Pilih Hewan Kurban, Akademisi UMM: Jangan Terkecoh Ukuran

MALANG POST– Menjelang Hari Raya Idul Adha, masyarakat mulai disibukkan dengan perburuan hewan kurban. Namun, masyarakat diimbau untuk lebih teliti dan tidak sekadar tergiur oleh ukuran tubuh hewan yang besar atau harga yang mahal. Kondisi kesehatan hewan menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi. ​Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., membagikan panduan bagi masyarakat untuk mendeteksi kesehatan hewan kurban melalui pengamatan fisik sederhana. ​Menurutnya, langkah pertama yang bisa dilakukan pembeli adalah mengamati postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. ​“Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat. ​Selain postur, kejernihan mata dan kebersihan kulit juga menjadi indikator penting. Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh. ​Kulit hewan juga harus dipastikan bersih dari penyakit seperti kudis atau scabies. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya. ​Ia juga meminta masyarakat mewaspadai tanda-tanda penyakit menular berbahaya, seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks. Hewan yang terindikasi PMK umumnya menunjukkan gejala berupa keluarnya lendir berlebihan dari mulut, adanya luka pada gusi dan lidah, hingga radang kemerahan dan luka di sela kuku kaki. ​Sementara itu, hewan yang terkena Antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Daging dari hewan ini sangat berbahaya jika dikonsumsi. “Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegasnya. ​Indikator kesehatan lainnya dapat dilihat dari nafsu makan hewan. Hewan yang sehat akan aktif makan dan terlihat bugar. Agar daging yang dihasilkan lebih banyak dan manfaatnya maksimal, ia menyarankan masyarakat memilih hewan yang berbadan gemuk. Tak lupa, usia hewan juga harus dipastikan sudah memenuhi ketentuan syariat, yakni minimal berusia dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. ​Di akhir penjelasannya, Lili mengingatkan sebuah prosedur yang sering terlewatkan, yakni masa istirahat hewan sebelum disembelih. Hewan ternak yang baru menempuh perjalanan jauh wajib diistirahatkan terlebih dahulu untuk menghindari stres. ​Kelelahan pada hewan dapat memicu sindrom DFD (Dark, Firm, Dry), sebuah kondisi yang membuat kualitas daging menurun drastis karena teksturnya berubah menjadi gelap, keras, dan kering. ​Melalui edukasi ini, ia berharap masyarakat dapat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban bukan sekadar kegiatan pemotongan hewan tahunan. Melainkan wujud keikhlasan yang juga mengajarkan kepedulian terhadap kualitas pangan yang dikonsumsi bersama.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

UMM Percepat Karier Dosen Lewat Aturan Baru JAD, Bidik Reputasi Internasional 2030

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus mengakselerasi langkah strategis untuk mewujudkan visinya sebagai kampus inovatif, mandiri, berdampak, dan diakui secara global pada 2030.Salah satu fokus utama yang kini digenjot adalah percepatan karier dosen melalui optimalisasi aturan baru Jabatan Akademik Dosen (JAD). Komitmen tersebut ditegaskan saat UMM menjadi tuan rumah kegiatan Sosialisasi Mekanisme Pengusulan Jabatan Akademik dan Perencanaan Karier Dosen bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Jawa Timur, yang digelar di Basement Dome UMM, Kamis (7/5/2026). Wakil Rektor V UMM, Tri Sulistiyaningsih, menegaskan bahwa kenaikan jabatan akademik bukan sekadar pemenuhan administratif, melainkan fondasi penting dalam membangun profesionalisme dan ekosistem kampus unggul. “JAD adalah instrumen strategis. Perguruan tinggi saat ini tidak cukup hanya mencetak lulusan yang kuat secara teori, tetapi juga harus melahirkan inovasi yang memberikan solusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Langkah UMM tersebut selaras dengan kebijakan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi yang melakukan penyederhanaan birokrasi pengusulan JAD. Direktur Sumber Daya Ditjen Diktiristek, Sri Suning Kusumawardani, menjelaskan bahwa regulasi baru bertujuan mempercepat eskalasi karier dosen yang selama ini cenderung stagnan. Menurutnya, kebijakan tersebut mencakup penghapusan syarat publikasi ilmiah untuk pengangkatan pertama Asisten Ahli serta penyederhanaan angka kredit pendukung yang dinilai tidak lagi relevan. “Regulasi ini dirancang untuk mendorong dosen lebih serius merencanakan karier sejak awal. Kami ingin tidak ada lagi dosen yang berlama-lama tanpa jabatan akademik,” jelasnya. Meski demikian, kemudahan regulasi tidak berarti tanpa tantangan. Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Dyah Sawitri, mengingatkan pentingnya ketelitian administratif dalam pengajuan JAD. Ia menyoroti masih banyaknya usulan kenaikan jabatan hingga Lektor Kepala dan Profesor yang ditolak akibat kelengkapan dokumen seperti Beban Kerja Dosen (BKD) dan data pada sistem SISTER yang tidak mutakhir. Selain itu, Dyah juga mengingatkan dosen agar menjaga integritas akademik dan menghindari praktik tidak etis, termasuk penggunaan jurnal predator. “Dampaknya bisa sangat serius, mulai dari pembatalan pengajuan hingga kewajiban mengembalikan dana sertifikasi. Dosen harus proaktif memahami aturan dan tidak bergantung sepenuhnya pada operator,” tegasnya. Melalui sinergi antara kebijakan pemerintah yang semakin adaptif dan dorongan internal kampus, UMM optimistis percepatan karier dosen dapat berjalan secara bersih dan berkualitas. Upaya ini diharapkan mampu mengantarkan Kampus Putih melesat menuju pengakuan internasional pada 2030. (*)

Jangan Tergiur Hewan Kurban Jumbo, Dosen UMM Ungkap Ciri Kurban Sehat dan Sah

Malang (beritajatim.com) – Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., mengimbau agar tidak hanya terpaku pada ukuran tubuh hewan kurban yang jumbo saat Iduladha. Menurutnya, kesehatan hewan menjadi parameter utama agar ibadah kurban dinyatakan sah secara syariat dan dagingnya layak konsumsi. Prof. Lili Zalizar menjelaskan bahwa pendeteksian kesehatan hewan sebenarnya bisa dilakukan melalui pengamatan fisik sederhana oleh orang awam sekalipun. Ia menekankan pentingnya melihat postur dan cara berdiri hewan secara saksama. Menurutnya, calon pembeli harus memastikan hewan dalam kondisi simetris dan mampu menumpu beban tubuh dengan baik. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” terang Prof. Lili pada Jumat (8/5/2026) kemarin. Lebih lanjut, Prof. Lili menegaskan bahwa kecacatan fisik seperti pincang menjadi penggugur syarat sahnya hewan kurban. Selain kaki, bagian mata juga harus jernih. Hewan yang mengalami gangguan penglihatan atau buta biasanya ditandai dengan adanya selaput putih atau kondisi mata yang keruh. Indikator lain yang tidak kalah penting adalah kondisi kulit. Prof. Lili menyarankan masyarakat untuk menjauhi hewan yang memiliki tanda-tanda penyakit kulit menular. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan (scabies) karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya. beritajatim – Masyarakat juga diminta jeli dalam mengidentifikasi gejala penyakit berbahaya seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta antraks. Penyakit ini tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga berisiko bagi kesehatan manusia yang mengonsumsi dagingnya. Tanda PMK biasanya terlihat dari keluarnya lendir berlebihan pada mulut, luka di gusi dan lidah, hingga peradangan kemerahan di sela-sela kuku. Sementara itu, gejala antraks jauh lebih fatal dan harus segera dihindari. “Hewan yang terkena antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegas Prof. Lili. Selain aspek kesehatan, Prof. Lili mengingatkan kembali batas minimal usia hewan kurban sesuai ketentuan agama, yakni dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. Ia juga menyarankan pemilihan hewan yang berbadan gemuk demi memaksimalkan jumlah daging yang akan dibagikan kepada masyarakat. Terakhir, ia menyoroti faktor stres pada hewan yang baru saja menempuh perjalanan jauh ke lokasi penjualan. Hewan wajib diistirahatkan dengan cukup sebelum proses penyembelihan dilakukan. Kurangnya masa istirahat dapat memicu sindrom Dark, Firm, Dry (DFD). Kondisi ini menyebabkan kualitas daging menurun drastis dengan tekstur yang berubah menjadi gelap, keras, dan kering akibat kelelahan fisik hewan. “Melalui edukasi ini, diharapkan masyarakat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban adalah wujud keikhlasan sekaligus bentuk kepedulian terhadap kualitas pangan yang kita konsumsi bersama,” pungkasnya. (dan/kun)

Akademisi UMM Berikan Panduan Memilih Hewan Kurban Sehat Jelang Iduladha

beritajejakfakta – Dosen Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Lili Zalizar, memberikan panduan teknis pemilihan hewan kurban yang sehat dan sesuai syariat kepada masyarakat pada Kamis (8/5/2026). Langkah ini bertujuan memastikan kualitas daging kurban aman dikonsumsi sekaligus memenuhi rukun ibadah. Kondisi fisik secara menyeluruh menjadi indikator utama yang harus diamati calon pembeli sebelum melakukan transaksi. Pemeriksaan kesehatan hewan meliputi kemampuan berdiri tegak tanpa pincang, kejernihan mata, hingga kebersihan kulit dari berbagai potensi penyakit menular. Pemeriksaan postur tubuh sebaiknya dilakukan dari sudut pandang depan, samping, dan belakang secara detail. Dilansir dari Surabaya, hewan yang mengalami cacat fisik atau pincang dinyatakan tidak memenuhi kriteria sebagai hewan kurban menurut ketentuan syariat Islam. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujar Prof. Lili Zalizar, Dosen Fakultas Pertanian-Peternakan UMM. Ia menegaskan pentingnya memilih hewan dengan kulit mulus yang terbebas dari penyakit kudis atau scabies. Masyarakat juga diminta mewaspadai gejala Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang ditandai dengan air liur berlebih serta luka pada lidah atau gusi. Selain itu, penyakit Antraks harus diwaspadai jika hewan mengalami kejang dan pendarahan pada lubang hidung atau anus karena dagingnya sangat berbahaya. Kriteria usia hewan kurban juga wajib dipatuhi, yakni minimal berumur dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. Hewan yang sehat biasanya menunjukkan nafsu makan yang aktif, tampak bugar, dan disarankan memiliki badan yang gemuk agar hasil daging maksimal. Aspek kesejahteraan hewan sebelum penyembelihan turut memengaruhi kualitas daging yang dihasilkan. Hewan yang baru tiba dari perjalanan jauh wajib diistirahatkan untuk mencegah stres yang dapat memicu sindrom Dark, Firm, Dry (DFD) atau daging menjadi gelap dan keras.

Sarjana Pendidikan Terancam Dihapus Demi Industri, Ini Kata Akademisi UMM

MALANG, RADAR MALANG – Dunia pendidikan tinggi Indonesia tengah dihangatkan oleh perdebatan serius menyusul munculnya wacana penghapusan program studi keguruan. Usulan yang dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) RI ini didasarkan pada alasan relevansi lulusan dengan kebutuhan industri. Namun, kebijakan tersebut dinilai berisiko menyederhanakan makna pendidikan dan mengancam masa depan pembentukan karakter bangsa. Kritik tajam datang dari kalangan akademisi yang melihat kebijakan ini sebagai bentuk ‘tragedi kalkulator pendidikan’. Istilah ini merujuk pada cara pandang pragmatis yang menilai keberhasilan sebuah lembaga pendidikan hanya melalui angka statistik dan tingkat serapan kerja semata. Jika logika ini terus digunakan, peran perguruan tinggi dikhawatirkan akan tereduksi menjadi sekadar ‘pabrik’ pemasok tenaga kerja bagi industri. ASPIRASI AKADEMISI: Dr. M. Isnaini, M.Pd memberikan pendapat soal wacana penghapusan sarjana pendidikan. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. M. Isnaini, M.Pd., menyatakan bahwa wacana tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam memetakan arah pendidikan nasional secara komprehensif. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual tersebut akan tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat,” ujarnya pada Tim Humas UMM, 29 April lalu. Ia menambahkan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses untuk memanusiakan manusia, sebagaimana filosofi yang diusung oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan tidak hanya membekali lulusan dengan keterampilan teknis agar siap bekerja, tetapi juga membangun cara berpikir, sikap, estetika, dan tanggung jawab sosial. “Jika guru atau lulusan kependidikan hanya diukur dari serapan kerja, itu sangat tidak ideal. Kalau logikanya hanya soal keterampilan teknis, lebih baik kita cukup membangun Balai Latihan Kerja (BLK) saja, tidak perlu ada perguruan tinggi. Lulusan yang hanya cakap teknis tanpa bekal nilai estetika dan moral berisiko menjadi pekerja yang kehilangan arah,” tegasnya. Lebih lanjut, Isnaini sapaan akrabnya menekankan bahwa sarjana pendidikan memiliki fleksibilitas karier yang luas. Mereka tidak harus selalu menjadi guru formal di kelas. Banyak lulusan prodi kependidikan yang berkontribusi di berbagai sektor industri dengan membawa perspektif humanistik yang tidak dimiliki oleh lulusan non-kependidikan. Sentuhan etika dan moral inilah yang sering kali tidak masuk dalam hitungan statistik serapan kerja, namun sangat krusial dalam dunia profesional. Mengenai isu surplus atau ketidaksesuaian jumlah lulusan, ia menilai persoalan utama bukan pada keberadaan prodinya, melainkan pada sistem distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang belum optimal secara nasional. Ketimpangan jumlah guru antarwilayah menunjukkan adanya hambatan struktural yang seharusnya dibenahi oleh pemerintah. Sebagai solusi, ia menyarankan agar pemerintah memperketat regulasi melalui sistem on/off program studi berdasarkan akreditasi dan evaluasi kualitas, bukan dengan menutupnya secara menyeluruh. Pengutamaan prodi dengan akreditasi “Unggul” dinilai lebih bijak untuk menjamin kualitas lulusan tanpa menghancurkan ekosistem keilmuan kependidikan. “Yang harus dibenahi adalah sistemnya. Regulasi bisa diperketat dan kualitas dievaluasi secara berkala. Persoalan pendidikan adalah persoalan masa depan peradaban, sehingga tidak bisa hanya dilihat dari kacamata statistik angka semata,” pungkasnya. Jika kebijakan ini terus dipaksakan hanya demi mengejar angka serapan industri, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan sebuah program studi, melainkan kualitas manusia Indonesia di masa depan.(*)

Kampus Terbaik di Jawa Timur Tahun 2026 Versi THE Asia University Rankings

MAKLUMAT — Sebanyak tujuh kampus di Jawa Timur masuk dalam daftar perguruan tinggi terbaik versi Times Higher Education (THE) Asia University Rankings 2026. THE Asia University Rankings 2026 sendiri merupakan situs pemeringkatan perguruan tinggi di regional Asia, yang menilai 929 perguruan tinggi dari 36 negara di kawasan tersebut. Pemeringkatan ini menggunakan 18 indikator kinerja yang dirancang untuk mengukur kualitas kampus secara menyeluruh. Penilaian tersebut mencakup beberapa aspek penting, di antaranya: kualitas pengajaran, lingkungan penelitian, produktivitas riset, reputasi akademik, jaringan internasional, kerja sama dengan industri, hingga kontribusi riset dan inovasi bagi masyarakat. Melalui indikator tersebut, THE Asia University Rankings menilai kemampuan perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan berkualitas sekaligus mendorong penelitian yang bermanfaat bagi dunia industri dan publik. Iklim Pendidikan Tinggi di Jawa Timur Jawa Timur masih menjadi salah satu daerah favorit jujugan para lulusan SMA/MA/SMK/sederajat yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selain memiliki banyak kampus ternama, provinsi ini juga dikenal menawarkan biaya hidup yang relatif terjangkau dibandingkan sejumlah kota besar lain di Indonesia. Tak heran jika setiap tahun, ribuan calon mahasiswa menjadikan Surabaya, Malang, hingga Jember sebagai tujuan utama untuk kuliah. Apalagi, beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur juga berhasil masuk daftar kampus terbaik tingkat Asia versi THE Asia University Rankings 2026. Kehadiran kampus berkualitas dengan lingkungan belajar yang baik membuat Jawa Timur semakin menarik. Berdasarkan pemeringkatan versi THE Asia University Rankings tahun 2026, Surabaya, Malang, dan Jember, masih menjadi daerah penyumpang kampus-kampus terbaik. Surabaya sebagai ibu kota Jawa Timur dikenal sebagai pusat bisnis dan industri. Banyak kampus besar berada di Kota Pahlawan ini, sehingga mahasiswa memiliki peluang lebih luas untuk magang maupun membangun relasi profesional sejak dini. Sementara, Malang kerap disebut sebagai kota pelajar. Suasana akademik yang nyaman, udara sejuk, serta biaya hidup yang lebih ramah di kantong menjadikan kota ini favorit mahasiswa dari berbagai daerah. Di sisi lain, Jember juga terus berkembang sebagai kota pendidikan dengan kampus-kampus yang memiliki reputasi baik. 7 Kampus Terbaik Jawa Timur Berikut daftar perguruan tinggi di Jawa Timur—negeri maupun swasta—yang masuk dalam pemeringkatan THE Asia University Rankings 2026 dan bisa menjadi referensi para calon mahasiswa dalam memilih kampus: Universitas Airlangga (Unair): Peringkat 201-250; Overall Score 42,8-45,9 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS): Peringkat 601-800; Overall Score 23,3-30,8 Universitas Negeri Malang (UM): Peringkat 601-800; Overall Score 23,3-30,8 Universitas Brawijaya (UB): Peringkat 601-800; Overall Score 23,3-30,8 Universitas Jember (Unej): Peringkat 801+; Overall Score 14,7-23,2 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM): Peringkat 801+; Overall Score 14,7-23,2 Universitas Negeri Surabaya (Unesa): Peringkat 801+; Overall Score 14,7-23,2 Itulah tujuh perguruan tinggi di Jawa Timur—negeri maupun swasta—yang masuk dalam jajaran kampus terbaik versi THE Asia University Rankings 2026. Bagi para calon mahasiswa yang masih mencari kampus, terutama melalui jalur mandiri, daftar perguruan tinggi terbaik di Jawa Timur versi THE Asia University Rankings 2026 ini bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan pendidikan masa depan. ***

Tips Memilih Hewan Kurban Sehat agar Sah Secara Syariat dan Aman Dikonsumsi

Bisnis.com, MALANG — Masyarakat diimbau untuk lebih teliti dan tidak sekadar tergiur oleh ukuran tubuh hewan yang besar atau harga yang mahal, melainkan memperhatikan kondisi kesehatan hewan menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi. Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Lili Zalizar, langkah pertama yang bisa dilakukan pembeli adalah mengamati postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujarnya dikutip Kamis (8/5/2026). Dia menegaskan, hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat. Selain postur, kejernihan mata dan kebersihan kulit juga menjadi indikator penting. Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh. Kulit hewan juga harus dipastikan bersih dari penyakit seperti kudis atau scabies. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya.

Rahasia Mental Baja Generasi Z, UMM Bongkar Pentingnya Sikap Asertif dan Social Support

Generasi Z sering kali dilabeli sebagai generasi stroberi. Layaknya buah stroberi yang tampak segar dan memikat di luar, mereka dianggap sangat rentan memar dan hancur ketika mendapat sedikit saja tekanan. Stigma ini seolah menjadi bayang-bayang kelam yang terus mengikuti anak muda di tengah kerasnya arus tuntutan zaman. Menyadari fenomena krisis tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menolak untuk diam. Kampus inovasi ini berupaya menulis ulang narasi itu dengan tekad mencetak mahasiswa yang tangguh secara mental. Pada Jumat (8/5/2026), Fakultas Psikologi UMM secara khusus menggelar kuliah tamu internasional bertajuk “From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development” di Aula GKB IV lantai 4. Menghadirkan pakar dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc Prof. Dr. Nasrudin Subhi, forum ini membedah anatomi ketahanan jiwa di era digital. Dalam paparannya, ia menbedah realitas bahwa ancaman bagi mahasiswa saat ini telah bermutasi secara drastis. “Ancaman nyata yang dihadapi generasi muda sekarang bukan lagi sekadar setumpuk tugas makalah atau ujian akhir yang menegangkan. Kalian berhadapan dengan monster siber seperti perundungan online hingga jebakan penyalahgunaan zat berbahaya yang siap menggerus mental,” paparnya. Lebih jauh, ia menyoroti akar masalah yang kerap bermula dari pola asuh keluarga modern yang terlalu memanjakan anak. Akibatnya, saat remaja masuk ke dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian ekstrem, benturan realitas atau culture shock tidak dapat dielakkan. Jika krisis transisi ini dibiarkan tanpa kendali, dampaknya bisa sangat fatal, mulai dari memicu depresi hingga tindakan agresi. Untuk memutus rantai kerentanan itu, pria itu menawarkan penawar berupa resiliensi mental. Langkah esensial pertama adalah berani membangun sikap asertif di lingkungan pertemanan kampus. “Ingat, kita harus memiliki sifat asertif. Artinya, Anda tahu kapan harus mengatakan ‘ya’ dan punya keberanian mutlak untuk menolak demi kebaikan diri sendiri,” tegasnya. Selain regulasi emosi yang proporsional, pertahanan diri ini wajib ditopang oleh jejaring dukungan sosial (social support). “Jangan asal bergaul. Carilah teman yang tidak hanya hadir saat senang, tetapi kelompok sahabat yang bersedia menemani dan saling menegur di waktu susah,” pesannya. Langkah strategis menghadirkan akademisi mancanegara ini merupakan wujud nyata visi besar kampus. Ketua Program Studi Psikologi UMM, Hanif Akhtar, S.Psi., M.A., menuturkan kolaborasi dengan kampus dari negeri jiran tersebut dirancang agar mahasiswa siap menghadapi realitas zaman. “Mahasiswa saat ini hidup di tengah tantangan yang luar biasa kompleks. Oleh sebab itu, mereka perlu dibekali cara mengenali faktor risiko sekaligus membangun resiliensi agar dapat berkembang secara adaptif,” urainya. Pada akhirnya, UMM membuktikan komitmennya melalui langkah preventif ini. “Melalui forum kolaborasi ini, kami tidak hanya mentransfer pengetahuan teoritis semata, melainkan juga membekali mereka dengan jejaring wawasan global,” pungkasnya.(*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Dinobatkan BRIN Sebagai Kampus Paling Porgresif, UMM Mantap Melangkah Jadi Innovation University

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. Dalam Kuliah Tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM, Sabtu (09/05/2026), ia menyebut Kampus Putih sebagai perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri. “UMM itu saya lihat perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif soal berhubungan dengan industri. Sesuai dengan mottonya, ‘Inovasi Mandiri dan Berdampak’, ini menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa UMM sedang bertransformasi menjadi Innovation University,” tegas Arif di hadapan pimpinan dan puluhan peneliti UMM. Menurutnya, transisi menuju Innovation University menuntut institusi pendidikan untuk tidak sekadar berkutat pada penciptaan pengetahuan dasar (basic research) atau membangun advanced lab. Kampus dituntut untuk memperkuat applied research dan industrial engagement. Langkah agresif UMM dinilai sangat tepat guna menjembatani fenomena Valley of Death (lembah kematian riset), sebuah kondisi di mana banyak hasil inovasi kampus layu sebelum berkembang karena gagal diserap oleh kebutuhan riil pasar. Lebih jauh, Arif memaparkan urgensi riset di tengah ancaman krisis iklim, perubahan geopolitik, dan disrupsi teknologi masif seperti Agentic AI dan transisi energi. Merespons hal tersebut, ia secara terbuka mengundang UMM untuk memaksimalkan fasilitas BRIN dan memanfaatkan skema pendanaan bersama . Ia bahkan secara spesifik menantang peneliti UMM untuk menggarap pengolahan critical mineral, seperti rare earth yang terkandung di dalam lumpur Lapindo, mengingat lokasi operasional UMM yang strategis di Jawa Timur. Merespons tantangan dan apresiasi tersebut, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyatakan bahwa Kampus Putih memang tengah mengonsolidasikan seluruh potensinya menjadi sebuah ekosistem Solution Center of Excellence (CoE). Melalui terobosan micro-credential serta keberadaan unit strategis seperti Direktorat Saintek dan PT Hilirisasi Teknologi (PT Hintek), UMM berupaya keras mengawal inovasi mahasiswa dan dosen langsung ke sektor hilir. “Kita ingin mendalami produk yang sudah ada di pasar, memodifikasinya agar kualitasnya lebih baik dan matching dengan kebutuhan industri. Saat ini, fondasi pertumbuhan ekonomi nasional masih rapuh karena sangat didominasi sektor konsumsi,” urai Nazaruddin. Ia juga menekankan, jika perguruan tinggi berani menginisiasi inovasi yang menguatkan sektor riil seperti industri pertanian, UMKM lokal, dan teknologi terapan, kampus dapat menjadi lokomotif penggerak tren ekonomi. “Katakanlah kita dorong dan naikkan 1-2% saja menuju struktur ekonomi investment based yang berbasis riset dan inovasi, bangsa ini pasti akan berubah pesat. Ke sanalah UMM melangkah,” pungkasnya. Kolaborasi strategis antara UMM dan BRIN ini diharapkan menjadi akselerator agar riset tidak lagi sekadar menumpuk di perpustakaan sebagai literatur, melainkan terhilirisasi menjadi solusi ekonomi dan teknologi bagi kemajuan Indonesia.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman