Mahasiswa UMM Raih Juara Nasional Lewat Inovasi Mesin Pencuci Singkong untuk UMKM

Malangpariwara.com – Kreativitas mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional. Kali ini, tim mahasiswa Program Studi Teknik Mesin UMM berhasil meraih juara dalam kompetisi nasional yang diselenggarakan Asosiasi Program Studi Teknik Mesin Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (APSTM-PT) berkat inovasi mesin pencuci singkong yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tim yang diketuai Nova Sinanti bersama Azka Firosyan Samana Putra dan Raihan Rosyadi sukses memikat perhatian dewan juri melalui karya bertajuk Mesin Pencuci Singkong Semi Mekanis Berbasis Drum Spray dan Water Recirculation. Inovasi tersebut dinilai mampu menjawab persoalan yang selama ini dihadapi pelaku usaha pengolahan singkong, khususnya terkait efisiensi waktu produksi dan penggunaan air. Kompetisi yang diikuti mahasiswa Teknik Mesin dari berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di seluruh Indonesia itu berlangsung ketat. Sebanyak 15 tim terbaik bertarung di babak final dengan menampilkan beragam inovasi teknologi tepat guna. Namun, solusi yang ditawarkan tim UMM dinilai memiliki nilai aplikatif tinggi serta berpotensi langsung diterapkan di sektor usaha masyarakat. Ketua tim, Nova Sinanti, menjelaskan bahwa ide pengembangan mesin tersebut berangkat dari kondisi di lapangan, di mana sebagian besar UMKM masih mengandalkan proses pencucian singkong secara manual yang memerlukan tenaga besar dan waktu yang panjang. Mesin yang dirancang mampu mempercepat proses pencucian hingga beberapa kali lipat dibanding metode konvensional.(Ist) Menurutnya, mesin yang dirancang mampu mempercepat proses pencucian hingga beberapa kali lipat dibanding metode konvensional. Jika sebelumnya pencucian 500 kilogram singkong membutuhkan waktu antara empat hingga tujuh jam, melalui teknologi yang mereka kembangkan proses tersebut dapat diselesaikan hanya dalam waktu sekitar satu jam. “Mesin ini dilengkapi sistem ulir untuk mengarahkan bahan baku, drum spray untuk proses pencucian, serta sistem sirkulasi air yang terintegrasi dengan sediment trap sehingga kotoran dapat dipisahkan secara otomatis. Dengan demikian penggunaan air menjadi lebih efisien dan hasil pencucian lebih optimal,” jelas Nova. Tak hanya mengedepankan efisiensi, inovasi tersebut juga dirancang untuk menjaga kualitas bahan baku. Sistem sirkulasi air yang diterapkan memungkinkan proses pembersihan berlangsung lebih lembut sehingga tekstur singkong tetap terjaga. Nova menambahkan, teknologi tersebut bekerja layaknya bantalan air yang membantu mengangkat kulit dan kotoran tanpa merusak bagian daging singkong. Hasilnya, bahan baku yang lebih bersih dapat meningkatkan kualitas produk olahan seperti keripik singkong, baik dari segi warna maupun cita rasa. “Dengan pencucian yang lebih bersih, sisa getah maupun pasir dapat diminimalkan. Ini akan berdampak pada kualitas produk akhir yang lebih baik dan bernilai jual lebih tinggi,” ujarnya. Keberhasilan tim mahasiswa tersebut mendapat apresiasi dari dosen pembimbing, Dr. Ir. Yepy Komaril Sofi’i, S.T., M.T. Ia menilai prestasi tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menerapkan ilmu teknik untuk menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, inovasi teknologi tidak seharusnya berhenti pada ajang kompetisi semata, melainkan harus mampu memberikan manfaat langsung bagi sektor produktif, khususnya UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah. “Saya berharap mesin pencuci singkong ini dapat segera memasuki tahap fabrikasi dan produksi sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para pelaku UMKM. Ini menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tuturnya. Prestasi tersebut sekaligus memperkuat komitmen UMM dalam mendorong lahirnya inovasi berbasis riset yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi pengembangan sektor usaha dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.(Djoko W)

Seminar Nasional Magister Psikologi UMM: Kolaborasi Guru dan Orang Tua Kunci Sukses Pendidikan Inklusif

KLIKMU.CO – Transformasi digital di sektor pendidikan kerap menjadi pedang bermata dua bagi sistem pendidikan inklusif. Di satu sisi, teknologi membuka akses pembelajaran yang lebih luas, namun di sisi lain pemerataan akses belum sepenuhnya dirasakan oleh semua kalangan. Merespons tantangan tersebut, Program Studi Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Seminar Nasional bertajuk Inovasi Literasi Akademik bagi Pendidikan Inklusif di Era Digital: Membangun Sekolah Ramah, Adaptif, dan Berkemajuan. Kegiatan ini berlangsung di Aula Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 UMM pada Sabtu (23/5/2026) dengan menghadirkan akademisi, praktisi, dan pemerhati pendidikan. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Dr Fajar Riza Ul Haq MA yang diwakili Ir Moch Abduh MS Ed PhD menyampaikan bahwa transformasi sekolah menuju ekosistem inklusif menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah. Menurutnya, pemerintah tengah menyiapkan berbagai kebijakan strategis untuk memperkuat sistem pendidikan inklusif yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. “Pemerintah saat ini terus memastikan agar arah kebijakan pendidikan mampu menjembatani kebutuhan peserta didik yang beragam melalui pemanfaatan inovasi teknologi secara optimal di sekolah,” ujar Abduh. Senada dengan itu, Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD menegaskan bahwa pendidikan inklusif merupakan fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang setara. Institusi pendidikan, kata dia, harus menjadi ruang aman yang bebas dari diskriminasi. “Kita sebagai akademisi harus berupaya keras menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif, yakni memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh peserta didik tanpa memandang latar belakang sosial maupun kondisi fisik,” ungkapnya mewakili Rektor UMM. Berbagai strategi mewujudkan ekosistem belajar yang inklusif turut dibahas oleh para narasumber, di antaranya Assoc Prof Ni’matuzahroh SPsi MSi PhD dan Prof Dr Khozin MSi. Keduanya mengulas pentingnya layanan digital terpadu serta penguatan kebijakan pendidikan inklusif di Jawa Timur. Ni’matuzahroh yang juga Ketua Program Studi Magister Psikologi UMM menjelaskan bahwa literasi akademik dan layanan inklusi berbasis digital perlu diterapkan secara luas dalam ekosistem pendidikan Muhammadiyah. Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital sangat penting untuk mendukung layanan pendidikan yang lebih efektif dan mudah diakses. Ia menjelaskan bahwa sistem layanan digital berbasis ekosistem terpadu memungkinkan layanan pendidikan berjalan lebih efektif, terintegrasi, dan mudah diakses oleh seluruh warga sekolah. “Sistem layanan digital berbasis ekosistem terpadu ini mengulas pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung layanan pendidikan yang lebih efektif, terintegrasi, dan mudah diakses oleh seluruh warga sekolah,” paparnya. Dalam seminar tersebut, Ni’matuzahroh juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya ditentukan oleh sekolah, tetapi juga membutuhkan kolaborasi erat antara guru dan orang tua. Sinergi keduanya menjadi kunci dalam mendukung perkembangan peserta didik yang memiliki kebutuhan dan karakteristik beragam. Sebagai bentuk komitmen nyata, kegiatan ini dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama antara Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Timur dengan Direktorat Sains dan Teknologi UMM. Selain itu, dilakukan pula penandatanganan kesepakatan antara Magister Psikologi UMM dan Penerbit Erlangga Cabang Malang. Kepala Cabang Erlangga Malang Dodi Wahyudi menyoroti pentingnya sinergi antara dunia pendidikan dan penerbitan untuk memperkuat literasi akademik di lingkungan sekolah. Rangkaian acara ditutup dengan Focus Group Discussion (FGD) SILLA MUTU yang bertujuan memetakan berbagai tantangan pendidikan inklusif di lapangan. Melalui forum tersebut, para peserta merumuskan berbagai langkah kolaboratif untuk mewujudkan pendidikan yang lebih ramah, adaptif, dan berkemajuan. Kegiatan ini menjadi bukti komitmen berbagai pihak dalam menciptakan ekosistem pendidikan inklusif yang mampu menjangkau seluruh peserta didik tanpa sekat, sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, sekolah, penerbit, dan masyarakat di tengah pesatnya perkembangan era digital. (Faqih/AS)

Musim Bediding, Pakar UMM Sebut Waspada Alergi dan ISPA

KOMPAS.com – Belakangan ini, sudah mulai terasa suhu dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Sebagian besar wilayah Indonesia tengah merasakan fenomena cuaca “bediding” atau penurunan suhu udara yang drastis. Saat cuaca mendadak dingin, biasanya orang refleks mencari jaket atau selimut. Memang terasa hangat, tetapi udara dingin dan kering yang dihirup tetap masuk langsung ke dalam sistem pernapasan. Sehingga akhirnya, muncul kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama bediding. Pakar keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Titik Agustiyaningsih, memaparkan bahwa fenomena ini terjadi karena perpaduan kompleks antara faktor lingkungan dan biologis manusia. “Angka kejadian ISPA dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan atau ketika suhu udara menurun karena ada kombinasi faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia yang saling mendukung terjadinya penularan,” terang Titik pada Selasa (9/10/2026). Ia menambahkan bahwa udara dingin dan kering membuat virus maupun bakteri mampu bertahan lebih lama di luar tubuh manusia, sehingga mempermudah penyebaran melalui partikel udara. Bediding sendiri akan berlangsung sampai September, namun puncaknya pada bulan Agustus. Mengapa mudah sakit flu kalau musim bediding? Titik mengatakan saluran pernapasan manusia memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap perubahan suhu ekstrem. Saat menghirup udara dingin, tubuh secara otomatis akan menyempitkan saluran napas dan memproduksi lendir lebih banyak. Kondisi ini diperparah dengan melambatnya kinerja rambut-rambut getar (silia) di dalam hidung yang bertugas menyaring kotoran. “Udara dingin itu mengganggu benteng pertahanan alami di dalam rongga hidung dengan menghambat produksi Extracellular Vesicles (EVs) atau sejenis komponen pertahanan lokal yang berfungsi menangkap virus,” kata Titik. Ketika suhu udara turun drastis, tubuh sebenarnya sedang berusaha mempertahankan suhu inti agar tetap stabil. Namun proses itu justru dapat membuat pertahanan lokal di saluran pernapasan melemah sehingga virus lebih mudah berkembang. Bahkan, jenis virus seperti rhinovirus (pemicu flu) terbukti dapat berkembang biak jauh lebih cepat dan optimal pada suhu dingin ketimbang pada suhu normal tubuh manusia. Perbedaan alergi dingin dan infeksi Masyarakat juga diimbau untuk lebih jeli dalam mengenali gejala yang muncul agar tidak salah dalam melakukan penanganan. Ada perbedaan mendasar antara alergi dingin dan infeksi bakteri atau virus. “Jika gejalanya hanya berupa bersin-bersin, hidung gatal, atau mata berair yang langsung mereda begitu tubuh kembali hangat, kemungkinan besar itu hanyalah reaksi alergi,” tambahnya. Namun, apabila gejala tersebut sudah disertai dengan demam, maka itu adalah tanda kuat bahwa tubuh sedang mengalami infeksi (ISPA). Pakaian tebal saja tidak cukup Menghadapi cuaca ekstrem seperti ini, memakai pakaian tebal atau jaket saja rupanya belum cukup untuk melindungi diri. Terutama bagi anak-anak, lansia, perokok, penderita sinusitis, hingga orang yang bekerja seharian di ruangan ber-AC harus melatih kewaspadaan ekstra. Untuk mencegah penularan, Titik mengatakan perlu rajin meminum air hangat. Selain itu, asupan nutrisi seperti Vitamin A, Vitamin D, serta lemak sehat yang mengandung omega-3 sangat disarankan untuk mendongkrak sistem imun. “Memakai jaket memang penting untuk melindungi tubuh dari udara dingin. Namun menjaga hidrasi, nutrisi, dan daya tahan tubuh jauh lebih penting karena pertahanan utama terhadap penyakit sebenarnya berasal dari dalam tubuh,” pungkas Titik.

IHSG Turun Lebih dari 20 Persen, Dosen UMM Minta Masyarakat Tidak Terjebak Kepanikan

pwmu.co – Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah mencapai lebih dari 20 persen sejak awal 2026 memunculkan kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap potensi krisis ekonomi. Namun, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menilai kondisi tersebut lebih dipengaruhi faktor psikologis pasar daripada lemahnya fundamental ekonomi nasional.Dosen Manajemen UMM, Novi Puji Lestari, S.E., M.M., menjelaskan bahwa pelemahan yang terjadi di pasar saham belakangan ini tidak mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Menurutnya, tekanan yang terjadi lebih banyak disebabkan aksi jual yang dipicu kepanikan investor. “IHSG turun 2026 yang terjadi saat ini pada dasarnya dipengaruhi oleh panic selling dari investor yang bereaksi secara berlebihan terhadap berbagai sentimen yang berkembang. Pasar biasanya bergerak lebih cepat merespons ketakutan dibandingkan perubahan kondisi ekonomi riil,” ujarnya. Novi menjelaskan, salah satu faktor yang memicu kekhawatiran investor adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat sebagian investor asing menilai aset di Indonesia memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi. Selain faktor kurs, muncul pula kekhawatiran terkait stabilitas fiskal yang berdampak pada menurunnya kepercayaan investor terhadap pasar domestik. “Investor asing itu tidak hanya melihat angka di atas kertas, mereka sangat sensitif terhadap isu stabilitas fiskal. Ketika rupiah terus melemah, kepanikan mereka memuncak karena merasa aset mereka di Indonesia semakin berisiko tinggi. Inilah yang memicu penarikan dana dan krisis kepercayaan secara besar-besaran dari bursa kita,” tegasnya. Menurut Novi, kondisi tersebut kemudian mendorong aksi jual yang semakin memperdalam tekanan terhadap pasar saham. Selain faktor domestik, Novi menilai ketidakpastian ekonomi global juga ikut memberikan dampak terhadap pergerakan pasar modal Indonesia. Berdasarkan hasil penelitiannya mengenai ekonomi global, ia menjelaskan bahwa arus globalisasi membuat keterkaitan ekonomi antarnegara semakin kuat. Akibatnya, berbagai gejolak internasional dapat dengan cepat memengaruhi sentimen investor di Indonesia. “Faktor globalisasi ini membuat sekat antarnegara menjadi sangat tipis. Konflik di Timur Tengah maupun tensi dagang AS-China sekecil apa pun dampaknya, pasti akan langsung merembet dan menciptakan sentimen negatif yang menghantam psikologis pasar domestik kita,” tambahnya. Memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China serta konflik yang terjadi di Timur Tengah disebut menjadi beberapa faktor yang terus memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan global. Meski pasar saham tengah berada dalam tekanan, Novi mengingatkan bahwa fundamental makroekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat. Karena itu, ia mengimbau masyarakat, terutama investor pemula, agar tidak mengambil keputusan investasi secara tergesa-gesa hanya karena mengikuti kepanikan pasar. Menurutnya, fluktuasi yang terjadi saat ini seharusnya menjadi momentum bagi investor untuk lebih rasional dalam menyusun strategi investasi dan menghindari keputusan yang didasarkan pada ketakutan semata. Dengan tetap berpegang pada analisis yang matang, investor diharapkan dapat menghadapi dinamika pasar dengan lebih tenang tanpa terjebak aksi jual rugi yang justru berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

UMM Kukuhkan 4 Guru Besar Baru, Hadirkan Inovasi dari Deteksi Anemia hingga Kedaulatan Energi

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah jajaran profesor melalui pengukuhan empat Guru Besar baru yang digelar di Aula GKB 4 Lantai 9 Kampus III UMM, Kamis (11/6/2026). Pengukuhan tersebut menjadi langkah strategis Kampus Putih dalam memperkuat hilirisasi riset multidisiplin sekaligus menegaskan komitmen UMM menghadirkan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat dan kemandirian bangsa. Empat profesor yang dikukuhkan berasal dari bidang keilmuan berbeda, mulai dari pengelolaan sumber daya air, rekayasa biomedis, energi terbarukan, hingga fitopatologi. Pada sesi orasi ilmiah pertama, Prof. Dr. Ir. Sulianto, M.T. memaparkan hasil risetnya terkait model pengelolaan sumber daya air berkelanjutan untuk menghadapi ancaman krisis lingkungan global. Menurutnya, metode estimasi hidrologi yang akurat berbasis data historis memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan air nasional. “Topik ini sangat relevan dengan upaya memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui pemenuhan ketahanan air jangka panjang secara merata,” jelas Sulianto. Ia menegaskan bahwa ketersediaan air yang terkelola dengan baik menjadi salah satu fondasi penting bagi keberlanjutan pembangunan dan ketahanan sebuah negara. Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T. dari bidang Rekayasa Biomedis memperkenalkan inovasi deteksi dini anemia secara non-invasif tanpa menggunakan jarum suntik. Teknologi tersebut memanfaatkan kamera ponsel pintar untuk memotret konjungtiva mata pasien. Selanjutnya, hasil gambar dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi indikasi anemia secara cepat. “Sinergi komputasi cerdas ini mampu mengeluarkan estimasi indikasi anemia hanya dalam hitungan dua hingga empat detik saja, sebuah lompatan efisiensi yang luar biasa jika dibandingkan dengan pengujian laboratorium konvensional,” tegas Lailis. Inovasi tersebut diharapkan dapat memperluas akses deteksi dini anemia, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan fasilitas kesehatan. Guru Besar berikutnya, Prof. Dr. Machmud Effendy, M.Eng., menyoroti pentingnya percepatan transisi energi nasional melalui optimalisasi energi terbarukan. Menurutnya, ketergantungan terhadap energi fosil tidak hanya mengurangi cadangan energi global, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan kedaulatan energi Indonesia. “Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil tidak hanya menyebabkan cadangan energi terus menurun, tetapi juga menjadi tantangan serius bagi kedaulatan energi nasional Indonesia di masa depan,” ungkap Machmud. Ia mendorong pengembangan sistem pembangkit berbasis energi baru dan terbarukan sebagai langkah strategis menuju kemandirian energi nasional. Adapun Prof. Ir. Henik Sukorini, M.P., Ph.D., IPM. dari bidang Fitopatologi mengangkat isu kerusakan tanah tropis akibat penggunaan bahan kimia pertanian yang berlebihan. Dalam orasinya, Henik menekankan pentingnya penerapan sistem pengendalian hayati sebagai solusi untuk memulihkan kualitas tanah dan menjaga keberlanjutan sektor pertanian. “Pengendalian hayati merupakan langkah penyelamatan darurat (emergency exit) yang harus segera diambil oleh seluruh pihak untuk memulihkan tanah tropis kita yang saat ini sedang mengalami degradasi parah,” pungkas Henik. Menurutnya, penggunaan pestisida sintetis secara berlebihan telah merusak keseimbangan mikroorganisme tanah dan berpotensi mengancam ketahanan pangan di masa mendatang. Sementara itu, Rektor UMM menegaskan bahwa penambahan empat profesor baru menjadi momentum penting dalam memperkuat peran universitas sebagai pusat keunggulan akademik yang berdampak bagi masyarakat. “Keempat orasi ilmiah yang disampaikan hari ini tidak hanya meneguhkan kedudukan akademik para profesor, tetapi juga mempertegas komitmen UMM dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat, bangsa, dan peradaban,” ujarnya. Ia berharap pengukuhan guru besar tidak hanya menjadi agenda seremonial akademik, tetapi juga mampu mendorong lahirnya riset-riset yang aplikatif dan memberikan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Melalui berbagai inovasi yang dihasilkan, UMM terus berupaya menghadirkan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional, mulai dari bidang kesehatan, lingkungan, energi, hingga ketahanan pangan. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

Pasar Saham Memerah Akibat Kepanikan Global, Dosen UMM Imbau Masyarakat Tak Terbawa Arus

MALANG, Suara Muhammadiyah – Merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga lebih dari 20 persen sejak awal 2026 memicu kekhawatiran publik akan datangnya krisis ekonomi. Namun, pengamat ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menegaskan bahwa fenomena ini murni akibat kepanikan psikologis pasar sesaat, bukan cerminan fundamental makroekonomi nasional yang rapuh. Novi Puji Lestari, S.E., M.M., Dosen Manajemen UMM memaparkan bahwa tren negatif di lantai bursa belakangan ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi yang sebenarnya. Tekanan jual yang masif di pasar modal lebih didorong oleh krisis kepercayaan yang berujung pada reaksi berlebihan dan tergesa-gesa dari para investor. “Secara keseluruhan, turunnya IHSG saat ini murni dipicu oleh panic selling dari para investor yang merasa khawatir secara berlebihan. Perlu dipahami bahwa pasar biasanya akan bergerak merespons ketakutan jauh lebih cepat, bahkan sebelum kondisi ekonomi riil kita benar-benar membaik atau memburuk,” jelasnya. Lebih lanjut, Novi sapaan akrabnya membeberkan pemicu utama gelombang kekhawatiran tersebut yang bermula dari tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi kurs yang fluktuatif ini membuat aset domestik terlihat sangat berisiko bagi investor asing. Selain itu, investor juga mengalami krisis kepercayaan terhadap stabilitas fiskal, yang berdampak langsung pada menurunnya daya tarik investasi Indonesia dibandingkan negara-negara berkembang lainnya. “Investor asing itu tidak hanya melihat angka di atas kertas, mereka sangat sensitif terhadap isu stabilitas fiskal. Ketika rupiah terus melemah, kepanikan mereka memuncak karena merasa aset mereka di Indonesia semakin berisiko tinggi. Inilah yang memicu penarikan dana dan krisis kepercayaan secara besar-besaran dari bursa kita,” tegasnya. Faktor lain yang tak kalah penting adalah rambatan dampak dari ketidakpastian global. Mengacu pada hasil penelitiannya terkait ekonomi global, Novi menyebut arus globalisasi telah menipiskan batas ekonomi antarnegara. Gejolak geopolitik dunia, seperti memanasnya perang dagang antara AS dan China serta eskalasi konflik di Timur Tengah, selalu berhasil mengirimkan sentimen negatif ke bursa domestik, sekecil apa pun eskalasinya. “Faktor globalisasi ini membuat sekat antarnegara menjadi sangat tipis. Konflik di Timur Tengah maupun tensi dagang AS-China sekecil apa pun dampaknya, pasti akan langsung merembet dan menciptakan sentimen negatif yang menghantam psikologis pasar domestik kita,” tambahnya. Meskipun papan bursa saat ini dipenuhi sentimen negatif imbas dinamika global, pemerintah memastikan bahwa fundamental makroekonomi Indonesia masih sangat solid. Oleh karena itu, masyarakat awam dan investor pemula diimbau untuk tidak gegabah, menghindari aksi ikut-ikutan menjual rugi (cut loss) tanpa dasar, dan menjadikan fluktuasi ini sebagai momen untuk berinvestasi secara lebih rasional dan terencana. (diko)

UMM Tambah Empat Guru Besar Baru, Perkuat Riset Berdampak untuk Masyarakat

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan mengukuhkan empat guru besar baru di Aula GKB 4 Lantai 9 Kampus III UMM, Kamis (11/6/2026). Pengukuhan ini menjadi langkah strategis Kampus Putih dalam memperluas hilirisasi riset multidisiplin, sekaligus mempertegas komitmen berkelanjutan universitas dalam menghasilkan inovasi aplikatif yang solutif bagi kemaslahatan masyarakat luas serta kemandirian bangsa. Pada sesi orasi ilmiah pertama, Prof Dr Ir Sulianto MT memaparkan hasil risetnya mengenai model pengelolaan sumber daya air berkelanjutan untuk menghadapi ancaman krisis lingkungan global. Ia menyampaikan bahwa metode estimasi hidrologi yang presisi menggunakan data historis sangat krusial dalam menjaga stabilitas ketahanan air nasional demi mendukung kemandirian bangsa. “Topik ini sangat relevan dengan upaya memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui pemenuhan ketahanan air jangka panjang secara merata,” jelas Sulianto. Selanjutnya, Prof Dr Ir Lailis Syafa’ah MT di bidang Rekayasa Biomedis memperkenalkan terobosan teknologi deteksi dini gejala anemia non-invasif tanpa jarum suntik. Inovasi tersebut memanfaatkan kamera ponsel pintar untuk memotret konjungtiva mata pasien yang kemudian dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan secara instan. “Sinergi komputasi cerdas ini mampu mengeluarkan estimasi indikasi anemia hanya dalam hitungan dua hingga empat detik, sebuah lompatan efisiensi dibandingkan pengujian laboratorium konvensional,” tegas Lailis. Sementara itu, Prof Dr Ir Machmud Effendy MEng menyoroti urgensi transisi energi nasional melalui optimalisasi sistem pembangkit berbasis energi terbarukan guna mencapai kedaulatan energi yang mandiri. Ia memaparkan bahwa ketergantungan tinggi terhadap energi fosil akan memicu penurunan cadangan energi global serta mengancam stabilitas ekonomi nasional. “Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil tidak hanya menyebabkan cadangan energi terus menurun, tetapi juga menjadi tantangan serius bagi kedaulatan energi nasional Indonesia di masa depan,” ungkap Machmud. Selanjutnya, Prof Ir Henik Sukorini MP PhD IPM dari bidang Fitopatologi menekankan pentingnya sistem pengendalian hayati untuk memulihkan kerusakan tanah tropis akibat penggunaan bahan kimia pertanian yang berlebihan. Ia memperingatkan bahwa ketergantungan petani terhadap pestisida sintetis telah merusak mikroorganisme tanah dan mengancam keamanan pangan jangka panjang. “Pengendalian hayati merupakan langkah penyelamatan yang harus segera diambil untuk memulihkan tanah tropis yang saat ini mengalami degradasi,” pungkas Henik. Sementara itu, Rektor UMM menegaskan bahwa penambahan guru besar ini merupakan momentum penting untuk memperkuat peran universitas sebagai pusat keunggulan akademik yang berdampak bagi masyarakat. “Keempat orasi ilmiah yang disampaikan hari ini tidak hanya meneguhkan kedudukan akademik para profesor, tetapi juga mempertegas komitmen UMM dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat, bangsa, dan peradaban,” ujar Rektor. Acara pengukuhan ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial akademik, tetapi juga pemantik semangat bagi sivitas akademika UMM untuk terus menghidupkan ekosistem riset yang membumi. Implementasi nyata dari inovasi lintas disiplin ilmu tersebut menjadi kunci untuk menjawab tantangan zaman dan mendukung kemandirian bangsa yang berkemajuan. (Faqih/AS)

Pabrik Infus Muhammadiyah di UMM Resmi Dibangun, Siap Perkuat Kemandirian Kesehatan Nasional

Muhammadiyah memulai pembangunan pabrik infus di kawasan UMM. Fasilitas yang ditargetkan beroperasi pada 2027 ini diproyeksikan memperkuat pasokan alat kesehatan nasional dan layanan rumah sakit Muhammadiyah. Tagar.co – Muhammadiyah menandai babak baru kemandirian kesehatan nasional dengan memulai pembangunan pabrik infus di kawasan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (11/6/26). Pabrik yang ditargetkan beroperasi pada 2027 itu diproyeksikan menjadi salah satu penopang rantai pasok alat kesehatan nasional sekaligus memperkuat layanan rumah sakit Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang. Untuk mendukung proyek tersebut, UMM menyediakan sebagian aset lahannya sebagai kawasan industri kesehatan terpadu. Dari total 14 hektare lahan yang dimiliki kampus di lokasi tersebut, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus untuk pengembangan industri. Sejumlah tokoh hadir dalam peresmian proyek tersebut, di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si.; Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI sekaligus Sekretaris BPH UMM Prof. Dr. Fauzan, M.Pd.; Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P.; Dr, M. Saad Ibrahim, M.A.; dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes. Baca Juga:  Mesin Cuci Singkong Karya Mahasiswa UMM Juara Kompetisi Nasional Juga Ketua PWM Jawa Timur Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M.; Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia Tatat Rahmita Utami; Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A.; serta jajaran pemerintah daerah dan pemangku kepentingan sektor kesehatan. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di kawasan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6/2026). Proyek ini menjadi langkah Muhammadiyah dalam memperkuat kemandirian industri kesehatan nasional. (Tagar.co/Humas UMM)) Wujud Kemandirian Muhammadiyah untuk Bangsa Haedar Nashir menegaskan bahwa pembangunan pabrik infus tersebut merupakan implementasi nyata konsep socio-religious corporation yang selama ini dikembangkan Muhammadiyah. Melalui model tersebut, organisasi keagamaan tidak hanya bergerak di bidang pendidikan dan dakwah, tetapi juga membangun kekuatan ekonomi dan industri yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Menurut Haedar, bisnis yang dibangun Muhammadiyah tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan, melainkan menjadi instrumen untuk menghadirkan kemaslahatan publik dan mendukung pembangunan bangsa. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa agama tidak hanya mengatur persoalan akidah dan ibadah, tetapi juga mencakup aspek muamalah yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan ekonomi. Karena itu, keterlibatan Muhammadiyah dalam industri alat kesehatan merupakan bentuk pengabdian yang berpijak pada nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan. Baca Juga:  Wujudkan Deep Learning, UMM Kembangkan Modul Ajar Berbasis STEM Bagi Muhammadiyah, kata Haedar, kemandirian ekonomi menjadi fondasi penting untuk menopang berbagai amal usaha, mulai dari pendidikan, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan masyarakat. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bersama jajaran pimpinan Muhammadiyah, UMM, dan PT Suryavena Farma Indonesia menghadiri groundbreaking pembangunan pabrik infus di kawasan Universitas Muhammadiyah Malang, Kamis (11/6/2026). Kehadiran pabrik tersebut diharapkan memperkuat ekosistem kesehatan dan industri alat kesehatan nasional. Integrasikan Industri, Pendidikan, dan Riset Sementara itu, Wakil Rektor II UMM Ahmad Juanda menjelaskan bahwa kontribusi UMM tidak berhenti pada penyediaan lahan. Kawasan tersebut nantinya akan dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang menghubungkan dunia industri dengan aktivitas pendidikan dan penelitian. Menurutnya, kehadiran pabrik infus akan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi dan sektor industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional, khususnya di bidang kesehatan. “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” ujarnya. Lebih jauh, kawasan industri kesehatan tersebut diharapkan menjadi laboratorium hidup bagi mahasiswa dan peneliti untuk mengembangkan inovasi yang dapat langsung diterapkan dalam dunia industri. (#)

Mahasiswa UMM Juara Nasional Berkat Inovasi Mesin Pencuci Singkong untuk UMKM

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim mahasiswa Program Studi Teknik Mesin UMM berhasil meraih juara nasional dalam kompetisi inovasi teknologi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Program Studi Teknik Mesin Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (APSTM-PT). Tim yang diketuai Nova Sinanti bersama Azka Firosyan Samana Putra dan Raihan Rosyadi sukses memikat dewan juri melalui karya inovatif berupa Mesin Pencuci Singkong Semi Mekanis Berbasis Drum Spray dan Water Recirculation yang dirancang untuk membantu meningkatkan produktivitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kompetisi tingkat nasional tersebut mempertemukan 15 tim terbaik dari berbagai Program Studi Teknik Mesin PTMA se-Indonesia. Dalam persaingan yang ketat, tim UMM berhasil unggul berkat solusi teknologi yang dinilai aplikatif, efisien, dan mampu menjawab kebutuhan industri pengolahan pangan skala UMKM. Ketua tim, Nova Sinanti, menjelaskan bahwa mesin yang mereka kembangkan dirancang untuk mengatasi lamanya proses pencucian singkong yang selama ini masih dilakukan secara manual. “Mesin yang kami rancang mampu memangkas waktu pencucian 500 kilogram singkong dari yang awalnya membutuhkan empat hingga tujuh jam menjadi hanya sekitar satu jam saja. Kami juga menambahkan fitur drum spray dan sistem sirkulasi air yang terintegrasi dengan sediment trap sehingga penggunaan air menjadi lebih hemat dan kotoran tidak bercampur kembali dengan singkong,” jelas Nova. Selain meningkatkan efisiensi waktu produksi, inovasi tersebut juga mampu menjaga kualitas bahan baku. Sistem sirkulasi air yang diterapkan berfungsi sebagai bantalan air sehingga proses pembersihan dapat mengelupas kulit singkong tanpa merusak bagian dagingnya. “Dengan hasil pencucian yang lebih maksimal, pelaku UMKM dapat menghasilkan produk keripik dengan warna yang lebih cerah serta cita rasa yang lebih baik karena terbebas dari sisa getah maupun pasir,” tambahnya. Keunggulan lain dari mesin ini terletak pada penggunaan sistem ulir untuk mengarahkan bahan baku selama proses pencucian dan perangkap sedimen yang secara otomatis memisahkan kotoran dari air yang digunakan. Dosen pendamping tim, Dr. Ir. Yepy Komaril Sofi’i, S.T., M.T., mengapresiasi kerja keras dan dedikasi mahasiswa selama proses pengembangan inovasi tersebut. Ia berharap hasil karya tersebut tidak berhenti sebagai prototipe kompetisi, tetapi dapat segera diproduksi dan dimanfaatkan oleh masyarakat. “Inovasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UMM mampu menerjemahkan ilmu teknik menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Kami berharap mesin pencuci singkong ini dapat segera difabrikasi dan digunakan oleh pelaku UMKM sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung,” ujarnya. Keberhasilan ini sekaligus menjadi bukti komitmen UMM dalam mendorong lahirnya inovasi teknologi yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi pengembangan sektor usaha masyarakat dan ketahanan ekonomi lokal. (raf)

UMM, BSI, dan Paragon Bekali Mahasiswa Personal Branding hingga Investasi

www.majelistabligh.id – Kesuksesan di masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh deretan nilai akademik di atas kertas. Kemampuan membaca peluang karier serta kecakapan mengelola finansial kini menjadi kunci utama. Merespons tantangan tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan PT Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Paragon menggelar kuliah umum bertajuk “Langkah Emas Generasi Emas”. Acara yang berlangsung di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV UMM pada Senin (8/6/2026) ini membedah kesiapan mahasiswa dalam menghadapi persaingan industri. Tidak hanya itu, para peserta juga dibekali urgensi manajemen keuangan strategis, mulai dari perencanaan tabungan haji hingga investasi emas sejak dini. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menegaskan bahwa puncak bonus demografi Indonesia pada 2045 tidak akan memberikan dampak positif jika tidak diimbangi dengan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Mengingat tantangan pembangunan ke depan kian kompleks, perguruan tinggi memikul tanggung jawab moral untuk mencetak agen perubahan yang berintegritas. “Indonesia Emas bukan sesuatu yang hadir secara otomatis. Generasi muda harus mempersiapkan diri sejak hari ini melalui pendidikan, karakter yang kuat, dan kemauan untuk terus belajar. Jika kesempatan besar itu tidak dipersiapkan dengan baik, bonus demografi justru bisa berbalik menjadi tantangan,” tegas Juanda. Sejalan dengan visi tersebut, Area Manager Malang PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, Waskito Vergino, S.T., MBA., M.Sc., menjabarkan bahwa sinergi antara institusi pendidikan dan sektor industri merupakan katalisator penting untuk melahirkan generasi tangkas. BSI sendiri, menurutnya, sangat membutuhkan pasokan SDM yang adaptif terhadap dinamika bisnis modern. “Indonesia Emas 2045 tidak mungkin tercapai tanpa generasi yang memiliki keterampilan, karakter, dan kelenturan dalam beradaptasi. Karena itu, kami hadir di kampus untuk memberikan wawasan serta pengalaman nyata sebagai bekal mahasiswa menghadapi dunia kerja,” tutur Waskito. Lebih dari Sekadar Siap Kerja Dari perspektif pengembangan karier, Vice President Islamic Education & Halal Solution BSI, Hikmah Rizka Maslahatin, S.Si., S.I.Kom., M.Si., mengajak mahasiswa memaksimalkan masa studi sebagai arena transformasi diri. Di tengah derasnya disrupsi teknologi, keunggulan akademis semata dinilai tidak lagi cukup jika tidak dibarengi dengan komunikasi yang kuat dan rekam jejak (personal branding) yang solid. “Skill dan pengetahuan itu penting, tetapi saat ini belum cukup. Mahasiswa juga harus memiliki personal branding, kemampuan berkolaborasi, serta mentalitas pembelajar. Dunia kerja saat ini mencari individu yang siap berkembang, bukan hanya siap bekerja,” jelas Hikmah. (*/tim)