Kepaten Obor Tembus Dua Benua: Karya Sineas UMM Terpilih IWAFF di Perth, Tayang di AS

MALANG POST – Karya sineas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menembus kancah perfilman internasional. Film berjudul “Kepaten Obor” garapan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., sukses tayang di bioskop Australia. Selain itu juga sudah mengudara di Washington DC, Amerika Serikat pada 8 Juni 2026. Capaian ini menjadi bukti nyata kapasitas sivitas akademika UMM, sekaligus wadah unjuk gigi di industri kreatif global tanpa meninggalkan identitas budaya lokal. Novin menjelaskan bahwa karya sinemanya berhasil terpilih dalam ajang bergengsi Indonesia Western Australia Film Festival (IWAFF) di Perth. Dalam festival tahunan tersebut, “Kepaten Obor” diputar di sejumlah bioskop selama sepekan penuh dan mendapatkan antusiasme yang sangat tinggi dari para penonton. “Alhamdulillah tiketnya sold out semua dan tembus ribuan penonton. Selanjutnya, atas undangan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat, film ini juga terpilih untuk ditayangkan di Euro Asia Shorts 2026, sebuah Festival Film di Washington DC,” ungkap Novin. Mengangkat pesona budaya masyarakat Tengger, Jawa Timur, film ini menyoroti konflik emosional ibu dan anak yang dibalut filosofi Jawa tentang menjaga tali silaturahmi. Novin menambahkan bahwa produksi film yang digarap sejak 2024 ini bukan sekadar proyek personal, melainkan laboratorium praktik komprehensif yang secara khusus melibatkan 95 persen mahasiswa dan alumni Ilmu Komunikasi UMM. “Mahasiswa saya ajak belajar bersama. Mereka terlibat langsung mulai dari proses produksi sampai pasca produksi, menjadikan proyek ini ruang belajar riil bagi mereka di lapangan,” jelasnya. Kualitas “Kepaten Obor” semakin terbukti lewat deretan prestasi domestik, seperti Juara 1 Kompetisi Film Asli Jawa Timur (Komfilasi), nominasi penghargaan AKTIF Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, hingga lolos seleksi Klik Film Festival. Novin menegaskan bahwa kunci keberhasilan sebuah karya sinema tidak hanya bergantung pada kualitas produksi, melainkan strategi distribusinya yang harus dirancang matang sejak awal, seperti penyediaan subtitle bahasa Inggris agar mampu menjangkau audiens secara luas. “Film jangan hanya selesai diproduksi lalu disimpan saja. Film harus didistribusikan dan diperluas jaringannya supaya bisa dinikmati lebih banyak orang,” tegasnya. Keberhasilan penayangan hingga Benua Amerika dan Australia ini diharapkan menjadi katalisator semangat bagi sivitas akademika. Sebagai penutup, Novin berpesan kepada mahasiswa dan generasi muda yang terjun ke dunia perfilman untuk terus memperkaya literasi dan mengasah kepekaan sosial. Memahami realitas kehidupan adalah modal fundamental untuk melahirkan karya sinema yang memiliki ruh, pesan kuat, serta relevansi luas bagi masyarakat. “Semakin banyak referensi yang dimiliki, maka semakin bagus film yang dihasilkan,” pungkasnya. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Kuliah Sabtu Subuh, Guru Besar UMM Ajak Mahasiswa Recharge Energi Spiritual di Tengah Kesibukan

KLIKMU.CO – Semangat membangun karakter religius mahasiswa terus diperkuat oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Kuliah Sabtu Subuh yang rutin diselenggarakan oleh Bagian Pendidikan dan Pengajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK). Kegiatan ini merupakan bagian dari praktikum Mata Kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) II atau Ibadah dan Muamalah yang diikuti mahasiswa semester dua. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (6/6/2026) ini dimulai sejak pukul 03.00 WIB. Mahasiswa melakukan proses check-in dan mendapat imbauan dari panitia untuk memanfaatkan waktu menjelang Subuh dengan qiyamul lail. Setelah itu, peserta melaksanakan salat Subuh berjamaah yang dilanjutkan dengan kajian keislaman bertema “Energi Positif dari Ibadah: Charger Spiritual di Tengah Kesibukan Mahasiswa”. Hadir sebagai narasumber, Prof Dr Syamsul Arifin MSi, Guru Besar Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus Wakil Direktur I Pascasarjana UMM. Dalam pengantar kajiannya, Prof Syamsul mengajak mahasiswa merefleksikan kembali makna ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Prof Syamsul membuka dialog dengan pertanyaan sederhana, “Kuliah, datang ke kampus, dan berdiskusi di kelas, apakah itu ibadah atau bukan ibadah?” Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk menyegarkan kembali pemahaman mahasiswa tentang konsep ibadah. Berdasarkan survei persepsi yang disampaikan dalam kajian, sebagian besar mahasiswa mengaku kesibukan kuliah dan organisasi menjadi alasan utama berkurangnya intensitas ibadah mereka. Melalui tema recharge spiritual di tengah kesibukan mahasiswa, Syamsul Arifin mengajak peserta melihat kesamaan kondisi manusia dengan baterai gawai yang kehabisan daya. Tanda-tandanya antara lain mudah lelah, stres, overthinking, kehilangan semangat, hingga merasa haus akan validasi dari orang lain. Dalam pemaparannya, ia mengutip gagasan dari buku The Power of Full Engagement yang menggambarkan kehidupan manusia modern saat ini. Kita hidup di era digital dengan ritme serba cepat, padat, dan tanpa jeda. Kita lebih sering merayakan keluasan daripada kedalaman, reaksi cepat daripada refleksi yang matang. Kita bergerak dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa sempat merenungkan siapa diri kita sebenarnya dan ke mana tujuan hidup kita. Kita terhubung dengan banyak hal, tetapi pada saat yang sama mengalami kelelahan batin. Menurut Syamsul, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mengisi ulang energi spiritual agar manusia tidak kehilangan arah di tengah padatnya aktivitas akademik dan sosial. Tiga Modal Meraih Kesuksesan Sejati Dalam kajian tersebut, Syamsul menjelaskan bahwa kesuksesan sejati dibangun di atas tiga modal utama, yaitu modal spiritual, modal sosial, dan modal material. Modal spiritual menjadi fondasi utama yang memberikan makna terhadap kehidupan. Dalam perspektif sosiologi, setiap tindakan manusia selalu didorong oleh makna yang diyakini. Makna tersebut menjadi sumber motivasi dan arah dalam menjalani kehidupan. Seseorang yang memiliki spiritual capital yang kuat akan lebih mudah menemukan tujuan hidup dan bertahan menghadapi berbagai tantangan. Selanjutnya, modal sosial berupa jaringan relasi, kepercayaan, kolaborasi, serta kemampuan membangun hubungan yang baik dengan sesama. Modal ini memungkinkan seseorang berkembang melalui dukungan lingkungan yang sehat dan produktif. Adapun modal material merupakan sumber daya yang membantu manusia menjalankan aktivitas kehidupan. Namun demikian, modal ini akan kehilangan arah apabila tidak ditopang oleh modal spiritual dan sosial yang kuat. Ibadah sebagai Sumber Energi Kehidupan “Ibadah itu adalah satu konsep yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah SWT, baik berupa perbuatan maupun perkataan, yang tampak maupun yang tersembunyi dalam batin,” jelas Guru Besar Bidang Pendidikan Agama Islam UMM itu. Menurut pandangan Tarjih Muhammadiyah, inti ibadah adalah bertaqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah dengan menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan mengamalkan segala hal yang dicintai-Nya. Syamsul menegaskan bahwa ibadah bukan sekadar ritual, melainkan sumber energi positif yang berdampak pada kesehatan mental dan spiritual manusia. Pertama, ibadah berfungsi sebagai relaxing atau sarana relaksasi. Melalui ibadah, hati yang gelisah menjadi lebih tenang, pikiran yang penat memperoleh ruang untuk beristirahat, dan jiwa yang terbebani menemukan ketenteraman. Kedua, ibadah berfungsi sebagai recharging, yaitu mengisi ulang energi kehidupan. Sebagaimana gawai membutuhkan pengisian daya, manusia juga membutuhkan pengisian energi spiritual agar tidak mengalami “lowbat” secara mental maupun emosional. Salat, zikir, tilawah, dan berbagai bentuk ibadah lainnya menjadi sarana memperbarui semangat, optimisme, dan kekuatan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Ketiga, ibadah menghadirkan mindfulness atau kesadaran penuh terhadap kehadiran Allah. Dalam konteks ini, Syamsul mengutip syair Ibnu Arabi: “Betapa banyak pelaku salat tidak mendapati apa pun dari salatnya selain melihat mihrab, capek, dan lelah saja. Tetapi ada orang yang berhasil melakukan munajat, meskipun dia sudah melakukan salat dan tidak melupakan salat nafilah.” Syair tersebut mengandung pesan bahwa kualitas ibadah tidak hanya ditentukan oleh gerakan fisik, tetapi juga kehadiran hati. Ada orang yang menjalankan salat sekadar menggugurkan kewajiban, namun ada pula yang menjadikannya ruang dialog dan munajat yang intim dengan Allah SWT. “Sering kali tubuh kita berada di tempat salat, tetapi pikiran kita berada di mana-mana. Padahal hakikat ibadah adalah menghadirkan seluruh diri kita di hadapan Allah,” ungkapnya. Menjadikan Seluruh Aktivitas Bernilai Ibadah Menutup kajian, Prof Syamsul mengajak mahasiswa memperluas pemahaman tentang ibadah agar tidak terbatas pada ritual semata. “Niatkan seluruh aktivitas yang kita lakukan sebagai ibadah. Suatu aktivitas akan bernilai ibadah apabila dilandasi ikhlas semata-mata karena Allah, dilakukan dengan ihsan yang menghadirkan kebaikan, serta dikerjakan dengan itqan, yaitu penuh kesungguhan dan tanggung jawab,” pesannya. Melalui kegiatan Kuliah Sabtu Subuh ini, UMM terus berupaya menanamkan kesadaran bahwa kesuksesan akademik perlu berjalan seiring dengan penguatan spiritual. Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan dan organisasi, ibadah menjadi sumber energi positif yang menjaga keseimbangan hidup mahasiswa, sekaligus menjadi charger spiritual untuk terus bertumbuh sebagai insan berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.

Mahasiswa UMM Ajak Masyarakat Peduli Lansia Melalui Cinema of Care

pwmu.co – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam kelompok Kata Kasa Media berkolaborasi dengan Komunitas Bab Satu Production menggelar kegiatan bertajuk Cinema of Care di Yayasan Pelayanan Kasih Bethesda, Senin (8/6/2026).Kegiatan ini memadukan penayangan film dan aktivitas menanam bunga sukulen sebagai bentuk kepedulian terhadap para lanjut usia (lansia) yang tinggal di panti jompo. Melalui pendekatan kreatif tersebut, mahasiswa berupaya menghadirkan ruang interaksi yang hangat sekaligus membangun kesadaran sosial mengenai pentingnya perhatian terhadap lansia. Dalam kegiatan tersebut, peserta menyaksikan film berjudul Manusia Tanpa Sebutan karya sutradara Haidar Ego Baaqir. Film ini mengangkat isu grief atau kehilangan yang dinilai relevan dengan kondisi sebagian penghuni panti. Tema tersebut dipilih karena banyak lansia yang mengalami kesepian, kehilangan anggota keluarga, atau memiliki keterbatasan interaksi dengan lingkungan luar. Koordinator acara, M Zidan Paradise, menjelaskan bahwa Cinema of Care tidak sekadar menghadirkan hiburan melalui film, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kedekatan emosional bersama para penghuni panti. “Film Manusia Tanpa Sebutan mengangkat isu grief yang dekat dengan realitas sebagian penghuni panti. Karena itu, kami tidak hanya menghadirkan penayangan film, tetapi juga kegiatan yang menyasar para lansia yang sudah lama tidak bersentuhan langsung dengan dunia luar. Kami ingin tetap hadir dan menunjukkan kepedulian dengan cara menghibur mereka,” ujarnya. Menurut Zidan, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu kehilangan yang kerap luput dari perhatian publik. Ia menilai bahwa kisah orang-orang yang kehilangan anggota keluarga, terutama anak, masih jarang mendapatkan sorotan dan empati yang memadai dari masyarakat. Melalui Cinema of Care, penyelenggara berharap masyarakat dapat lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitar mereka, khususnya para lansia yang membutuhkan perhatian, dukungan, dan kasih sayang. “Harapan kami, anak-anak muda saat ini bisa lebih aware terhadap orang tua yang kehilangan seorang anak. Kepedulian tidak harus selalu diwujudkan dalam hal besar, tetapi bisa dimulai dari perhatian dan waktu yang diberikan kepada keluarga,” tambahnya. Selain penayangan film, para peserta juga diajak mengikuti kegiatan menanam bunga sukulen bersama para penghuni panti. Aktivitas sederhana tersebut menjadi sarana membangun interaksi yang lebih dekat sekaligus memberikan pengalaman positif bagi para lansia. Kegiatan Cinema of Care menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM dalam memanfaatkan media film sebagai sarana edukasi sosial dan penguatan nilai kemanusiaan. Melalui perpaduan antara film dan kegiatan sosial, mahasiswa berharap dapat menumbuhkan kesadaran bahwa kepedulian terhadap sesama, terutama lansia, merupakan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana.

FAKULTAS HUKUM UMM: Pelaksanaan Program Magang Mandiri di Kantor Advokat Oscar Lud Hardian, S.H. and Partners

Malang, JurnalPost.com – Senin 8/06/2026, selama bertahun-tahun Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang memberikan mandat kepada Laboratorium Hukum Fakultas Hukum UMM sebagai penyelenggara Program Magang Mandiri sebagai wadah bagi para mahasiswa untuk menguasai pengetahuan hukum praktis. Program ini berjalan seiring dengan tuntutan masyarakat terhadap Pendidikan Tinggi Hukum di Indonesia yang semula mengacu kepada Status Social Oriented menjadi Professionalism Oriented. Kondisi tersebut membawa konsekuensi logis terhadap proses Pendidikan Tinggi Hukum untuk mengakomodasi tuntutan masyarakat saat ini. Oleh sebab itu, Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang menjadi salah satu Perguruan Tinggi yang memegang tanggung jawab besar untuk terus berupaya sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mewujudkan proses Pendidikan Hukum yang berorientasi pada Professionalism education dengan memfasilitasi mahasiswa untuk mengenal lingkungan apa yang akan dihadapi setelah lulus nanti serta berbaur dan mengabdi kepada masyarakat. Sebagai salah satu dari bagian program ini, kami sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang memilih salah satu Kantor Advokat yaitu Oscar Lud Hardian, S.H. and Partners. Keputusan ini kami sepakati dikarenakan instansi ini berpeluang menciptakan kesadaran mengenai hukum praktis melalui metode pembelajaran Professionalism Oriented yang dimana kami diberikan kepercayaan oleh Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang dan juga Bapak Oscar Lud Hardian, S.H. langsung sebagai Advokat/Penasehat Hukum di kantor tersebut untuk mempelajari bagaimana teori yang kami dapatkan di bangku perkuliahan berjalan melalui praktik langsung di lapangan. Program Magang Mandiri ini dilaksanakan secara berkelompok dengan kami yang terdiri dari tiga mahasiswa, yaitu Nanda Rizky Ramadhan sebagai koordinator kelompok, Ananda Dewangga Augustino Setyawan, Dilva Ardani Andika Putra, serta Prima Raka Siwi sebagai anggota. Dibalik itu, kami dibimbing oleh bapak Syariful Alam, S.H.I, M.H.I sebagai Dosen Pembimbing Magang dan Bapak Oscar Lud Hardian, S.H. yang bertindak sebagai Dosen Pembimbing Lapangan. Proses magang ini berlangsung selama empat bulan, alih-alih magang dengan waktu yang relatif singkat kami justru mendapatkan pengalaman yang dirasa dapat kami bawa hingga ke dunia kerja nanti. Mulai dari pembuatan Surat Kuasa sebagai senjata utama para Advokat dalam hukum acara, kami juga mendapatkan ilmu dari Bapak Oscar bagaimana cara membuat dokumen penting lainnya dalam beracara seperti gugatan, kesepakatan perdamaian, hingga memori kasasi. Tidak hanya ilmu hukum praktis, beliau juga mengajarkan dan menekankan kepada kami tentang kedisiplinan, etika, dan profesionalitas sebagai bekal untuk kami dalam menghadapi dunia kerja setelah kami lulus. Mengikuti Persidangan Agenda Pembuktian di Pengadilan Negeri Pasuruan Selain itu, kami juga beberapa kali diajak oleh beliau untuk turut serta mendampingi kemanapun beliau dalam beracara, entah itu untuk bertemu klien, hingga beracara di persidangan. Kesempatan emas ini kami manfaatkan sebaik mungkin selama proses pelaksanaan program ini berlangsung untuk mengetahui sejauh mana hukum tertulis berlaku di masyarakat. Di akhir pelaksanaan program magang mandiri ini, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang dan juga Kantor Advokat Oscar Lud Hardian, S.H. and Partners karena telah memberikan kepercayaan dan kesempatan dalam memfasilitasi kami selama program ini berlangsung. Dengan ini, kami harap mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang tidak hanya menguasai teori ilmu hukum saja, akan tetapi dapat memenuhi tuntutan masyarakat melalui metode pembelajaran Professionalism Oriented yang nantinya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dengan terjun secara langsung di lapangan serta mendukung proses mereka dalam meniti karir profesional mereka di masa depan.

8 Tips Mencairkan Daging Kurban Beku Tanpa Merusak Tekstur dan Rasanya

Ilustrasi Daging Kurban Beku (Foto: Victoria Shes/Unsplash) Detik Jateng – Solo – Setelah menerima daging kurban saat Idul Adha, tidak semua orang langsung mengolahnya menjadi masakan. Banyak keluarga memilih menyimpan sebagian daging di dalam freezer agar dapat dikonsumsi dalam beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan ke depan. Namun, daging yang telah dibekukan tidak boleh dicairkan sembarangan. Cara pencairan yang kurang tepat dapat menyebabkan tekstur daging berubah menjadi lebih keras atau kering, mengurangi cita rasa, hingga meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri yang membuat daging lebih cepat rusak. Oleh sebab itu, penting mengetahui metode thawing atau pencairan daging yang benar agar kualitasnya tetap terjaga saat akan dimasak. Dengan teknik yang tepat, daging kurban beku tetap bisa menghasilkan hidangan yang empuk, lezat, dan aman dikonsumsi. Lantas, bagaimana cara mencairkan daging kurban beku tanpa merusak tekstur dan rasanya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini. Alasan Mencairkan Daging Kurban Tidak Boleh Sembarangan Daging kurban yang disimpan di dalam freezer memang bisa bertahan lebih lama. Namun, proses pencairannya atau thawing perlu dilakukan dengan benar agar kualitas daging tetap terjaga saat akan diolah menjadi masakan. Mencairkan daging secara sembarangan tidak hanya berisiko mengubah tekstur dan rasa, tetapi juga dapat memengaruhi keamanan pangan. Daging yang dicairkan dengan cara yang kurang tepat berpotensi mengalami penurunan kualitas lebih cepat dibandingkan daging yang dicairkan sesuai prosedur. Dikutip dari laman Puskesmas Bulu Lor, salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan adalah mencairkan daging beku menggunakan air panas. Metode ini memang dapat mempercepat proses pencairan, tetapi juga membuat suhu permukaan daging meningkat lebih cepat sehingga menciptakan kondisi yang mendukung pertumbuhan bakteri. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui cara mencairkan daging kurban yang benar. Terlebih bagi sebagian orang yang memilih menyimpan daging kurban untuk dikonsumsi dalam jangka waktu lebih lama setelah Idul Adha. Dengan metode pencairan yang tepat, kualitas, rasa, dan keamanan daging dapat tetap terjaga hingga saat akan diolah. 8 Tips Mencairkan Daging Kurban Beku Mencairkan daging kurban beku tidak bisa dilakukan sembarangan. Teknik yang kurang tepat dapat membuat tekstur daging berubah, rasa berkurang, hingga meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri. Dirangkum dari buku Keamanan Pangan dan Pengelolaan Sampah dalam Penyelenggaraan Makanan oleh Sri Kadaryati, dkk., Makanan Sehat: Resep dan Tips Sehat, Alami, dan Bebas Gula untuk Kehidupan Sehari-Hari tulisan Adriano Leonel, laman Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lebak, serta detikFood, berikut beberapa tips mencairkan daging kurban beku tanpa merusak tekstur dan rasanya. 1. Pindahkan Daging dari Freezer ke Chiller Semalaman Cara paling aman untuk mencairkan daging kurban beku adalah memindahkannya dari freezer ke chiller atau rak bawah kulkas. Metode ini memungkinkan daging mencair secara perlahan pada suhu yang tetap aman sehingga kualitasnya lebih terjaga. Sebagai gambaran, sekitar 500 gram daging beku membutuhkan waktu 5-8 jam atau semalaman hingga mencair. Meski membutuhkan waktu lebih lama, cara ini dinilai paling baik untuk mempertahankan tekstur, rasa, dan kandungan nutrisi daging. 2. Gunakan Air Dingin Jika membutuhkan waktu yang lebih cepat, maka daging bisa dicairkan menggunakan air dingin. Pastikan daging dibungkus rapat menggunakan plastik atau wadah kedap air agar tidak terkontaminasi. Setelah itu, rendam daging dalam wadah berisi air dingin hingga seluruh bagian terendam. Ganti air setiap 20-30 menit untuk menjaga suhu tetap stabil. Potongan kecil biasanya mencair dalam waktu sekitar satu jam, sedangkan potongan yang lebih besar membutuhkan waktu lebih lama. 3. Cairkan Menggunakan Microwave Microwave dapat menjadi solusi praktis ketika daging harus segera dimasak. Sebagian besar microwave modern telah dilengkapi fitur defrost yang dirancang khusus untuk mencairkan bahan makanan beku. Akan tetapi, detikers perlu memperhatikan penggunaan microwave saat mencairkan daging. Daging harus dibalik secara berkala agar panas dapat tersebar secara merata. Hal ini juga bertujuan menghindari daging yang matang di setengah bagian sementara bagian lainnya masih beku. 4. Gunakan Panci atau Loyang Logam Metode lain yang cukup efektif adalah memanfaatkan panci atau loyang berbahan logam. Caranya, letakkan daging yang masih terbungkus plastik di antara dua permukaan logam. Logam mampu menghantarkan suhu ruang lebih cepat dibandingkan bahan lainnya sehingga membantu mempercepat proses pencairan. Teknik ini cocok digunakan untuk potongan daging berukuran kecil yang akan segera diolah. 5. Potong Daging Menjadi Porsi Kecil Sebelum Dibekukan Salah satu cara terbaik untuk mempermudah proses pencairan adalah memotong daging menjadi beberapa porsi kecil sebelum disimpan di freezer. Daging yang dibekukan dalam ukuran besar cenderung lebih lama untuk dicairkan. Selain itu, proses pencairan juga bisa tidak merata saat ukuran daging besar, bisa jadi bagian luar sudah cair tetapi bagian dalam daging masih beku. 6. Keluarkan Daging Sesuai Kebutuhan Tips lainnya untuk mencegah kualitas daging kurban beku menurun adalah dengan mencairkan daging sesuai kebutuhan saat ingin diolah. Kebiasaan mengeluarkan seluruh stok daging lalu membekukannya kembali dapat menurunkan kualitas daging secara signifikan. Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang Ayu Diawi Ismayawati menjelaskan bahwa siklus pencairan dan pembekuan ulang tidak disarankan karena dapat membuat kualitas daging turun. “Siklus pencairan dan pembekuan ulang sangat tidak disarankan karena mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba,” jelas Ayu Diawi Ismayawati, dilansir Universitas Muhammadiyah Malang (30/5/2026). 7. Beri Label Tanggal Penyimpanan Memberikan label tanggal saat menyimpan daging beku dapat membantu memantau masa simpan dan kualitas daging. Secara umum, daging segar yang disimpan di freezer dapat bertahan sekitar 6-12 bulan. Dengan adanya label, detikers dapat lebih mudah menentukan daging mana yang perlu digunakan terlebih dahulu. 8. Segera Masak Daging yang Sudah Dicairkan Setelah daging berhasil dicairkan, sebaiknya segera diolah menjadi masakan. Semakin lama daging dibiarkan setelah mencair, semakin besar risiko kualitasnya menurun. Apabila belum langsung dimasak, daging yang telah dicairkan sebaiknya hanya disimpan sementara di chiller kulkas dan tidak lebih dari sekitar lima hari. Hindari membekukannya kembali karena dapat memengaruhi tekstur, rasa, dan kondisi daging. Itulah 8 tips yang bisa detikers gunakan untuk mencairkan daging kurban beku secara aman agar tidak mengubah tekstur dan rasanya. Semoga informasi ini bermanfaat!

Sambut Indonesia Emas 2045, UMM Siapkan Mahasiswa Jadi Agen Perubahan

Sambut Indonesia Emas 2045, UMM Siapkan Mahasiswa Jadi Agen Perubahan pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama PT Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Paragon menggelar kuliah umum bertajuk Langkah Emas Generasi Emas di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV UMM, Senin (8/6/2026). Kegiatan ini mengajak mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan melalui penguatan personal branding, literasi keuangan, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menegaskan bahwa bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya pada 2045 tidak akan memberikan manfaat maksimal tanpa didukung kualitas sumber daya manusia yang unggul. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan mahasiswa sebagai agen perubahan yang berintegritas, memiliki karakter kuat, serta mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan yang semakin kompleks. “Indonesia Emas bukan sesuatu yang hadir secara otomatis. Generasi muda harus mempersiapkan diri sejak hari ini melalui pendidikan, karakter yang kuat, dan kemauan untuk terus belajar. Jika kesempatan besar itu tidak dipersiapkan dengan baik, maka bonus demografi justru bisa berubah menjadi tantangan,” tegas Juanda. Ia menambahkan bahwa pembangunan kapasitas diri harus dimulai sejak masa perkuliahan agar mahasiswa memiliki bekal yang cukup saat memasuki dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat. Sementara itu, Area Manager Malang PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, Waskito Vergino, S.T., MBA., M.Sc., menilai kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri menjadi langkah penting dalam mencetak generasi yang adaptif dan siap menghadapi perubahan. Menurutnya, sektor industri membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan bisnis dan teknologi yang terus bergerak dinamis. “Indonesia Emas 2045 tidak mungkin tercapai tanpa generasi yang memiliki keterampilan, karakter, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Karena itu, kami ingin hadir bersama kampus untuk memberikan wawasan serta pengalaman yang dapat menjadi bekal mahasiswa menghadapi dunia kerja,” tuturnya. Vice President Islamic Education & Halal Solution BSI, Hikmah Rizka Maslahatin, S.Si., S.I.Kom., M.Si., mengajak mahasiswa memanfaatkan masa studi sebagai momentum untuk mengembangkan diri secara menyeluruh. Menurutnya, perkembangan teknologi yang berlangsung cepat membuat kemampuan akademik saja tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan di dunia kerja. “Skill dan pengetahuan itu penting, tetapi saat ini belum cukup. Mahasiswa juga harus memiliki personal branding, kemampuan berkolaborasi, serta kemauan untuk terus belajar karena perubahan terjadi sangat cepat. Dunia kerja membutuhkan individu yang siap berkembang, bukan hanya siap bekerja,” jelas Hikmah. Ia menekankan bahwa personal branding menjadi salah satu faktor penting yang dapat membantu mahasiswa membangun reputasi, memperluas jejaring, dan meningkatkan peluang karier di masa depan. Selain itu, mahasiswa juga perlu memahami literasi keuangan sejak dini, termasuk pengelolaan tabungan, perencanaan keuangan, investasi, hingga persiapan kebutuhan jangka panjang seperti ibadah haji. Melalui kuliah umum ini, mahasiswa UMM didorong untuk tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga mengembangkan karakter, kemampuan kolaborasi, kecakapan finansial, dan kepekaan sosial. Dengan bekal tersebut, lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi generasi yang tangguh, adaptif, dan siap berkontribusi dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria