Bedah Kesiapan Karier serta Finansial Mahasiswa

MALANG POSCO MEDIA, MALANG– Sukses masa depan generasi muda tidak lagi hanya bergantung pada deretan nilai akademik. Diperlukan kepiawaian dalam membaca peluang karier serta mengelola literasi finansial sejak dini untuk menghadapi persaingan industri yang kian ketat. Merespons urgensi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan PT Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Paragon menggelar kuliah umum bertajuk “Langkah Emas Generasi Emas”. Acara ini dilangsungkan di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV UMM pada Senin (8/6) kemarin. Selain membedah kesiapan mahasiswa masuk ke dunia kerja, forum ini juga menyoroti pentingnya manajemen keuangan strategis, mulai dari tabungan haji hingga investasi emas. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menegaskan bahwa puncak bonus demografi Indonesia pada tahun 2045 tidak akan memberikan manfaat riil jika tidak diimbangi dengan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Menurut Juanda, tantangan pembangunan ke depan kian kompleks. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk mencetak mahasiswa sebagai agen perubahan yang berintegritas. “Indonesia Emas bukan sesuatu yang hadir secara otomatis. Generasi muda harus mempersiapkan diri sejak hari ini melalui pendidikan, karakter yang kuat, dan kemauan untuk terus belajar. Jika kesempatan besar itu tidak dipersiapkan dengan baik, maka bonus demografi justru bisa berubah menjadi tantangan,” tegas Juanda. Sejalan dengan hal tersebut, Area Manager Malang PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, Waskito Vergino, S.T., MBA., M.Sc., menjabarkan bahwa sinergi antara institusi pendidikan dan sektor industri merupakan katalisator penting untuk mencetak generasi tangkas. Waskito menyebutkan, industri perbankan syariah seperti BSI sangat membutuhkan pasokan SDM yang adaptif terhadap dinamika bisnis. “Indonesia Emas 2045 tidak mungkin tercapai tanpa generasi yang memiliki keterampilan, karakter, dan kemampuan beradaptasi. Karena itu, kami ingin hadir bersama kampus untuk memberikan wawasan serta pengalaman yang dapat menjadi bekal mahasiswa menghadapi dunia kerja,” tutur Waskito. Dari perspektif pengembangan karier, Vice President Islamic Education & Halal Solution BSI, Hikmah Rizka Maslahatin, S.Si., S.I.Kom., M.Si., mengingatkan bahwa di tengah disrupsi teknologi yang melesat cepat, kemampuan akademik semata kini tidak lagi cukup. Hikmah mengajak mahasiswa memaksimalkan masa studi sebagai arena transformasi pribadi, terutama dalam membangun komunikasi dan rekam jejak diri yang solid. “Skill dan pengetahuan itu penting, tetapi saat ini belum cukup. Mahasiswa juga harus memiliki personal branding, kemampuan berkolaborasi, serta kemauan untuk terus belajar. Dunia kerja membutuhkan individu yang siap berkembang, bukan hanya siap bekerja,” jelas Hikmah. (hud/udi)
Mahasiswa Magang Bakti FH UMM Bantu Percepat Pengurusan Wakaf di BPN Kabupaten Malang

MALANG (SurabayaPost.id) – Tujuh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) terlibat langsung dalam proses percepatan pengurusan wakaf di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Malang, Jawa Timur. Mereka melaksanakan program Magang Bakti mulai 28 November 2025 hingga 7 Mei 2026. Program Magang Bakti merupakan mata kuliah wajib 2 SKS yang ditempuh mahasiswa FH UMM semester 6, 7, dan 8. Khusus angkatan 2022, magang dilaksanakan pada pertengahan semester 7 hingga pertengahan semester 8. Program ini diselenggarakan Laboratorium Hukum FH UMM agar mahasiswa mempraktikkan teori yang diperoleh di bangku kuliah. Selama enam bulan magang di BPN Kabupaten Malang yang berlokasi di Jl. Terusan Kawi No. 10, Gading Kasri, Klojen, Kota Malang, mahasiswa didampingi Dosen Pembimbing Magang (DPM) Muhammad Luthfi, S.H., S.Sy., M.H. DPM Muhammad Luthfi mengatakan, Magang Bakti tidak hanya melatih keterampilan teknis mahasiswa, tetapi juga menanamkan nilai pengabdian. Tujuh mahasiswa magang FH UMM melaksanakan program Magang Bakti mulai 28 November 2025 hingga 7 Mei 2026. “Melalui magang ini, mahasiswa belajar langsung dinamika kerja di instansi pemerintah. Mereka tidak sekadar mengarsipkan berkas, tapi ikut memahami urgensinya. Apalagi kali ini mereka terlibat dalam program percepatan wakaf yang manfaatnya langsung dirasakan umat,” ujar Luthfi, Selasa (9/6/2026). Ia menambahkan, mahasiswa dibimbing untuk disiplin, teliti, dan adaptif. “Ketelitian dalam menginput data dan mengarsipkan dokumen pertanahan itu krusial. Salah satu angka atau huruf saja bisa berdampak hukum. Ini yang terus kami tekankan ke mahasiswa,” jelasnya. Magang Bakti di BPN ini bekerja sama dengan Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang dan Kementerian Agama Kabupaten Malang. Mahasiswa dilibatkan langsung dalam program percepatan wakaf yang diselenggarakan BPN bersama Kemenag RI Kabupaten Malang. Panduan Kota & Daerah Tujuh mahasiswa yang bertugas yaitu Arikha Faizatul Khoir, Marshanda Febriane Almayra, Syah Aulia Nadila, Roro Hanindyo Kusumawardani, Helga Desifaputri Suryandani, Zulhan Ahmad Maulana, dan Faisal Harits. Selama magang, mereka membantu pekerjaan administratif seperti menyusun berkas, mengarsipkan dokumen pertanahan, dan menginput data. Mahasiswa juga turut menyiapkan dokumen pelayanan masyarakat, seperti berkas pendaftaran tanah dan sertifikat. Mahasiswa didampingi Dosen Pembimbing Magang Muhammad Luthfi, S.H., S.Sy., M.H. Luthfi menilai keterlibatan mahasiswa cukup signifikan membantu beban kerja BPN. “Proses wakaf butuh kecepatan dan akurasi. Kehadiran mahasiswa Magang Bakti terbukti membantu memperlancar alur administrasi, terutama pada tahapan sortir berkas dan entri data awal,” katanya. Tak hanya teknis, mahasiswa juga belajar alur kerja BPN mulai dari pelayanan masyarakat, pengecekan dokumen, hingga sistem kerja pertanahan. Mereka mendapat arahan langsung dari pegawai mengenai pentingnya ketelitian dalam pengelolaan data. Melalui magang ini, mahasiswa memahami secara langsung tugas dan fungsi BPN dalam mengurus administrasi pertanahan. Pengalaman ini juga melatih kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja. Program magang diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menambah wawasan, pengalaman, serta kesiapan menghadapi dunia kerja setelah lulus. (lil).
Bumitama Agro Gandeng UMM, Buka Jalan Talenta Muda Masuk Industri Sawit Modern

Malang, SAWIT INDONESIA — Industri kelapa sawit tidak lagi hanya membutuhkan tenaga kerja yang memahami budidaya di lapangan. Di tengah percepatan transformasi digital dan tuntutan keberlanjutan, sektor ini kini membutuhkan generasi muda yang menguasai teknologi, inovasi, dan manajemen modern. Menjawab kebutuhan tersebut, PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA) memperkuat kolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bersama Center of Excellence (CoE) Sawit UMM pada 29 Mei 2026. Kerja sama yang berlangsung di Aula BAU UMM itu menjadi langkah strategis BGA dalam membangun ekosistem pengembangan sumber daya manusia yang lebih selaras dengan kebutuhan industri perkebunan masa depan. Tidak hanya menandatangani kesepakatan kerja sama, BGA juga memberikan kuliah tamu bertajuk “Level Up Your Career: Peluang Kerja dan Masa Depan Industri Sawit”. Kegiatan tersebut memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai perkembangan industri sawit modern sekaligus kompetensi yang dibutuhkan untuk bersaing di dunia kerja. Melalui kemitraan ini, BGA dan UMM akan mengembangkan berbagai program kolaboratif, mulai dari magang mahasiswa, rekrutmen tenaga kerja, hingga penyelarasan kurikulum agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Program tersebut akan melibatkan mahasiswa Program Studi Agroteknologi dan Teknik Industri UMM. HC & OSM Director PT Bumitama Gunajaya Agro, Agus Sutrisno, S.P., M.M., menegaskan bahwa perubahan yang terjadi di industri sawit menuntut hadirnya SDM yang adaptif dan mampu mengikuti perkembangan teknologi. “Industri kelapa sawit masa depan sangat bergantung pada efisiensi manajerial dan pembaruan teknologi. Oleh karena itu, kami di dunia industri membutuhkan talenta-talenta unggul dari perguruan tinggi seperti UMM yang siap menghadapi tantangan global dan mampu memberikan solusi teknis yang akurat,” ujar Agus, dikutip dari laman resmi UMM. Menurut Agus, pengembangan SDM menjadi salah satu faktor utama untuk menjaga daya saing industri sawit Indonesia di tengah meningkatnya tuntutan efisiensi operasional dan penerapan teknologi cerdas di sektor perkebunan. “Karena itu, sinergi antara dunia pendidikan dan dunia usaha dinilai semakin penting untuk memperkecil kesenjangan kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri. Mahasiswa tidak hanya memperoleh bekal teori di kampus, tetapi juga pengalaman praktis yang memungkinkan mereka memahami tantangan dan dinamika kerja di lapangan,” jelasnya. Bagi Bumitama Agro, investasi pada pengembangan talenta muda merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk mendukung keberlanjutan industri sawit nasional. Perusahaan meyakini bahwa produktivitas dan inovasi sektor sawit ke depan akan sangat ditentukan oleh kualitas SDM yang mengelolanya. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, M. Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menilai kolaborasi dengan industri menjadi langkah penting dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja dan mampu memberikan kontribusi nyata sejak awal kariernya. “Kerja sama ini adalah bukti nyata komitmen Kampus Putih dalam mendekatkan mahasiswa dengan dunia profesional. Kami ingin lulusan UMM, khususnya jebolan dari CoE Sawit, tidak lagi canggung saat memasuki dunia kerja, melainkan langsung bisa diserap dan memberikan kontribusi riil bagi industri perkebunan nasional,” ujarnya. Kolaborasi BGA dan UMM menunjukkan bahwa penguatan industri sawit tidak hanya dilakukan melalui peningkatan produktivitas kebun, tetapi juga melalui investasi pada generasi muda. Dengan keterlibatan perguruan tinggi dan pelaku usaha, diharapkan lahir lebih banyak talenta profesional yang siap mendorong transformasi, daya saing, dan keberlanjutan industri sawit Indonesia di masa depan.
Fenomena Cuaca Bediding dan Risiko Gangguan Kesehatan

Selain memengaruhi saluran napas, perubahan suhu yang drastis juga melemahkan sistem kekebalan tubuh. Salah satu penyebabnya ialah berkurangnya produksi Extracellular Vesicles (EVs). Tagar.co – Fenomena cuaca bediding yang terjadi belakangan ini meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan. Suhu udara yang lebih rendah mendorong penyebaran virus dan bakteri penyebab penyakit sehingga masyarakat lebih rentan mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), influenza, maupun keluhan pernapasan lainnya. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan cuaca dingin tidak hanya membantu patogen bertahan lebih lama, tetapi juga dapat menurunkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi. Karena itu, masyarakat perlu menjaga daya tahan tubuh agar tetap sehat selama periode bediding berlangsung. Titik Agustiyaningsih menjelaskan bahwa kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan atau ketika suhu udara menurun. Peningkatan itu terjadi karena faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia saling mendukung penularan penyakit. Udara dingin dan kering membuat virus serta bakteri bertahan lebih lama di luar tubuh manusia. Selain itu, kondisi tersebut memudahkan penyebaran mikroorganisme melalui partikel udara. “Angka kejadian ISPA dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan atau ketika suhu udara menurun karena ada kombinasi faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia yang saling mendukung terjadinya penularan,” ujarnya , kepada Redaksi Tagar.co Senin (8/6/2026). Saluran Pernapasan Sangat Sensitif terhadap Perubahan Suhu Saluran pernapasan memiliki mekanisme pertahanan yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Saat seseorang menghirup udara dingin dan kering secara mendadak, tubuh segera memberikan respons. Tubuh menyempitkan saluran napas, meningkatkan produksi lendir, dan memperlambat kerja silia. Silia merupakan rambut getar yang bertugas membersihkan kotoran serta mikroorganisme dari saluran pernapasan. Penelitian yang dilakukan mahasiswa Farmasi UMM (Tagar.co/Humas UMM) Akibatnya, proses pembersihan alami tubuh menjadi kurang efektif. Kondisi tersebut meningkatkan peluang virus dan bakteri memasuki saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat lebih rentan mengalami batuk, pilek, radang tenggorokan, maupun sesak napas ketika suhu udara menurun. Selain memengaruhi saluran napas, perubahan suhu yang drastis juga melemahkan sistem kekebalan tubuh. Salah satu penyebabnya ialah berkurangnya produksi extracellular vesicles (EVs). Komponen ini berfungsi sebagai pertahanan alami dalam rongga hidung untuk menangkap dan melawan virus. Di sisi lain, penyempitan pembuluh darah pada area hidung mengurangi distribusi sel imun ke saluran pernapasan. “Ketika suhu udara turun drastis, tubuh sebenarnya sedang berusaha mempertahankan suhu inti agar tetap stabil. Namun, proses itu dapat melemahkan pertahanan lokal di saluran pernapasan sehingga virus lebih mudah berkembang,” katanya. Menurut Titik, beberapa virus pernapasan justru berkembang lebih optimal pada suhu rendah. Salah satunya ialah rhinovirus yang menjadi penyebab flu biasa. Masyarakat Perlu Menjaga Hidrasi dan Daya Tahan Tubuh Masyarakat perlu menjaga hidrasi dan daya tahan tubuh selama cuaca dingin berlangsung. Titik mengingatkan agar masyarakat tidak langsung menganggap semua gejala pilek sebagai ISPA. Menurutnya, alergi dingin memiliki karakteristik yang berbeda dengan infeksi saluran pernapasan. Alergi dingin biasanya ditandai bersin berulang, hidung gatal, serta mata berair. Gejala tersebut muncul saat seseorang terpapar udara dingin dan mereda ketika suhu menghangat. Sebaliknya, demam menjadi salah satu tanda yang lebih mengarah pada infeksi saluran pernapasan. Lebih lanjut, Titik menilai penggunaan jaket saja belum cukup untuk mencegah gangguan kesehatan saat cuaca dingin. Masyarakat juga perlu memenuhi kebutuhan cairan dengan mengonsumsi minuman hangat. Selain itu, asupan vitamin A, vitamin D, dan lemak sehat yang mengandung omega-3 penting untuk mendukung fungsi sistem imun. Ia menambahkan bahwa beberapa kelompok perlu meningkatkan kewaspadaan. Kelompok tersebut meliputi lansia, anak-anak, perokok aktif, penderita sinusitis kronis, dan pekerja yang berada di ruangan berpendingin udara dalam waktu lama. “Memakai jaket memang penting untuk melindungi tubuh dari udara dingin. Namun, menjaga hidrasi, nutrisi, dan daya tahan tubuh jauh lebih penting karena pertahanan utama terhadap penyakit sebenarnya berasal dari dalam tubuh,” ujarnya. (#)
Kepaten Obor Tembus Dua Benua: Karya Sineas UMM Terpilih IWAFF di Perth, Tayang di AS

MALANG POST – Karya sineas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menembus kancah perfilman internasional. Film berjudul “Kepaten Obor” garapan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., sukses tayang di bioskop Australia. Selain itu juga sudah mengudara di Washington DC, Amerika Serikat pada 8 Juni 2026. Capaian ini menjadi bukti nyata kapasitas sivitas akademika UMM, sekaligus wadah unjuk gigi di industri kreatif global tanpa meninggalkan identitas budaya lokal. Novin menjelaskan bahwa karya sinemanya berhasil terpilih dalam ajang bergengsi Indonesia Western Australia Film Festival (IWAFF) di Perth. Dalam festival tahunan tersebut, “Kepaten Obor” diputar di sejumlah bioskop selama sepekan penuh dan mendapatkan antusiasme yang sangat tinggi dari para penonton. “Alhamdulillah tiketnya sold out semua dan tembus ribuan penonton. Selanjutnya, atas undangan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat, film ini juga terpilih untuk ditayangkan di Euro Asia Shorts 2026, sebuah Festival Film di Washington DC,” ungkap Novin. Mengangkat pesona budaya masyarakat Tengger, Jawa Timur, film ini menyoroti konflik emosional ibu dan anak yang dibalut filosofi Jawa tentang menjaga tali silaturahmi. Novin menambahkan bahwa produksi film yang digarap sejak 2024 ini bukan sekadar proyek personal, melainkan laboratorium praktik komprehensif yang secara khusus melibatkan 95 persen mahasiswa dan alumni Ilmu Komunikasi UMM. “Mahasiswa saya ajak belajar bersama. Mereka terlibat langsung mulai dari proses produksi sampai pasca produksi, menjadikan proyek ini ruang belajar riil bagi mereka di lapangan,” jelasnya. Kualitas “Kepaten Obor” semakin terbukti lewat deretan prestasi domestik, seperti Juara 1 Kompetisi Film Asli Jawa Timur (Komfilasi), nominasi penghargaan AKTIF Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, hingga lolos seleksi Klik Film Festival. Novin menegaskan bahwa kunci keberhasilan sebuah karya sinema tidak hanya bergantung pada kualitas produksi, melainkan strategi distribusinya yang harus dirancang matang sejak awal, seperti penyediaan subtitle bahasa Inggris agar mampu menjangkau audiens secara luas. “Film jangan hanya selesai diproduksi lalu disimpan saja. Film harus didistribusikan dan diperluas jaringannya supaya bisa dinikmati lebih banyak orang,” tegasnya. Keberhasilan penayangan hingga Benua Amerika dan Australia ini diharapkan menjadi katalisator semangat bagi sivitas akademika. Sebagai penutup, Novin berpesan kepada mahasiswa dan generasi muda yang terjun ke dunia perfilman untuk terus memperkaya literasi dan mengasah kepekaan sosial. Memahami realitas kehidupan adalah modal fundamental untuk melahirkan karya sinema yang memiliki ruh, pesan kuat, serta relevansi luas bagi masyarakat. “Semakin banyak referensi yang dimiliki, maka semakin bagus film yang dihasilkan,” pungkasnya. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Kuliah Sabtu Subuh, Guru Besar UMM Ajak Mahasiswa Recharge Energi Spiritual di Tengah Kesibukan

KLIKMU.CO – Semangat membangun karakter religius mahasiswa terus diperkuat oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Kuliah Sabtu Subuh yang rutin diselenggarakan oleh Bagian Pendidikan dan Pengajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK). Kegiatan ini merupakan bagian dari praktikum Mata Kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) II atau Ibadah dan Muamalah yang diikuti mahasiswa semester dua. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (6/6/2026) ini dimulai sejak pukul 03.00 WIB. Mahasiswa melakukan proses check-in dan mendapat imbauan dari panitia untuk memanfaatkan waktu menjelang Subuh dengan qiyamul lail. Setelah itu, peserta melaksanakan salat Subuh berjamaah yang dilanjutkan dengan kajian keislaman bertema “Energi Positif dari Ibadah: Charger Spiritual di Tengah Kesibukan Mahasiswa”. Hadir sebagai narasumber, Prof Dr Syamsul Arifin MSi, Guru Besar Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus Wakil Direktur I Pascasarjana UMM. Dalam pengantar kajiannya, Prof Syamsul mengajak mahasiswa merefleksikan kembali makna ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Prof Syamsul membuka dialog dengan pertanyaan sederhana, “Kuliah, datang ke kampus, dan berdiskusi di kelas, apakah itu ibadah atau bukan ibadah?” Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk menyegarkan kembali pemahaman mahasiswa tentang konsep ibadah. Berdasarkan survei persepsi yang disampaikan dalam kajian, sebagian besar mahasiswa mengaku kesibukan kuliah dan organisasi menjadi alasan utama berkurangnya intensitas ibadah mereka. Melalui tema recharge spiritual di tengah kesibukan mahasiswa, Syamsul Arifin mengajak peserta melihat kesamaan kondisi manusia dengan baterai gawai yang kehabisan daya. Tanda-tandanya antara lain mudah lelah, stres, overthinking, kehilangan semangat, hingga merasa haus akan validasi dari orang lain. Dalam pemaparannya, ia mengutip gagasan dari buku The Power of Full Engagement yang menggambarkan kehidupan manusia modern saat ini. Kita hidup di era digital dengan ritme serba cepat, padat, dan tanpa jeda. Kita lebih sering merayakan keluasan daripada kedalaman, reaksi cepat daripada refleksi yang matang. Kita bergerak dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa sempat merenungkan siapa diri kita sebenarnya dan ke mana tujuan hidup kita. Kita terhubung dengan banyak hal, tetapi pada saat yang sama mengalami kelelahan batin. Menurut Syamsul, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mengisi ulang energi spiritual agar manusia tidak kehilangan arah di tengah padatnya aktivitas akademik dan sosial. Tiga Modal Meraih Kesuksesan Sejati Dalam kajian tersebut, Syamsul menjelaskan bahwa kesuksesan sejati dibangun di atas tiga modal utama, yaitu modal spiritual, modal sosial, dan modal material. Modal spiritual menjadi fondasi utama yang memberikan makna terhadap kehidupan. Dalam perspektif sosiologi, setiap tindakan manusia selalu didorong oleh makna yang diyakini. Makna tersebut menjadi sumber motivasi dan arah dalam menjalani kehidupan. Seseorang yang memiliki spiritual capital yang kuat akan lebih mudah menemukan tujuan hidup dan bertahan menghadapi berbagai tantangan. Selanjutnya, modal sosial berupa jaringan relasi, kepercayaan, kolaborasi, serta kemampuan membangun hubungan yang baik dengan sesama. Modal ini memungkinkan seseorang berkembang melalui dukungan lingkungan yang sehat dan produktif. Adapun modal material merupakan sumber daya yang membantu manusia menjalankan aktivitas kehidupan. Namun demikian, modal ini akan kehilangan arah apabila tidak ditopang oleh modal spiritual dan sosial yang kuat. Ibadah sebagai Sumber Energi Kehidupan “Ibadah itu adalah satu konsep yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridai Allah SWT, baik berupa perbuatan maupun perkataan, yang tampak maupun yang tersembunyi dalam batin,” jelas Guru Besar Bidang Pendidikan Agama Islam UMM itu. Menurut pandangan Tarjih Muhammadiyah, inti ibadah adalah bertaqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah dengan menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan mengamalkan segala hal yang dicintai-Nya. Syamsul menegaskan bahwa ibadah bukan sekadar ritual, melainkan sumber energi positif yang berdampak pada kesehatan mental dan spiritual manusia. Pertama, ibadah berfungsi sebagai relaxing atau sarana relaksasi. Melalui ibadah, hati yang gelisah menjadi lebih tenang, pikiran yang penat memperoleh ruang untuk beristirahat, dan jiwa yang terbebani menemukan ketenteraman. Kedua, ibadah berfungsi sebagai recharging, yaitu mengisi ulang energi kehidupan. Sebagaimana gawai membutuhkan pengisian daya, manusia juga membutuhkan pengisian energi spiritual agar tidak mengalami “lowbat” secara mental maupun emosional. Salat, zikir, tilawah, dan berbagai bentuk ibadah lainnya menjadi sarana memperbarui semangat, optimisme, dan kekuatan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Ketiga, ibadah menghadirkan mindfulness atau kesadaran penuh terhadap kehadiran Allah. Dalam konteks ini, Syamsul mengutip syair Ibnu Arabi: “Betapa banyak pelaku salat tidak mendapati apa pun dari salatnya selain melihat mihrab, capek, dan lelah saja. Tetapi ada orang yang berhasil melakukan munajat, meskipun dia sudah melakukan salat dan tidak melupakan salat nafilah.” Syair tersebut mengandung pesan bahwa kualitas ibadah tidak hanya ditentukan oleh gerakan fisik, tetapi juga kehadiran hati. Ada orang yang menjalankan salat sekadar menggugurkan kewajiban, namun ada pula yang menjadikannya ruang dialog dan munajat yang intim dengan Allah SWT. “Sering kali tubuh kita berada di tempat salat, tetapi pikiran kita berada di mana-mana. Padahal hakikat ibadah adalah menghadirkan seluruh diri kita di hadapan Allah,” ungkapnya. Menjadikan Seluruh Aktivitas Bernilai Ibadah Menutup kajian, Prof Syamsul mengajak mahasiswa memperluas pemahaman tentang ibadah agar tidak terbatas pada ritual semata. “Niatkan seluruh aktivitas yang kita lakukan sebagai ibadah. Suatu aktivitas akan bernilai ibadah apabila dilandasi ikhlas semata-mata karena Allah, dilakukan dengan ihsan yang menghadirkan kebaikan, serta dikerjakan dengan itqan, yaitu penuh kesungguhan dan tanggung jawab,” pesannya. Melalui kegiatan Kuliah Sabtu Subuh ini, UMM terus berupaya menanamkan kesadaran bahwa kesuksesan akademik perlu berjalan seiring dengan penguatan spiritual. Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan dan organisasi, ibadah menjadi sumber energi positif yang menjaga keseimbangan hidup mahasiswa, sekaligus menjadi charger spiritual untuk terus bertumbuh sebagai insan berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.
Mahasiswa UMM Ajak Masyarakat Peduli Lansia Melalui Cinema of Care

pwmu.co – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam kelompok Kata Kasa Media berkolaborasi dengan Komunitas Bab Satu Production menggelar kegiatan bertajuk Cinema of Care di Yayasan Pelayanan Kasih Bethesda, Senin (8/6/2026).Kegiatan ini memadukan penayangan film dan aktivitas menanam bunga sukulen sebagai bentuk kepedulian terhadap para lanjut usia (lansia) yang tinggal di panti jompo. Melalui pendekatan kreatif tersebut, mahasiswa berupaya menghadirkan ruang interaksi yang hangat sekaligus membangun kesadaran sosial mengenai pentingnya perhatian terhadap lansia. Dalam kegiatan tersebut, peserta menyaksikan film berjudul Manusia Tanpa Sebutan karya sutradara Haidar Ego Baaqir. Film ini mengangkat isu grief atau kehilangan yang dinilai relevan dengan kondisi sebagian penghuni panti. Tema tersebut dipilih karena banyak lansia yang mengalami kesepian, kehilangan anggota keluarga, atau memiliki keterbatasan interaksi dengan lingkungan luar. Koordinator acara, M Zidan Paradise, menjelaskan bahwa Cinema of Care tidak sekadar menghadirkan hiburan melalui film, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kedekatan emosional bersama para penghuni panti. “Film Manusia Tanpa Sebutan mengangkat isu grief yang dekat dengan realitas sebagian penghuni panti. Karena itu, kami tidak hanya menghadirkan penayangan film, tetapi juga kegiatan yang menyasar para lansia yang sudah lama tidak bersentuhan langsung dengan dunia luar. Kami ingin tetap hadir dan menunjukkan kepedulian dengan cara menghibur mereka,” ujarnya. Menurut Zidan, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu kehilangan yang kerap luput dari perhatian publik. Ia menilai bahwa kisah orang-orang yang kehilangan anggota keluarga, terutama anak, masih jarang mendapatkan sorotan dan empati yang memadai dari masyarakat. Melalui Cinema of Care, penyelenggara berharap masyarakat dapat lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitar mereka, khususnya para lansia yang membutuhkan perhatian, dukungan, dan kasih sayang. “Harapan kami, anak-anak muda saat ini bisa lebih aware terhadap orang tua yang kehilangan seorang anak. Kepedulian tidak harus selalu diwujudkan dalam hal besar, tetapi bisa dimulai dari perhatian dan waktu yang diberikan kepada keluarga,” tambahnya. Selain penayangan film, para peserta juga diajak mengikuti kegiatan menanam bunga sukulen bersama para penghuni panti. Aktivitas sederhana tersebut menjadi sarana membangun interaksi yang lebih dekat sekaligus memberikan pengalaman positif bagi para lansia. Kegiatan Cinema of Care menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM dalam memanfaatkan media film sebagai sarana edukasi sosial dan penguatan nilai kemanusiaan. Melalui perpaduan antara film dan kegiatan sosial, mahasiswa berharap dapat menumbuhkan kesadaran bahwa kepedulian terhadap sesama, terutama lansia, merupakan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana.
Cuci Singkong Semi Mekanis
FAKULTAS HUKUM UMM: Pelaksanaan Program Magang Mandiri di Kantor Advokat Oscar Lud Hardian, S.H. and Partners

Malang, JurnalPost.com – Senin 8/06/2026, selama bertahun-tahun Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang memberikan mandat kepada Laboratorium Hukum Fakultas Hukum UMM sebagai penyelenggara Program Magang Mandiri sebagai wadah bagi para mahasiswa untuk menguasai pengetahuan hukum praktis. Program ini berjalan seiring dengan tuntutan masyarakat terhadap Pendidikan Tinggi Hukum di Indonesia yang semula mengacu kepada Status Social Oriented menjadi Professionalism Oriented. Kondisi tersebut membawa konsekuensi logis terhadap proses Pendidikan Tinggi Hukum untuk mengakomodasi tuntutan masyarakat saat ini. Oleh sebab itu, Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang menjadi salah satu Perguruan Tinggi yang memegang tanggung jawab besar untuk terus berupaya sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mewujudkan proses Pendidikan Hukum yang berorientasi pada Professionalism education dengan memfasilitasi mahasiswa untuk mengenal lingkungan apa yang akan dihadapi setelah lulus nanti serta berbaur dan mengabdi kepada masyarakat. Sebagai salah satu dari bagian program ini, kami sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang memilih salah satu Kantor Advokat yaitu Oscar Lud Hardian, S.H. and Partners. Keputusan ini kami sepakati dikarenakan instansi ini berpeluang menciptakan kesadaran mengenai hukum praktis melalui metode pembelajaran Professionalism Oriented yang dimana kami diberikan kepercayaan oleh Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang dan juga Bapak Oscar Lud Hardian, S.H. langsung sebagai Advokat/Penasehat Hukum di kantor tersebut untuk mempelajari bagaimana teori yang kami dapatkan di bangku perkuliahan berjalan melalui praktik langsung di lapangan. Program Magang Mandiri ini dilaksanakan secara berkelompok dengan kami yang terdiri dari tiga mahasiswa, yaitu Nanda Rizky Ramadhan sebagai koordinator kelompok, Ananda Dewangga Augustino Setyawan, Dilva Ardani Andika Putra, serta Prima Raka Siwi sebagai anggota. Dibalik itu, kami dibimbing oleh bapak Syariful Alam, S.H.I, M.H.I sebagai Dosen Pembimbing Magang dan Bapak Oscar Lud Hardian, S.H. yang bertindak sebagai Dosen Pembimbing Lapangan. Proses magang ini berlangsung selama empat bulan, alih-alih magang dengan waktu yang relatif singkat kami justru mendapatkan pengalaman yang dirasa dapat kami bawa hingga ke dunia kerja nanti. Mulai dari pembuatan Surat Kuasa sebagai senjata utama para Advokat dalam hukum acara, kami juga mendapatkan ilmu dari Bapak Oscar bagaimana cara membuat dokumen penting lainnya dalam beracara seperti gugatan, kesepakatan perdamaian, hingga memori kasasi. Tidak hanya ilmu hukum praktis, beliau juga mengajarkan dan menekankan kepada kami tentang kedisiplinan, etika, dan profesionalitas sebagai bekal untuk kami dalam menghadapi dunia kerja setelah kami lulus. Mengikuti Persidangan Agenda Pembuktian di Pengadilan Negeri Pasuruan Selain itu, kami juga beberapa kali diajak oleh beliau untuk turut serta mendampingi kemanapun beliau dalam beracara, entah itu untuk bertemu klien, hingga beracara di persidangan. Kesempatan emas ini kami manfaatkan sebaik mungkin selama proses pelaksanaan program ini berlangsung untuk mengetahui sejauh mana hukum tertulis berlaku di masyarakat. Di akhir pelaksanaan program magang mandiri ini, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang dan juga Kantor Advokat Oscar Lud Hardian, S.H. and Partners karena telah memberikan kepercayaan dan kesempatan dalam memfasilitasi kami selama program ini berlangsung. Dengan ini, kami harap mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang tidak hanya menguasai teori ilmu hukum saja, akan tetapi dapat memenuhi tuntutan masyarakat melalui metode pembelajaran Professionalism Oriented yang nantinya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dengan terjun secara langsung di lapangan serta mendukung proses mereka dalam meniti karir profesional mereka di masa depan.
Cuaca ‘Bediding’ Intai Kesehatan, Kasus ISPA Berpotensi Melonjak