Mahasiswa UMM Juara Nasional Berkat Inovasi Mesin Pencuci Singkong untuk UMKM

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim mahasiswa Program Studi Teknik Mesin UMM berhasil meraih juara nasional dalam kompetisi inovasi teknologi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Program Studi Teknik Mesin Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (APSTM-PT). Tim yang diketuai Nova Sinanti bersama Azka Firosyan Samana Putra dan Raihan Rosyadi sukses memikat dewan juri melalui karya inovatif berupa Mesin Pencuci Singkong Semi Mekanis Berbasis Drum Spray dan Water Recirculation yang dirancang untuk membantu meningkatkan produktivitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kompetisi tingkat nasional tersebut mempertemukan 15 tim terbaik dari berbagai Program Studi Teknik Mesin PTMA se-Indonesia. Dalam persaingan yang ketat, tim UMM berhasil unggul berkat solusi teknologi yang dinilai aplikatif, efisien, dan mampu menjawab kebutuhan industri pengolahan pangan skala UMKM. Ketua tim, Nova Sinanti, menjelaskan bahwa mesin yang mereka kembangkan dirancang untuk mengatasi lamanya proses pencucian singkong yang selama ini masih dilakukan secara manual. “Mesin yang kami rancang mampu memangkas waktu pencucian 500 kilogram singkong dari yang awalnya membutuhkan empat hingga tujuh jam menjadi hanya sekitar satu jam saja. Kami juga menambahkan fitur drum spray dan sistem sirkulasi air yang terintegrasi dengan sediment trap sehingga penggunaan air menjadi lebih hemat dan kotoran tidak bercampur kembali dengan singkong,” jelas Nova. Selain meningkatkan efisiensi waktu produksi, inovasi tersebut juga mampu menjaga kualitas bahan baku. Sistem sirkulasi air yang diterapkan berfungsi sebagai bantalan air sehingga proses pembersihan dapat mengelupas kulit singkong tanpa merusak bagian dagingnya. “Dengan hasil pencucian yang lebih maksimal, pelaku UMKM dapat menghasilkan produk keripik dengan warna yang lebih cerah serta cita rasa yang lebih baik karena terbebas dari sisa getah maupun pasir,” tambahnya. Keunggulan lain dari mesin ini terletak pada penggunaan sistem ulir untuk mengarahkan bahan baku selama proses pencucian dan perangkap sedimen yang secara otomatis memisahkan kotoran dari air yang digunakan. Dosen pendamping tim, Dr. Ir. Yepy Komaril Sofi’i, S.T., M.T., mengapresiasi kerja keras dan dedikasi mahasiswa selama proses pengembangan inovasi tersebut. Ia berharap hasil karya tersebut tidak berhenti sebagai prototipe kompetisi, tetapi dapat segera diproduksi dan dimanfaatkan oleh masyarakat. “Inovasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UMM mampu menerjemahkan ilmu teknik menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Kami berharap mesin pencuci singkong ini dapat segera difabrikasi dan digunakan oleh pelaku UMKM sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung,” ujarnya. Keberhasilan ini sekaligus menjadi bukti komitmen UMM dalam mendorong lahirnya inovasi teknologi yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pengembangan sektor usaha masyarakat dan ketahanan ekonomi lokal. (raf)
UMM, BSI, dan Paragon Bekali Mahasiswa Personal Branding hingga Investasi

www.majelistabligh.id – Kesuksesan di masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh deretan nilai akademik di atas kertas. Kemampuan membaca peluang karier serta kecakapan mengelola finansial kini menjadi kunci utama. Merespons tantangan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan PT Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Paragon menggelar kuliah umum bertajuk “Langkah Emas Generasi Emas”. Acara yang berlangsung di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV UMM pada Senin (8/6/2026) ini membedah kesiapan mahasiswa dalam menghadapi persaingan industri. Tidak hanya itu, para peserta juga dibekali urgensi manajemen keuangan strategis, mulai dari perencanaan tabungan haji hingga investasi emas sejak dini. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menegaskan bahwa puncak bonus demografi Indonesia pada 2045 tidak akan memberikan dampak positif jika tidak diimbangi dengan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Mengingat tantangan pembangunan ke depan kian kompleks, perguruan tinggi memikul tanggung jawab moral untuk mencetak agen perubahan yang berintegritas. “Indonesia Emas bukan sesuatu yang hadir secara otomatis. Generasi muda harus mempersiapkan diri sejak hari ini melalui pendidikan, karakter yang kuat, dan kemauan untuk terus belajar. Jika kesempatan besar itu tidak dipersiapkan dengan baik, bonus demografi justru bisa berbalik menjadi tantangan,” tegas Juanda. Sejalan dengan visi tersebut, Area Manager Malang PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, Waskito Vergino, S.T., MBA., M.Sc., menjabarkan bahwa sinergi antara institusi pendidikan dan sektor industri merupakan katalisator penting untuk melahirkan generasi tangkas. BSI sendiri, menurutnya, sangat membutuhkan pasokan SDM yang adaptif terhadap dinamika bisnis modern. “Indonesia Emas 2045 tidak mungkin tercapai tanpa generasi yang memiliki keterampilan, karakter, dan kelenturan dalam beradaptasi. Karena itu, kami hadir di kampus untuk memberikan wawasan serta pengalaman nyata sebagai bekal mahasiswa menghadapi dunia kerja,” tutur Waskito. Lebih dari Sekadar Siap Kerja Dari perspektif pengembangan karier, Vice President Islamic Education & Halal Solution BSI, Hikmah Rizka Maslahatin, S.Si., S.I.Kom., M.Si., mengajak mahasiswa memaksimalkan masa studi sebagai arena transformasi diri. Di tengah derasnya disrupsi teknologi, keunggulan akademis semata dinilai tidak lagi cukup jika tidak dibarengi dengan komunikasi yang kuat dan rekam jejak (personal branding) yang solid. “Skill dan pengetahuan itu penting, tetapi saat ini belum cukup. Mahasiswa juga harus memiliki personal branding, kemampuan berkolaborasi, serta mentalitas pembelajar. Dunia kerja saat ini mencari individu yang siap berkembang, bukan hanya siap bekerja,” jelas Hikmah. (*/tim)
Edukasi “Zero Waste Challenge”, Mahasiswa HI UMM Ajak Pelajar SMAN 10 Malang Kurangi Sampah Plastik

MALANG, PIJARNEWS.ID – Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menginisiasi sebuah gerakan edukasi lingkungan bertajuk Zero Waste Challenge di SMA Negeri 10 Malang pada Jumat (24/4/2026). Inisiatif ini digulirkan sebagai langkah strategis guna mendorong transformasi perilaku pelajar agar mulai meminimalisasi ketergantungan pada plastik sekali pakai di area institusi pendidikan. Aksi turun langsung ke sekolah ini merupakan bentuk implementasi dari praktikum mata kuliah Politik Lingkungan. Gagasan ini dilatarbelakangi oleh kian memprihatinkannya volume timbulan sampah harian, di mana plastik sekali pakai seolah menjadi barang yang sulit dilepaskan dari rutinitas pelajar. Koordinator kegiatan, Dina Ilfi Diyanati, menegaskan bahwa pendekatan program ini tidak hanya sebatas teori, melainkan ditekankan pada aksi nyata di lapangan. “Kami ingin membiasakan hal-hal sederhana, seperti membawa botol minum dan wadah makan sendiri, supaya bisa dilakukan secara konsisten oleh siswa,” jelasnya. Rangkaian agenda yang bergulir sejak pukul 07.30 WIB tersebut diawali dengan sambutan hangat dari pihak sekolah. Setelah itu, para pelajar disuguhi pemahaman komprehensif mengenai problematika lingkungan dan korelasinya dengan dinamika global, tak terkecuali krisis perubahan iklim dan pencemaran. Edukasi ini menitikberatkan pada pembangunan kesadaran bahwa urusan tata kelola limbah bukan semata kewenangan sekolah, melainkan tanggung jawab setiap individu. Guna membumikan pemahaman tersebut, panitia mahasiswa turut menggelar simulasi interaktif tata cara pemilahan sampah organik dan anorganik. Melalui metode partisipatif ini, siswa diharapkan mampu menyerap materi secara optimal untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menariknya, di sela-sela kampanye hijau ini, mahasiswa juga menyempatkan diri untuk menyosialisasikan Program Studi Hubungan Internasional UMM. Mereka menyoroti salah satu profil unggulan lulusannya, yakni karakter aktivisme global yang didorong untuk proaktif mengambil peran dalam menyelesaikan problematika dunia, termasuk isu ekologi. Mahasiswa sedang menyosialisasikan Prodi Hubungan Internasional UMM. Pihak SMAN 10 Malang merespons positif kolaborasi edukatif ini. Dalam sambutannya, perwakilan guru mengajak seluruh peserta didik untuk menanamkan kepekaan ekologis sejak dini dan mulai mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan. Pada akhirnya, gelaran Zero Waste Challenge ini tidak hanya menjadi ajang pemenuhan tugas akademik bagi para mahasiswa, tetapi juga wujud kontribusi nyata dalam memupuk kepedulian lingkungan pada generasi muda demi mewujudkan kawasan sekolah yang bersih dan bebas dari sampah plastik.
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Raih Prestasi Nasional, Ini Karyanya

MAKLUMAT – Mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencatatkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Tim yang diketuai Nova Sinanti menciptakan karya inovatif berupa mesin pencuci singkong semi mekanis berbasis drum spray dan water recirculation. Pengumuman kemenangan membanggakan ini secara resmi dilangsungkan pada hari Senin (18/5/2026). Prestasi ini menjadi bukti bahwa inovasi mahasiswa UMM mampu memberikan solusi aplikatif bagi masyarakat. Ajang perlombaan bergengsi ini diselenggarakan Asosiasi Program Studi Teknik Mesin – Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (APSTM-PT). Kompetisi ini menjadi wadah adu gagasan yang diikuti para mahasiswa aktif dari Program Studi Teknik Mesin PTMA se-Indonesia. Persaingan di babak final berjalan sangat ketat, karena mempertandingkan 15 tim unggulan. Di mana masing-masing kelompok terdiri atas tiga hingga lima mahasiswa. Tim delegasi UMM yang beranggotakan Nova Sinanti, Azka Firosyan Samana Putra, dan Raihan Rosyadi tampil memukau. Para juri menilai rancangan mesin ketiga mahsiswa UMM ini sangat solutif dan tepat guna. Keunggulan utama dari inovasi buatan mahasiswa UMM ini terletak pada kombinasi teknologi efisiensi dan kapasitasnya yang besar. Nova Sinanti menjelaskan bahwa rancangan mesin semi mekanis ini diprioritaskan bagi pelaku UMKM. “Tujuannya untuk memangkas waktu produksi secara drastis bagi pelaku UMKM yang selama ini sangat bergantung pada pencucian manual,” ujarnya. Nova menerangkan bahwa alat tersebut dilengkapi sistem ulir untuk mengarahkan bahan baku serta perangkap sedimen untuk memisahkan kotoran secara otomatis. “Mesin yang kami rancang mampu memangkas waktu pencucian 500 kilogram singkong. Sebelumnya butuh empat hingga tujuh jam menjadi hanya sekitar satu jam saja,” lanjutnya. Ketiga mahasiswa ini menambahkan fitur drum spray dan sirkulasi air yang terintegrasi dengan sediment trap. Dengan demikian, pemakaian air jauh lebih hemat dan kotoran tidak bercampur kembali dengan singkong. Selain memangkas beban kerja, alat pembersih ini diyakini mampu menjaga stabilitas mutu bahan baku yang sangat krusial. “Teknologi air sengaja kami desain sedemikian rupa agar tidak merusak tekstur daging singkong,” lanjutnya menjelaskan. Penggunaan sistem sirkulasi pada alat ini berperan layaknya bantalan air. Skema ini memudahkan kulit singkong terkelupas dan bersih tanpa melukai dagingnya. “Dengan hasil pencucian yang maksimal, UMKM bisa memproduksi keripik dengan warna yang lebih cerah dan rasa yang tidak pahit akibat sisa getah atau pasir,” pungkasnya.
Dari Deteksi Anemia hingga Kedaulatan Energi, Gebrakan 4 Guru Besar Baru UMM Hadirkan Manfaat untuk Masyarakat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mengukuhkan empat Guru Besar baru di Aula GKB 4 Lantai 9 Kampus III UMM pada Kamis, 11 Juni 2026. Pengukuhan ini menjadi langkah strategis Kampus Putih dalam memperluas hilirisasi riset multidisiplin, sekaligus mempertegas komitmen berkelanjutan universitas dalam menghasilkan inovasi aplikatif yang solutif bagi kemaslahatan masyarakat luas serta kemandirian bangsa. Pada sesi orasi ilmiah pertama, Prof. Dr. Ir. Sulianto, M.T. memaparkan hasil riset mendalamnya mengenai model pengelolaan sumber daya air berkelanjutan untuk menghadapi ancaman krisis lingkungan global. Ia menyampaikan bahwa metode estimasi hidrologi yang presisi menggunakan data historis sangat krusial dalam menjaga stabilitas ketahanan air nasional demi mendukung kemandirian sebuah negara. “Topik ini sangat relevan dengan upaya memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui pemenuhan ketahanan air jangka panjang secara merata,” jelas Sulianto. Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T. di bidang Rekayasa Biomedis memperkenalkan sebuah terobosan teknologi deteksi dini gejala anemia non-invasif tanpa menggunakan jarum suntik. Ia menjelaskan bahwa inovasi mutakhir tersebut memanfaatkan kamera ponsel pintar untuk memotret konjungtiva mata pasien yang kemudian langsung dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan secara instan. “Sinergi komputasi cerdas ini mampu mengeluarkan estimasi indikasi anemia hanya dalam hitungan dua hingga empat detik saja, sebuah lompatan efisiensi yang luar biasa jika dibandingkan dengan pengujian laboratorium konvensional,” tegas Lailis. Sementara itu, Prof. Dr. Machmud Effendy, M.Eng. menyoroti urgensi transisi energi nasional melalui optimalisasi sistem pembangkit berbasis energi terbarukan guna mencapai kedaulatan energi yang mandiri. Ia memaparkan bahwa ketergantungan yang terlampau tinggi terhadap pasokan energi fosil konvensional akan memicu penurunan cadangan energi global serta mengancam kesetabilan ekonomi makro nasional. “Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil tidak hanya menyebabkan cadangan energi terus menurun, tetapi juga menjadi tantangan serius bagi kedaulatan energi nasional Indonesia di masa depan,” ungkap Machmud. Selanjutnya, Prof. Ir. Henik Sukorini, MP, Ph.D, IPM. dari bidang Fitopatologi menekankan pentingnya beralih ke sistem pengendalian hayati demi memulihkan kerusakan tanah tropis akibat paparan zat kimia pertanian yang berlebihan. Ia memperingatkan bahwa ketergantungan akut petani terhadap pestisida sintetis telah merusak mikroorganisme tanah dan mengancam keamanan pangan jangka panjang. “Pengendalian hayati merupakan langkah penyelamatan darurat (emergency exit) yang harus segera diambil oleh seluruh pihak untuk memulihkan tanah tropis kita yang saat ini sedang mengalami degradasi parah,” pungkas Henik. Sementara itu, Rektor UMM menegaskan bahwa penambahan profesor baru ini merupakan momentum penting untuk memperkuat peran universitas sebagai pusat keunggulan akademik yang berdampak nyata bagi peradaban. “Keempat orasi ilmiah yang disampaikan hari ini tidak hanya meneguhkan kedudukan akademik para profesor, tetapi juga mempertegas komitmen UMM dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat, bangsa, dan peradaban,” ujar Rektor. Acara pengukuhan akbar ini diharapkan tidak sekadar menjadi agenda seremonial akademik tahunan di lingkungan kampus. Kehadiran para pakar baru di puncak karier akademisnya harus menjadi pemantik semangat bagi seluruh sivitas akademika UMM untuk terus menghidupkan ekosistem riset yang membumi. Implementasi nyata dari setiap inovasi lintas disiplin ilmu tersebut menjadi kunci utama untuk menjawab tantangan zaman dan membawa dampak positif bagi kemandirian bangsa yang berkemajuan.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Lebih dari 6.000 Peserta Ikuti Fun Tahes, Rector Cup UMM 2026 Resmi Dimulai

KLIKMU.CO – Lebih dari 6.000 sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti Fun Tahes Rector Cup 2026 yang digelar pada Ahad (7/6/2026). Mengambil garis start di Helipad Kampus III UMM, kegiatan lari sejauh lima kilometer ini menjadi bagian dari kampanye gaya hidup sehat sekaligus penanda dibukanya ajang Rector Cup 2026. Antusiasme peserta tampak tinggi sejak pagi hari. Selain mengikuti Fun Tahes, mereka juga berkesempatan mendapatkan berbagai doorprize menarik, mulai dari tablet, smartphone, hingga hadiah utama berupa sepeda motor listrik. Acara semakin semarak dengan beragam hiburan, seperti senam sehat dan penampilan musik dari Band SemalamSuntuk. Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi, yang hadir menyapa para peserta, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi suntikan energi positif bagi seluruh elemen kampus. Ia berpesan agar mahasiswa tetap menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan semangat menuntut ilmu. “Mudah-mudahan kebahagiaan yang kita rasakan pagi ini menjadi awal yang baik untuk perjalanan kalian selama di UMM. Tetap jaga kesehatan, terus semangat belajar, dan jangan pernah berhenti mengejar cita-cita yang ingin diwujudkan,” ujarnya. Menurut Nazaruddin, kemeriahan kegiatan ini juga dirangkai dengan penutupan Student Day bagi mahasiswa baru angkatan 2025. Program tersebut telah dilaksanakan selama satu semester sebagai sarana pembekalan pengalaman sosial dan kemasyarakatan bagi mahasiswa baru. “Melalui garis start ini, kompetisi bergengsi tingkat universitas resmi dimulai, sekaligus menutup kegiatan Student Day angkatan 2025. Selamat berlari dan junjung tinggi sportivitas,” ungkapnya. Sementara itu, Ketua Panitia Rector Cup sekaligus Kepala Bagian Minat Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir Ary Bakhtiar MSi IPM ASEAN Eng, menegaskan komitmen UMM dalam mewadahi potensi mahasiswa di berbagai bidang. Ia menjelaskan bahwa Rector Cup dirancang sebagai langkah strategis universitas untuk menjaring bibit-bibit unggul yang nantinya dipersiapkan menjadi delegasi UMM dalam berbagai kompetisi tingkat nasional maupun internasional. “Sebagai bentuk keseriusan dan dukungan nyata, UMM juga telah menyiapkan dana pembinaan dengan total mencapai ratusan juta rupiah bagi para pemenang Rector Cup. Kami ingin memastikan setiap minat dan bakat mahasiswa tidak hanya difasilitasi, tetapi juga diapresiasi dan dibina secara berkelanjutan agar siap menorehkan prestasi di tingkat yang lebih luas,” tegasnya. Kemeriahan acara ini juga dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satunya Nayla Auvara Izzetiyya yang mengaku senang bisa berbaur dengan ribuan sivitas akademika UMM dalam suasana yang penuh kebersamaan. “Acaranya benar-benar seru. Selain bisa olahraga bersama teman-teman dari berbagai jurusan, ada hiburan musik dan doorprize yang sangat menggiurkan. Harapannya UMM bisa terus rutin mengadakan event sebesar dan semeriah ini,” katanya. (Faqih/AS)
Film Kepaten Obor Karya Dosen UMM Tayang di Washington DC

Film Kepaten Obor karya dosen UMM menembus Australia dan Washington DC, mengangkat budaya Tengger ke panggung perfilman internasional. Tagar.co – Karya sineas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencuri perhatian dunia perfilman internasional. Kali ini, film Kepaten Obor karya Novin Farid Setyo Wibowo berhasil tayang di Australia. Selain itu, film tersebut juga mengudara di Washington DC, Amerika Serikat, pada 8 Juni 2026. Pencapaian ini menegaskan kapasitas sivitas akademika UMM di industri kreatif global. Di sisi lain, karya tersebut tetap mengangkat identitas budaya lokal sebagai kekuatan utama. Novin yang menjabat Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM menjelaskan pencapaian tersebut. Ia berhasil membawa Kepaten Obor masuk Indonesia Western Australia Film Festival (IWAFF) di Perth. Selanjutnya, festival tersebut memutar film itu di sejumlah bioskop selama sepekan penuh. Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., sutradara film Kepaten Obor (Tagar.co/Humas UMM) Tiket Ludes Terjual Film drama ini mendapat sambutan hangat dari para penonton. Bahkan, seluruh tiket pemutaran terjual habis. Tak hanya itu, karya Novin berhasil menarik ribuan penonton selama festival berlangsung. “Alhamdulillah tiketnya sold out semua dan tembus ribuan penonton. Film ini juga terpilih untuk ditayangkan di Euro Asia Shorts 2026, sebuah festival film di Washington DC,” ungkap Novin. Melalui film ini, Novin mengangkat budaya masyarakat Tengger di Jawa Timur. Sementara itu, cerita film berfokus pada konflik emosional antara ibu dan anak. Menariknya, film tersebut juga menghadirkan filosofi Jawa tentang pentingnya menjaga silaturahmi. Novin mulai menggarap film ini sejak 2024. Namun, ia tidak menjadikannya sekadar proyek pribadi. Sebaliknya, ia mengubah proses produksi menjadi laboratorium praktik yang melibatkan mahasiswa dan alumni. Sebanyak 95 persen tim produksi berasal dari Program Studi Ilmu Komunikasi UMM. Karena itu, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di dunia perfilman profesional. “Mahasiswa saya ajak belajar bersama. Mereka terlibat langsung dari proses produksi sampai pasca produksi, menjadikan proyek ini ruang belajar riil bagi mereka di lapangan,” jelasnya. Baca Juga: UMM Ajak Mahasiswa Cegah Kejenuhan Mental lewat Kuliah Subuh Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., sutradara film Kepaten Obor (Tagar.co/Humas UMM) Deretan Penghargaan Keberhasilan Kepaten Obor juga terlihat melalui berbagai prestasi nasional. Pertama, film ini meraih Juara 1 Kompetisi Film Asli Jawa Timur (Komfilasi). Selain itu, film tersebut masuk nominasi Penghargaan AKTIF Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Selanjutnya, Kepaten Obor lolos seleksi Klik Film Festival. Berbagai capaian tersebut semakin memperkuat kualitas film garapan Novin dan timnya. Menurut Novin, kualitas produksi bukan satu-satunya faktor keberhasilan film. Oleh sebab itu, tim produksi harus menyiapkan strategi distribusi yang matang. Selain itu, tim perlu menyediakan subtitle bahasa Inggris untuk memperluas jangkauan penonton. Novin juga menegaskan pentingnya membangun jaringan distribusi. Ia mendorong para pembuat film untuk terus memperkenalkan karya mereka kepada publik. Dengan demikian, lebih banyak penonton dapat menikmati pesan yang mereka hadirkan. Keberhasilan penayangan di Australia dan Amerika Serikat diharapkan memicu semangat sivitas akademika. Selain itu, pencapaian tersebut dapat menginspirasi generasi muda untuk berkarya lebih berani. Novin pun berpesan kepada mahasiswa dan pegiat film muda. Ia mendorong mereka untuk memperkaya literasi dan meningkatkan kepekaan sosial. Menurutnya, pemahaman terhadap realitas kehidupan menjadi modal penting dalam berkarya. Baca Juga: Wisuda Ke-121 UMM di Hari Kartini Tekankan Peran Strategis Perempuan Dengan bekal tersebut, sineas muda dapat menghadirkan film yang bernyawa. Mereka juga dapat menyampaikan pesan yang kuat dan relevan bagi masyarakat luas. “Semakin banyak referensi yang dimiliki, maka semakin bagus film yang dihasilkan,” pungkasnya. (#)
Pakar UMM Jelaskan Alasan ISPA Lebih Mudah Menyerang Saat Cuaca Bediding

pwmu.co – Fenomena cuaca bediding yang belakangan dirasakan masyarakat tidak hanya menimbulkan sensasi dingin, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kondisi suhu udara yang rendah dinilai dapat mendukung penyebaran virus dan bakteri sekaligus memengaruhi daya tahan tubuh.Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa peningkatan kasus batuk, pilek, radang tenggorokan, hingga sesak napas saat cuaca dingin terjadi karena kombinasi berbagai faktor. Mulai dari kemampuan patogen bertahan lebih lama, menurunnya sistem kekebalan tubuh, hingga perubahan perilaku masyarakat ketika suhu udara menurun. “Angka kejadian ISPA dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan atau ketika suhu udara menurun karena ada kombinasi faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia yang saling mendukung terjadinya penularan. Udara dingin dan kering membuat virus maupun bakteri mampu bertahan lebih lama di luar tubuh manusia serta mempermudah penyebaran melalui partikel udara,” ujarnya pada Humas UMM, 8 Juni 2026. Menurut Titik, saluran pernapasan memiliki sistem pertahanan yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Ketika seseorang menghirup udara dingin dan kering secara tiba-tiba, tubuh akan merespons dengan menyempitkan saluran pernapasan, meningkatkan produksi lendir, dan memperlambat kinerja silia atau rambut getar yang berfungsi membersihkan saluran napas dari kotoran maupun mikroorganisme. Akibatnya, mekanisme pembersihan alami tubuh menjadi kurang optimal sehingga risiko terjadinya infeksi meningkat. Titik menjelaskan bahwa penurunan suhu secara drastis juga dapat memengaruhi sistem imun tubuh. Salah satunya karena berkurangnya produksi Extracellular Vesicles (EVs), yaitu komponen pertahanan alami di rongga hidung yang berfungsi menangkap dan melawan virus. Selain itu, penyempitan pembuluh darah di area hidung membuat distribusi sel imun ke saluran pernapasan menjadi berkurang. Kondisi tersebut menyebabkan tubuh lebih rentan terhadap serangan berbagai penyakit pernapasan. “Ketika suhu udara turun drastis, tubuh sebenarnya sedang berusaha mempertahankan suhu inti agar tetap stabil. Namun proses itu justru dapat membuat pertahanan lokal di saluran pernapasan melemah sehingga virus lebih mudah berkembang. Beberapa virus pernapasan, termasuk rhinovirus penyebab flu biasa, justru berkembang lebih optimal pada suhu yang lebih rendah dibandingkan suhu normal tubuh manusia,” katanya. Titik juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap semua gejala pilek sebagai ISPA. Menurutnya, alergi dingin memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan infeksi saluran pernapasan. Gejala alergi dingin biasanya ditandai dengan bersin berulang, hidung terasa gatal, mata berair, dan keluhan yang muncul saat terpapar udara dingin lalu berangsur membaik ketika suhu kembali hangat. Sementara itu, demam menjadi salah satu tanda yang lebih mengarah pada infeksi saluran pernapasan. Sebagai upaya pencegahan, Titik menilai penggunaan jaket saja tidak cukup untuk melindungi tubuh dari risiko penyakit saat cuaca dingin. Masyarakat juga perlu menjaga asupan cairan dengan mengonsumsi minuman hangat, memenuhi kebutuhan vitamin A dan vitamin D, serta mengonsumsi lemak sehat yang mengandung omega-3 untuk membantu menjaga fungsi sistem imun. Kelompok yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain lansia, anak-anak, perokok aktif, penderita sinusitis kronis, dan pekerja yang menghabiskan banyak waktu di ruangan berpendingin udara. “Memakai jaket memang penting untuk melindungi tubuh dari udara dingin. Namun menjaga hidrasi, nutrisi, dan daya tahan tubuh jauh lebih penting karena pertahanan utama terhadap penyakit sebenarnya berasal dari dalam tubuh,” pungkasnya.

MALANG POST – Cuaca “bediding” yang belakangan dirasakan masyarakat tidak hanya menimbulkan rasa dingin, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dosen Keperawatan UMM, Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan. Bahwa suhu dingin menciptakan kondisi yang mendukung penyebaran virus dan bakteri, sekaligus melemahkan pertahanan tubuh. Menurutnya, meningkatnya kasus batuk, pilek, radang tenggorokan, hingga sesak napas saat cuaca dingin dipengaruhi oleh kombinasi ketahanan patogen yang lebih baik, penurunan imunitas tubuh, dan perubahan perilaku masyarakat selama suhu udara menurun. “Angka kejadian ISPA dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan atau ketika suhu udara menurun karena ada kombinasi faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia yang saling mendukung terjadinya penularan.” “Udara dingin dan kering membuat virus maupun bakteri mampu bertahan lebih lama di luar tubuh manusia serta mempermudah penyebaran melalui partikel udara,” ujarnya 08 Juni lalu pada Humas UMM. Lebih lanjut, Titik menjelaskan bahwa saluran pernapasan memiliki mekanisme pertahanan yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Ketika seseorang menghirup udara dingin dan kering secara mendadak, tubuh akan merespon dengan menyempitkan saluran napas, meningkatkan produksi lendir, serta memperlambat kerja silia atau rambut getar yang berfungsi membersihkan kotoran dan mikroorganisme dari saluran pernapasan. Akibatnya, proses pembersihan alami tubuh menjadi kurang efektif dan risiko infeksi meningkat. Menurutnya, penurunan suhu yang drastis juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya produksi Extracellular Vesicles (EVs), yaitu komponen pertahanan alami dalam rongga hidung yang berfungsi menangkap dan melawan virus. Selain itu, penyempitan pembuluh darah di area hidung mengurangi distribusi sel-sel imun ke saluran pernapasan sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap serangan penyakit. “Ketika suhu udara turun drastis, tubuh sebenarnya sedang berusaha mempertahankan suhu inti agar tetap stabil. Namun proses itu justru dapat membuat pertahanan lokal di saluran pernapasan melemah sehingga virus lebih mudah berkembang.” “Beberapa virus pernapasan, termasuk rhinovirus penyebab flu biasa, justru berkembang lebih optimal pada suhu yang lebih rendah dibandingkan suhu normal tubuh manusia,” katanya. Titik mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap semua gejala pilek sebagai ISPA. Menurutnya, alergi dingin memiliki ciri khas berupa bersin berulang, hidung gatal, mata berair dan gejala yang muncul ketika terpapar udara dingin lalu membaik saat suhu menghangat. Sebaliknya, demam menjadi salah satu tanda penting yang lebih mengarah pada infeksi saluran pernapasan. Sebagai langkah pencegahan, ia menilai penggunaan jaket saja tidak cukup. Masyarakat perlu menjaga hidrasi tubuh dengan minuman hangat, memenuhi kebutuhan vitamin A dan vitamin D, serta mengonsumsi lemak sehat yang mengandung omega-3 untuk mendukung fungsi sistem imun. Kelompok yang perlu lebih waspada antara lain lansia, anak-anak, perokok aktif, penderita sinusitis kronis, serta pekerja yang berada di ruangan ber-AC dalam waktu lama. “Memakai jaket memang penting untuk melindungi tubuh dari udara dingin. Namun menjaga hidrasi, nutrisi, dan daya tahan tubuh jauh lebih penting karena pertahanan utama terhadap penyakit sebenarnya berasal dari dalam tubuh,” pungkasnya. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Respons Era Digital, UMM Cetak Puluhan Trainer Pembelajaran Transformatif

Merespons tantangan era digital dan kecerdasan buatan (AI), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Training of Trainers (TOT) Penerapan Pembelajaran Transformatif. Diikuti oleh 32 dosen perwakilan fakultas dan unit kerja, agenda ini berlangsung secara bauran pada 6–9 Juni 2026 di Ruang Sidang Senat UMM guna mencetak trainer yang mampu menggerakkan perubahan praktik pembelajaran di lingkungan kampus. Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menegaskan bahwa dosen di era modern tidak lagi sekadar menjadi penyampai materi, melainkan bertindak sebagai agen perubahan. Ia menyebutkan bahwa pendidik dituntut untuk membantu mahasiswa membangun cara berpikir kritis, reflektif, dan berorientasi pada pemecahan masalah yang nyata. “Di era digital, informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah. Tantangan dosen saat ini bukan lagi sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi bagaimana membimbing mahasiswa untuk mengolah informasi, melakukan refleksi kritis, membangun perspektif baru, dan menghasilkan tindakan yang berdampak,” ujarnya. Sejalan dengan hal tersebut, Fasilitator Nasional Pembelajaran Transformatif, Prof. Dr. Mohammad Syaifuddin, MM., menjelaskan bahwa pendekatan ini akan mendorong perubahan perspektif melalui pengalaman belajar. Menurutnya, pembelajaran di kelas harus melampaui paradigma transfer pengetahuan menuju transformasi pemahaman mahasiswa terhadap dirinya dan tantangan di masyarakat. “Pembelajaran yang baik bukan hanya membuat mahasiswa mengetahui sesuatu, tetapi membantu mereka melihat sesuatu secara berbeda. Ketika mahasiswa mulai mempertanyakan asumsi yang selama ini diyakini, melihat persoalan dari berbagai perspektif, dan kemudian mengambil tindakan berdasarkan refleksi kritis, di situlah transformasi pembelajaran terjadi,” jelasnya. Selama pelatihan, peserta tidak hanya dibekali strategi dari tahap perencanaan hingga asesmen, tetapi juga didorong untuk meninjau ulang praktik mengajar mereka selama ini. Salah satu peserta mengungkapkan bahwa pelatihan ini mengguncang cara pandangnya, di mana kesuksesan belajar seharusnya tidak lagi diukur sebatas dari pemerolehan nilai akademik semata. “Selama ini saya menganggap pembelajaran berhasil ketika mahasiswa memahami materi dan memperoleh nilai yang baik. Namun dalam pelatihan ini saya disadarkan bahwa pembelajaran seharusnya membantu mahasiswa mengalami perubahan cara berpikir, membangun kesadaran baru, dan mampu memaknai pengalaman yang mereka hadapi,” ungkapnya. Peserta lainnya turut menyoroti urgensi efektivitas desain pembelajaran yang selama ini diterapkan di perguruan tinggi. Ia terdorong untuk mengevaluasi secara mendalam sejauh mana proses belajar-mengajar di kelas benar-benar memberikan dampak nyata bagi pembentukan karakter mahasiswa. “Pelatihan ini membuat saya bertanya pada diri sendiri, apakah mahasiswa saya hanya memperoleh pengetahuan atau benar-benar mengalami transformasi cara berpikir? Pertanyaan itu terus muncul dan mendorong saya untuk mendesain ulang pembelajaran agar lebih bermakna,” tuturnya. Ke depannya, inisiatif UMM dalam mencetak trainer pembelajaran transformatif ini menjadi wujud nyata komitmen kampus untuk terus menghadirkan inovasi pendidikan abad ke-21. Transformasi yang berakar dari perubahan cara berpikir dosen ini diharapkan dapat menular secara luas, sehingga UMM konsisten melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga tangguh menjadi agen perubahan yang solutif bagi bangsa dan kemanusiaan.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman