Sepuluh Mahasiswa UMM Magang di Kyushu Jepang

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Industri otomotif Jepang adalah benteng kedisiplinan. Standarnya setinggi langit. Ketelitian adalah harga mati. Namun, tembok besar itu berhasil ditembus oleh sepuluh anak muda dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Nicholas Saputra adalah salah satunya. Mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2022 ini bukan sekadar datang untuk berkunjung. Ia adalah bagian dari program magang bergengsi di Daihatsu Kyushu, Jepang. Sejak 6 Agustus 2025, Nicholas dan sembilan rekannya resmi menjadi penggerak di balik layar raksasa otomotif dunia. Lolosnya Nicholas bukan sebuah kebetulan. Jalurnya resmi melalui kampus. Namun, seleksinya “berdarah-darah”. Mereka harus melewati tes fisik yang menguras tenaga, psikotes yang tajam, hingga evaluasi akademik yang ketat. Bahasa Jepang dasar pun wajib dikuasai. ”Ini bukan sekadar kerja. Ini soal membuktikan bahwa mahasiswa kita punya mentalitas global,” ujar salah satu koordinator program magang UMM. Di Jepang, Nicholas terjun langsung ke divisi krusial. Ada yang di bagian welding (pengelasan) yang butuh presisi milimeter. Ada yang di divisi painting untuk memastikan bodi mobil anti-karat. Hingga divisi assembly, tempat ribuan komponen dirangkai menjadi unit utuh. Ritme kerjanya cepat. Sangat cepat. Nicholas mengaku sempat mengalami culture shock. “Kalau kerjanya ya disiplin, tepat waktu, terus tidak boleh sembarangan. Benar-benar harus profesional,” ungkap Nicholas dengan tegas. Jam kerja panjang adalah makanan sehari-hari. Lembur pun menjadi kewajiban rutin. Awalnya melelahkan, namun sistem kompensasi yang adil menjadi penawar letih. Upah lembur yang tinggi di Jepang memberikan semangat ekstra bagi para mahasiswa. Kendala bahasa tetap ada. Namun bagi Nicholas, hambatan komunikasi justru menjadi sekolah mental yang paling berharga. Ia tidak melihatnya sebagai beban, melainkan tantangan untuk naik kelas. “Kerja di luar negeri itu menarik. Buat mencari skill baru dan pengalaman baru. Saya ingin tahu rasanya bekerja langsung dengan standar orang Jepang,” tuturnya. Keberhasilan sepuluh mahasiswa ini menjadi bukti nyata kualitas Kampus Putih. UMM sukses menjembatani ruang kelas dengan realitas industri internasional. Kisah Nicholas adalah pesan kuat: mahasiswa daerah bisa menaklukkan panggung dunia asalkan punya keberanian dan persiapan yang matang. Kini, di bawah bising mesin pabrik Kyushu, Nicholas dan kawan-kawan sedang memahat masa depan. Mereka tidak hanya membawa pulang ilmu, tapi juga harga diri bangsa. (imm/udi)
Cegah Kekerasan di Daycare, Pemkot Malang Perketat Pengawasan hingga Tingkat RT

MALANG POST – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kota Malang, memperketat pengawasan terhadap seluruh Taman Pengasuhan Anak (TPA) atau daycare guna mengantisipasi terjadinya kekerasan terhadap anak. Langkah strategis ini dilakukan melalui pendataan masif di tingkat RT serta optimalisasi program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) di setiap kelurahan untuk menjamin keamanan buah hati bagi orang tua yang aktif bekerja. Penyuluh Ahli Madya Dinsos P3AP2KB Kota Malang, Sri Utami, menjelaskan, hingga saat ini terdapat 20 daycare di Kota Malang yang telah masuk dalam pendataan resmi dan memenuhi persyaratan operasional. Namun, pemerintah tidak menutup mata terhadap keberadaan lembaga yang belum berizin. “Kami aktif mendata daycare yang belum memiliki izin operasional. Pengawasan dilakukan secara kolaboratif melibatkan kader di tingkat RT hingga kelurahan. Hal ini penting agar orang tua merasa tenang saat menitipkan anak mereka,” ujar Sri Utami, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk City Guide FM, Rabu (29/4/2026). Standar Pengasuhan Harus Pakai Hati Ketua PD HIMPAUDI Kota Malang sekaligus Pengelola Daycare PAUD Terpadu Siti Hajar, Maisaroh, mengungkapkan bahwa akar masalah kekerasan di lembaga pengasuhan sering kali dipicu oleh ketidaksiapan mental pengasuh. Menurutnya, mengasuh anak tidak cukup hanya dengan keahlian teknis, tetapi harus dilakukan sepenuh hati. “Lembaga harus memiliki standar minimal, terutama komitmen pengasuhan yang dituangkan dalam SOP. Orang tua juga memiliki hak mutlak untuk memantau aktivitas anaknya tanpa halangan,” tegas Maisaroh. Ia menyarankan agar setiap daycare menyediakan fasilitas CCTV yang bisa diakses atau dipantau secara transparan. Selain itu, komunikasi dua arah melalui grup WhatsApp antara pengasuh dan orang tua harus dioptimalkan untuk memantau perkembangan harian anak. Jika ditemukan kejanggalan, orang tua diminta segera melapor ke kepala lembaga untuk proses mediasi dan pemberian sanksi tegas bagi pelanggar. Kenali Sinyal “Tantrum” pada Anak Psikolog dari Pusat Layanan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Diana Savitri Hidayati, mengingatkan orang tua agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Penyesalan orang tua sering kali datang terlambat karena kurang jeli membaca tanda-tanda trauma pada anak yang belum bisa bicara. “Waspadai jika anak menunjukkan sikap yang tidak biasa setiap kali akan diantar ke daycare, seperti mengamuk tiba-tiba, menangis histeris, hingga tantrum yang tidak wajar. Itu bisa menjadi sinyal bahwa anak merasa tidak aman di lingkungannya,” papar Diana. Diana menambahkan, anak yang mendapatkan pengasuhan baik akan terlihat bahagia saat dijemput, tidak ada luka fisik, dan memiliki kualitas tidur yang tenang. Ia menyarankan agar orang tua rutin memberikan stimulasi agar anak mau bercerita tentang pengalamannya. “Mulailah dengan menceritakan keseharian orang tua terlebih dahulu. Pola komunikasi ini akan memancing anak untuk ikut bercerita tentang apa yang ia alami selama di daycare. Kejujuran anak adalah kunci utama deteksi dini kekerasan,” pungkasnya. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)
Mahasiswa Magister UMM Ciptakan Pahlawan PRIMA

MALANG POST – Siapa sangka, sebuah permainan papan (board game) bisa membawa harum nama bangsa sekaligus menanamkan kepedulian ekologis bagi generasi muda. Ini berkat inovasi board game edukasi lingkungan bertajuk “Pahlawan PRIMA”. Mahasiswa Magister Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Izza Amalia, sukses menyabet penghargaan Best Delegate dalam ajang International Youth Connection Batch 4 di Singapura dan Malaysia, pada 20–23 April 2026. Capaian membanggakan tersebut berawal dari keresahan Izza melihat metode edukasi lingkungan yang kerap kali terasa kaku. Melalui inisiasi pribadinya, ia merancang Pahlawan PRIMA sebagai terobosan metode pembelajaran yang lebih menarik, interaktif, dan berdampak nyata. “Board game Pahlawan PRIMA ini saya inisiasi sebagai media edukasi yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mendorong pemain untuk benar-benar memahami dan melakukan aksi nyata dalam menjaga lingkungan,” ujar Izza. Permainan ini membawa pemain masuk ke dalam narasi Pulau PRIMA, sebuah kawasan yang awalnya asri, seimbang, dan penuh kehidupan dengan air jernih serta pepohonan subur. Namun, kondisi itu perlahan rusak akibat tumpukan sampah, krisis air, dan bencana alam yang dipicu oleh minimnya kesadaran manusia. Di sinilah para pemain ditantang untuk mengambil peran sebagai “pahlawan” penyelamat pulau. Setiap keputusan yang diambil dalam permainan akan langsung berdampak pada nasib Pulau PRIMA. Sehingga merangsang nalar kritis sekaligus menuntut tindakan yang solutif. Secara mekanis, “Pahlawan PRIMA” dirancang dengan berbagai kartu interaktif yang saling melengkapi. Terdapat kartu aksi untuk memperagakan perilaku positif, kartu tantangan yang mendorong pemain melakukan aksi nyata secara langsung. Hingga kartu risiko yang memicu pemain untuk berdiskusi memecahkan masalah dalam kelompok. Kombinasi ini membuat proses pembelajaran menjadi lebih hidup, kolaboratif, dan aplikatif. Pendekatan ini menjadikan proses belajar tidak sekadar berhenti pada tataran teoritis, melainkan memberikan pengalaman langsung yang membekas. Izza menilai, metode pembelajaran berbasis permainan mampu meningkatkan keterlibatan sekaligus kesadaran peserta secara jauh lebih efektif. “Saya melihat bahwa edukasi lingkungan sering kali terasa membosankan. Karena itu, saya ingin menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian, sehingga pesan yang disampaikan bisa lebih membekas dan mendorong perubahan perilaku,” tambahnya. Menariknya, di akhir kompetisi, inovasi ini tidak hanya mengantarkan Izza meraih penghargaan individu. Tim yang digawanginya juga berhasil dinobatkan sebagai Best Group. Prestasi ganda ini kian menegaskan bahwa inovasi yang diusung mahasiswa UMM memiliki nilai kolaboratif tinggi dan dampak kuat yang diakui di tingkat internasional.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Paradoks Gadget Menurut Pakar Psikologi Pendidikan: Antara Akselerasi Kecerdasan dan Ancaman Melemahnya Generasi Anak

JATIMTIMES – Gawai kini tak lagi sekadar alat bantu. Di tangan anak-anak, ia menjelma menjadi ruang hidup kedua yang secara halus namun konsisten membentuk pola pikir, emosi, hingga cara berinteraksi. Di titik inilah muncul sebuah paradoks yang tak bisa diabaikan. Teknologi yang dirancang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia justru berpotensi melemahkannya ketika digunakan tanpa kendali. Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd, menyebut fenomena ini sebagai realitas global yang juga tengah terjadi di Indonesia. “Dampak teknologi itu terbagi menjadi dua. Dampak positifnya ketika anak-anak fokus belajar konten materi, seperti bahasa atau video edukasi, itu justru bagus,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu, (29/4/2026). Dalam lanskap digital saat ini, anak-anak memang memiliki privilege akses belajar yang jauh lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Konten visual interaktif, video pembelajaran, hingga gim edukatif mampu menjadi medium akselerasi kognitif. Bahkan, menurut Arina, tayangan berbahasa asing seperti kartun atau video edukasi dapat menjadi stimulus efektif dalam meningkatkan kemampuan bahasa anak. Namun, di balik potensi itu, tersimpan sisi gelap yang kerap luput dari perhatian. Ketika penggunaan gadget tidak terkelola, anak-anak terjebak dalam apa yang bisa disebut sebagai over-stimulation tanpa makna. Mereka aktif secara visual, tetapi pasif secara kognitif. Arina mencontohkan fenomena anak yang tenggelam dalam gim digital. “Anak-anak itu terlena. Dipanggil orang tuanya saja tidak dengar karena fokus bermain,” katanya. Situasi ini menunjukkan terjadinya disrupsi atensi, ketika fokus anak sepenuhnya tersedot ke layar dan mengabaikan realitas sosial di sekitarnya. Dampaknya tidak berhenti pada perilaku sesaat. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu degradasi kemampuan komunikasi. Anak menjadi minim respons, rendah inisiatif, dan cenderung hanya menjadi konsumen informasi. “Dia hanya menerima, menikmati, tapi tidak tumbuh inisiatif,” ujar Arina. Fenomena ini berkaitan erat dengan cara kerja otak yang tidak mendapatkan stimulasi seimbang. Paparan layar yang bersifat satu arah membuat proses berpikir tidak terasah secara optimal. Arina bahkan menyinggung potensi melemahnya fungsi saraf. “Kalau terlalu sering, itu bisa melemahkan saraf. Dendrit di otak lama-lama tidak berkembang maksimal,” katanya. Di sisi lain, muncul pula fenomena yang tak kalah menarik, yakni paradoks pada anak dengan kecerdasan tinggi. Anak yang memiliki kemampuan berpikir cepat justru berpotensi mengalami stagnasi sosial. Mereka merasa cukup belajar dari apa yang dilihat di layar, sehingga mengabaikan proses interaksi dan pembelajaran konvensional. “Kadang anak seperti ini terlihat malas, padahal dia merasa sudah tahu lebih dulu,” ujar Arina. Kondisi ini membentuk karakter yang cenderung introver ekstrem, eksklusif, dan kurang terhubung dengan lingkungan sosial. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menciptakan kesenjangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan sosial. Di tengah kompleksitas tersebut, Arina menegaskan bahwa keluarga, khususnya orang tua, memegang peran strategis sebagai “control tower” dalam ekosistem pengasuhan digital. Ia menekankan bahwa ibu bukan sekadar pengasuh, melainkan arsitek utama dalam pembentukan karakter anak. “Orang tua harus tahu manajemen penggunaan teknologi di rumah. Karena ibu adalah madrasah pendidikan,” ujarnya. Menurutnya, pendekatan pendidikan tidak bisa lagi hanya bertumpu pada institusi formal. Dibutuhkan intervensi yang lebih sistematis melalui kurikulum informal bagi orang tua. Gagasan ini dapat diwujudkan dalam bentuk buku saku atau panduan praktis yang berisi strategi pengasuhan di era digital, mulai dari pengaturan screen time, pola komunikasi efektif, hingga teknik membangun bonding emosional tanpa ketergantungan pada gadget. “Harapannya tidak hanya ada kurikulum di sekolah, tetapi juga di rumah. Orang tua punya panduan jelas,” kata Arina. Ia menilai langkah ini sebagai bentuk investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan sosial yang solid. Selain itu, Arina menyoroti pentingnya role model dari orang tua. Regulasi tanpa keteladanan hanya akan menjadi wacana. Karena itu, ia mendorong adanya kebijakan sederhana di rumah, seperti pembatasan penggunaan gadget dan penerapan hari tanpa gawai. “Kalau bisa, hari Minggu anak tidak menggunakan handphone. Orang tua juga harus memberi contoh,” ujarnya. Momentum tanpa gadget ini menjadi ruang strategis untuk membangun kembali koneksi emosional yang sempat terputus oleh layar. Interaksi langsung, percakapan hangat, hingga aktivitas bersama menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter anak yang utuh. Pada akhirnya, gawai memang menghadirkan paradoks yang tak terelakkan. Ia bisa menjadi akselerator kecerdasan, sekaligus pemicu degradasi potensi. Kuncinya terletak pada bagaimana teknologi itu dikelola. “Kalau pembelajaran di sekolah dan di rumah berjalan selaras, maka generasi Indonesia bisa kita siapkan maksimal,” kata Arina. Di tengah arus digital yang kian deras, pertanyaan mendasarnya bukan lagi soal boleh atau tidaknya anak menggunakan gadget. Yang lebih krusial adalah siapa yang memegang kendali. Dari situlah masa depan generasi berikutnya sedang ditentukan, perlahan namun pasti.
Paradoks Gadget Menurut Pakar Psikologi Pendidikan: Antara Akselerasi Kecerdasan dan Ancaman Melemahnya Generasi Anak

JATIMTIMES – Gawai kini tak lagi sekadar alat bantu. Di tangan anak-anak, ia menjelma menjadi ruang hidup kedua yang secara halus namun konsisten membentuk pola pikir, emosi, hingga cara berinteraksi. Di titik inilah muncul sebuah paradoks yang tak bisa diabaikan. Teknologi yang dirancang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia justru berpotensi melemahkannya ketika digunakan tanpa kendali. Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd, menyebut fenomena ini sebagai realitas global yang juga tengah terjadi di Indonesia. “Dampak teknologi itu terbagi menjadi dua. Dampak positifnya ketika anak-anak fokus belajar konten materi, seperti bahasa atau video edukasi, itu justru bagus,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu, (29/4/2026). Dalam lanskap digital saat ini, anak-anak memang memiliki privilege akses belajar yang jauh lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Konten visual interaktif, video pembelajaran, hingga gim edukatif mampu menjadi medium akselerasi kognitif. Bahkan, menurut Arina, tayangan berbahasa asing seperti kartun atau video edukasi dapat menjadi stimulus efektif dalam meningkatkan kemampuan bahasa anak. Namun, di balik potensi itu, tersimpan sisi gelap yang kerap luput dari perhatian. Ketika penggunaan gadget tidak terkelola, anak-anak terjebak dalam apa yang bisa disebut sebagai over-stimulation tanpa makna. Mereka aktif secara visual, tetapi pasif secara kognitif. Arina mencontohkan fenomena anak yang tenggelam dalam gim digital. “Anak-anak itu terlena. Dipanggil orang tuanya saja tidak dengar karena fokus bermain,” katanya. Situasi ini menunjukkan terjadinya disrupsi atensi, ketika fokus anak sepenuhnya tersedot ke layar dan mengabaikan realitas sosial di sekitarnya. Dampaknya tidak berhenti pada perilaku sesaat. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu degradasi kemampuan komunikasi. Anak menjadi minim respons, rendah inisiatif, dan cenderung hanya menjadi konsumen informasi. “Dia hanya menerima, menikmati, tapi tidak tumbuh inisiatif,” ujar Arina. Fenomena ini berkaitan erat dengan cara kerja otak yang tidak mendapatkan stimulasi seimbang. Paparan layar yang bersifat satu arah membuat proses berpikir tidak terasah secara optimal. Arina bahkan menyinggung potensi melemahnya fungsi saraf. “Kalau terlalu sering, itu bisa melemahkan saraf. Dendrit di otak lama-lama tidak berkembang maksimal,” katanya. Di sisi lain, muncul pula fenomena yang tak kalah menarik, yakni paradoks pada anak dengan kecerdasan tinggi. Anak yang memiliki kemampuan berpikir cepat justru berpotensi mengalami stagnasi sosial. Mereka merasa cukup belajar dari apa yang dilihat di layar, sehingga mengabaikan proses interaksi dan pembelajaran konvensional. “Kadang anak seperti ini terlihat malas, padahal dia merasa sudah tahu lebih dulu,” ujar Arina. Kondisi ini membentuk karakter yang cenderung introver ekstrem, eksklusif, dan kurang terhubung dengan lingkungan sosial. Dalam jangka panjang, hal ini bisa menciptakan kesenjangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan sosial. Di tengah kompleksitas tersebut, Arina menegaskan bahwa keluarga, khususnya orang tua, memegang peran strategis sebagai “control tower” dalam ekosistem pengasuhan digital. Ia menekankan bahwa ibu bukan sekadar pengasuh, melainkan arsitek utama dalam pembentukan karakter anak. “Orang tua harus tahu manajemen penggunaan teknologi di rumah. Karena ibu adalah madrasah pendidikan,” ujarnya. Menurutnya, pendekatan pendidikan tidak bisa lagi hanya bertumpu pada institusi formal. Dibutuhkan intervensi yang lebih sistematis melalui kurikulum informal bagi orang tua. Gagasan ini dapat diwujudkan dalam bentuk buku saku atau panduan praktis yang berisi strategi pengasuhan di era digital, mulai dari pengaturan screen time, pola komunikasi efektif, hingga teknik membangun bonding emosional tanpa ketergantungan pada gadget. “Harapannya tidak hanya ada kurikulum di sekolah, tetapi juga di rumah. Orang tua punya panduan jelas,” kata Arina. Ia menilai langkah ini sebagai bentuk investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan sosial yang solid. Selain itu, Arina menyoroti pentingnya role model dari orang tua. Regulasi tanpa keteladanan hanya akan menjadi wacana. Karena itu, ia mendorong adanya kebijakan sederhana di rumah, seperti pembatasan penggunaan gadget dan penerapan hari tanpa gawai. “Kalau bisa, hari Minggu anak tidak menggunakan handphone. Orang tua juga harus memberi contoh,” ujarnya. Momentum tanpa gadget ini menjadi ruang strategis untuk membangun kembali koneksi emosional yang sempat terputus oleh layar. Interaksi langsung, percakapan hangat, hingga aktivitas bersama menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter anak yang utuh. Pada akhirnya, gawai memang menghadirkan paradoks yang tak terelakkan. Ia bisa menjadi akselerator kecerdasan, sekaligus pemicu degradasi potensi. Kuncinya terletak pada bagaimana teknologi itu dikelola. “Kalau pembelajaran di sekolah dan di rumah berjalan selaras, maka generasi Indonesia bisa kita siapkan maksimal,” kata Arina. Di tengah arus digital yang kian deras, pertanyaan mendasarnya bukan lagi soal boleh atau tidaknya anak menggunakan gadget. Yang lebih krusial adalah siapa yang memegang kendali. Dari situlah masa depan generasi berikutnya sedang ditentukan, perlahan namun pasti.
Prestasi Global! UMM Resmi Sandang UNESCO Chair Ekosistem Air Berkelanjutan

Visinews.net – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menegaskan kiprah globalnya dengan resmi memperoleh mandat prestisius sebagai UNESCO Chair on Sustainable Water Ecosystem Sustainability of Indonesia 2026, pengakuan internasional atas komitmen kampus dalam keberlanjutan sumber daya air. Capaian strategis ini mendapat apresiasi dari Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Dra. Retno Lestari Priansari Marsudi, LL.M., dalam Wisuda ke-121 UMM pada 28 April 2026, yang menilai langkah UMM sebagai kontribusi konkret terhadap agenda global. Retno Marsudi, yang juga pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI 2014–2024, menegaskan bahwa inisiatif UMM dalam pengelolaan ekosistem perairan tidak hanya berorientasi pada konservasi, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis air yang berkelanjutan. Menurutnya, UMM membuktikan bahwa langkah-langkah kecil di tingkat lokal dapat menjadi bagian penting dari solusi global, dengan dorongan kuat pada inovasi ekosistem air yang berdampak langsung pada kesejahteraan publik. Ia juga memaparkan kondisi krisis air dunia yang kian mengkhawatirkan akibat perubahan iklim, di mana sekitar 80–90 persen bencana dalam satu dekade terakhir merupakan banjir, serta kerugian ekonomi global pada 2024 mencapai 550 miliar dolar AS. Selain itu, ancaman kekeringan diproyeksikan dapat memaksa hingga 700 juta penduduk dunia mengungsi pada tahun 2030, mempertegas urgensi aksi nyata. Krisis ini mengancam ketahanan pangan global, mengingat sekitar 70 persen konsumsi air tawar digunakan untuk sektor pertanian. Melalui penetapan UNESCO Chair ini, UMM diharapkan mampu mempercepat lahirnya inovasi teknologi efisiensi air, sistem daur ulang, serta pengembangan teknologi pendingin hemat air yang aplikatif. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyatakan bahwa capaian ini merupakan bentuk tanggung jawab moral perguruan tinggi kepada masyarakat luas. Melalui penguatan Center of Excellence CoE, UMM mengintegrasikan pengelolaan air sebagai solusi strategis, termasuk pemanfaatan energi mikrohidro untuk mendukung keberlanjutan.***
Keren! Mahasiswa UMM Sabet 3 Penghargaan Sekaligus di Forum Internasional

INDOZONE.ID – Mahendra Dwi Febrian, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional dengan memborong tiga penghargaan dalam ajang Ahmad Dahlan International Youth Camp yang digelar pada 14 November 2026 di Khayangan Adventure Park, Yogyakarta. Dalam forum yang mempertemukan mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dari berbagai daerah tersebut, Mahendra sukses meraih Juara 1 Best Critical Thinker, Harapan 2 Best Essay, serta Juara 2 Best Presentation. Capaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga membuktikan daya saing mahasiswa UMM di level internasional. Ia dinilai mampu menunjukkan kombinasi kuat antara kemampuan berpikir kritis, ketajaman analisis isu, serta keterampilan komunikasi akademik yang matang saat mempresentasikan gagasannya di hadapan para juri dan peserta lain. Dalam kompetisi tersebut, peserta dituntut untuk tidak sekadar memahami teori, tetapi juga mampu mengaitkan berbagai isu global dengan perspektif keilmuan masing-masing. Ia berhasil memanfaatkan latar belakang Ilmu Pemerintahan untuk membedah isu secara komprehensif, mulai dari perumusan masalah, analisis kebijakan, hingga penyampaian solusi yang aplikatif. Menurutnya, pengalaman mengikuti ajang ini memberikan banyak pelajaran berharga, baik dari sisi akademik maupun pengembangan diri. “Lingkungan kegiatan sangat mendukung untuk bertukar gagasan dan memperluas jejaring akademik. Kami bisa berdiskusi, saling belajar, dan membangun relasi dengan mahasiswa dari berbagai PTMA di Indonesia,” tuturnya. Ia juga menekankan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari peran lingkungan sekitar. Dukungan dari dosen, teman, serta keluarga menjadi faktor penting yang membangun kepercayaan dirinya selama mengikuti rangkaian kompetisi yang cukup kompetitif tersebut. Selain aspek akademik, pengalaman berada di Yogyakarta turut memberikan kesan tersendiri. Kota yang dikenal sebagai pusat budaya ini memiliki suasana yang kondusif sekaligus memberikan ruang refleksi bagi para peserta. Ajang Ahmad Dahlan International Youth Camp sendiri tidak hanya berfokus pada kompetisi, tetapi juga dirancang sebagai wadah pengembangan kapasitas generasi muda melalui berbagai sesi diskusi, presentasi, dan kolaborasi. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus mengasah kemampuan akademik, memperluas wawasan, serta aktif berpartisipasi dalam forum ilmiah di tingkat nasional maupun internasional.
Mahasiswa UMM Tembus Scopus Q3 hingga Raih Wisudawan Terbaik

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kualitas riset berstandar global kembali ditunjukkan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang. Melalui kolaborasi lintas negara dan inovasi teknologi energi terbarukan, mahasiswa Teknik Mesin, Abi Mufid Octavio, sukses menorehkan prestasi gemilang dengan publikasi ilmiah di jurnal terindeks Scopus Q3 sekaligus dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dalam Wisuda ke-121 UMM, Kamis (28/4/2026). Pencapaian tersebut diraih lewat riset bertajuk Effect of Number of Blades with 90° Angle on the Performance of Helix Savonius Vertical Wind Turbine. Penelitian ini tidak sekadar menjadi tugas akhir, tetapi juga bagian dari kolaborasi strategis lintas disiplin dan lintas negara. Selain melibatkan dosen dari Teknik Mesin dan Teknik Industri UMM, riset ini juga menggandeng mahasiswa dari National Formosa University. Fokus utama penelitian Mufid adalah hilirisasi teknologi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Ia mengembangkan turbin angin sumbu vertikal yang mampu beroperasi optimal pada kecepatan angin rendah, sehingga relevan digunakan di wilayah pedesaan yang kerap mengalami keterbatasan akses energi. Menariknya, teknologi ini dirancang menggunakan material lokal yang mudah ditemukan dan dapat dirawat secara mandiri oleh masyarakat. “Teknologi yang bagus adalah teknologi yang mampu diterapkan sesuai dengan kondisi lingkungan serta bisa diperbaiki sendiri oleh masyarakat,” tegas Mufid. Prestasi akademik Mufid tidak berhenti pada publikasi internasional. Ia juga tercatat sebagai pemegang Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk alat deteksi dini Rheumatoid Arthritis serta penulis buku panduan teknik mesin ber-ISBN. Berbagai inovasinya bahkan rutin mendapatkan pendanaan dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemendikbudristek. Di tingkat kompetisi, kiprahnya juga tak kalah gemilang. Ia pernah meraih penghargaan pada Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025, medali perak kompetisi sains tingkat ASEAN, hingga Juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional pada divisi Leisure Boat. Mufid mengakui, keberhasilannya tidak lepas dari ekosistem akademik UMM yang mendukung penuh pengembangan potensi mahasiswa. Ia menilai kampus memberikan ruang luas bagi setiap mahasiswa untuk berprestasi dan berkembang. “Di UMM, semua mahasiswa punya kesempatan yang sama dan setiap prestasi pasti dihargai,” ungkap pemuda asal Jawa Timur tersebut. Ke depan, Mufid berencana melanjutkan studi ke jenjang magister guna memperdalam riset dan memperluas kontribusinya di bidang teknologi energi terbarukan. Ia juga membagikan pesan inspiratif bagi generasi muda akademisi agar tetap tangguh menghadapi tantangan penelitian. “Kalau sedang mengalami kebuntuan, tidak apa-apa rehat sejenak. Tapi yang terpenting, penelitian yang baik bukan hanya berkualitas, melainkan juga harus selesai,” pungkasnya.
Kolaborasi Lintas Negara, Inovasi Turbin Angin Bawa Mahasiswa UMM Tembus Scopus Q3 dan Lulusan Terbaik

pwmu.co – Kualitas riset dan iklim akademik bertaraf internasional kembali dibuktikan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui inovasi turbin angin ramah lingkungan dan kolaborasi riset lintas negara, Abi Mufid Octavio, mahasiswa Program Studi Teknik Mesin, sukses mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal terindeks Scopus Q3.Pencapaian akademik tingkat global ini sekaligus mengantarkannya meraih ekuivalensi bebas skripsi dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada gelaran Wisuda ke-121 UMM, Kamis (28/4/2026). Riset yang mengusung judul Effect of Number of Blades with 90° Angle on the Performance of Helix Savonius Vertical Wind Turbine ini bukan sekadar pemenuhan tugas akhir. Proyek ini merupakan wujud nyata kolaborasi riset strategis lintas disiplin dan lintas negara. Penelitian tersebut melibatkan kepakaran dosen Teknik Mesin dan Teknik Industri UMM, serta menggandeng mahasiswa dari National Formosa University, Taiwan. Fokus utama penelitian ini adalah hilirisasi teknologi. Mufid mengembangkan turbin angin sumbu vertikal yang dirancang khusus agar tetap beroperasi maksimal pada kecepatan angin rendah, memberikan solusi konkret bagi krisis energi di kawasan pedesaan. Dengan memanfaatkan material lokal yang mudah dijangkau di pasaran, teknologi tepat guna ini dapat dirawat secara mandiri oleh masyarakat tanpa memakan biaya besar. “Teknologi yang bagus adalah teknologi yang mampu diterapkan sesuai dengan keadaan lingkungan sekitarnya, serta dapat diperbaiki sendiri oleh masyarakat setempat,” tegasnya. Rekam jejak akademik Mufid menjadi representasi nyata dari komitmen UMM dalam mencetak lulusan unggul yang kompetitif secara global. Portofolio risetnya sangat komprehensif; tidak hanya diakui lewat publikasi Scopus, ia juga tercatat sebagai pemegang Hak Cipta (HKI) untuk alat deteksi dini Rheumatoid Arthritis dan telah menerbitkan buku panduan teknik mesin ber-ISBN. Inovasinya pun secara rutin mendapatkan pendanaan bergengsi dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemendikbudristek. Abi Mufid Octavio, dengan salah satu kreativitasnya (Foto: Ist/PWMU.CO) Di level kompetisi, daya saingnya tak perlu diragukan. Mufid pernah menyabet gelar Juara Kategori Anugerah Pemberdaya Masyarakat pada Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025, meraih medali perak pada kompetisi sains tingkat ASEAN, serta membawa pulang gelar Juara 3 Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional pada divisi Leisure Boat. Mufid menyadari bahwa seluruh pencapaian intelektualnya tidak lepas dari ekosistem akademik UMM yang sangat progresif dalam mewadahi potensi mahasiswanya. “Di UMM, semua mahasiswa diberikan kesempatan yang sama. Semua bentuk prestasi pasti dihargai di sini,” ungkap pemuda asal Jawa Timur tersebut. Ke depan, Mufid bersiap melanjutkan studi ke jenjang magister untuk terus mengembangkan kapasitas riset dan pengabdiannya. Sebagai peneliti muda yang telah teruji ketekunannya melalui berbagai fase simulasi dan kegagalan desain, ia menekankan pentingnya resiliensi dalam dunia akademik. “Kalau sedang stuck di penelitian, rehat sebentar untuk menyegarkan pikiran itu boleh. Tapi ingat, penelitian yang bagus itu bukan sekadar berkualitas, melainkan penelitian yang selesai,” pungkasnya membagikan pesan inspiratif bagi para akademisi muda lainnya. *) Penulis : Humas UMM
UMM Dinobatkan sebagai Kampus Inovatif di Bidang Kehumasan

KLIKMU.CO — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi di bidang kehumasan. Kampus Putih ini berhasil meraih penghargaan Innovative Public Relation and Information berkat kinerja unggul serta kemampuan adaptasi teknologi dalam penyampaian informasi. Penghargaan tersebut diserahkan pada Sabtu (25/4/2026) di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dalam rangka Milad Satu Dekade PWMU.CO. Capaian ini sekaligus menegaskan posisi UMM sebagai kampus inovatif dalam praktik kehumasan di lingkungan perguruan tinggi. Kepala Humas UMM Maharina Novia Zahro MIkom menyampaikan rasa syukurnya atas apresiasi tersebut. Menurutnya, penghargaan ini bukan sekadar simbol, melainkan pengakuan atas komitmen tim dalam menghadirkan komunikasi yang relevan dan berdampak. “Penghargaan ini memiliki makna besar bagi UMM. Ini bukan sekadar trofi, tetapi pengakuan atas komitmen kami untuk terus relevan dengan perkembangan zaman. Ini juga hasil kerja keras kolektif seluruh tim dalam membangun jembatan komunikasi yang efektif antara kampus dan masyarakat,” ujarnya. Dia menjelaskan, keberhasilan UMM tidak lepas dari keberanian melakukan konvergensi media. UMM kini tidak hanya mengandalkan rilis berita konvensional, tetapi juga mengintegrasikan berbagai platform digital, mulai dari media sosial interaktif, produksi konten audiovisual, hingga penguatan sistem informasi yang ramah pengguna. Menurut Maharina, strategi tersebut memberikan dampak nyata. Civitas akademika dapat mengakses informasi lebih cepat, sementara masyarakat luas memperoleh gambaran transparan terkait capaian, riset, dan kontribusi UMM. “Keterbukaan ini membuat kepercayaan masyarakat terhadap UMM terus meningkat,” tambahnya. Ke depan, UMM berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi di bidang kehumasan agar tetap adaptif terhadap disrupsi digital. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi terbaru, termasuk kecerdasan buatan, untuk membaca tren publik. “Kami ingin menciptakan inovasi informasi yang lebih interaktif. Harapannya, UMM dapat terus menjadi trendsetter dalam praktik public relations perguruan tinggi di tingkat nasional,” pungkasnya. Penghargaan yang dianugerahkan oleh PWMU.CO ini semakin mengukuhkan UMM sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif dalam komunikasi publik. Dengan semangat inovasi yang berkelanjutan, UMM berkomitmen menghadirkan informasi yang profesional, relevan, dan tepercaya bagi masyarakat. (Faqih/AS)