiswa tidak hanya difasilitasi, tetapi juga diapresiasi serta dibina secara berkelanjutan agar mereka siap menorehkan prestasi di kancah yang lebih luas,” imbuhnya. Pada kegiatan ini, deretan doorprize turut menambah antusiasme ribuan peserta, mulai dari tablet, smartphone, hingga hadiah utama berupa sepeda motor listrik yang siap dibawa pulang. Kemeriahan acara ini diakui langsung oleh para peserta. Nayla Auvara Izzetiyya, salah satu mahasiswa, mengungkapkan rasa antusiasmenya karena bisa berbaur dengan ribuan sivitas akademika. Ia merasa kegiatan semacam ini sangat efektif untuk menghilangkan penat setelah menjalani rutinitas perkuliahan. Baca Juga  AgriFair UMM Tantang Siswa SMA Rancang Bisnis Ramah Lingkungan, Ini Para Juaranya! “Acaranya benar-benar seru. Selain bisa olahraga bareng teman-teman dari berbagai jurusan, ada hiburan musik dan doorprize-nya sangat menggiurkan. Harapannya UMM bisa terus rutin mengadakan event sebesar dan semeriah ini,” ujarnya. *) Penulis: M Habib Muzaki

Fun Run 6.000 Peserta Semarakkan Pembukaan Rektor Cup 2026 UMM dan Penutupan Student Day

Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., MALANG | PROKOTA.COM – Suasana semarak menyelimuti lingkungan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat ribuan peserta mengikuti kegiatan Fun Run yang digelar di kawasan kampus. Agenda tersebut menjadi pembuka pelaksanaan Rektor Cup 2026 sekaligus menandai berakhirnya rangkaian Student Day yang telah berlangsung selama satu semester. Sekitar 6.000 peserta ambil bagian dalam kegiatan lari santai yang menempuh rute mengelilingi area kampus. Peserta didominasi mahasiswa angkatan 2025, sementara sisanya terdiri atas dosen, tenaga kependidikan, alumni, serta sejumlah elemen sivitas akademika lainnya yang turut memeriahkan kegiatan. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa Fun Run tidak sekadar menjadi aktivitas olahraga bersama, melainkan juga bagian dari upaya kampus dalam membangun karakter mahasiswa. Menurutnya, kegiatan semacam ini mampu menumbuhkan pola hidup sehat sekaligus memperkuat kemampuan sosial dan kolaboratif generasi muda. Ia menjelaskan, Student Day merupakan program pembinaan khas UMM yang diberikan kepada mahasiswa baru sejak awal memasuki dunia perkuliahan. Selama satu semester, mahasiswa mendapatkan berbagai pengalaman dan pembelajaran yang berorientasi pada penguatan kapasitas sosial, kepemimpinan, serta keterlibatan dalam kehidupan bermasyarakat. “Melalui Student Day, mahasiswa dipersiapkan untuk menghadapi realitas kehidupan sosial yang lebih luas. Mereka belajar berinteraksi, bekerja sama, dan memahami berbagai dinamika yang ada di tengah masyarakat,” ujar Prof. Nazaruddin. Minggu, (07/06/2026) pagi. Tingginya partisipasi peserta menjadi gambaran kuatnya semangat kebersamaan yang tumbuh di lingkungan kampus. Selain menjadi sarana menjaga kebugaran, Fun Run juga menghadirkan ruang interaksi yang mempererat hubungan antar warga kampus dari berbagai latar belakang. Kemeriahan acara semakin terasa dengan hadirnya puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang membuka stan di sekitar lokasi kegiatan. Menariknya, sebagian besar pelaku UMKM tersebut merupakan mahasiswa yang tengah mengembangkan usaha mandiri, didukung oleh partisipasi masyarakat sekitar kampus. Kehadiran UMKM dinilai memberikan nilai tambah dalam penyelenggaraan kegiatan. Selain menjadi pusat aktivitas ekonomi kreatif, keberadaan mereka juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk memperkenalkan produk sekaligus mengasah kemampuan berwirausaha secara langsung. Nazaruddin menuturkan, terdapat hal berbeda dalam penyelenggaraan tahun ini. Untuk pertama kalinya, penutupan Student Day dan pembukaan Rektor Cup 2026 digelar dalam satu momentum besar yang melibatkan ribuan peserta secara bersamaan. Menurutnya, kolaborasi dua agenda tersebut menjadi simbol komitmen kampus dalam membangun budaya akademik yang sehat, aktif, dan produktif. Tidak hanya mendorong gaya hidup sehat, kegiatan tersebut juga memperkuat tradisi pembinaan mahasiswa yang telah lama menjadi bagian dari identitas UMM. “Student Day dan Rektor Cup menjadi wadah penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan sosial serta memperluas jejaring di lingkungan kampus. Pengalaman itu akan menjadi bekal berharga ketika mereka terjun dan berkontribusi di tengah masyarakat,” katanya. Melalui penyelenggaraan Fun Run yang dipadukan dengan pembukaan Rektor Cup, UMM kembali menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang sehat, adaptif, berjiwa sosial, serta siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan. Rektor UMM menambahkan, tradisi penyelenggaraan Student Day maupun Rektor Cup telah berlangsung sejak masa kepemimpinan mantan Rektor UMM, Muhadjir Effendy. “Karena itu, kedua program tersebut telah menjadi bagian dari budaya akademik kampus yang terus dijaga dan dikembangkan hingga saat ini,” pungkasnya.

PSM Gita Surya UMM Tampil Memukau pada BTV Semesta Berpesta Malang

Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Gita Surya dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampil memukau pada gelaran BTV Semesta Berpesta Malang, Sabtu 6 Juni 2026. (Beritasatu.com/Achmad Ali) Malang, Beritasatu.com – Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Gita Surya dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampil memukau saat membuka gelaran BTV Semesta Berpesta di Stadion Gajayana, Malang, Sabtu (6/6/2026). Penampilan kelompok vokal mahasiswa tersebut sukses menyita perhatian penonton melalui aransemen musik yang khas dan penuh energi. Pada kesempatan itu, PSM Gita Surya membawakan tiga lagu yang mendapat sambutan meriah dari ribuan penonton yang hadir. Penampilan diawali dengan lagu daerah Banyuwangi berjudul Luk-luk Lumbu, dilanjutkan dengan lagu medley yang memadukan sejumlah lagu daerah dari berbagai wilayah di Indonesia. Sebagai penutup sekaligus pembuka resmi acara, PSM Gita Surya membawakan lagu kebangsaan Indonesia Raya. “Hari ini kita bawain tiga lagu. Pertama, Luk-luk Lumbu dari daerah Banyuwangi. Terus yang kedua kami bawain lagu medley campuran dari lagu daerah yang ada di Indonesia. Ketiga, lagu kebangsaan Indonesia Raya, untuk membuka secara resmi acara ini,” jelas Bunga Nur Sahara, Ketua Umum PSM Gita Surya UMM, Sabtu (6/6/2026). Bunga mengaku bangga dan senang karena kembali dipercaya tampil dalam gelaran BTV Semesta Berpesta. Menurutnya, kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga, terutama bagi anggota baru yang baru pertama kali tampil di acara berskala besar. “Sangat senang karena diundang untuk kedua kalinya pada acara BTV Semesta Berpesta, karena sebelum-sebelumnya kami belum pernah ikut acara sebesar ini. Tentunya ini menjadi pengalaman baru bagi kami, terutama singers kami banyak yang baru,” kata Bunga. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Beritasatu dan BTV yang telah memberikan kesempatan kepada PSM Gita Surya untuk tampil dalam acara tersebut. “Kami ucapkan untuk Beritasatu ataupun BTV, semoga ke depannya sukses selalu,” ucapnya. PSM Gita Surya UMM dikenal sebagai salah satu paduan suara mahasiswa berprestasi di Indonesia. Kelompok ini telah menorehkan berbagai penghargaan serta memenangi lomba tingkat nasional.