Mahasiswa Ekonomi Pembangunan UMM Bahas ExportPreneur Bersama DJBC Jawa Timur II-UMKM Ekspor

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (EP UMM) mengikuti kuliah tamu bersama praktisi dengan tema From Campus to Global Market: Be The Next Smart Exporter. Kuliah tamu dipandu moderator Muhammad Firmansyah, SE, ME, Selasa, 30 Juni 2026, di aula BAU UMM. Mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan UMM bersama pemateri kuliah tamu, unsur pimpinan prodi, serta Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) UMM, Muhammad Sri Wahyudi, SE, ME, PhD (empat dari kiri). Opening Firman kuliah tamu menghadirkan Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur II, Muhamad Lukman, dan UMKM Ekspor Binaan Bea Cukai, Anggri Sartika Wiguna. Tujuan kuliah tamu tersebut mmbuka wawasan mahasiswa Prodi EP UMM tentang detail ekspor, serta motivasi menjadi eksportir handal. Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur II, Muhamad Lukman, Ketika menjelaskan bagaimana memulai proses ekspor bagi seorang pemula. Membuka sesi pertama adalah Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Jawa Timur II, Muhamad Lukman, secara umum menjelaskan syarat ekspor, proses kepabeanan, komoditas ekspor, dokumen ekspor, transportasi, larangan-pembatasan dalam ekspor, aturan komoditas yang dikenakan biaya (PMK No39/PMK.001./2022. Selain itu juga dijelaskan tujuan bea keluar, dokumen PEB, pelayanan ekspor, hingga fasilitas ekspor. UMKM Ekspor Binaan Bea Cukai, Anggri Sartika Wiguna, ketika menjelaskan bagaimana cara sukses menjadi exportpreneur. Sementara itu, sebagai UMKM Ekspor Binaan Bea Cukai, Anggri Sartika Wiguna, memaparkan bagaimana mengawali ekspor barang ke luar negeri yang sesuai dengan standart internasional atau negara yang dituju. Bagaimana membangun kemitraan dengan pemerintah, serta menjalin jaringan dengan perguruan tinggi. (humas ep umm)
UMM Jadi Pilot Project Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat Pertama di Kota Malang

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditunjuk sebagai pilot project kawasan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) pertama di Kota Malang.Program tersebut dikembangkan melalui kolaborasi UMM dengan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Jawa Timur serta Bank Indonesia Perwakilan Malang. Dalam asesmen lapangan yang dilaksanakan Selasa (30/6/2026), UMM berhasil memenuhi sekitar 95 persen persyaratan kelayakan Zona KHAS. Penilaian dilakukan di tiga lokasi, yakni Kantin RS UMM, Kantin Asri 1, dan Kantin Asri 2. Proses asesmen dipimpin asesor KDEKS Zona KHAS, Dr. Hj. Siti Nur Husnul Yusmiati, S.TP., M.Kes. Berdasarkan hasil evaluasi, sebagian besar tenant kuliner di lingkungan UMM telah memenuhi berbagai persyaratan administrasi, mulai dari legalitas usaha, keberadaan penyelia halal, hingga sertifikat pelatihan kebersihan bagi penjamah makanan. “Secara keseluruhan, sekitar 95 persen persyaratan kelayakan telah terpenuhi dengan baik sehingga UMM dinilai siap untuk direkomendasikan kepada pihak pusat dalam proses penerbitan sertifikat Zona KHAS,” ujarnya. Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P., menjelaskan bahwa pengembangan Zona KHAS merupakan langkah strategis kampus dalam menyambut penerapan kewajiban sertifikasi halal secara nasional pada Oktober 2026. Saat ini, sebanyak 25 tenant kuliner di lingkungan UMM telah mengantongi sertifikat halal. Selain itu, UMM juga dipercaya menjadi rujukan bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dalam pengembangan ekosistem halal, termasuk memimpin kolaborasi riset bersama sejumlah perguruan tinggi di Thailand dan Tiongkok. “Kesehatan dan ketenangan jiwa mahasiswa saat belajar sangat bergantung pada asupan gizi mereka, sehingga jaminan keamanan pangan melalui sertifikasi Zona KHAS di kantin kampus merupakan sebuah kewajiban mutlak,” tegas Elfi. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menyatakan bahwa program Zona KHAS selaras dengan misi universitas dalam membangun lingkungan akademik yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan. Ia berharap konsep kawasan kuliner halal tersebut tidak hanya diterapkan di lingkungan kampus, tetapi juga dapat dikembangkan untuk memberdayakan pelaku UMKM di desa-desa binaan UMM. “Kerja sama ini menjadi titik awal yang sangat baik, dan harapannya ke depan kita bisa memperluas ekosistem kawasan halal ini secara merata ke daerah-daerah binaan universitas seperti Kampung Warna-Warni,” pungkasnya. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Pertama di Kota Malang, UMM Jadi Pionir Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi institusi pertama di Kota Malang yang ditunjuk sebagai pilot project kawasan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS). Langkah ini diwujudkan melalui kolaborasi bersama Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Jawa Timur serta Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Wilayah Malang. Kesiapan UMM terbukti matang setelah berhasil mendapat nilai 95 persen dalam asesmen lapangan yang digelar pada Selasa (30/6/2026). Proses audit ini menyasar tiga titik krusial, yakni Kantin Rumah Sakit (RS) UMM, serta Kantin Asri 1 dan 2. Asesor Ahli KDEKS Zona KHAS, Dr. Hj. Siti Nur Husnul Yusmiati, STP., M.Kes., yang memimpin langsung jalannya audit, mengungkapkan bahwa mayoritas pelaku usaha kuliner di dalam kampus telah mengantongi dokumen administratif wajib. Mulai dari izin usaha, penunjukan penyelia halal, hingga sertifikat pelatihan kebersihan bagi para penjamah makanan, semuanya dinilai memuaskan. “Secara keseluruhan, sekitar 95 persen persyaratan kelayakan telah terpenuhi dengan baik sehingga UMM dinilai siap untuk direkomendasikan kepada pihak pusat dalam proses penerbitan sertifikasi Zona KHAS,” tutur Siti Nur Husnul. Menurutnya, pihak pengelola kampus kini tinggal menyempurnakan beberapa fasilitas penunjang teknis yang bersifat minor demi menyempurnakan standarisasi tersebut. Terpisah, Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan langkah taktis universitas guna menyongsong regulasi wajib sertifikasi halal nasional yang bakal diberlakukan pada Oktober 2026 mendatang. Hingga saat ini, sebanyak 25 tenant makanan dan minuman di lingkungan UMM dipastikan telah mengantongi sertifikat halal resmi. Komitmen kuat ini tak sekadar menjadikan UMM sebagai rujukan utama di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), melainkan juga dipercaya memimpin kolaborasi riset halal internasional bersama kampus-kampus di Thailand dan Tiongkok. ”Kesehatan dan ketenangan jiwa mahasiswa saat belajar sangat bergantung pada asupan gizi mereka, sehingga jaminan keamanan pangan melalui sertifikasi Zona KHAS di kantin kampus merupakan sebuah kewajiban mutlak,” jelas Elfi, pada Rabu (1/6/2026). Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menyatakan bahwa program zona kuliner sehat ini sejalan dengan misi kelima kampus untuk membina sivitas akademika berdasarkan nilai-nilai murni Islam dan Kemuhammadiyahan. Salis memproyeksikan, sistem tata kelola ekosistem pangan halal yang matang di dalam kampus ini nantinya tidak berhenti sebagai pemenuhan internal saja. UMM berkomitmen menduplikasi skema ini untuk mendongkrak kelas UMKM kuliner yang tersebar di berbagai wilayah binaan kampus. ”Kerja sama ini menjadi titik awal yang sangat baik, dan harapannya ke depan kita bisa memperluas ekosistem kawasan halal ini secara merata ke daerah-daerah binaan universitas seperti Kampung Warna-Warni,” tutup Salis. (dan/ted)
UMM Raih Anugerah Kampus Unggulan 2026 berkat Capaian Hibah Riset Terbanyak

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih Anugerah Kampus Unggulan 2026 dari LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur. Penghargaan bergengsi tersebut diraih pada kategori Penerima Program Hibah Penelitian dengan Pendanaan dan Judul Terbanyak 2026 (Bentuk Universitas/Institut) yang diserahkan dalam Rapat Kerja Pimpinan Perguruan Tinggi (Rakerpim) pada 22 Juni 2026. Capaian ini semakin mengukuhkan posisi Kampus Putih sebagai perguruan tinggi dengan ekosistem riset yang kuat dan adaptif terhadap berbagai tantangan global. Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama (BRBK) UMM Dr Salahudin SIP MSi MPA menjelaskan, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari sistem pendukung riset yang dibangun secara komprehensif oleh universitas. Dukungan tersebut meliputi pendanaan internal, pendampingan penyusunan proposal sejak tingkat fakultas hingga universitas, serta klinik proposal yang dikelola secara terpusat oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). “Yang pertama berkait dengan dukungan universitas terhadap program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang sangat komprehensif. Ada pendanaan internal, kemudian pendampingan proposal mulai dari tingkat fakultas sampai universitas, termasuk klinik proposal yang dilakukan secara terpusat di LPPM,” ujarnya. Selain dukungan pendanaan, UMM juga membangun ekosistem riset yang kuat melalui berbagai unit pendukung, seperti LPPM, Bursa Intelektual, KPI, serta pusat-pusat studi. Keberadaan unit-unit tersebut memungkinkan dosen memperoleh pendampingan yang berkelanjutan dalam melaksanakan penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat. Salahudin menegaskan, penelitian dan pengabdian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tridarma perguruan tinggi. Karena itu, UMM terus menghadirkan berbagai skema pendukung agar dosen dapat menjalankan kewajiban akademiknya secara optimal. “Penelitian dan pengabdian itu merupakan urusan wajib yang harus dilaksanakan oleh dosen karena menjadi bagian dari tridarma perguruan tinggi. Karena itu, UMM mendukung Bapak-Ibu dosen dengan berbagai cara, mulai dari pendampingan, pendanaan, hingga struktur organisasi yang mendukung pelaksanaan penelitian,” katanya. Menurutnya, peningkatan kuantitas riset harus berjalan seiring dengan kualitas dan manfaatnya bagi masyarakat. Untuk memastikan riset benar-benar berdampak, UMM membentuk klaster penelitian dan pengabdian unggulan serta memetakan wilayah sasaran berdasarkan kebutuhan riil masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, hasil penelitian tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi juga mampu menjawab berbagai persoalan di lapangan. “Lokasi penelitian dan pengabdian harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat. Misalnya, ketika UMM mengirim tim penelitian dan pengabdian ke Nusa Tenggara Timur, itu karena daerah tersebut memang membutuhkan. Jadi, penelitian dan pengabdian tidak hanya ditentukan oleh dosen, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan masyarakat agar benar-benar berdampak,” jelasnya. Keterlibatan mahasiswa juga menjadi bagian penting dalam setiap program hibah di UMM. Salahudin mengatakan, universitas mewajibkan setiap kegiatan penelitian dan pengabdian melibatkan mahasiswa, mulai dari penyusunan proposal, pelaksanaan kegiatan, hingga penyusunan luaran penelitian berupa publikasi, poster ilmiah, maupun luaran akademik lainnya. Ke depan, UMM berkomitmen terus meningkatkan capaian riset dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki. Dosen muda maupun dosen senior akan terus didorong aktif melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sebab, keberhasilan riset tidak hanya diukur dari jumlah penelitian, tetapi juga kualitas serta dampaknya dalam memberikan perubahan bagi masyarakat. (Faqih/AS)
SAMAKARYA 2026, Ilmu Komunikasi UMM Pamerkan Ratusan Karya Praktikum Mahasiswa

pwmu.co – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar SAMAKARYA 2026 dengan memamerkan ratusan karya hasil praktikum mahasiswa di Dome Utara UMM pada 29–30 Juni 2026.Mengusung tema “Beragam Akar, Tumbuh Bersama”, pameran tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menampilkan portofolio profesional sebagai hasil implementasi pembelajaran berbasis praktik. Di tengah tuntutan industri kreatif yang semakin mengutamakan portofolio dibandingkan sekadar nilai akademik, SAMAKARYA menjadi bukti kesiapan mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM dalam membangun kompetensi profesional sejak masih menempuh pendidikan. SAMAKARYA menghadirkan karya dari berbagai peminatan di Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, mulai dari Audio Visual, Public Relations, Jurnalistik, Fotografi, Komunikasi Grafis, hingga Center of Excellence (CoE) School of Creative Digital Communication (SCDC). Tidak hanya menampilkan karya, kegiatan ini juga menghadirkan berbagai agenda interaktif, seperti gelar wicara inspiratif, workshop podcast bersama Amazing Malang, kelas event organizer bersama Radar Malang, hingga Bioskop Keliling yang menayangkan film-film karya mahasiswa pada malam penutupan. Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa pameran tersebut merupakan implementasi nyata kurikulum Outcome Based Education (OBE) yang diterapkan di lingkungan kampus. Menurutnya, setiap mata kuliah tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga menghasilkan produk yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai capaian pembelajaran. “Produk yang ditampilkan merupakan hasil perkuliahan maupun praktikum dalam rangka OBE. Karena kurikulum kami menuntut setiap mata kuliah menghasilkan karya, maka karya-karya itulah yang kemudian dipamerkan agar dapat diapresiasi sekaligus menjadi gambaran bagi calon mahasiswa mengenai proses pembelajaran di Ilmu Komunikasi UMM,” urai Novin. Ia menambahkan, SAMAKARYA akan terus dikembangkan agar menjangkau masyarakat yang lebih luas. “Ini bukan kegiatan tahunan, tetapi setiap semester. Untuk penyelenggaraan kali ini kami masih fokus di lingkungan kampus agar mahasiswa UMM lebih mengenalnya terlebih dahulu. Ke depan, kami ingin mengeksplorasi penyelenggaraan di ruang publik Kota Malang agar karya mahasiswa dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas,” tambahnya. Antusiasme pengunjung terlihat sepanjang penyelenggaraan pameran. Salah seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2024, Fahra Anissa Putri Murtado, menilai SAMAKARYA tidak hanya menghadirkan karya kreatif, tetapi juga pengalaman belajar yang interaktif. “Kesannya seru, banyak tantangan, terus membuat otak semangat. Semoga ke depannya acaranya semakin ramai, semakin bagus, semakin meriah, dan makin banyak kegiatannya,” pungkasnya. Menurut Fahra, kehadiran berbagai stan interaktif menjadikan SAMAKARYA bukan sekadar ajang pameran karya, tetapi juga ruang kolaborasi yang mempertemukan mahasiswa, calon mahasiswa, dan masyarakat untuk melihat secara langsung kualitas pembelajaran kreatif di Program Studi Ilmu Komunikasi UMM. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Mahasiswa UMM Luncurkan Empat Media Digital Baru

MALANG POST- Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meluncurkan empat media digital baru dalam ajang Communication Journalism Exhibition and Talkshow (Komjest 2026). malangpost – Pameran karya dan peluncuran portal berita yang digelar di Malang Creative Center (MCC) pada Jumat (26/6/2026) ini menjadi wujud nyata komitmen UMM sebagai Kampus Berdampak yang konsisten mencetak jurnalis profesional di era modern. Empat portal media digital yang diluncurkan memiliki fokus dan segmentasi yang spesifik. Keempatnya meliputi natera.id yang secara khusus menyoroti isu lingkungan, soravista.id yang berfokus pada ulasan dan rekomendasi destinasi wisata alam, zheltymedia.id dengan sajian edukasi kesehatan digital serta clickbites.id yang merangkum informasi menarik di ranah kuliner. Kehadiran portal-portal ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa UMM tidak sebatas belajar memproduksi teks berita, tetapi telah mampu membangun identitas media dengan target pembaca dan nilai editorial yang terarah. Selain peluncuran media, Komjest 2026 turut menyajikan forum bincang bersama para Pimpinan Redaksi (Pimred) dari setiap media garapan mahasiswa. Masing-masing Pimred membedah secara langsung karakter media mereka, mulai dari strategi segmentasi audiens, optimalisasi konten, hingga isu strategis redaksional. Wawasan mahasiswa juga makin diperkaya melalui sesi talkshow bertema “Transformasi Media & Jurnalisme: Dari Media Konvensional ke Media Modern”. Ini bertujuan untuk menganalisis pergeseran pola konsumsi informasi dan strategi distribusi konten silang platform. Menanggapi pameran karya ini, Dosen Praktikum Jurnalisme Data dan Dokumenter (JR) 3 UMM, Dr. Nurudin, M.Si., menjelaskan bahwa dinamika perkembangan industri media digital menuntut mahasiswa memiliki kompetensi ganda yang melampaui kemampuan dasar menulis berita semata. “Praktikum JR 3 ini fokus pada optimasi media digital. Mahasiswa memanfaatkan Instagram, konten audio visual, hingga perangkat analitik seperti Google Analytic untuk melihat jangkauannya terhadap masyarakat, sehingga mereka tahu cara mengevaluasi efektivitas informasinya,” tegasnya. Apresiasi tinggi juga diberikan oleh Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si. Ia menyebut bahwa terselenggaranya pameran ini merupakan indikator keberhasilan dari capaian pembelajaran berbasis luaran (outcome-based education) yang diadopsi dalam kurikulum praktikum jurnalistik. “Saya bangga karena ini momentum penting mahasiswa mampu memamerkan karya dan menyelenggarakan acara ini dengan baik. Semoga kegiatan ini bisa diteruskan setiap semester hingga mampu melahirkan media baru yang dikelola secara profesional,” ungkapnya. Melalui rangkaian Komjest 2026, UMM membuktikan perannya sebagai institusi pendidikan yang proaktif memberikan dampak. Pengalaman mengelola media massa secara utuh dari pemetaan isu, peliputan, eksekusi redaksional, hingga analisis metrik menjadi modal berharga bagi lulusan. Pesan utamanya jelas: jurnalis masa depan bukan lagi sekadar pelapor fakta, melainkan kreator informasi yang adaptif, melek data, serta mampu membawa perubahan positif dan mengedukasi masyarakat luas melalui jurnalisme berkualitas. (*/ M. Abd. Rachman. Rozzi)
Kearifan Lokal sebagai Living Values Pancasila: Seminar Nasional UMM Menjaga Identitas Bangsa

Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Gema Pancasila bertajuk “Kearifan Lokal sebagai Living Values Pancasila dalam Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Inklusif dan Berkelanjutan”. Acara ini digagas oleh Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Auditorium GKB V, Kamis (25/6/2026). Selain menjadi ruang dialektika akademik, agenda ini juga menjadi momen perayaan atas diraihnya akreditasi Unggul oleh Prodi PPKn UMM. Rangkaian acara turut diisi dengan peluncuran jurnal resmi Civic Hukum serta penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengembangan kelembagaan dan penelitian antara FPSH UMM dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Terkait penguatan nilai luhur bangsa, Dr. Mariatul Kiptiah, M.Pd selaku pemateri menegaskan bahwa keberagaman Indonesia yang mencakup sekitar 1.340 suku bangsa dan ratusan bahasa daerah harus dipandang sebagai kekuatan dan modal sosial, bukan ancaman pemecah belah bangsa. “Indonesia adalah negara dengan keragaman yang luar biasa. Namun, keragaman ini justru menjadi modal utama, bukan ancaman. Kita harus bangga dengan Pancasila dan tidak boleh menjadi pihak yang justru melemahkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri,” ujarnya. Lebih lanjut, Mariatul menjelaskan bahwa Pancasila harus dipraktikkan secara nyata melalui kearifan lokal, seperti gotong royong maupun musyawarah adat. Nilai-nilai yang aplikatif dan holistik ini adalah fondasi peradaban masa depan bangsa dalam menjawab krisis ekologi hingga kohesi sosial yang melanda dunia. “Kearifan lokal bukan masa lalu yang harus ditinggalkan, melainkan fondasi masa depan yang harus dirawat. Ketika dunia mencari solusi atas krisis identitas, krisis ekologi, dan kohesi sosial, Indonesia sesungguhnya telah memiliki jawabannya melalui kearifan ribuan komunitas adat,” tegasnya. Senada dengan hal tersebut, Dekan FPSH UMM, Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendy, M.M., menilai bahwa lestarinya kearifan lokal memiliki ikatan yang tidak terpisahkan dengan eksistensi Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, pendidikan tinggi melalui Prodi PPKn punya tanggung jawab besar untuk mewariskan keragaman tersebut kepada generasi muda di tengah perubahan zaman yang serba cepat. “Saya tidak ingin Indonesia kehilangan keindonesiaannya. Jika Bhinneka Tunggal Ika hilang, maka hilang pula Indonesia. Karena itu, kearifan lokal harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” ungkapnya. Pada akhirnya, melestarikan kearifan lokal dan nilai-nilai Pancasila bukanlah tugas yang bisa dilakukan sendirian atau sekadar menjadi teori di ruang kelas. Transformasi kurikulum pendidikan, digitalisasi kebudayaan, serta kolaborasi nyata antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat mutlak diperlukan. Langkah strategis ini menjadi pesan penting agar identitas keindonesiaan tidak sekadar menjadi catatan sejarah, melainkan terus hidup dan relevan sebagai karakter generasi penerus di masa depan.(*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)
Sekolah Libur, Harga Pangan Turun: Pelajaran Ekonomi dari MBG

kompas.com – LIBUR sekolah tahun ini menghadirkan fenomena ekonomi menarik. Bersamaan dengan berhentinya sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa liburan, masyarakat di berbagai daerah mulai menikmati turunnya harga sejumlah bahan pangan, terutama telur ayam, cabai, dan beberapa komoditas hortikultura. Sebagian masyarakat menyambut baik karena biaya belanja rumah tangga menjadi lebih ringan. Namun, di balik kabar menggembirakan tersebut, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah turunnya harga pangan merupakan kabar baik bagi perekonomian nasional? Program MBG dihentikan sementara selama libur sekolah berdasarkan kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN). Pemerintah memperkirakan penghentian sementara tersebut dapat menghemat anggaran sekitar Rp 3 triliun. Secara administratif, kebijakan tersebut masuk akal karena sasaran utama program, yaitu siswa sekolah, memang sedang tidak belajar. Namun, pasar ternyata memberikan respons menarik. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia pada akhir Juni 2026, menunjukkan harga cabai rawit merah turun sekitar 3,99 persen, cabai rawit hijau turun 3,62 persen, cabai merah besar turun 3,14 persen, cabai merah keriting turun 2,28 persen. Sedangkan telur ayam ras turun menjadi sekitar Rp 29.750 per kilogram, lebih rendah dibandingkan pertengahan Juni yang masih berada di kisaran Rp 30.200 per kilogram. Penurunan harga tersebut memang tidak seluruhnya disebabkan berhentinya MBG. Melemahnya permintaan selama libur sekolah diyakini ikut memberikan kontribusi terhadap perubahan harga di pasar. Fenomena tersebut sesungguhnya memberikan pelajaran penting mengenai konsep institutional demand, yaitu permintaan yang berasal dari lembaga besar seperti pemerintah, sekolah, rumah sakit, maupun industri. Berbeda dengan permintaan rumah tangga yang berubah setiap hari, permintaan institusional cenderung stabil, terencana, dan mampu menyerap produksi dalam jumlah besar. Dalam ilmu ekonomi pertanian, keberadaan pembeli institusional sering menjadi penyangga harga hasil pertanian. Ketika pembeli besar berhenti membeli, walaupun hanya sementara, pasar segera merasakan perubahan keseimbangan antara penawaran dan permintaan. Di sinilah MBG mulai memperlihatkan fungsi ekonominya. Selama ini, publik lebih banyak melihat MBG sebagai program bantuan gizi. Padahal, dari perspektif ekonomi, MBG mulai berkembang menjadi mesin penggerak permintaan pangan nasional. Jutaan porsi makanan yang diproduksi setiap hari membutuhkan telur, ayam, sayuran, buah, beras, susu, ikan, dan berbagai bahan pangan lainnya. Seluruh komoditas tersebut berasal dari petani, peternak, nelayan, maupun pelaku UMKM pangan. Misalnya, apabila kebutuhan MBG suatu saat mencapai sekitar 15 juta butir telur per hari, maka diperlukan hampir 940 ton telur setiap hari. Apabila program berhenti selama 20 hari masa liburan, maka pasar kehilangan permintaan sekitar 18.700 ton telur. Dengan asumsi harga telur turun sekitar Rp 450 per kilogram, maka hanya akibat penurunan harga tersebut potensi kehilangan nilai ekonomi di tingkat peternak dapat mencapai lebih dari Rp 8 miliar setiap hari. Angka tersebut belum memasukkan berkurangnya volume penjualan, biaya penyimpanan, maupun penurunan pendapatan pedagang dan distributor. Efek yang sama juga dapat terjadi pada cabai, ayam, sayuran, buah-buahan, bahkan beras. Ketika permintaan institusional melemah, harga cenderung turun. Sementara produksi pertanian tidak dapat dihentikan secara mendadak. Ayam tetap bertelur, cabai tetap dipanen, dan sayuran tetap harus dipetik. Akibatnya, kelebihan pasokan segera menekan harga pasar. Fenomena ini dikenal sebagai demand shock, yaitu guncangan permintaan yang mengubah keseimbangan pasar dalam waktu singkat. Ironisnya, masyarakat kota sering menganggap turunnya harga pangan selalu merupakan kabar baik. Padahal, bagi petani dan peternak, harga yang terlalu rendah justru berarti menurunnya pendapatan. Murahnya harga pangan tidak selalu identik dengan meningkatnya kesejahteraan nasional. Dalam ekonomi pertanian terdapat prinsip bahwa harga yang baik bukanlah harga yang paling murah, melainkan harga yang adil. Harga harus cukup tinggi agar petani tetap memperoleh keuntungan dan bersedia terus berproduksi, tetapi juga cukup terjangkau bagi konsumen. Di sinilah pemerintah memiliki fungsi sebagai stabilisator pasar. Keberadaan MBG sebenarnya dapat menjadi salah satu instrumen stabilisasi tersebut apabila dikelola secara benar. Program MBG bukan sekadar membagikan makanan kepada siswa, tetapi juga dapat menjadi pasar permanen bagi petani dan peternak lokal. Permintaan yang stabil akan mendorong investasi, meningkatkan produksi, memperkuat UMKM pangan, serta menciptakan lapangan kerja baru di pedesaan. Efek berantai (multiplier effect) tersebut jauh lebih besar dibandingkan nilai makanan yang diterima setiap siswa. Sayangnya, manfaat tersebut baru akan optimal apabila pengadaan bahan baku benar-benar berpihak kepada produsen lokal. Bila rantai distribusi terlalu panjang atau dikuasai oleh segelintir pemasok besar, maka manfaat ekonomi akan banyak dinikmati perantara, bukan petani. Pelajaran utama dari turunnya harga sembako selama libur sekolah bukanlah bahwa MBG gagal ataupun berhasil. Fenomena tersebut justru menunjukkan bahwa MBG mulai memiliki pengaruh terhadap dinamika permintaan pangan nasional. Penghentian sementara MBG berdampak mengurangi aktivitas ekonomi peternak, petani, pedagang, pengangkut, hingga pelaku UMKM yang selama ini memasok kebutuhan ribuan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi). MBG berpotensi menjadi instrumen pembangunan ekonomi pedesaan sekaligus instrumen stabilisasi pasar pangan nasional. Program ini mampu memberikan kepastian pasar bagi petani dan peternak, menjaga harga komoditas strategis tetap stabil, meningkatkan pendapatan masyarakat desa, memperkuat ketahanan pangan, serta pada saat yang sama memperbaiki kualitas gizi generasi muda Indonesia. Libur sekolah telah memberikan pelajaran berharga. Pasar pangan Indonesia ternyata cukup sensitif terhadap perubahan permintaan institusional. Karena itu, MBG seharusnya dipandang bukan hanya sebagai program bantuan sosial, melainkan sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia sekaligus pembangunan ekonomi. Jika dikelola secara profesional, transparan, dan berpihak kepada produsen lokal, MBG tidak hanya memberi makan jutaan anak Indonesia, tetapi juga menjadi fondasi bagi terciptanya sistem pangan yang lebih kuat, ekonomi pedesaan lebih hidup, dan ketahanan nasional yang lebih kokoh. Di sinilah nilai strategis MBG sesungguhnya: bukan sekadar mengenyangkan, melainkan juga menggerakkan roda perekonomian bangsa.
UMM Jadi Pilot Project Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat Pertama di Kota Malang

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditunjuk sebagai pilot project kawasan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) pertama di Kota Malang.Program tersebut dikembangkan melalui kolaborasi UMM dengan Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Jawa Timur serta Bank Indonesia Perwakilan Malang. Dalam asesmen lapangan yang dilaksanakan Selasa (30/6/2026), UMM berhasil memenuhi sekitar 95 persen persyaratan kelayakan Zona KHAS. Penilaian dilakukan di tiga lokasi, yakni Kantin RS UMM, Kantin Asri 1, dan Kantin Asri 2. Proses asesmen dipimpin asesor KDEKS Zona KHAS, Dr. Hj. Siti Nur Husnul Yusmiati, S.TP., M.Kes. Berdasarkan hasil evaluasi, sebagian besar tenant kuliner di lingkungan UMM telah memenuhi berbagai persyaratan administrasi, mulai dari legalitas usaha, keberadaan penyelia halal, hingga sertifikat pelatihan kebersihan bagi penjamah makanan. “Secara keseluruhan, sekitar 95 persen persyaratan kelayakan telah terpenuhi dengan baik sehingga UMM dinilai siap untuk direkomendasikan kepada pihak pusat dalam proses penerbitan sertifikat Zona KHAS,” ujarnya. Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, M.P., menjelaskan bahwa pengembangan Zona KHAS merupakan langkah strategis kampus dalam menyambut penerapan kewajiban sertifikasi halal secara nasional pada Oktober 2026. Saat ini, sebanyak 25 tenant kuliner di lingkungan UMM telah mengantongi sertifikat halal. Selain itu, UMM juga dipercaya menjadi rujukan bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dalam pengembangan ekosistem halal, termasuk memimpin kolaborasi riset bersama sejumlah perguruan tinggi di Thailand dan Tiongkok. “Kesehatan dan ketenangan jiwa mahasiswa saat belajar sangat bergantung pada asupan gizi mereka, sehingga jaminan keamanan pangan melalui sertifikasi Zona KHAS di kantin kampus merupakan sebuah kewajiban mutlak,” tegas Elfi. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menyatakan bahwa program Zona KHAS selaras dengan misi universitas dalam membangun lingkungan akademik yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan. Ia berharap konsep kawasan kuliner halal tersebut tidak hanya diterapkan di lingkungan kampus, tetapi juga dapat dikembangkan untuk memberdayakan pelaku UMKM di desa-desa binaan UMM. “Kerja sama ini menjadi titik awal yang sangat baik, dan harapannya ke depan kita bisa memperluas ekosistem kawasan halal ini secara merata ke daerah-daerah binaan universitas seperti Kampung Warna-Warni,” pungkasnya. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
UMM Jadi Pertama di Kota Malang: Siap Wujudkan Ekosistem Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi ditunjuk sebagai pilot project kawasan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) pertama di wilayah Kota Malang. Penunjukkan ini membuat UMM turut menggandeng Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Provinsi Jawa Timur serta Bank Indonesia wilayah Malang, untuk menunjukkan kesiapan maksimalnya. Keberhasilan ini dibuktikan dengan raihan 95 persen syarat kelayakan dalam tahap asesmen lapangan secara ketat yang menyasar tiga lokasi utama, yakni Kantin RS UMM, serta Kantin Asri 1 dan 2 pada Selasa (30/6/2026). Proses audit kelayakan ini dipimpin langsung oleh asesor ahli KDEKS Zona KHAS, Dr. Hj. Siti Nur Husnul Yusmiati, STP., M.Kes. Berdasarkan evaluasi lapangan, ia menyatakan bahwa mayoritas tenant kuliner di lingkungan kampus telah memenuhi kelengkapan administrasi yang sangat krusial. Perizinan usaha, keberadaan penyelia halal, hingga sertifikat pelatihan kebersihan penjamah makanan dinilai berstatus sangat memuaskan, sehingga pihak pengelola kampus hanya perlu menyempurnakan beberapa sarana pendukung teknis. “Secara keseluruhan, sekitar 95 persen persyaratan kelayakan telah terpenuhi dengan baik sehingga UMM dinilai siap untuk direkomendasikan kepada pihak pusat dalam proses penerbitan sertifikat Zona KHAS,” ungkap Husnul Yusmiati. Merespons pencapaian tersebut, Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan Produk Halal (PS P3 Halal) UMM, Prof. Dr. Ir. Elfi Anis Saati, MP., menjelaskan bahwa inisiasi ini merupakan langkah taktis kampus dalam menyambut regulasi nasional kewajiban sertifikasi halal pada Oktober 2026. Tercatat sebanyak 25 tenant kuliner di UMM telah mengantongi sertifikat halal resmi. Komitmen kuat ini turut menjadikan Kampus Putih sebagai rujukan utama di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, bahkan dipercaya memimpin kolaborasi riset pengembangan ekosistem halal bersama institusi pendidikan di Thailand dan Tiongkok. “Kesehatan dan ketenangan jiwa mahasiswa saat belajar sangat bergantung pada asupan gizi mereka, sehingga jaminan keamanan pangan melalui sertifikasi Zona KHAS di kantin kampus merupakan sebuah kewajiban mutlak,” ujar Elfi. Dukungan penuh turut disampaikan oleh Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. Ia menilai bahwa program kawasan kuliner halal dan sehat ini beririsan langsung dengan misi kelima universitas untuk menyelenggarakan pembinaan sivitas akademika berlandaskan nilai-nilai murni Islam dan Kemuhammadiyahan. Tidak berhenti di dalam area kampus, ia menargetkan agar tata kelola ekosistem Zona KHAS ini dapat diduplikasi secara riil untuk memberdayakan UMKM kuliner di berbagai wilayah desa binaan UMM. “Kerja sama ini menjadi titik awal yang sangat baik, dan harapannya ke depan kita bisa memperluas ekosistem kawasan halal ini secara merata ke daerah-daerah binaan universitas seperti Kampung Warna-Warni,” tegas Salis. Dokumentasi Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS) dari UMM (dok.UMM):