Sokong Kemandirian Kesehatan Nasional, Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus 14 Hektare di Karangploso Malang

Malanginspirasi.com – Groundbreaking  Pembangunan Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia sebagai inisiasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang akan berdiri di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang berlangsung pada Kamis (11/6) pagi. Pembangunan pabrik itu adalah langkah strategis  memperkuat kemandirian sektor kesehatan nasional. Selain itu juga  mengembangkan ekosistem bisnis kesehatan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi umat. Pabrik infus tersebut dikelola lewat PT Suryavena Farma Indonesia sebagai entitas bisnis Muhammadiyah. PT Suryavena Farma Indonesia dibangun sebagai bagian dari upaya memperkuat rantai pasok kebutuhan kesehatan yang selama ini masih bergantung pada pihak luar. Saat ini, Muhammadiyah  mengelola sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Baca Juga: Dosen UMM Edukasi Remaja Toyomarto Cegah Kecanduan Game Online Harapannya kehadiran pabrik tersebut  mampu  memenuhi kebutuhan cairan infus dan produk kesehatan lainnya secara mandiri, sekaligus mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat. Berlokasi di atas lahan seluas 14 hektare di Kecamatan Karangploso, pembangunan pabrik ini telah melalui berbagai kajian kelayakan dan dinyatakan memenuhi persyaratan untuk pengembangan industri farmasi. Termasuk dari aspek ketersediaan dan kualitas sumber daya air yang menjadi salah satu komponen utama dalam proses produksi cairan infus. Target pengoperasian pabrik tersebut adalah pada akhir tahun 2027 atau awal tahun 2028. Dalam sambutannya, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah,  Haedar Nashir menyampaikan  pembangunan pabrik infus ini merupakan bagian dari ikhtiar Muhammadiyah untuk memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan melalui pengembangan industri yang berbasis pada kebutuhan masyarakat. “Muhammadiyah tidak hanya hadir sebagai gerakan dakwah, pendidikan, dan sosial, tetapi juga berkomitmen membangun kekuatan ekonomi produktif yang mampu memberikan manfaat luas bagi umat dan bangsa,” katanya.  Wabup Malang Sambut Baik Wakil Bupati (Wabup) Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib, menghadiri Groundbreaking  Pembangunan Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia yang akan berdiri di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6) pagi. Ia menyambut baik hadirnya investasi industri kesehatan tersebut  karena menurutnya pembangunan pabrik infus tersebut tidak hanya akan memperkuat sektor kesehatan nasional. Wakil Bupati (Wabup) Malang Dra. Hj. Lathifah Shohib saat turut memimpin acara Groundbreaking Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia di Karangploso (malangkab.go.id) Tetapi juga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, dan pengembangan potensi kawasan industri di Kabupaten Malang. “Pemerintah Kabupaten Malang menyambut baik dan mengapresiasi pembangunan Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia ini,” katanya dalam sambutan. Ia mengatakan kehadiran industri kesehatan sebagai inisiasi Muhammadiyah merupakan langkah nyata  mendukung kemandirian sektor kesehatan nasional sekaligus memperkuat ketahanan industri farmasi dalam negeri. “Kami berharap investasi ini tak hanya mampu memenuhi kebutuhan produk kesehatan secara mandiri, tetapi juga memberikan dampak positif  perekonomian daerah lewat penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta tumbuhnya ekosistem industri yang berdaya saing di Kabupaten Malang,” ujar Lathifah. Turut hadir pula  Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., Direktur Utama BPJS Kesehatan, jajaran pimpinan Muhammadiyah, unsur Forkopimda, serta sejumlah tamu undangan dari kalangan akademisi, dunia usaha, dan sektor kesehatan.

Muhammadiyah Kembangkan Industri Alat Kesehatan, Pabrik Infus Segera Dibangun

GERBANGPATRIOT.COM, MALANG – Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi melakukan groundbreaking Pabrik PT Suryavena Farma Indonesia di lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (11/6). ‎ Prosesi peletakan batu pertama dilakukan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bersama Ketua PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy, Saad Ibrahim, dr Agus Taufiqurrahman, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan, serta Ketua PWM Jawa Timur dr Sukadiono. ‎ Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan pembangunan pabrik tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekonomi umat dan bangsa. ‎ Menurutnya, Muhammadiyah ingin menghadirkan ekosistem ekonomi yang lebih kuat dengan memasuki sektor industri skala besar. ‎ “Semangat Muhammadiyah adalah untuk membangun ekosistem ekonomi umat dan bangsa, atau rakyat yang mulai naik kelas ke ekonomi menengah ke atas,” ujar Haedar. ‎ Haedar menekankan kehadiran pabrik ini tidak berarti Muhammadiyah meninggalkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ia mengatakan industri farmasi justru menjadi bagian dari upaya menaikkan kelas ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. ‎ “Pembangunan pabrik ini tidak menggeser fokus dakwah ekonomi Muhammadiyah dari UMKM. Ini memiliki ketersambungan dengan semangat menaikkan kelas ekonomi umat dan bangsa,” katanya. ‎ Lebih lanjut, Haedar menyebut proyek tersebut menjadi bukti bahwa organisasi kemasyarakatan keagamaan mampu bergerak dan bersaing di sektor ekonomi modern. ‎ Menurutnya, pembangunan pabrik farmasi juga sejalan dengan cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045 yang membutuhkan fondasi kemandirian ekonomi nasional. ‎ “Jangan sampai kekuatan dan potensi ekonomi Indonesia dipegang atau dikuasai pihak lain. Muhammadiyah berada di jalur itu dan akan bertemu dengan spirit pemerintah serta kepentingan bangsa yang lebih luas,” tegasnya. ‎ Pabrik PT Suryavena Farma Indonesia yang diinisiasi Majelis Ekonomi Bisnis (MEB) dan Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah itu pada tahap awal akan memproduksi cairan infus. ‎ Haedar menjelaskan, langkah tersebut menjadi pintu masuk untuk membangun ekonomi sirkular Muhammadiyah dengan memenuhi kebutuhan 135 Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA) yang tersebar di seluruh Indonesia. ‎ “Dengan pabrik infus ini kita memulai dengan sesuatu yang paling bisa kita lakukan di ekosistem bisnis di rumah sakit,” ungkap Haedar. ‎ Ia berharap seluruh RSMA dapat menggunakan produk PT Suryavena Farma Indonesia sehingga kemandirian ekonomi Muhammadiyah semakin kuat. ‎ Ke depan, perusahaan ini juga akan mengembangkan produksi obat-obatan, jarum suntik, serta berbagai kebutuhan kesehatan lainnya untuk mendukung layanan rumah sakit Muhammadiyah di seluruh Tanah Air.

Tak Mau Bergantung pada Pihak Luar, Muhammadiyah Bangun Pabrik Cairan Infus di Malang

Mediaindonesia-MAJELIS Ekonomi dan Bisnis Pimpinan Pusat Muhammadiyah membangun pabrik cairan infus PT Suryavena Farma Indonesia dengan total investasi sekitar Rp800 miliar belum termasuk aset tanah. Peletakan batu pertama di lokasi pabrik yang akan dibangun di Dusun Ngepeh, Desa Ngijo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (11/6). “Total investasi sebesar Rp800 miliar di luar aset tanah. Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu pemegang saham karena pemilik lahannya. Pabrik ini melibatkan rumah sakit di lingkungan Muhammadiyah yang juga pemegang saham,” tegas Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri, Muhadjir Effendy, dalam kesempatan tersebut. Adapun manajemen pabrik di bawah koordinasi majelis kesehatan dan majelis ekonomi bisnis. Kedepan, lanjutnya, ada beberapa majelis juga akan mengembangkan industri sesuai karakter masing-masing. Muhadjir mengatakan PT Suryavena Farma Indonesia sudah beroperasi selama dua tahun terakhir dengan menerapkan sistem maklun. Kini, bisnis dioptimalkan sehingga dengan keberadaan pabrik dinilai jauh lebih efisien, termasuk kontrol kualitas bisa lebih ketat. Bahkan, pabrik yang memproduksi sendiri cairan infus akan menawarkan harga lebih kompetitif ketimbang produk serupa di luar Muhammadiyah. “Ini peluangnya sangat besar, nanti kita memetakan potensi lebih luas,” katanya. Nantinya, distribusi produk akan membentuk jaringan sendiri lebih luas dari sebelumnya bekerja sama dengan Kimia Farma. Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan pembangunan pabrik yang memproduksi cairan infus ini karena Muhammadiyah memiliki 130 rumah sakit dan ratusan klinik. Karena itu, kebutuhan cairan infus akan terlayani dengan kekuatan sendiri tanpa perlu bergantung pada pihak lain. Sedangkan pembangunan pabrik didasari oleh kehendak memperkuat ekonomi rakyat dan umat. Spirit itu sesuai semangat naik kelas menuju ekonomi menengah ke atas menjadi keutamaan sembari konsisten memberdayakan masyarakat. “Muhammadiyah mengusung spirit naik kelas, spirit bangkit membangun ekonomi yang identik dengan kekuatan rakyat,” tuturnya. Semangat membangun ekosistem ekonomi umat dan bangsa yang naik kelas itu sejalan dengan amanat Presiden Prabowo Subianto. Sebab, mewujudkan Indonesia Emas, dasarnya harus mandiri dengan syarat segala sumber daya alam dikelola secara mandiri. “Muhammadiyah berada di jalur itu. Saya yakin bertemu dengan spirit bangsa menjadi pilar kemajuan Indonesia ke depan,” pungkasnya.

Pabrik Infus Muhammadiyah di UMM Siap Pasok Kebutuhan Medis Nasional

agroredaksi – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat peran strategisnya dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional. Komitmen ini diwujudkan lewat penyediaan lahan untuk pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang. Dari total 14 hektare aset lahan milik UMM di lokasi tersebut, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu. Peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek ini resmi dilaksanakan pada Kamis (11/6). Peresmian proyek ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. Pabrik yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 ini diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan, baik bagi jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan bahwa pendirian pabrik infus ini adalah manifestasi dari ekosistem socio-religious corporation yang digagas oleh persyarikatan. Menurutnya, inisiatif ini membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara, bukan sekadar mencari keuntungan finansial. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Lebih lanjut, Haedar memaparkan bahwa agama tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, melainkan juga urusan muamalah dalam tata kehidupan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, keterlibatan di sektor industri medis ini diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menjelaskan bahwa kontribusi Kampus Putih tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depannya, kawasan ini akan diintegrasikan menjadi ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang mempertemukan aktivitas industri dengan fungsi tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” ujarnya. Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia pada 2027 mendatang, langkah ini diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Tanah Air. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi pesan kuat bahwa kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa.(Sfl/umm)

Prodi Budidaya Perairan Unsri Kunjungi Prodi Akuakultur UMM, Studi Inovasi Teknologi Perairan

matahati – Rombongan UNSRI terdiri empat dosen dan 50 mahasiswa. Tujuannya sharing knowledge terkait pengelolaan kurikulum berbasis Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), manajemen laboratorium modem, serta pengembangan inovasi teknologi budidaya perikanan yang menjadi keunggulan masing-masing universitas. Di tempat sama, Ketua Prodi Akuakultur UMM, Dony Prasetyo, SP MS, bahwa kolaborasi antar institusi sangat krusial dalam menghadapi tantangan industri perikanan dan akuakultur di masa depan. Pertemuan antara UNSRI-Akuakultur UMM ini membuka peluang bagi kedua belah pihak berkolaborasi, khususnya potensi perikanan wilayah barat Indonesia (Sumatera dengan inovasi teknologi yang dikembangkan di Malang). Kaprodi Akuakultur UMM, Dony Prasetyo, S.Pi, M.Si Ketika menerima cinderamata dari pimpinan Prodi Budidaya Perairan Unsri. Semantar itu, Pimpinan Prodi Budidaya Perairan Unsri, memberikan apresiasi saat kunjungan ke Prodi Akuakultur UMM. Kunjungan ini bukan sekedar studi banding, sekaligus langkah awal untuk membangun sinergi bidang riset, publikasi ilmiah, hingga potensi pertukaran mahasiswa antara UNSRI dan UMM. Mahasiswa Prodi Budidaya Perairan Unsri saat menyampaikan tujuan studi banding ke Prodi Akuakultur UMM. Sekedar diketahui saat berkunjung ke Prodi Akuakultur UMM rombongan Unsri  melihat fasilitas unggulan Akuakultur UMM. Diantaranya Laboratorium Perikanan, Center of Excellence (COE) Udang/Analis Akuakultur yang menjadi kebanggaan UMM, serta instalasi budidaya berbasis teknologi modern. (humas prodi akuakultur umm/don)

Sering Potong Kuku Terlalu Dalam? Waspada Cantengan

Beritabanten.com – Kebiasaan memotong kuku terlalu pendek ternyata bisa memicu cantengan atau ngrowing nail. Kondisi ini ditandai dengan nyeri di sekitar kuku, bengkak kemerahan, hingga infeksi. Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rahma Sabila Rindardi, menjelaskan bahwa cantengan terjadi ketika kuku tumbuh masuk ke dalam kulit di sekitarnya. “Cantengan paling sering dialami anak-anak dan lansia. Pada anak-anak, jaringan di sekitar kuku masih lunak. Sementara pada lansia, keterbatasan mobilitas dan penglihatan membuat perawatan kuku menjadi lebih sulit,” ujar dokter yang akrab disapa Bela, dilihat dalam laman resmi umm. Mengacu pada data Kementerian Kesehatan, sekitar 25 persen pasien yang datang ke dokter mengalami masalah cantengan. Untuk mencegah kondisi tersebut, Bela mengimbau masyarakat agar tidak memotong kuku terlalu pendek, terutama hingga ke bagian pinggir kuku. Cara memotong kuku yang salah dapat meningkatkan risiko kuku tumbuh ke dalam kulit. Selain itu, penggunaan gunting kuku yang tajam juga penting. Menurutnya, gunting yang tumpul sering membuat seseorang menarik kuku yang belum terpotong sempurna sehingga menimbulkan luka kecil di sekitar jaringan kuku. “Gunakan juga alas kaki yang nyaman dan tidak terlalu sempit. Sepatu yang sempit dapat menekan kuku kaki sehingga kuku tumbuh ke dalam kulit,” jelasnya. Ia menambahkan, trauma ringan pada kaki akibat aktivitas fisik berlebihan, seperti berlari atau penggunaan alas kaki yang tidak sesuai, juga dapat menjadi pemicu cantengan. Bagi yang sudah mengalami cantengan, Bela menyarankan mengonsumsi obat pereda nyeri yang tersedia di apotek. Jika telah terjadi infeksi, luka dapat diolesi salep antibiotik sesuai anjuran tenaga kesehatan. Merendam kaki dalam air hangat juga dapat membantu mengurangi rasa nyeri. Namun, jika infeksi semakin parah hingga mengeluarkan nanah, penderita disarankan segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, termasuk tindakan ekstraksi kuku bila diperlukan. “Cantengan yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan infeksi meluas ke jaringan kulit di sekitarnya dan menimbulkan komplikasi yang lebih serius,” pungkasnya.(Red)

DIMPA UMM, Bedah Film Peringati Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia, Divisi Mahasiswa Pecinta Alam (DIMPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan Maharesigana UMM, dan Kine Klub UMM menggelar kegiatan “Bedah Film: Membaca Pesan Lingkungan Lewat Layar” pada Sabtu (6/6/2026) di Kafe Kontainer UMM. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama bagi mahasiswa, pelajar, dan masyarakat untuk memahami kondisi lingkungan yang semakin mengalami degradasi melalui pendekatan seni dan media film. Sebanyak 53 peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung mulai pukul 18.30 hingga 22.00 WIB. Tiga film bertema lingkungan, yaitu Hijau, Forever Green, dan Serdadu Apel Emas, ditayangkan sebagai media edukasi yang mengangkat berbagai persoalan lingkungan, mulai dari kerusakan ekosistem, perubahan iklim, hingga ancaman terhadap keberlanjutan sumber daya alam. Suasana Bedah Film: Membaca Pesan Lingkungan Lewat Layar. Kegiatan ini menghadirkan Kepala Biro Kemahasiswaan UMM, Tatag Muttaqin yang juga Perwakilan dari MDMC Jawa Timur sebagai Narasumber, sutradara film Serdadu Apel Emas, Lingga. Turut hadir pula mahasiswa perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UMM serta pelajar yang tergabung dalam organisasi Sispala. Dalam sambutannya, Tatag menekankan bahwa alam memiliki sistem kehidupan yang saling terhubung dan membutuhkan keseimbangan untuk tetap bertahan. “Pohon-pohon di hutan tidak hidup sendiri. Mereka memiliki keterhubungan melalui sistem akar yang saling mendukung kehidupan ekosistem. Ketika pohon berdiri sendiri tanpa komunitasnya, hal tersebut dapat menjadi tanda terganggunya keseimbangan alam. Menurunnya jumlah sumber mata air juga menjadi peringatan bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” ujar Tatag yang merupakan dosen Kehutanan UMM. Pembina DIMPA UMM sekaligus dosen Perikanan UMM, Rindya Fery Indrawan, menyampaikan bahwa kegiatan bedah film ini menjadi salah satu bentuk pendekatan kreatif dalam membangun kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda. Mahasiswa DIMPA UMM ketika menyaksikan Membaca Pesan Lingkungan Lewat Layar. “Menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan memahami teori, tetapi perlu adanya kesadaran emosional dan aksi nyata. Melalui film, kita dapat melihat bagaimana alam berbicara kepada manusia melalui berbagai fenomena yang terjadi. Sebagai generasi penerus, mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen perubahan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan, terutama sumber daya alam dan ekosistem perairan yang menjadi penopang kehidupan manusia,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa persoalan lingkungan saat ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau aktivis lingkungan semata, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, kepedulian kecil seperti menjaga kebersihan, mengurangi limbah, hingga melakukan konservasi lingkungan merupakan langkah nyata yang dapat memberikan dampak besar di masa depan. Sementara itu, Mas Lingga menyampaikan bahwa film memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan lingkungan dengan cara yang lebih dekat dan menyentuh masyarakat. “Edukasi lingkungan akan lebih mudah diterima ketika disampaikan melalui bahasa dan media yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Film bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi ruang refleksi dan ajakan untuk bergerak menjaga alam,” ungkapnya. Ia juga menyoroti kondisi lingkungan di Kota Batu, khususnya berkurangnya jumlah pohon apel yang dipengaruhi oleh perubahan suhu yang semakin signifikan. Kondisi tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam film Serdadu Apel Emas dan menjadi pengingat akan pentingnya tindakan nyata dalam menghadapi perubahan iklim. Foto bersama mahasiswa DIMPA usai bedah film. Rangkaian acara dimulai dengan pembukaan oleh MC dari DIMPA UMM, Kak Hafiza, yang membangun suasana hangat dan penuh semangat. Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan musik dari Band IKABAMA UMM yang berhasil menciptakan suasana akrab sebelum peserta menyaksikan pemutaran tiga film yang dioperasikan oleh Kine Klub UMM. Setelah sesi pemutaran film, peserta mengikuti bedah film dan diskusi interaktif yang dipandu oleh Kak Sukma Ayu sebagai moderator dari Maharesigana UMM. Berbagai pertanyaan dan pandangan dari peserta menunjukkan tingginya antusiasme terhadap isu lingkungan. Tidak sedikit peserta yang mengaku tersentuh oleh pesan-pesan yang disampaikan melalui film dan semakin menyadari pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kelestarian alam. Suasana Kafe Kontainer UMM yang sejuk dan dikelilingi lingkungan hijau turut mendukung jalannya kegiatan. Udara malam Kota Malang yang nyaman menghadirkan pengalaman berdiskusi yang lebih dekat dengan alam, sejalan dengan semangat Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia. Melalui kegiatan “Bedah Film: Membaca Pesan Lingkungan Lewat Layar”, Dimpa UMM, Maharesigana UMM, dan Kine Klub UMM berharap kesadaran terhadap isu lingkungan tidak berhenti pada ruang diskusi semata, tetapi mampu diwujudkan dalam aksi nyata. Kepedulian terhadap alam, sekecil apa pun langkah yang dilakukan, menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan bumi bagi generasi yang akan datang. (rfi)

IHSG Ambruk, Ekonom UMM Imbau Masyarakat Tak Terseret Arus

MAKLUMAT – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot lebih dari 20 persen seolah menjadi alarm bagi perekonomian domestik. Sebab kekhawatiran ini bisa memicu krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi tahun 1998 silam. Namun bagi ekonom Universitas Muhammadiyah Malang, UMM memiliki pandangan sendiri. Menurut, Novi Puji Lestari, dosen manajemen UMM, fenomena ini murni akibat kepanikan psikologis pasar sesaat, bukan cerminan fundamental makroekonomi nasional. Menurutnya, tekanan jual yang masif di pasar modal disebabkan krisis kepercayaan yang berujung pada reaksi berlebihan dan tergesa-gesa dari para investor. “Turunnya IHSG murni dipicu panic selling dari para investor yang punya kekhawatiran berlebih. Pasar biasanya akan bergerak merespons ketakutan jauh lebih cepat. Ini yang perlu dipahami,” ujarnya, dikutip Rabu (10/6/2026). Pemicu Utama IHSG Ambruk Novi, sapaan lekatnya, menjelaskan pemicu utama terseok-seoknya IHSG diawali dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kurs yang fluktuatif ini membuat asset domestik terlihat sangat berisiko bagi investor asing. Selain itu, investor juga mengalami krisis kepercayaan terhadap stabilitas fiskal. Situasi ini berdampak langsung pada menurunnya daya tarik investasi Indonesia dibandingkan negara-negara berkembang lainnya. “Investor asing sangat sensitif terhadap isu stabilitas fiskal. Mereka tidak hanya melihat angka di atas kertas. Ketika rupiah ambruk, investor panik, karena merasa asetnya semakin berisiko. Inilah yang memicu penarikan dana dan krisis kepercayaan secara besar-besaran dari bursa kita,” urainya menjelaskan. Faktor yang tak kalah penting adalah rambatan dampak dari ketidakpastian global. Mengacu pada hasil penelitiannya terkait ekonomi global, Novi menyebut arus globalisasi telah menipiskan batas ekonomi antarnegara. Akibat Campur Tangan Global Gejolak geopolitik dunia, seperti memanasnya perang dagang antara AS dan China serta eskalasi konflik Timur Tengah, selalu berhasil mengirimkan sentimen negatif ke bursa domestik, sekecil apa pun eskalasinya. “Faktor globalisasi ini membuat sekat antarnegara menjadi sangat tipis,” tegasnya menjelaskan. Meskipun papan bursa saat ini dipenuhi sentimen negatif imbas dinamika global, pemerintah memastikan bahwa fundamental makroekonomi Indonesia masih sangat solid. Ia meminta masyarakat awam dan investor pemula untuk tidak gegabah, ikut-ikutan menjual rugi (cut loss) tanpa dasar. Harapannya investor pemula menjadikan fluktuasi ini sebagai momen untuk berinvestasi secara rasional dan terencana.

UMM Cetak Puluhan Trainer Pembelajaran Transformatif

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Merespons tantangan era digital dan kecerdasan buatan (AI), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Training of Trainers (TOT) Penerapan Pembelajaran Transformatif. Diikuti oleh 32 dosen perwakilan fakultas dan unit kerja, agenda ini berlangsung secara bauran pada 6–9 Juni 2026 di Ruang Sidang Senat UMM guna mencetak trainer yang mampu menggerakkan perubahan praktik pembelajaran di lingkungan kampus. Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menegaskan bahwa dosen di era modern tidak lagi sekadar menjadi penyampai materi, melainkan bertindak sebagai agen perubahan. Ia menyebutkan bahwa pendidik dituntut untuk membantu mahasiswa membangun cara berpikir kritis, reflektif, dan berorientasi pada pemecahan masalah yang nyata. “Di era digital, informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah. Tantangan dosen saat ini bukan lagi sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi bagaimana membimbing mahasiswa untuk mengolah informasi, melakukan refleksi kritis, membangun perspektif baru, dan menghasilkan tindakan yang berdampak,” ujarnya. Sejalan dengan hal tersebut, Fasilitator Nasional Pembelajaran Transformatif, Prof. Dr. Mohammad Syaifuddin, MM., menjelaskan bahwa pendekatan ini akan mendorong perubahan perspektif melalui pengalaman belajar. Menurutnya, pembelajaran di kelas harus melampaui paradigma transfer pengetahuan menuju transformasi pemahaman mahasiswa terhadap dirinya dan tantangan di masyarakat. “Pembelajaran yang baik bukan hanya membuat mahasiswa mengetahui sesuatu, tetapi membantu mereka melihat sesuatu secara berbeda. Ketika mahasiswa mulai mempertanyakan asumsi yang selama ini diyakini, melihat persoalan dari berbagai perspektif, dan kemudian mengambil tindakan berdasarkan refleksi kritis, di situlah transformasi pembelajaran terjadi,” jelasnya. Selama pelatihan, peserta tidak hanya dibekali strategi dari tahap perencanaan hingga asesmen, tetapi juga didorong untuk meninjau ulang praktik mengajar mereka selama ini. Salah satu peserta mengungkapkan bahwa pelatihan ini mengguncang cara pandangnya, di mana kesuksesan belajar seharusnya tidak lagi diukur sebatas dari pemerolehan nilai akademik semata. “Selama ini saya menganggap pembelajaran berhasil ketika mahasiswa memahami materi dan memperoleh nilai yang baik. Namun dalam pelatihan ini saya disadarkan bahwa pembelajaran seharusnya membantu mahasiswa mengalami perubahan cara berpikir, membangun kesadaran baru, dan mampu memaknai pengalaman yang mereka hadapi,” ungkapnya. Peserta lainnya turut menyoroti urgensi efektivitas desain pembelajaran yang selama ini diterapkan di perguruan tinggi. Ia terdorong untuk mengevaluasi secara mendalam sejauh mana proses belajar-mengajar di kelas benar-benar memberikan dampak nyata bagi pembentukan karakter mahasiswa. “Pelatihan ini membuat saya bertanya pada diri sendiri, apakah mahasiswa saya hanya memperoleh pengetahuan atau benar-benar mengalami transformasi cara berpikir? Pertanyaan itu terus muncul dan mendorong saya untuk mendesain ulang pembelajaran agar lebih bermakna,” tuturnya. Ke depannya, inisiatif UMM dalam mencetak trainer pembelajaran transformatif ini menjadi wujud nyata komitmen kampus untuk terus menghadirkan inovasi pendidikan abad ke-21. Transformasi yang berakar dari perubahan cara berpikir dosen ini diharapkan dapat menular secara luas, sehingga UMM konsisten melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga tangguh menjadi agen perubahan yang solutif bagi bangsa dan kemanusiaan.(ANS)

Mesin Cuci Singkong Karya Mahasiswa UMM Juara Kompetisi Nasional

Dari tujuh jam menjadi satu jam. Lompatan efisiensi itu lahir dari tangan tiga mahasiswa UMM yang merancang mesin pencuci singkong hemat air dan berkapasitas besar, hingga sukses menaklukkan kompetisi nasional. Tagar.co – Lima ratus kilogram singkong biasanya membutuhkan waktu berjam-jam untuk dibersihkan. Di banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), proses itu masih mengandalkan tenaga manusia. Pekerja harus mencuci, menyikat, dan memisahkan kotoran satu per satu. Akibatnya, waktu produksi tersita dan kualitas hasil sering tidak seragam. Kondisi tersebut mendorong tiga mahasiswa Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan solusi yang sederhana, tetapi berdampak besar. Mereka merancang mesin pencuci singkong semi mekanis yang mampu memangkas waktu pencucian 500 kilogram singkong dari empat hingga tujuh jam menjadi sekitar satu jam. Inovasi itulah yang mengantarkan tim UMM meraih juara nasional dalam kompetisi yang diselenggarakan Asosiasi Program Studi Teknik Mesin Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (APSTM-PT). Pengumuman pemenang berlangsung pada Senin, (18/5/2026). Tim tersebut terdiri atas Nova Sinanti, Azka Firosyan Samana Putra, dan Raihan Rosyadi. Baca Juga:  Program CoE UMM Dorong Mahasiswa Siap Kerja di Industri Sawit Pemangkas Waktu Bagi mereka, singkong bukan sekadar komoditas. Di balik umbi itu, terdapat denyut usaha kecil yang setiap hari berjuang memenuhi permintaan pasar. Karena itu, mereka merancang mesin yang mampu bekerja lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas bahan baku. Nova Sinanti, ketua tim, menjelaskan bahwa mesin tersebut memadukan teknologi drum spray dan water recirculation. Sistem itu bekerja bersama ulir pengarah bahan serta sediment trap yang memisahkan kotoran secara otomatis. “Mesin yang kami rancang mampu memangkas waktu pencucian 500 kilogram singkong dari yang awalnya butuh empat hingga tujuh jam menjadi hanya sekitar satu jam saja. Kami juga menambahkan fitur drum spray dan sirkulasi air yang terintegrasi dengan sediment trap, sehingga pemakaian air jauh lebih hemat dan kotoran tidak bercampur kembali dengan singkong,” ujarnya. Rancangan mesin pencuci singkong semi mekanis karya mahasiswa Teknik Mesin UMM yang mengantarkan timnya meraih Juara I kompetisi nasional APSTM-PT 2026. (Tagar.co/Nova Sinanti) Dari Efisiensi Menuju Kualitas Produksi Keunggulan mesin itu tidak berhenti pada efisiensi waktu. Tim UMM juga menaruh perhatian pada kualitas hasil pencucian. Mereka merancang sistem sirkulasi air yang bekerja seperti bantalan pelindung selama proses pembersihan berlangsung. Melalui mekanisme tersebut, kulit singkong dapat terkelupas dengan lebih bersih tanpa merusak dagingnya. Hasilnya, bahan baku memiliki kualitas yang lebih baik untuk diolah menjadi berbagai produk pangan. “Penggunaan sistem sirkulasi pada alat kami berperan layaknya bantalan air, sehingga kulit singkong bisa terkelupas dan bersih tanpa melukai dagingnya. Dengan hasil pencucian yang maksimal, UMKM nantinya bisa memproduksi keripik dengan warna yang lebih cerah dan rasa yang tidak pahit akibat sisa getah atau pasir,” kata Nova. Di tengah persaingan 15 tim terbaik dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Indonesia, inovasi tersebut mencuri perhatian dewan juri. Bukan hanya karena aspek teknisnya, tetapi juga karena manfaatnya yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Di Luar Laboratorium Dosen pendamping tim, Dr. Ir. Yepy Komaril Sofi’i, S.T., M.T., menjelaskan, keberhasilan itu menjadi bukti bahwa riset mahasiswa tidak harus berhenti di ruang laboratorium. Sebaliknya, gagasan yang lahir dari kampus dapat menjawab persoalan nyata para pelaku usaha. Baca Juga:  Utusan Khusus PBB Retno Marsudi: Inovasi Air UMM Berdampak Besar bagi Dunia Dia menilai karya tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menerjemahkan ilmu teknik menjadi solusi yang aplikatif. Ia berharap inovasi itu segera memasuki tahap produksi dan dapat digunakan secara luas. “Inovasi ini adalah bukti bahwa mahasiswa UMM mampu menerjemahkan ilmu teknik ke dalam solusi nyata. Saya sangat berharap mesin pencuci singkong ini dapat segera diproduksi agar dirasakan manfaatnya secara langsung oleh para pelaku UMKM kita,” ujarnya. (#) Penulis Faqih Ahmad Wafir Rahman Penyunting Terry Angria Putri Perdana