Pakar UMM Bagikan Strategi Finansial Saat Dolar Melonjak

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah, M.Sc pwmu.co –Gejolak geopolitik global dan tingginya suku bunga di Amerika Serikat belakangan ini terus menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut dinilai bukan sekadar persoalan angka di pasar keuangan, tetapi juga ancaman nyata yang berdampak langsung pada biaya hidup masyarakat. Menanggapi fenomena tersebut, Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan Syaifullah, M.Sc., membagikan pandangan sekaligus strategi praktis agar masyarakat tetap tangguh secara finansial di tengah gejolak ekonomi global. Yunan menjelaskan bahwa kenaikan dolar memicu efek berantai terhadap berbagai sektor ekonomi, terutama karena Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor. “Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, hingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal,” ungkapnya kepada Tim Humas UMM pada 17 Mei lalu. Menurutnya, masyarakat tetap akan terdampak meskipun tidak membeli barang impor secara langsung. Pasalnya, biaya produksi industri lokal ikut meningkat akibat mahalnya bahan baku dan energi. “Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor, mereka akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Kenaikan dolar ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya. Menghadapi situasi ekonomi yang fluktuatif, Yunan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mulai memperkuat pengelolaan keuangan pribadi. Ia menyarankan masyarakat memastikan dana darurat tetap aman serta menunda pembelian barang yang tidak mendesak, terutama produk yang sensitif terhadap kurs dolar. “Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian yang sensitif terhadap dolar seperti gadget baru. Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko,” jelasnya. Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan layanan kredit instan atau paylater. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat menciptakan ilusi finansial dan memicu masalah ekonomi baru. “Kebiasaan masyarakat kita seperti hobi paylater ini membuat terlena. Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita,” tambahnya. Di tengah melemahnya rupiah, Yunan juga melihat adanya peluang besar bagi generasi muda untuk memperoleh penghasilan dari pasar global. Ia mendorong anak muda mulai mempelajari keterampilan digital dan membangun side hustle sesuai minat mereka. “Sekarang anak muda bisa mempelajari skill digital dan membangun side hustle sesuai minat, misalnya menjadi konten kreator atau copywriter. Skill yang bisa menghasilkan pendapatan dolar saat ini justru menjadi peluang saat Rupiah melemah,” urainya. Sebagai langkah penyelamatan keuangan, masyarakat juga diminta mengevaluasi arus kas pribadi, menghentikan langganan layanan yang tidak penting, serta mengurangi gaya hidup konsumtif. Menurutnya, stabilitas ekonomi seseorang tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi juga kemampuan mengelola keuangan secara sehat dan rasional. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Sunday’s Chef Signature Rayz UMM Hotel Hadirkan Heritage Local Breakfast

TribunJatimTimur.com/Dok Rays UMM Hotel Malang FOOD CORNER – Program Sunday’s Chef Signature dengan tema Heritage Local Breakfast yang berlangsung di Sunshine Restaurant Rays UMM Hotel Malang. TRIBUNJATIMTIMUR.COM, MALANG – Rayz UMM Hotel Malang kembali menghadirkan pengalaman sarapan spesial melalui program Sunday’s Chef Signature dengan tema Heritage Local Breakfastyang berlangsung di Sunshine Restaurant. Program ini menjadi bagian dari rangkaian inovasi breakfast hotel dalam menghadirkan pengalaman kuliner yang lebih berkesan bagi para tamu. Melalui konsep ini, tamu tidak hanya menikmati sajian breakfast regular, namun juga dapat menikmati berbagai stall makanan khas lokal yang disiapkan khusus untuk melengkapi suasana akhir pekan bersama keluarga maupun kerabat. Kehadiran menu-menu tradisional dengan cita rasa autentik menjadi daya tarik tersendiri bagi tamu yang menginap maupun pengunjung yang datang untuk sarapan. Hotel Manager Yanuar Arifien menambahkan, “Melalui Sunday’s Chef Signature, kami ingin menghadirkan pengalaman sarapan yang tidak hanya lezat, tetapi juga mampu memperkenalkan kekayaan kuliner lokal kepada para tamu. Kami berharap setiap sajian dapat memberikan kesan hangat, autentik, dan menjadi bagian dari pengalaman menginap yang berkesan di Rayz UMM Hotel.” Pada pelaksanaan hari Minggu, 10 Mei 2026, Rayz UMM Hotel menghadirkan berbagai tambahan menu breakfast lokal seperti Bakso Bakar khas Malang, aneka jajanan pasar tradisional, Rujak Cingur, hingga berbagai pilihan kuliner khas Nusantara lainnya. Mulai pukul 08.00 WIB, para tamu sudah dapat menikmati berbagai sajian spesial tersebut di area restaurant. Tidak hanya berlangsung pada Minggu ini, program Sunday’s Chef Signature juga akan kembali hadir pada 24 Mei 2026 dengan tema Morning Pastry Paradise yang menghadirkan berbagai varian pastry spesial sebagai sajian utama breakfast. Selain menghadirkan pengalaman sarapan yang berbeda, Rayz UMM Hotel Malang juga menghadirkan pengalaman bersantap malam setiap Sabtu malam melalui dinner spesial dengan live music di The SKY Rooftop. Program ini terbuka bagi tamu menginap maupun tamu umum yang ingin menikmati suasana malam Kota Malang dari rooftop hotel. Dengan berbagai inovasi kuliner yang terus dihadirkan, Rayz UMM Hotel berharap dapat menjadi destinasi pilihan bagi wisatawan maupun masyarakat lokal untuk menikmati pengalaman menginap, bersantap, dan berkumpul bersama keluarga dalam suasana yang hangat dan berkesan. Nice People, Nice Place, Rayz the Moments Mengenai Rayz UMM Hotel Hotel bintang 4 di Malang, memiliki 152 kamar dan 5 villa dengan kolam renang pribadi. Berkonsep city resort, Rayz UMM Hotel memiliki fasilitas yang lengkap seperti ballroom, meeting room, restoran, tempat fitness, sky lounge, dan kolam renang. Hotel yang dimiliki oleh Universitas Muhammadiyah Malang ini mempunyai khas dengan dominan warna hitam dan emas dengan 5 tipe kamar yaitu deluxe, super deluxe, executive, family, dan suite. Villa yang berada satu lokasi dengan hotel memiliki 2 tipe yaitu Villa Eureka atau Credo dengan 2 kamar dan Villa Ambasador dengan 3 kamar. (*)

Nilai Tukar Rupiah Melemah, Dosen UMM: Ancaman Nyata bagi Dapur dan Dompet Masyarakat

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan UMM, Yunan Syaifullah. Foto: Dok UMM MAKLUMAT — Nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh rekor terburuk di Rp17.658 per dolar AS pada perdagangan Senin pagi (18/5/2026). Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah menyebut hal ini sebagai ancaman nyata. “Gejolak geopolitik global dan tingginya suku bunga di AS belakangan ini telah menekan nilai tukar rupiah secara signifikan. Ini ancaman nyata yang diam-diam menyusup ke dapur dan dompet masyarakat luas,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Maklumat.id pada Senin (18/5/2026). Yunan menjelaskan bahwa kenaikan dolar memicu efek berantai yang langsung membebani pengeluaran rumah tangga, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia pada bahan impor. “Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi juga naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, hingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal,” jelasnya. Ia juga mencermati banyaknya narasi yang beredar bahwa masyarakat akan aman karena tidak membeli barang impor secara langsung. Padahal biaya hidup masyarakat akan tetap membengkak seiring naiknya biaya produksi industri lokal yang diakibatkan lemahnya nilai tukar rupiah. Baca Juga  UMM Raih Mandat UNESCO Chair, Retno Marsudi: Gigih Dorong Pengembangan Ekosistem Perairan “Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor, mereka akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Kenaikan dolar ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya. Strategi Finansial Saat Dolar Melonjak Menghadapi situasi lemahnya nilai tukar rupiah yang fluktuatif ini, Yunan menyarankan masyarakat untuk tidak panik. Ia mengajak masyarakat agar memastikan dana darurat aman dan menunda konsumsi yang tidak mendesak. “Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian yang sensitif terhadap dolar seperti gadget baru. Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko,” jelasnya. Di tengah ancaman inflasi ini, Yunan juga menyoroti bahaya kebiasaan menggunakan layanan kredit instan yang menciptakan ilusi finansial dan berpotensi menguras tabungan. Salah satunya seperti kebiasaan menggunakan paylater. “Kebiasaan masyarakat kita seperti hobi paylater ini membuat terlena. Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita,” tambahnya. Sebagai langkah penyelamatan, masyarakat diimbau untuk segera mengevaluasi kembali arus kas (cash flow) pribadinya masing-masing. Berhenti berlangganan layanan yang tidak krusial dan memangkas gaya hidup konsumtif, dinilai sebagai langkah darurat yang wajib diambil. Baca Juga  Keren! Mahasiswa UMM Kembangkan Metaverse VR Pendidikan Dalam kondisi kurs yang tengah bergejolak, Yunan menjelaskan bahwa stabilitas ekonomi seseorang tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar penghasilan, melainkan seberapa sehat dan rasional individu mengelola keuangannya. Kendati demikian, Yunan juga mendorong generasi muda untuk melihat fenomena penguatan dolar ini sebagai momentum emas mencari peluang penghasilan mandiri dari pasar global. “Sekarang anak muda bisa mempelajari skill digital dan membangun side hustle sesuai minat, misalnya menjadi konten kreator atau copywriter. Skill yang bisa menghasilkan pendapatan dolar saat ini dapat menjadi peluang saat rupiah melemah,” jelasnya. *) Penulis: M Habib Muzaki

Mengenang Sosok Malik Fadjar: Sang Visioner UMM di Balik Lahirnya Hari Buku Nasional

Malang (beritajatim.com) – Buku Nasional yang jatuh setiap tanggal 17 Mei mengingatkan salah satu sosok berpengaruh dibaliknya, Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. Tokoh besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga mantan Menteri Pendidikan Nasional tersebut merupakan visioner di balik lahirnya peringatan Hari Buku Nasional. Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute UMM, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa pencetusan Hari Buku Nasional oleh mendiang Malik Fadjar merupakan sebuah langkah konkret untuk menyelamatkan nalar bangsa. Menurutnya, Malik Fadjar selalu memandang akar masalah utama Indonesia bukan sekadar rendahnya angka minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir di mana buku sering kali direduksi hanya sebagai pelengkap administratif di bangku sekolah. ”Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkap Faizin saat diwawancarai Senin (18/5/2026). ”Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkap Faizin saat diwawancarai Senin (18/5/2026). Kesadaran akan bahaya krisis nalar ini pula yang memicu kegelisahan mendalam Malik Fadjar semasa hidupnya hingga berjuang mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Demi memastikan ekosistem literasi tidak mati di kota pelajar tersebut, ia bahkan rela menghibahkan ribuan buku dari koleksi pribadinya agar dapat diakses secara luas oleh masyarakat umum. ”Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tak boleh ditinggalkan oleh generasi muda,” kenang Faizin. ​Faizin menegaskan bahwa Prof. Malik senantiasa melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran tokoh Muhammadiyah tersebut, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional, sehingga literasi benar-benar menjelma menjadi fondasi kokoh bagi keberlangsungan demokrasi di Indonesia. “Saat ini, tanggung jawab besar untuk merawat nyala literasi tersebut diteruskan oleh RBC A. Malik Fadjar Institute. Lembaga ini telah bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran dan pusat pembentukan nalar publik melalui empat program unggulan, yaitu Ruang Gagasan, Riset Pengembangan Mutu Pendidikan, Pendampingan Pengembangan Lembaga,” kata Faizin menutup. [dan/aje]

Akademisi UMM Malang Soroti Bahaya Paylater saat Rupiah Melemah dan Harga Kebutuhan Naik

TribunMadura.com/Dwi Prastika ILUSTRASI UANG – Uang pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu, Kamis (12/3/2026). Pengajar ekonomi pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah meyakini bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada kebutuhan rumah tangga masyarakat, khususnya di Kota Malang, Jawa Timur. Ringkasan Berita: Pelemahan rupiah dinilai memicu kenaikan harga pangan, BBM, dan biaya hidup masyarakat Malang. Akademisi UMM mengingatkan bahaya paylater saat rupiah melemah dan kebutuhan rumah tangga meningkat. Pemkot Malang memastikan kebutuhan pokok masyarakat masih aman meski rupiah terus melemah terhadap dolar. Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo TRIBUNMADURA.COM, MALANG – Kebutuhan rumah tangga masyarakat, khususnya di Kota Malang, Jawa Timur, terdampak pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Hal itu seperti yang dikatakan pengajar ekonomi pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah. Dalam keterangan resmi yang dikeluarkan oleh Humas Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan menjelaskan, pelemahan rupiah memicu efek berantai yang langsung membebani pengeluaran rumah tangga, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia pada bahan impor. “Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, sehingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal,” ungkapnya, Senin (18/5/2026). Banyak masyarakat merasa aman karena tidak membeli barang impor secara langsung, padahal menurut Yunan, biaya hidup mereka akan tetap membengkak seiring naiknya biaya produksi industri lokal. “Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor akan tetap terkena efek berantai, mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Pelemahan rupiah ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya. Menghadapi situasi fluktuatif ini, ia menyarankan masyarakat untuk tidak panik, melainkan memastikan dana darurat aman dan menunda konsumsi yang tidak mendesak. “Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian yang sensitif terhadap dolar seperti gawai. Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko,” jelas Yunan. Di tengah ancaman pelemahan rupiah ini, ia juga menyoroti bahaya kebiasaan menggunakan layanan kredit instan yang menciptakan ilusi finansial dan berpotensi menguras tabungan. “Kebiasaan masyarakat hobi paylater ini membuat terlena. Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita,” tambahnya. Yunan mendorong masyarakat untuk melihat fenomena pelemahan rupiah ini sebagai momentum emas mencari peluang penghasilan mandiri dari pasar global. “Sekarang anak muda bisa mempelajari keahlian digital dan membangun pekerjaan sampingan sesuai minat, misalnya menjadi konten kreator atau penulis. Keahlian yang bisa menghasilkan pendapatan dolar saat ini justru menjadi peluang saat rupiah melemah,” urainya. Tanggapan Pemkot Malang Sementara itu, Pemkot Malang melalui Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Malang mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai belum berdampak signifikan terhadap kebutuhan pokok masyarakat di Kota Malang. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Eko Sri Yuliadi.

Bantu Petani Cengkih, Mahasiswa UMM Ciptakan Mesin Semiotomatis

Inovasi Clove Separator Mahasiswa UMM, Tingkatkan Produtivitas Petani Cengkeh (Foto: Humas UMM/PWMU.CO) pwmu.co – Inovasi teknologi tepat guna menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga kelangsungan usaha tani di tengah tuntutan efisiensi biaya produksi. Menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan mesin pemisah cengkih semiotomatis yang diberi nama pada Senin (18/5/2026). Inovasi ini dirancang sebagai solusi untuk membantu petani cengkih di Dusun Karanggongso, Trenggalek, yang selama ini menghadapi kendala tingginya biaya tenaga kerja dan lamanya proses panen manual. Mesin ini merupakan karya dari Risqi Andy Sulbi Sasmita bersama timnya dari Program Studi Teknik Industri UMM angkatan 2022. Pada proses tradisional, pemisahan bunga dan tangkai cengkih memakan waktu yang cukup lama, dengan kapasitas pengerjaan manual manusia maksimal dua kilogram per jam. Risqi menjelaskan bahwa mesin ini dirancang secara khusus untuk meningkatkan kapasitas produksi petani dengan biaya pengadaan alat yang terjangkau. “Tujuan utama kami memang untuk meningkatkan kapasitas produksi petani hingga berkali-kali lipat dibandingkan cara manual. Apalagi, alat ini kami proyeksikan memiliki harga jual yang jauh lebih kompetitif, yaitu sekitar enam hingga tujuh juta rupiah, dibandingkan mesin serupa di pasaran yang bisa mencapai belasan juta,” ujar Risqi. Melalui Clove Separator EVO, kapasitas pengolahan dapat mencapai 50 kilogram per jam dengan menggunakan satu hingga dua operator. Sistem kerja mesin ini dimulai saat bunga cengkih dimasukkan ke dalam corong, melewati rotor penggilingan, kemudian disaring menggunakan sistem ayakan bergetar untuk memisahkan bagian bunga dan tangkai secara utuh. Tim mahasiswa UMM memastikan rancangan alat ini telah memperhatikan aspek kenyamanan serta keselamatan pengguna di bawah arahan dosen pembimbing. Clove Separator EVO yang diciptakan Mahasiswa UMM (Foto: Humas UMM/PWMU.CO) Alat yang dikembangkan melalui proyek mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu (PST) ini juga didesain agar mudah dalam perawatan harian. Sesuai rencana, purwarupa Clove Separator EVO akan dikirim ke Desa Tasikmadu pada bulan Juni mendatang untuk menjalani uji coba lapangan langsung saat masa panen raya. Risqi berharap karya dari mahasiswa Kampus Putih UMM ini dapat mendorong semangat sivitas akademika lainnya dalam membantu memecahkan persoalan riil di masyarakat. “Kami berharap mahasiswa lain tidak perlu mencari ide terlalu jauh, cukup peka dengan kebutuhan di sekitar kita. Sebab, sekecil apa pun inovasi yang kita buat sangat berarti bagi masyarakat,” pungkasnya. Kehadiran Clove Separator EVO menjadi salah satu bentuk hilirisasi riset di lingkungan perguruan tinggi yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Kolaborasi antara kepekaan sosial mahasiswa dan dukungan fasilitas kampus diharapkan mampu menghadirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi kerakyatan. Inovasi ini diharapkan bisa mendapatkan dukungan lebih lanjut untuk diproduksi secara massal guna menjangkau petani cengkih di berbagai wilayah lainnya. (*) *) Penulis : Humas UMM Editor : Tanwirul Huda

Intip Biaya Kuliah UMM 2026 untuk Semua Jurusan S1

Universitas Muhammadiyah Malang termasuk salah satu kampus dengan jurusan S1 Hubungan Internasional terbaik di Indonesia. (Dok. UMM) KOMPAS.com – Biaya kuliah di kampus swasta menjadi hal yang penting diperhatikan calon mahasiswa. Jika kamu ingin kuliah di UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), sudah ada biaya kuliah semua jurusan untuk tahun akademik 2026/2027. Dilansir dari laman resmi UMM, Minggu (17/5/2026), komponen biaya kuliah di UMM adalah BSS atau Biaya Studi Semester. Calon mahasiswa baru reguler/gelombang II dikenai kenaikan BSS untuk komponen DPP sebesar ±10 persen dan dibayarkan sekali pada saat Daftar Ulang (Her-Registrasi) Mahasiswa Baru. Komponen biaya di UMM Biaya Studi Semester (BSS) terdiri dari biaya: Daftar Ulang, SPP, DPP, Layanan IT, dan Layanan Perpustakaan. Biaya Studi Semester (BSS) dapat dibayarkan tiga kali tiap semester yaitu: Angsuran ke-1 (Saat KRS), Angsuran ke-2 (Menjelang UTS), dan Angsuran ke-3 (Menjelang UAS). Biaya Studi Semester I (BSS-1) Angsuran ke-1 dibayarkan saat Daftar Ulang (Her-Registrasi). Sementara biaya KKN, Skripsi, Yudisium, dan Wisuda dibayarkan tersendiri. Biaya kuliah UMM 2026 Berikut biaya kuliah UMM 2026 untuk semua jurusan: Farmasi BSS semester 1 reguler I: Rp 31,1 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 34,6 juta BSS semester 2-3: Rp 29,1 juta BSS semester 4-8: Rp 16,5 juta Kedokteran BSS semester 1 reguler I: Rp 103.350.000 BSS semester 1 reguler II: Rp 123.350.000 BSS semester 2-3: Rp 101,7 juta BSS semester 4-8: Rp 27,3 juta Pendidikan Agama Islam, Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyah) BSS semester 1 reguler I: Rp 6,6 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 7,6 juta BSS semester 2-7: Rp 7,2 juta BSS semester 8: Rp 5,1 juta Ekonomi Syariah, Pendidikan Bahasa Arab BSS semester 1 reguler I: Rp 6,950 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 7,950 juta BSS semester 2-7: Rp 7,2 juta BSS semester 8: Rp 5,1 juta Kesejahteraan Sosial, Sosiologi BSS semester 1 reguler I: Rp 7,2 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 8,7 juta BSS semester 2-7: Rp 7,8 juta BSS semester 8: Rp 5,550 juta Ilmu Komunikasi, Hubungan Internasional BSS semester 1 reguler I: Rp 10.050.000 BSS semester 1 reguler II: Rp 13,550 juta BSS semester 2-7: Rp 10,650 juta BSS semester 8: Rp 6,3 juta Ilmu Pemerintahan BSS semester 1 reguler I: Rp 8,250 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 11,2 juta BSS semester 2-7: Rp 8,850 juta BSS semester 8: Rp 5,850 juta Pendidikan Matematika, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Kepelatihan Olahraga BSS semester 1 reguler I: Rp 6,750 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 8,250 juta BSS semester 2-7: Rp 7,350 juta BSS semester 8: Rp 5,1 juta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan BSS semester 1 reguler I: Rp 6 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 8 juta BSS semester 2-7: Rp 6,6 juta BSS semester 8: Rp 5,1 juta Pendidikan Biologi BSS semester 1 reguler I: Rp 6,750 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 8,750 juta BSS semester 2-7: Rp 7,350 juta BSS semester 8: Rp 5,1 juta Lihat Foto Ilustrasi biaya kuliah di Universitas Sanata Dharma (Tangkap layar laman Universitas Sanata Dharma) Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Guru Sekolah Dasar BSS semester 1 reguler I: Rp 7,050 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 9,550 juta BSS semester 2-7: Rp 7,650 juta BSS semester 8: Rp 5,1 juta Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Industri BSS semester 1 reguler I: Rp 9,450 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 11,3 juta BSS semester 2-7: Rp 10,050 juta BSS semester 8: Rp 5,850 juta Teknik Sipil BSS semester 1 reguler I: Rp 9,450 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 12,3 juta BSS semester 2-7: Rp 10,050 juta BSS semester 8: Rp 5,850 juta Informatika BSS semester 1 reguler I: Rp 10,5 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 14 juta BSS semester 2-7: Rp 11,1 juta BSS semester 8: Rp 6,3 juta Manajemen BSS semester 1 reguler I: Rp 11,55 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 14,7 juta BSS semester 2-7: Rp 12,150 juta BSS semester 8: Rp 7,5 juta Akuntansi BSS semester 1 reguler I: Rp 9,6 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 11,9 juta BSS semester 2-7: Rp 10,2 juta BSS semester 8: Rp 5,850 juta Ekonomi Pembangunan BSS semester 1 reguler I: Rp 8,7 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 11,3 juta BSS semester 2-7: Rp 9,3 juta BSS semester 8: Rp 5,850 juta Agroteknologi, Agribisnis, Teknologi Pangan, Kehutanan, Peternakan, Akuakultur BSS semester 1 reguler I: Rp 7,8 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 9,2 juta BSS semester 2-7: Rp 8,4 juta BSS semester 8: Rp 5,625 juta Psikologi, Hukum BSS semester 1 reguler I: Rp 10,050 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 13,2 juta BSS semester 2-7: Rp 10,650 juta BSS semester 8: Rp 6,3 juta Ilmu Keperawatan BSS semester 1 reguler I: Rp 17,350 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 19,6 juta BSS semester 2-7: Rp 16,050 juta BSS semester 8: Rp 12,3 juta Fisioterapi BSS semester 1 reguler I: Rp 15,7 juta BSS semester 1 reguler II: Rp 17,7 juta BSS semester 2-7: Rp 14,4 juta BSS semester 8: Rp 11,1 juta. Demikian informasi mengenai biaya kuliah UMM 2026 yang perlu diperhatikan calon mahasiswa baru.

Mengenang Kiprah Malik Fadjar, Tokoh UMM Pencetus Hari Buku Nasional

BERJASA: Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc, tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). MALANG, RADAR MALANG – Di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) dan masifnya arus informasi instan yang memicu krisis daya kritis masyarakat modern pada 2026, ancaman matinya nalar menjadi tantangan terberat bangsa. Menyambut peringatan Hari Buku Nasional pada 17 Mei, ingatan publik patut dikembalikan pada sosok pencetus peringatan tersebut, mendiang Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. Tokoh sentral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang pernah menjabat sebagai Rektor sekaligus Menteri Pendidikan Nasional ini, bukan sekadar birokrat biasa, melainkan sang visioner penyelamat nalar bangsa lewat dedikasinya pada literasi. Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute UMM, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa sosok Malik Fadjar selalu memandang akar masalah bangsa ini bukan sekadar rendahnya angka minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir di mana buku direduksi menjadi sekadar pelengkap bangku sekolah. “Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkapnya. Lebih jauh, Faizin memaparkan fakta sejarah bahwa keputusan Malik Fadjar untuk mencetuskan Hari Buku Nasional pada 2002 silam merupakan wujud rekayasa budaya yang disengaja. Mantan Rektor yang sukses membawa lompatan peradaban bagi UMM ini menjadikan momentum 17 Mei untuk menghubungkan buku dengan gerakan nasional serta menyadarkan publik bahwa literasi adalah pilar kebangsaan. “Sebagai pencetus, beliau senantiasa melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof. Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional, sehingga literasi benar-benar menjelma menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi,” tegasnya. Kesadaran akan bahaya krisis nalar tersebut juga memicu kegelisahan Malik Fadjar hingga berjuang mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Demi memastikan ekosistem literasi tidak mati di kota pelajar tersebut, tokoh Muhammadiyah ini rela menghibahkan ribuan buku dari koleksi pribadinya agar dapat diakses secara luas oleh publik. “Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tak boleh ditinggalkan oleh generasi muda,” kenang Faizin. Saat ini, tanggung jawab besar tersebut diteruskan oleh RBC A. Malik Fadjar Institute yang bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran dan pusat pembentukan nalar publik. Upaya mulia ini direalisasikan lewat empat program unggulan: Ruang Gagasan, Riset Pengembangan Mutu Pendidikan, Pendampingan Pengembangan Lembaga Pendidikan, serta Perpustakaan Keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa. Perjalanan panjang dan keteladanan Sang Pencetus Hari Buku Nasional dari UMM ini meninggalkan pesan mendalam bagi lintas generasi. Merawat tradisi membaca di era post-truth bukanlah sekadar hobi, melainkan benteng pertahanan terakhir dari kebodohan. Memperingati Hari Buku Nasional sejatinya adalah memperbarui komitmen kolektif untuk menghidupkan budaya ilmu dan merawat akal sehat bangsa, demi meneruskan api perjuangan Malik Fadjar. (*) Editor : A. Nugroho

Tekan Emisi Gas Rumah Kaca: Living Lab Dosen UMM Jadikan Alam Laboratorium Karbon

MALANG POST – Anomali cuaca ekstrem, gelombang panas, dan krisis pemanasan global yang melanda dunia saat ini menuntut aksi nyata dari sektor akademisi, bukan sekadar teori di atas kertas. Merespons urgensi krisis iklim yang kian mengkhawatirkan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara konsisten membuktikan komitmennya sebagai Kampus Inovasi yang berdampak bagi lingkungan. Bukti nyata ini ditorehkan oleh Dr. Ir. Nugroho Tri Waskitho, M.P., dosen Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) UMM. Ia sukses menjadi penerima pendanaan bergengsi tingkat nasional, yakni Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) Tahun 2025–2026. Lewat gagasan solutifnya, proposal riset tersebut berhasil disetujui dengan perolehan dana hibah fantastis sebesar Rp450.000.000, yang kian mengukuhkan posisi Kampus Putih sebagai pusat pencetak solusi atas masalah lingkungan. Mengusung tajuk riset “Model Peningkatan Penyerapan Karbon di Kabupaten Malang”, proyek lintas disiplin ini secara strategis dirancang untuk mereduksi emisi gas rumah kaca. Nugroho memaparkan bahwa daya tarik utama dari riset ini bukan terletak pada kajian literatur. Melainkan pada penerapan konsep living lab atau laboratorium hidup. Ia menjelaskan bahwa living lab adalah sebuah pendekatan eksperimental di mana penelitian tidak dikerjakan di dalam ruangan tertutup, melainkan langsung dipraktikkan, diuji, dan dievaluasi di alam terbuka bersama elemen masyarakat dan pemerintah. “Sebetulnya penelitian mengenai penyerapan karbon sudah banyak, namun kebaruannya ada pada kolaborasi living lab. Kami mengintegrasikan peneliti, kelompok masyarakat, dan pemerintah daerah untuk menerapkannya langsung di lapangan serta memantau perkembangannya bersama-sama,” jelasnya. Untuk mengeksekusi gagasan inovatif ini, tim peneliti UMM menggandeng sejumlah mitra strategis, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang, Yayasan Bakti Alam Sendang Biru, dan Kelompok Tani Hutan Pujon Hill. Langkah intervensi awal akan dimulai dengan memetakan potensi serapan karbon, yang kemudian dilanjutkan dengan edukasi serta pelatihan teknis bagi warga. Petani lokal dipersiapkan untuk mengelola lahan berkelanjutan melalui skema agroforestri dan penanaman spesies penyerap karbon tinggi seperti mangrove. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pembekalan ini ditujukan untuk memicu efek domino; tidak hanya menyelamatkan kualitas ekosistem, tetapi juga mendongkrak produktivitas ekonomi rakyat sekaligus berkontribusi pada mitigasi iklim dunia. “Dampak dari penelitian ini memang menyasar cakupan Kabupaten Malang, namun problem perubahan iklim ini adalah isu global, sehingga aksi lokal kita ini kelak akan bermuara pada penyelamatan lingkungan secara internasional,” terangnya. Keberhasilan menembus seleksi ketat program nasional ini tak lepas dari kerja keras enam akademisi lintas disiplin yang terus difasilitasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMM. Harapannya, inisiatif ini tidak mandek ketika masa program usai, melainkan diadopsi menjadi landasan kebijakan pelestarian daerah yang permanen. Sebagai penutup, pakar kehutanan ini memberikan pesan khusus agar riset yang diproduksi oleh perguruan tinggi mampu memberikan manfaat konkret bagi persoalan yang sedang dihadapi publik. “Sering kali sebuah temuan hanya berujung menjadi publikasi jurnal, maka cobalah untuk selalu mengaitkan hasil riset agar manfaatnya bisa langsung diterapkan dan dirasakan nyata oleh masyarakat maupun industri,” pesannya.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)