UMM Sabet Top 15 Nasional THE Asia University Rankings 2026

MALANG, SURYAKABAR.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan yang mempertegas kualitasnya di kancah pendidikan internasional. Berdasarkan rilis resmi lembaga pemeringkat bergengsi Times Higher Education (THE) Asia University Rankings 2026 pada 23 April 2026 lalu, Kampus Putih sukses mengamankan posisi yang sangat kompetitif. Keberhasilan UMM dalam meraih posisi elit pada THE AUR 2026 ini menandai raihan International Competitiveness sebagai milestone UMM tahun 2026-2030. Kepala Unit Pelaksana Teknis Akreditasi dan Pemeringkatan UMM, Dr. Rina Wahyu Setyaningrum, M.Ed., menegaskan, pencapaian ini murni merupakan wujud pengakuan pemeringkatan internasional. Baca Juga: UMM Gelar Kejuaraan Karate Nasional, Siapkan Hadiah Puluhan Juta dan Golden Ticket Mahasiswa Baru “Tahun lalu kita di peringkat 1501+, kali ini UMM berhasil menempati kelompok peringkat 801+ di kawasan Asia. Prestasi di tingkat nasional pun tak kalah gemilang, di mana UMM menduduki peringkat ke-15 se-Indonesia secara keseluruhan (PTN dan PTS), serta kokoh di peringkat ke-7 khusus untuk kategori Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Di lingkup Perguruan Tinggi Muhammadiyah, UMM meraih posisi ketiga. Hebatnya lagi, di antara PTN, UMM menjadi satu-satunya PTS di Jawa Timur dan Malang Raya yang sukses menembus pemeringkatan THE pada tahun ini,” jelasnya di sela peringatan Hardiknas. Keberhasilan ini tidak lepas dari evaluasi ketat THE melalui 5 indikator utama, yakni Teaching, Research Environment, Research Quality, Industry, dan International Outlook. Keunggulan paling mencolok dari UMM terletak pada sektor Industry Income. Rina sapaan akrabnya menjelaskan, tingginya poin di sektor ini didukung oleh atmosfer kampus yang baik berkat keberadaan unit bisnis, seperti rumah sakit. Baca Juga: Mahasiswa UMM Gandeng Warga Kenalkan Budidaya Bioflok Solusi Lahan Terbatas Fasilitas tersebut dinilai tidak sekadar mendatangkan pendapatan bagi institusi, tetapi juga berperan penting sebagai laboratorium akademis bagi sivitas kampus. Selain itu, melalui pendekatan terapan (applied) yang adaptif terhadap kebutuhan pasar, hubungan antara UMM dan dunia industri pun terbangun dengan sangat kuat. Selain itu, UMM dinilai unggul berkat kualitas risetnya yang berfokus pada impact. Penilaian ini tidak hanya menghitung jumlah artikel yang dipublikasikan dosen, melainkan pada tingginya angka sitasi dari peneliti lain. Baca Juga: Hari Puisi Nasional, Dosen FKIP Unusa Luncurkan Buku Kumpulan Puisi Meski meraih posisi mentereng, UMM tetap objektif melakukan evaluasi. Jika disandingkan dengan perguruan tinggi negeri ternama, skala publikasi secara kuantitas serta indikator riset dan sitasi masih menjadi area yang terus didorong perkembangannya. Terakhir, ia menerangkan, pemeringkatan ini adalah bentuk nyata rekognisi internasional atas dedikasi kinerja akademik UMM. Diharapkan, momentum kebanggaan ini tidak sekadar menjadi selebrasi, melainkan menjadi pemicu untuk terus meningkatkan kualitas pada kelima indikator aktivitas akademik kampus putih di masa mendatang. (abs)
Dari Jembatan GKB 1, Pohon Harapan UMM Suarakan Kegelisahan Pendidikan Nasional

Dari Jembatan GKB 1, Pohon Harapan UMM Suarakan Kegelisahan Pendidikan Nasional pwmu.co –Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang menghadirkan nuansa berbeda. Di tengah wacana penghapusan sejumlah program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri, kampus ini justru membuka ruang kritik melalui gerakan “Pohon Harapan Pendidikan”. Bertempat di jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1, sivitas akademika diajak menyampaikan aspirasi, kegelisahan, serta harapan terhadap arah pendidikan nasional. Kegiatan ini menjadi ruang partisipatif yang mempertemukan refleksi intelektual dengan ekspresi publik. Rangkaian acara dikemas sarat makna sosial dan intelektual. Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu nasional, dilanjutkan penulisan aspirasi, hingga penampilan musikalisasi puisi oleh dosen dan mahasiswa. Momentum ini tidak sekadar seremonial, tetapi menjadi medium artikulasi publik kampus yang memadukan ekspresi estetis dengan kritik sosial terhadap kebijakan pendidikan. Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa tema “Menguatkan Pendidikan, Membangun Masa Depan” dipilih untuk menumbuhkan kesadaran kolektif. Ia menyoroti wacana penghapusan program studi yang perlu dikaji secara kritis, apakah benar untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau sekadar efisiensi struktural. “Pendidikan memiliki dimensi kultural dan ideologis yang lebih luas, yang tidak selalu dapat diakomodasi oleh logika pasar. Refleksi ini adalah upaya mencegah pendidikan direduksi menjadi kepentingan pragmatis semata,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pendidikan unggul merupakan hasil kerja kolektif lintas sektor. “Jika tidak disadarkan secara kolektif, capaian pendidikan unggul tidak akan pernah muncul. Kebijakan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri tanpa keterlibatan berbagai elemen,” tegasnya. Dalam kegiatan ini, Pohon Harapan Pendidikan menjadi pusat partisipasi yang paling dinamis. Beragam tulisan dari sivitas akademika menghiasi medium tersebut, berisi harapan sekaligus kritik terhadap sistem pendidikan yang dinilai semakin administratif dan kehilangan esensinya. Salah satu aspirasi datang dari mahasiswa: “Pendidikan bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan lahirnya generasi penerus bangsa yang intelektual,” tulis Erika Firdayanti, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernyataan ini mencerminkan sikap kritis mahasiswa yang tidak ingin hanya menjadi objek kebijakan, melainkan subjek aktif dalam menjaga esensi pendidikan sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Peringatan Hardiknas di UMM tahun ini menegaskan bahwa kampus masih menjadi ruang dialektika yang sehat. Di tengah arus pragmatisme dan efisiensi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan harus tetap berpijak pada nilai, nalar kritis, dan kesadaran kolektif. Lebih dari sekadar peringatan, momentum ini menjadi refleksi bersama untuk membangun masa depan pendidikan Indonesia yang berkelanjutan. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Wacana sarjana pendidikan dihapus demi industri, ini kata akademisi

Wacana Sarjana Pendidikan Dihapus Demi Industri, Ini Kata Akademisi© Bisnis.com Bisnis.com, MALANG — Wacana penghapusan program studi keguruan yang digaungkan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) Prof. Badri Munir Sukoco dengan alasan relevansi lulusan dengan kebutuhan industri berisiko menyederhanakan makna pendidikan dan mengancam masa depan pembentukan karakter bangsa. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Isnaini, mengatakan wacana tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam memetakan arah pendidikan nasional secara komprehensif. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual tersebut akan tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat,” ujarnya dikutip Senin (4/5/2026). Dia menambahkan bahwa pendidikan sejatinya merupakan proses untuk memanusiakan manusia, sebagaimana filosofi yang diusung oleh bapak pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan tidak hanya membekali lulusan dengan keterampilan teknis agar siap bekerja, tetapi juga membangun cara berpikir, sikap, estetika, dan tanggung jawab sosial. “Jika guru atau lulusan kependidikan hanya diukur dari serapan kerja, itu sangat tidak ideal. Kalau logikanya hanya soal keterampilan teknis, lebih baik kita cukup membangun Balai Latihan Kerja (BLK) saja, tidak perlu ada perguruan tinggi. Lulusan yang hanya cakap teknis tanpa bekal nilai estetika dan moral berisiko menjadi pekerja yang kehilangan arah,” tegasnya. Isnaini menekankan sarjana pendidikan memiliki fleksibilitas karier yang luas. Mereka tidak harus selalu menjadi guru formal di kelas. Banyak lulusan prodi kependidikan yang berkontribusi di berbagai sektor industri dengan membawa perspektif humanistik yang tidak dimiliki oleh lulusan non-kependidikan. Sentuhan etika dan moral inilah yang sering kali tidak masuk dalam hitungan statistik serapan kerja, namun sangat krusial dalam dunia profesional. Mengenai isu surplus atau ketidaksesuaian jumlah lulusan, dia menilai, persoalan utama bukan pada keberadaan prodinya, melainkan pada sistem distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang belum optimal secara nasional. Ketimpangan jumlah guru antarwilayah menunjukkan adanya hambatan struktural yang seharusnya dibenahi oleh pemerintah. Sebagai solusi, dia menyarankan, agar pemerintah memperketat regulasi melalui sistem on/off program studi berdasarkan akreditasi dan evaluasi kualitas, bukan dengan menutupnya secara menyeluruh. Pengutamaan prodi dengan akreditasi ‘unggul’ dinilai lebih bijak untuk menjamin kualitas lulusan tanpa menghancurkan ekosistem keilmuan kependidikan. “Yang harus dibenahi adalah sistemnya. Regulasi bisa diperketat dan kualitas dievaluasi secara berkala. Persoalan pendidikan adalah persoalan masa depan peradaban, sehingga tidak bisa hanya dilihat dari kacamata statistik angka semata,” ucapnya. Jika kebijakan ini terus dipaksakan hanya demi mengejar angka serapan industri, dia mengingatkan, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan sebuah program studi, melainkan kualitas manusia Indonesia di masa depan.(K24)
Kolaborasi UMM dan SMAN 1 Pandaan Gelar Program “Jejakku, Bumiku”, Dorong Pelajar Tekan Jejak Ekologis 30 Persen

PANDAAN, PIJARNEWS.ID – Menghadapi tantangan kerusakan lingkungan yang kian kompleks, peran generasi muda dinilai semakin krusial sebagai agen perubahan. Guna menumbuhkan kesadaran ekologis secara kolektif di kalangan pelajar, program edukasi bertajuk “Jejakku, Bumiku” resmi digulirkan melalui kolaborasi antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan SMA Negeri 1 Pandaan. Program yang berlangsung pada Jumat (17/4/2026) ini dirancang untuk membedah korelasi langsung antara aktivitas harian manusia dengan dampaknya terhadap kelestarian alam. Melalui inisiatif edukatif ini, para pelajar diajak untuk memahami sekaligus mempraktikkan berbagai langkah sederhana yang berdampak nyata terhadap penurunan jejak ekologis. Beberapa aksi nyata yang disosialisasikan meliputi pengurangan mobilitas menggunakan kendaraan bermotor pribadi, efisiensi penggunaan energi listrik, pemanfaatan barang-barang daur ulang, hingga anjuran untuk mengurangi konsumsi daging harian. Berdasarkan kajian yang disampaikan dalam program tersebut, apabila serangkaian langkah kecil ini diterapkan secara konsisten, jejak ekologis seorang individu diproyeksikan dapat menyusut secara signifikan hingga 30 persen. Penurunan angka ini diyakini mampu memberikan kontribusi krusial dalam menekan laju defisit ekologis di tingkat global, sekaligus mewujudkan ekosistem bumi yang lebih sehat dan berkelanjutan. Lebih jauh, “Jejakku, Bumiku” juga berupaya menanamkan kebiasaan gaya hidup hijau (green lifestyle) agar tertanam menjadi karakter para siswa selaku generasi penerus bangsa. Pembiasaan gaya hidup ini mencakup pengelolaan air bersih secara bijak, diet penggunaan sampah plastik, serta transisi menuju penggunaan transportasi yang ramah lingkungan. Tidak sekadar berkutat pada aspek mitigasi limbah dan emisi, forum ini turut memperkenalkan konsep restorasi ekologi secara komprehensif. Para siswa diedukasi bahwa pemulihan lingkungan tidak boleh direduksi maknanya hanya sebatas kegiatan penanaman pohon (go green), melainkan harus mencakup upaya pemulihan fungsi ekosistem secara menyeluruh agar rantai keseimbangan alam dapat kembali beroperasi sebagaimana mestinya. Sinergi antara UMM dan SMA Negeri 1 Pandaan ini membuktikan bahwa edukasi lingkungan memerlukan kolaborasi lintas institusi pendidikan. Transformasi gaya hidup masyarakat memang harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari pembentukan kesadaran di bangku sekolah yang kemudian diwujudkan menjadi tindakan nyata. Mengingat menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama, masa depan kelestarian alam kini sangat bergantung pada aksi konkret generasi muda yang dimulai pada hari ini.
Sarjana Pendidikan Terancam Dihapus, Akademisi UMM: Fungsi Intelektual Akan Tergerus

MALANG POST – Dunia pendidikan tinggi Indonesia tengah dihangatkan oleh perdebatan serius menyusul munculnya wacana penghapusan program studi keguruan. Usulan yang dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) RI ini, didasarkan pada alasan relevansi lulusan dengan kebutuhan industri. Namun, kebijakan tersebut dinilai berisiko menyederhanakan makna pendidikan dan mengancam masa depan pembentukan karakter bangsa. Kritik tajam datang dari kalangan akademisi yang melihat kebijakan ini sebagai bentuk ‘tragedi kalkulator pendidikan’. Istilah ini merujuk pada cara pandang pragmatis yang menilai keberhasilan sebuah lembaga pendidikan hanya melalui angka statistik dan tingkat serapan kerja semata. Jika logika ini terus digunakan, peran perguruan tinggi dikhawatirkan akan tereduksi menjadi sekadar ‘pabrik’ pemasok tenaga kerja bagi industri. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. M. Isnaini, M.Pd., menyatakan. Bahwa wacana tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam memetakan arah pendidikan nasional secara komprehensif. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual tersebut akan tergerus.” “Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat,” ujarnya 29 April 2026 pada Tim Humas UMM. Ia menambahkan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses untuk memanusiakan manusia, sebagaimana filosofi yang diusung oleh bapak pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan tidak hanya membekali lulusan dengan keterampilan teknis agar siap bekerja. Tetapi juga membangun cara berpikir, sikap, estetika dan tanggung jawab sosial. “Jika guru atau lulusan kependidikan hanya diukur dari serapan kerja, itu sangat tidak ideal. Kalau logikanya hanya soal keterampilan teknis, lebih baik kita cukup membangun Balai Latihan Kerja (BLK) saja, tidak perlu ada perguruan tinggi. Lulusan yang hanya cakap teknis tanpa bekal nilai estetika dan moral berisiko menjadi pekerja yang kehilangan arah,” tegasnya. Lebih lanjut, Isnaini sapaan akrabnya menekankan bahwa sarjana pendidikan memiliki fleksibilitas karier yang luas. Mereka tidak harus selalu menjadi guru formal di kelas. Banyak lulusan prodi kependidikan yang berkontribusi di berbagai sektor industri dengan membawa perspektif humanistik yang tidak dimiliki oleh lulusan non-kependidikan. Sentuhan etika dan moral inilah yang sering kali tidak masuk dalam hitungan statistik serapan kerja, namun sangat krusial dalam dunia profesional. Mengenai isu surplus atau ketidaksesuaian jumlah lulusan, ia menilai persoalan utama bukan pada keberadaan prodinya. Melainkan pada sistem distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang belum optimal secara nasional. Ketimpangan jumlah guru antarwilayah menunjukkan adanya hambatan struktural yang seharusnya dibenahi oleh pemerintah. Sebagai solusi, ia menyarankan agar pemerintah memperketat regulasi melalui sistem on/off program studi berdasarkan akreditasi dan evaluasi kualitas, bukan dengan menutupnya secara menyeluruh. Pengutamaan prodi dengan akreditasi “Unggul” dinilai lebih bijak untuk menjamin kualitas lulusan tanpa menghancurkan ekosistem keilmuan kependidikan. “Yang harus dibenahi adalah sistemnya. Regulasi bisa diperketat dan kualitas dievaluasi secara berkala. Persoalan pendidikan adalah persoalan masa depan peradaban, sehingga tidak bisa hanya dilihat dari kacamata statistik angka semata,” pungkasnya. Jika kebijakan ini terus dipaksakan hanya demi mengejar angka serapan industri, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan sebuah program studi, melainkan kualitas manusia Indonesia di masa depan. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Upaya Prodi D3 Perbankan dan Keuangan Vokasi UMM Cetak Generasi Emas yang Unggul

Sosialisasi Prodi D3 Perbankan dan Keuangan Vokasi UMM di Bojonegoro. Foto: Dok Tugumalang.id – Program Studi D3 Perbankan dan Keuangan Fakultas Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus melakukan berbagai cara untuk mencetak generasi emas yang unggul. Salah satunya dengan menggelar sosialisasi pendidikan yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro serta Dikdasmen PNF PDM Muhammadiyah Kabupaten Bojonegoro beberapa waktu lalu. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong generasi muda agar terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta memersiapkan diri menghadapi tantangan dunia kerja. Dalam prosesnya, Perwakilan Dikdasmen PNF PDM Muhammadiyah Kabupaten Bojonegoro, Aufar, menekankan bahwa di tengah persaingan global saat ini keberhasilan generasi muda tidak cukup hanya mengandalkan ijazah. Sosialisasi Prodi D3 Perbankan dan Keuangan Vokasi UMM di Bojonegoro. Foto: Dok Selain kompetensi akademik, siswa juga perlu dibekali berbagai keterampilan lunak (soft skill) seperti komunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. ”Perpaduan antara pendidikan formal dan soft skill yang kuat diyakini mampu mencetak generasi unggul yang siap bersaing maupun menciptakan peluang usaha secara mandiri,” jelasnya. Sebab itu, kesempatan itu tentunya bisa diperoleh dengan memilih lembaga pendidikan tinggi yang tepat. Salah satunya di Prodi D3 Perbankan dan Keuangan Vokasi UMM yang menekankan kuliah praktik yang nyata. Ketua Program Studi D3 Perbankan dan Keuangan, Novi Primita Sari, SE., M.Ec.Dev., menjelaskan prodi yang dipimpinnya memiliki sejumlah keunggulan. Sistem pembelajaran dirancang secara adaptif dan aplikatif melalui pendekatan Project Based Learning dan Teaching Factory. ”Sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memeroleh pengalaman praktik yang relevan dengan kebutuhan industri,” jelasnya. Program studi ini juga didukung oleh berbagai mitra strategis seperti BPRS Arsa Syariah Sinar Sejahtera, Rayz Hotel, dan Dea Bakery. Kolaborasi ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengasah kompetensi profesional, memperoleh pengalaman kerja nyata, serta meningkatkan kesiapan memasuki dunia kerja. Selain itu, mahasiswa dibekali berbagai sertifikasi kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar, seperti sertifikasi brevet pajak, sertifikasi kewirausahaan dari Wadhwani Foundation, serta sertifikasi Fintech Syariah dari AFSI. Tersedia pula berbagai program beasiswa, baik nasional maupun internasional, seperti Erasmus+, China Corner, ISMA, dan skema lainnya. Melalui berbagai program unggulan tersebut, Prodi D3 Perbankan dan Keuangan UMM berkomitmen mencetak lulusan yang unggul, kompeten, dan siap bersaing di dunia kerja maupun dalam membangun usaha mandiri. Keberadaan Vokasi UMM mendapat apresiasi dari Ibu Bupati Bojonegoro, Dr. Sri Budi Cantika Yuli, SE., MM., yang menilai bahwa pendidikan tinggi tidak hanya berorientasi pada perolehan gelar, tetapi juga sebagai sarana membentuk sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan siap menghadapi era kemajuan. Ia menegaskan bahwa persiapan menuju Generasi Emas Indonesia 2030 harus dimulai sejak dini. Generasi muda Bojonegoro diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, terampil, berkarakter, serta memiliki semangat belajar yang tinggi agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan bangsa. Reporter : M Ulul Azmy Editor: Herlianto. A
Rektor UMM di Hardiknas 2026: Pendidikan Tinggi Harus Menjadi Solution Center Excellence

HORMAT: Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si saat peringatan Hardiknas. MALANG, RADAR MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada Sabtu (2/5) dengan nuansa yang komprehensif. Peringatan ini tidak hanya menjadi momentum refleksi strategis institusi yang disampaikan melalui amanat Rektor UMM, tetapi juga mewadahi ruang dialektika kritis mahasiswa dan dosen menyoroti pragmatisme pendidikan nasional di Indonesia. Dalam upacara yang diikuti ribuan sivitas akademika kampus putih, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa transformasi budaya dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang diiringi menipisnya daya dukung Sumber Daya Alam (SDA) adalah tantangan besar modern bagi kita semua. Menurutnya, pendidikan tinggi tidak bisa lagi sekadar merespons persoalan zaman dengan pendekatan konvensional. “Pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri, serta inkubator inovasi dan talenta. Ini menuntut perbaikan kualitas menyeluruh, dari proses pembelajaran hingga relevansi lulusan dengan masyarakat,” ujar Nazar, sapaan akrabnya. Ia menempatkan pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai fondasi yang harus diterjemahkan secara kontekstual agar pendidikan menjelma menjadi kekuatan transformasi sosial. REFLEKSI: Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menulis pesan tentang pendidikan. Guna mewujudkan visi tersebut, UMM memantapkan tiga pilar strategis: Service Excellence Hub untuk peningkatan layanan, Industry Solution Partner untuk menjawab kebutuhan riil dunia usaha, serta Innovation and Talent Incubator guna melahirkan inovator tangguh. Dalam momentum ini, UMM juga memberikan apresiasi kepada dosen peraih rekor MURI dengan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak, dosen bermasa abdi 25 tahun tanpa henti, humas terbaik, dan mahasiswa berprestasi. Sebagai bagian dari rangkaian upacara peringatan Hardiknas, UMM turut memberikan penghargaan kepada sivitas akademika yang berprestasi. Penghargaan diberikan kepada dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak sekaligus peraih rekor MURI tahun 2026. Selain itu, apresiasi juga dianugerahkan kepada dosen dengan masa pengabdian 25 tahun, humas terbaik tingkat fakultas dan program studi, serta mahasiswa berprestasi tingkat universitas. Di sisi lain, semangat kritis tetap menyala di UMM. Merespons wacana penghapusan sejumlah program studi yang dinilai kurang relevan bagi industri, sivitas akademika menggelar aksi “Pohon Harapan Pendidikan” di jembatan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 kampus UMM. Acara yang diisi dengan menyanyikan lagu nasional, penulisan aspirasi, hingga musikalisasi puisi ini menjadi medium artikulasi publik untuk menyuarakan kegelisahan terhadap arah pendidikan bangsa masa kini. Wakil Dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM, Dr. Faizin, M.Pd., menyatakan bahwa tema “Menguatkan Pendidikan, Membangun Masa Depan” dipilih demi membangun kesadaran kolektif. Ia mengkritisi wacana efisiensi struktural yang kerap mengabaikan dimensi kultural dan esensi sejati dari sebuah pendidikan. “Kualitas pendidikan tidak bisa diukur semata dari relevansi jangka pendek terhadap kebutuhan pasar dan industri. Pendidikan memiliki dimensi ideologis luas. Refleksi ini adalah upaya mencegah agar pendidikan kita tidak direduksi menjadi kepentingan pragmatis semata,” tegas Faizin. Baginya, pendidikan unggul hanya lahir dari kerja kolaboratif lintas sektor, mulai dari keluarga, institusi, hingga sistem sosial. “Kualitas pendidikan tidak bisa diukur semata dari relevansi jangka pendek terhadap kebutuhan pasar dan industri. Pendidikan memiliki dimensi ideologis luas. Refleksi ini adalah upaya mencegah agar pendidikan kita tidak direduksi menjadi kepentingan pragmatis semata,” tegas Faizin. Baginya, pendidikan unggul hanya lahir dari kerja kolaboratif lintas sektor, mulai dari keluarga, institusi, hingga sistem sosial. Semangat ini terekam jelas pada “Pohon Harapan Pendidikan” yang dipenuhi tulisan bernada reflektif dan kritis. Salah satunya datang dari Erika Firdayanti, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, yang menuliskan pesannya secara lugas “Pendidikan bukan sekadar formalitas administratif belaka, melainkan cerminan mutlak lahirnya generasi penerus bangsa yang intelektual,” pesannya Rangkaian peringatan Hardiknas 2026 ini membuktikan komitmen UMM. Kampus putih tidak sekadar mencetak lulusan, tetapi bertransformasi menjadi solution center yang siap memberikan jawaban konkret bagi kesejahteraan masyarakat. Di saat yang bersamaan, UMM tetap memegang teguh perannya sebagai arena dialektika terpelajar, memastikan pendidikan senantiasa berpijak pada nalar kritis, nilai luhur, dan kesadaran kolektif membangun kemajuan masa depan bangsa.(*) Editor : A. Nugroho
Dosen UMM Dorong UMKM Perempuan Jatim Naik Kelas Lewat Inovasi Pemasaran Digital

MALANG, Suara Muhammadiyah – Minimnya pemanfaatan media sosial oleh pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur, dorong tiga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadirkan program “Sisterpreneur” sebagai solusi peningkatan kapasitas pemasaran digital di Surabaya (26/4). Tiga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Maharina Novi, Arum Martikasari, dan Rahmania Santoso, menggelar kegiatan pemberdayaan bertajuk “Sisterpreneur: Inovasi Pemasaran Digital untuk Peningkatan Daya Saing UMKM Perempuan di Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur”. Kegiatan yang berlangsung di Surabaya ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku UMKM perempuan yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA). Para peserta dibekali keterampilan pemasaran digital agar mampu bersaing secara lebih luas di tengah perkembangan teknologi komunikasi. Ketua tim pengabdian, Maharina Novi, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi kurangnya omset pada penjualan yang dimiliki umkm perempuan di Nasyiatul Aisyiyah, setelah dilakukan riset singkat ternyata tidak semua menggunakan media sosial secara maksimal sehingga market hanya terbatas pasa penjualan konfensional Menurutnya, optimalisasi media digital sangat penting dalam meningkatkan penjualan dan memperluas jangkauan pasar. Hal tersebut disinyalir akan memberikan dampak pada kenaikan omset. “Kami melihat para pelaku UMKM perempuan di PWNA Jawa Timur akan bisa lebih optimal jika bisa memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran. Padahal, jika dimanfaatkan dengan baik, hal ini dapat memberikan nilai tambah dan membuat mereka lebih siap bersaing dengan UMKM lainnya,” ujarnya. Ia menambahkan, kemampuan tersebut perlu terus diasah dan dirawat agar pelaku UMKM perempuan tidak tertinggal dalam persaingan yang semakin ketat. Dengan strategi yang tepat, pelaku usaha di bawah naungan APUNA diharapkan mampu meningkatkan daya saingnya secara berkelanjutan. Sementara itu, narasumber Arum Martikasari, M.Med.Kom, menekankan pentingnya strategi pemasaran yang adaptif. Ia menyampaikan bahwa pelaku UMKM perempuan harus mampu bersaing secara masif, baik melalui kanal offline maupun online. Dalam sesi materinya, Arum memperkenalkan rumus PCBA (Perkenalkan, Ceritakan, Buktikan, dan Ajakan) sebagai pendekatan dalam menyusun konten media sosial yang efektif. “Melalui formula ini, pelaku UMKM dapat membangun komunikasi yang lebih terarah dengan audiens di sosial media, sehingga produk yang ditawarkan lebih dikenal dan diminati,” jelasnya. Selain itu, Arum juga mengajak untuk praktek melakukan optimasi sosial media melalui pemanfaat AI, bukan sekedar teori dua dosen yang lain yang turut hadir juga mendampingi satu persatu pelaku umkm tersebut sehingga peserta bisa jelas dan tidak bingung dalam menggunakanya. Peserta kegiatan pun menunjukkan antusiasme tinggi. Yunik, anggota APUNA asal Trenggalek, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari pelatihan tersebut. “Saya jadi lebih tahu bagaimana memanfaatkan media sosial terlebih AI untuk promosi. Sekarang saya juga lebih percaya diri membuat konten karena sudah memahami caranya,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, tim dosen UMM berharap para pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur mampu mengoptimalkan pemasaran digital sebagai strategi utama dalam meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha mereka. (Mnz) Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Dosen UMM Dorong UMKM Perempuan Jatim Naik Kelas Lewat Inovasi Pemasaran Digital, https://www.suaramuhammadiyah.id/read/dosen-umm-dorong-umkm-perempuan-jatim-naik-kelas-lewat-inovasi-pemasaran-digital
Rektor UMM di Hardiknas 2026: Pendidikan Tinggi Harus Jadi Solution Center Excellence

Rektor UMM di Hardiknas 2026: Pendidikan Tinggi Harus Jadi Solution Center Excellence pwmu.co –Transformasi budaya serta perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang berlangsung di tengah menipisnya daya dukung Sumber Daya Alam (SDA) menjadi tantangan besar yang harus dijawab dunia pendidikan. Hal ini ditegaskan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Nazaruddin Malik, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam amanat upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Sabtu (2/5/2026), yang diikuti ribuan dosen dan karyawan kampus putih. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menjadi respons terhadap perubahan, tetapi harus menjadi solusi atas berbagai persoalan global. Nazar, sapaan akrabnya, menyampaikan bahwa tantangan global tidak lagi dapat dihadapi dengan pendekatan pendidikan konvensional. Keterbatasan sumber daya alam di tengah meningkatnya kebutuhan manusia menjadi ancaman serius yang menuntut perubahan paradigma pendidikan. “Pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM harus hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri, serta inkubator inovasi dan talenta,” ujarnya. Ia menekankan bahwa hal tersebut hanya dapat dicapai melalui peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran, tata kelola institusi, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam arah pengembangannya, Nazar juga mengaitkan pendidikan modern dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Menurutnya, filosofi pendidikan nasional tersebut harus diterjemahkan secara kontekstual agar mampu menjawab tantangan zaman. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada simbol historis, tetapi menjadi kekuatan transformasi sosial yang nyata. Untuk mewujudkan visi tersebut, UMM menetapkan tiga pilar strategis pengembangan: Service Excellence Hub — peningkatan kualitas layanan pendidikan Industry Solution Partner — menjawab kebutuhan nyata dunia industri Innovation and Talent Incubator — mendorong lahirnya inovasi dan talenta unggul “Ketiga pilar ini adalah jaminan mutu universitas yang sesungguhnya. Ini bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat. Dalam rangkaian peringatan Hardiknas, UMM juga memberikan penghargaan kepada sivitas akademika berprestasi, antara lain: Dosen dengan capaian Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terbanyak Peraih rekor MURI tahun 2026 Dosen dengan masa pengabdian 25 tahun Humas terbaik tingkat fakultas dan program studi Mahasiswa berprestasi tingkat universitas Momentum Hardiknas di UMM tahun ini menegaskan bahwa pendidikan tidak bisa berjalan dalam pola lama (status quo). Perguruan tinggi dituntut untuk lebih kritis, responsif, dan solutif dalam menghadapi tantangan global. Pendidikan harus hadir sebagai jawaban nyata, bukan sekadar wacana. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
UMKM Perempuan Minim Manfaatkan Medsos, Dosen UMM Hadirkan Program Sisterpreneur

Tim dosen UMM menghadirkan program sisterpreneur untuk mendorong inovasi pemasaran para pelaku UMKM perempuan. (Foto: Dok. Panitia) MAKLUMAT — Minimnya pemanfaatan media sosial oleh pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur mendorong tiga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan program “Sisterpreneur” sebagai solusi peningkatan kapasitas pemasaran digital di Surabaya. Tiga dosen tersebut, Maharina Novi, Arum Martikasari, dan Rahmania Santoso, menggelar kegiatan bertajuk “Sisterpreneur: Inovasi Pemasaran Digital untuk Peningkatan Daya Saing UMKM Perempuan di Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur” pada 26 April 2026 lalu, yang diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Program tersebut merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan kapasitas pelaku UMKM perempuan yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA). Para peserta dibekali keterampilan pemasaran digital agar mampu memperluas jangkauan pasar di tengah pesatnya perkembangan teknologi komunikasi. Ketua tim pengabdian, Maharina Novi, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi rendahnya omzet penjualan UMKM perempuan di lingkungan Nasyiatul Aisyiyah (NA). Berdasarkan riset singkat yang dilakukannya, tidak semua pelaku usaha memanfaatkan media sosial secara maksimal sehingga pasar masih terbatas pada penjualan konvensional. Menurutnya, optimalisasi media digital sangat penting untuk meningkatkan penjualan sekaligus memperluas pasar. Baca Juga Wamendag Roro: Digitalisasi UMKM Bukan Sekadar Masuk E-Commerce “Kami melihat para pelaku UMKM perempuan di PWNA Jawa Timur akan bisa lebih optimal jika bisa memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran. Padahal, jika dimanfaatkan dengan baik, hal ini dapat memberikan nilai tambah dan membuat mereka lebih siap bersaing dengan UMKM lainnya,” ujarnya, dalam keterangan yang diterima Maklumat.id pada Ahad (3/5/2026). Ia menambahkan, kemampuan tersebut perlu terus diasah agar pelaku UMKM perempuan tidak tertinggal dalam persaingan yang semakin ketat. Dengan strategi yang tepat, pelaku usaha di bawah naungan APUNA diharapkan mampu meningkatkan daya saing secara berkelanjutan. Sementara itu, narasumber Arum Martikasari M.Med.Kom, menekankan pentingnya strategi pemasaran yang adaptif, baik melalui kanal offline maupun online. Dalam paparannya, ia memperkenalkan rumus PCBA (Perkenalkan, Ceritakan, Buktikan, dan Ajakan) sebagai pendekatan dalam menyusun konten media sosial yang efektif. “Melalui formula ini, pelaku UMKM dapat membangun komunikasi yang lebih terarah dengan audiens di sosial media, sehingga produk yang ditawarkan lebih dikenal dan diminati,” jelasnya. Dalam kegiatan tersebut, para peserta juga diajak praktik langsung mengoptimalkan media sosial dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Pendampingan dilakukan secara intensif oleh tim dosen agar peserta dapat memahami penerapan strategi secara konkret. Baca Juga Komisi VII DPR RI Soal Tarif Resiprokal AS: Harus Waspada, Tapi Juga Peluang Besar Antusiasme peserta terlihat tinggi sepanjang kegiatan. Yunik, anggota APUNA asal Trenggalek, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari pelatihan tersebut. “Saya jadi lebih tahu bagaimana memanfaatkan media sosial terlebih AI untuk promosi. Sekarang saya juga lebih percaya diri membuat konten karena sudah memahami caranya,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, tim dosen UMM berharap pelaku UMKM perempuan di Jawa Timur mampu menjadikan pemasaran digital sebagai strategi utama untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha.