Edukasi “Zero Waste Challenge”, Mahasiswa HI UMM Ajak Pelajar SMAN 10 Malang Kurangi Sampah Plastik

MALANG, PIJARNEWS.ID – Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menginisiasi sebuah gerakan edukasi lingkungan bertajuk Zero Waste Challenge di SMA Negeri 10 Malang pada Jumat (24/4/2026). Inisiatif ini digulirkan sebagai langkah strategis guna mendorong transformasi perilaku pelajar agar mulai meminimalisasi ketergantungan pada plastik sekali pakai di area institusi pendidikan. Aksi turun langsung ke sekolah ini merupakan bentuk implementasi dari praktikum mata kuliah Politik Lingkungan. Gagasan ini dilatarbelakangi oleh kian memprihatinkannya volume timbulan sampah harian, di mana plastik sekali pakai seolah menjadi barang yang sulit dilepaskan dari rutinitas pelajar. Koordinator kegiatan, Dina Ilfi Diyanati, menegaskan bahwa pendekatan program ini tidak hanya sebatas teori, melainkan ditekankan pada aksi nyata di lapangan. “Kami ingin membiasakan hal-hal sederhana, seperti membawa botol minum dan wadah makan sendiri, supaya bisa dilakukan secara konsisten oleh siswa,” jelasnya. Rangkaian agenda yang bergulir sejak pukul 07.30 WIB tersebut diawali dengan sambutan hangat dari pihak sekolah. Setelah itu, para pelajar disuguhi pemahaman komprehensif mengenai problematika lingkungan dan korelasinya dengan dinamika global, tak terkecuali krisis perubahan iklim dan pencemaran. Edukasi ini menitikberatkan pada pembangunan kesadaran bahwa urusan tata kelola limbah bukan semata kewenangan sekolah, melainkan tanggung jawab setiap individu. Guna membumikan pemahaman tersebut, panitia mahasiswa turut menggelar simulasi interaktif tata cara pemilahan sampah organik dan anorganik. Melalui metode partisipatif ini, siswa diharapkan mampu menyerap materi secara optimal untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Menariknya, di sela-sela kampanye hijau ini, mahasiswa juga menyempatkan diri untuk menyosialisasikan Program Studi Hubungan Internasional UMM. Mereka menyoroti salah satu profil unggulan lulusannya, yakni karakter aktivisme global yang didorong untuk proaktif mengambil peran dalam menyelesaikan problematika dunia, termasuk isu ekologi. Mahasiswa sedang menyosialisasikan Prodi Hubungan Internasional UMM. Pihak SMAN 10 Malang merespons positif kolaborasi edukatif ini. Dalam sambutannya, perwakilan guru mengajak seluruh peserta didik untuk menanamkan kepekaan ekologis sejak dini dan mulai mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan. Pada akhirnya, gelaran Zero Waste Challenge ini tidak hanya menjadi ajang pemenuhan tugas akademik bagi para mahasiswa, tetapi juga wujud kontribusi nyata dalam memupuk kepedulian lingkungan pada generasi muda demi mewujudkan kawasan sekolah yang bersih dan bebas dari sampah plastik.

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang Raih Prestasi Nasional, Ini Karyanya

MAKLUMAT – Mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencatatkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Tim yang diketuai Nova Sinanti menciptakan karya inovatif berupa mesin pencuci singkong semi mekanis berbasis drum spray dan water recirculation. Pengumuman kemenangan membanggakan ini secara resmi dilangsungkan pada hari Senin (18/5/2026). Prestasi ini menjadi bukti bahwa inovasi mahasiswa UMM mampu memberikan solusi aplikatif bagi masyarakat. Ajang perlombaan bergengsi ini diselenggarakan Asosiasi Program Studi Teknik Mesin – Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (APSTM-PT). Kompetisi ini menjadi wadah adu gagasan yang diikuti para mahasiswa aktif dari Program Studi Teknik Mesin PTMA se-Indonesia. Persaingan di babak final berjalan sangat ketat, karena mempertandingkan 15 tim unggulan. Di mana masing-masing kelompok terdiri atas tiga hingga lima mahasiswa. Tim delegasi UMM yang beranggotakan Nova Sinanti, Azka Firosyan Samana Putra, dan Raihan Rosyadi tampil memukau. Para juri menilai rancangan mesin ketiga mahsiswa UMM ini sangat solutif dan tepat guna. Keunggulan utama dari inovasi buatan mahasiswa UMM ini terletak pada kombinasi teknologi efisiensi dan kapasitasnya yang besar. Nova Sinanti menjelaskan bahwa rancangan mesin semi mekanis ini diprioritaskan bagi pelaku UMKM. “Tujuannya untuk memangkas waktu produksi secara drastis bagi pelaku UMKM yang selama ini sangat bergantung pada pencucian manual,” ujarnya. Nova menerangkan bahwa alat tersebut dilengkapi sistem ulir untuk mengarahkan bahan baku serta perangkap sedimen untuk memisahkan kotoran secara otomatis. “Mesin yang kami rancang mampu memangkas waktu pencucian 500 kilogram singkong. Sebelumnya butuh empat hingga tujuh jam menjadi hanya sekitar satu jam saja,” lanjutnya. Ketiga mahasiswa ini menambahkan fitur drum spray dan sirkulasi air yang terintegrasi dengan sediment trap. Dengan demikian, pemakaian air jauh lebih hemat dan kotoran tidak bercampur kembali dengan singkong. Selain memangkas beban kerja, alat pembersih ini diyakini mampu menjaga stabilitas mutu bahan baku yang sangat krusial. “Teknologi air sengaja kami desain sedemikian rupa agar tidak merusak tekstur daging singkong,” lanjutnya menjelaskan. Penggunaan sistem sirkulasi pada alat ini berperan layaknya bantalan air. Skema ini memudahkan kulit singkong terkelupas dan bersih tanpa melukai dagingnya. “Dengan hasil pencucian yang maksimal, UMKM bisa memproduksi keripik dengan warna yang lebih cerah dan rasa yang tidak pahit akibat sisa getah atau pasir,” pungkasnya.

Lebih dari 6.000 Peserta Ikuti Fun Tahes, Rector Cup UMM 2026 Resmi Dimulai

KLIKMU.CO – Lebih dari 6.000 sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti Fun Tahes Rector Cup 2026 yang digelar pada Ahad (7/6/2026). Mengambil garis start di Helipad Kampus III UMM, kegiatan lari sejauh lima kilometer ini menjadi bagian dari kampanye gaya hidup sehat sekaligus penanda dibukanya ajang Rector Cup 2026. Antusiasme peserta tampak tinggi sejak pagi hari. Selain mengikuti Fun Tahes, mereka juga berkesempatan mendapatkan berbagai doorprize menarik, mulai dari tablet, smartphone, hingga hadiah utama berupa sepeda motor listrik. Acara semakin semarak dengan beragam hiburan, seperti senam sehat dan penampilan musik dari Band SemalamSuntuk. Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi, yang hadir menyapa para peserta, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi suntikan energi positif bagi seluruh elemen kampus. Ia berpesan agar mahasiswa tetap menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan semangat menuntut ilmu. “Mudah-mudahan kebahagiaan yang kita rasakan pagi ini menjadi awal yang baik untuk perjalanan kalian selama di UMM. Tetap jaga kesehatan, terus semangat belajar, dan jangan pernah berhenti mengejar cita-cita yang ingin diwujudkan,” ujarnya. Menurut Nazaruddin, kemeriahan kegiatan ini juga dirangkai dengan penutupan Student Day bagi mahasiswa baru angkatan 2025. Program tersebut telah dilaksanakan selama satu semester sebagai sarana pembekalan pengalaman sosial dan kemasyarakatan bagi mahasiswa baru. “Melalui garis start ini, kompetisi bergengsi tingkat universitas resmi dimulai, sekaligus menutup kegiatan Student Day angkatan 2025. Selamat berlari dan junjung tinggi sportivitas,” ungkapnya. Sementara itu, Ketua Panitia Rector Cup sekaligus Kepala Bagian Minat Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir Ary Bakhtiar MSi IPM ASEAN Eng, menegaskan komitmen UMM dalam mewadahi potensi mahasiswa di berbagai bidang. Ia menjelaskan bahwa Rector Cup dirancang sebagai langkah strategis universitas untuk menjaring bibit-bibit unggul yang nantinya dipersiapkan menjadi delegasi UMM dalam berbagai kompetisi tingkat nasional maupun internasional. “Sebagai bentuk keseriusan dan dukungan nyata, UMM juga telah menyiapkan dana pembinaan dengan total mencapai ratusan juta rupiah bagi para pemenang Rector Cup. Kami ingin memastikan setiap minat dan bakat mahasiswa tidak hanya difasilitasi, tetapi juga diapresiasi dan dibina secara berkelanjutan agar siap menorehkan prestasi di tingkat yang lebih luas,” tegasnya. Kemeriahan acara ini juga dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satunya Nayla Auvara Izzetiyya yang mengaku senang bisa berbaur dengan ribuan sivitas akademika UMM dalam suasana yang penuh kebersamaan. “Acaranya benar-benar seru. Selain bisa olahraga bersama teman-teman dari berbagai jurusan, ada hiburan musik dan doorprize yang sangat menggiurkan. Harapannya UMM bisa terus rutin mengadakan event sebesar dan semeriah ini,” katanya. (Faqih/AS)

Film Kepaten Obor Karya Dosen UMM Tayang di Washington DC

Film Kepaten Obor karya dosen UMM menembus Australia dan Washington DC, mengangkat budaya Tengger ke panggung perfilman internasional. Tagar.co – Karya sineas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mencuri perhatian dunia perfilman internasional. Kali ini, film Kepaten Obor karya Novin Farid Setyo Wibowo berhasil tayang di Australia. Selain itu, film tersebut juga mengudara di Washington DC, Amerika Serikat, pada 8 Juni 2026. Pencapaian ini menegaskan kapasitas sivitas akademika UMM di industri kreatif global. Di sisi lain, karya tersebut tetap mengangkat identitas budaya lokal sebagai kekuatan utama. Novin yang menjabat Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM menjelaskan pencapaian tersebut. Ia berhasil membawa Kepaten Obor masuk Indonesia Western Australia Film Festival (IWAFF) di Perth. Selanjutnya, festival tersebut memutar film itu di sejumlah bioskop selama sepekan penuh. Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., sutradara film Kepaten Obor (Tagar.co/Humas UMM) Tiket Ludes Terjual Film drama ini mendapat sambutan hangat dari para penonton. Bahkan, seluruh tiket pemutaran terjual habis. Tak hanya itu, karya Novin berhasil menarik ribuan penonton selama festival berlangsung. “Alhamdulillah tiketnya sold out semua dan tembus ribuan penonton. Film ini juga terpilih untuk ditayangkan di Euro Asia Shorts 2026, sebuah festival film di Washington DC,” ungkap Novin. Melalui film ini, Novin mengangkat budaya masyarakat Tengger di Jawa Timur. Sementara itu, cerita film berfokus pada konflik emosional antara ibu dan anak. Menariknya, film tersebut juga menghadirkan filosofi Jawa tentang pentingnya menjaga silaturahmi. Novin mulai menggarap film ini sejak 2024. Namun, ia tidak menjadikannya sekadar proyek pribadi. Sebaliknya, ia mengubah proses produksi menjadi laboratorium praktik yang melibatkan mahasiswa dan alumni. Sebanyak 95 persen tim produksi berasal dari Program Studi Ilmu Komunikasi UMM. Karena itu, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung di dunia perfilman profesional. “Mahasiswa saya ajak belajar bersama. Mereka terlibat langsung dari proses produksi sampai pasca produksi, menjadikan proyek ini ruang belajar riil bagi mereka di lapangan,” jelasnya. Baca Juga:  UMM Ajak Mahasiswa Cegah Kejenuhan Mental lewat Kuliah Subuh Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM, Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., sutradara film Kepaten Obor (Tagar.co/Humas UMM) Deretan Penghargaan Keberhasilan Kepaten Obor juga terlihat melalui berbagai prestasi nasional. Pertama, film ini meraih Juara 1 Kompetisi Film Asli Jawa Timur (Komfilasi). Selain itu, film tersebut masuk nominasi Penghargaan AKTIF Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Selanjutnya, Kepaten Obor lolos seleksi Klik Film Festival. Berbagai capaian tersebut semakin memperkuat kualitas film garapan Novin dan timnya. Menurut Novin, kualitas produksi bukan satu-satunya faktor keberhasilan film. Oleh sebab itu, tim produksi harus menyiapkan strategi distribusi yang matang. Selain itu, tim perlu menyediakan subtitle bahasa Inggris untuk memperluas jangkauan penonton. Novin juga menegaskan pentingnya membangun jaringan distribusi. Ia mendorong para pembuat film untuk terus memperkenalkan karya mereka kepada publik. Dengan demikian, lebih banyak penonton dapat menikmati pesan yang mereka hadirkan. Keberhasilan penayangan di Australia dan Amerika Serikat diharapkan memicu semangat sivitas akademika. Selain itu, pencapaian tersebut dapat menginspirasi generasi muda untuk berkarya lebih berani. Novin pun berpesan kepada mahasiswa dan pegiat film muda. Ia mendorong mereka untuk memperkaya literasi dan meningkatkan kepekaan sosial. Menurutnya, pemahaman terhadap realitas kehidupan menjadi modal penting dalam berkarya. Baca Juga:  Wisuda Ke-121 UMM di Hari Kartini Tekankan Peran Strategis Perempuan Dengan bekal tersebut, sineas muda dapat menghadirkan film yang bernyawa. Mereka juga dapat menyampaikan pesan yang kuat dan relevan bagi masyarakat luas. “Semakin banyak referensi yang dimiliki, maka semakin bagus film yang dihasilkan,” pungkasnya. (#)

Pakar UMM Jelaskan Alasan ISPA Lebih Mudah Menyerang Saat Cuaca Bediding

pwmu.co – Fenomena cuaca bediding yang belakangan dirasakan masyarakat tidak hanya menimbulkan sensasi dingin, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kondisi suhu udara yang rendah dinilai dapat mendukung penyebaran virus dan bakteri sekaligus memengaruhi daya tahan tubuh.Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa peningkatan kasus batuk, pilek, radang tenggorokan, hingga sesak napas saat cuaca dingin terjadi karena kombinasi berbagai faktor. Mulai dari kemampuan patogen bertahan lebih lama, menurunnya sistem kekebalan tubuh, hingga perubahan perilaku masyarakat ketika suhu udara menurun. “Angka kejadian ISPA dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan atau ketika suhu udara menurun karena ada kombinasi faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia yang saling mendukung terjadinya penularan. Udara dingin dan kering membuat virus maupun bakteri mampu bertahan lebih lama di luar tubuh manusia serta mempermudah penyebaran melalui partikel udara,” ujarnya pada Humas UMM, 8 Juni 2026. Menurut Titik, saluran pernapasan memiliki sistem pertahanan yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Ketika seseorang menghirup udara dingin dan kering secara tiba-tiba, tubuh akan merespons dengan menyempitkan saluran pernapasan, meningkatkan produksi lendir, dan memperlambat kinerja silia atau rambut getar yang berfungsi membersihkan saluran napas dari kotoran maupun mikroorganisme. Akibatnya, mekanisme pembersihan alami tubuh menjadi kurang optimal sehingga risiko terjadinya infeksi meningkat. Titik menjelaskan bahwa penurunan suhu secara drastis juga dapat memengaruhi sistem imun tubuh. Salah satunya karena berkurangnya produksi Extracellular Vesicles (EVs), yaitu komponen pertahanan alami di rongga hidung yang berfungsi menangkap dan melawan virus. Selain itu, penyempitan pembuluh darah di area hidung membuat distribusi sel imun ke saluran pernapasan menjadi berkurang. Kondisi tersebut menyebabkan tubuh lebih rentan terhadap serangan berbagai penyakit pernapasan. “Ketika suhu udara turun drastis, tubuh sebenarnya sedang berusaha mempertahankan suhu inti agar tetap stabil. Namun proses itu justru dapat membuat pertahanan lokal di saluran pernapasan melemah sehingga virus lebih mudah berkembang. Beberapa virus pernapasan, termasuk rhinovirus penyebab flu biasa, justru berkembang lebih optimal pada suhu yang lebih rendah dibandingkan suhu normal tubuh manusia,” katanya. Titik juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap semua gejala pilek sebagai ISPA. Menurutnya, alergi dingin memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan infeksi saluran pernapasan. Gejala alergi dingin biasanya ditandai dengan bersin berulang, hidung terasa gatal, mata berair, dan keluhan yang muncul saat terpapar udara dingin lalu berangsur membaik ketika suhu kembali hangat. Sementara itu, demam menjadi salah satu tanda yang lebih mengarah pada infeksi saluran pernapasan. Sebagai upaya pencegahan, Titik menilai penggunaan jaket saja tidak cukup untuk melindungi tubuh dari risiko penyakit saat cuaca dingin. Masyarakat juga perlu menjaga asupan cairan dengan mengonsumsi minuman hangat, memenuhi kebutuhan vitamin A dan vitamin D, serta mengonsumsi lemak sehat yang mengandung omega-3 untuk membantu menjaga fungsi sistem imun. Kelompok yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain lansia, anak-anak, perokok aktif, penderita sinusitis kronis, dan pekerja yang menghabiskan banyak waktu di ruangan berpendingin udara. “Memakai jaket memang penting untuk melindungi tubuh dari udara dingin. Namun menjaga hidrasi, nutrisi, dan daya tahan tubuh jauh lebih penting karena pertahanan utama terhadap penyakit sebenarnya berasal dari dalam tubuh,” pungkasnya.

MALANG POST – Cuaca “bediding” yang belakangan dirasakan masyarakat tidak hanya menimbulkan rasa dingin, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Dosen Keperawatan UMM, Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan. Bahwa suhu dingin menciptakan kondisi yang mendukung penyebaran virus dan bakteri, sekaligus melemahkan pertahanan tubuh. Menurutnya, meningkatnya kasus batuk, pilek, radang tenggorokan, hingga sesak napas saat cuaca dingin dipengaruhi oleh kombinasi ketahanan patogen yang lebih baik, penurunan imunitas tubuh, dan perubahan perilaku masyarakat selama suhu udara menurun. “Angka kejadian ISPA dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan atau ketika suhu udara menurun karena ada kombinasi faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia yang saling mendukung terjadinya penularan.” “Udara dingin dan kering membuat virus maupun bakteri mampu bertahan lebih lama di luar tubuh manusia serta mempermudah penyebaran melalui partikel udara,” ujarnya 08 Juni lalu pada Humas UMM. Lebih lanjut, Titik menjelaskan bahwa saluran pernapasan memiliki mekanisme pertahanan yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Ketika seseorang menghirup udara dingin dan kering secara mendadak, tubuh akan merespon dengan menyempitkan saluran napas, meningkatkan produksi lendir, serta memperlambat kerja silia atau rambut getar yang berfungsi membersihkan kotoran dan mikroorganisme dari saluran pernapasan. Akibatnya, proses pembersihan alami tubuh menjadi kurang efektif dan risiko infeksi meningkat. Menurutnya, penurunan suhu yang drastis juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya produksi Extracellular Vesicles (EVs), yaitu komponen pertahanan alami dalam rongga hidung yang berfungsi menangkap dan melawan virus. Selain itu, penyempitan pembuluh darah di area hidung mengurangi distribusi sel-sel imun ke saluran pernapasan sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap serangan penyakit. “Ketika suhu udara turun drastis, tubuh sebenarnya sedang berusaha mempertahankan suhu inti agar tetap stabil. Namun proses itu justru dapat membuat pertahanan lokal di saluran pernapasan melemah sehingga virus lebih mudah berkembang.” “Beberapa virus pernapasan, termasuk rhinovirus penyebab flu biasa, justru berkembang lebih optimal pada suhu yang lebih rendah dibandingkan suhu normal tubuh manusia,” katanya. Titik mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap semua gejala pilek sebagai ISPA. Menurutnya, alergi dingin memiliki ciri khas berupa bersin berulang, hidung gatal, mata berair dan gejala yang muncul ketika terpapar udara dingin lalu membaik saat suhu menghangat. Sebaliknya, demam menjadi salah satu tanda penting yang lebih mengarah pada infeksi saluran pernapasan. Sebagai langkah pencegahan, ia menilai penggunaan jaket saja tidak cukup. Masyarakat perlu menjaga hidrasi tubuh dengan minuman hangat, memenuhi kebutuhan vitamin A dan vitamin D, serta mengonsumsi lemak sehat yang mengandung omega-3 untuk mendukung fungsi sistem imun. Kelompok yang perlu lebih waspada antara lain lansia, anak-anak, perokok aktif, penderita sinusitis kronis, serta pekerja yang berada di ruangan ber-AC dalam waktu lama. “Memakai jaket memang penting untuk melindungi tubuh dari udara dingin. Namun menjaga hidrasi, nutrisi, dan daya tahan tubuh jauh lebih penting karena pertahanan utama terhadap penyakit sebenarnya berasal dari dalam tubuh,” pungkasnya. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)

Bedah Kesiapan Karier serta Finansial Mahasiswa

MALANG POSCO MEDIA, ​MALANG– Sukses masa depan generasi muda tidak lagi hanya bergantung pada deretan nilai akademik. Diperlukan kepiawaian dalam membaca peluang karier serta mengelola literasi finansial sejak dini untuk menghadapi persaingan industri yang kian ketat. ​Merespons urgensi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkolaborasi dengan PT Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Paragon menggelar kuliah umum bertajuk “Langkah Emas Generasi Emas”. Acara ini dilangsungkan di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV UMM pada Senin (8/6) kemarin. Selain membedah kesiapan mahasiswa masuk ke dunia kerja, forum ini juga menyoroti pentingnya manajemen keuangan strategis, mulai dari tabungan haji hingga investasi emas. ​Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menegaskan bahwa puncak bonus demografi Indonesia pada tahun 2045 tidak akan memberikan manfaat riil jika tidak diimbangi dengan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Menurut Juanda, tantangan pembangunan ke depan kian kompleks. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk mencetak mahasiswa sebagai agen perubahan yang berintegritas. “Indonesia Emas bukan sesuatu yang hadir secara otomatis. Generasi muda harus mempersiapkan diri sejak hari ini melalui pendidikan, karakter yang kuat, dan kemauan untuk terus belajar. Jika kesempatan besar itu tidak dipersiapkan dengan baik, maka bonus demografi justru bisa berubah menjadi tantangan,” tegas Juanda. ​Sejalan dengan hal tersebut, Area Manager Malang PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, Waskito Vergino, S.T., MBA., M.Sc., menjabarkan bahwa sinergi antara institusi pendidikan dan sektor industri merupakan katalisator penting untuk mencetak generasi tangkas. Waskito menyebutkan, industri perbankan syariah seperti BSI sangat membutuhkan pasokan SDM yang adaptif terhadap dinamika bisnis. ​“Indonesia Emas 2045 tidak mungkin tercapai tanpa generasi yang memiliki keterampilan, karakter, dan kemampuan beradaptasi. Karena itu, kami ingin hadir bersama kampus untuk memberikan wawasan serta pengalaman yang dapat menjadi bekal mahasiswa menghadapi dunia kerja,” tutur Waskito. ​Dari perspektif pengembangan karier, Vice President Islamic Education & Halal Solution BSI, Hikmah Rizka Maslahatin, S.Si., S.I.Kom., M.Si., mengingatkan bahwa di tengah disrupsi teknologi yang melesat cepat, kemampuan akademik semata kini tidak lagi cukup. Hikmah mengajak mahasiswa memaksimalkan masa studi sebagai arena transformasi pribadi, terutama dalam membangun komunikasi dan rekam jejak diri yang solid. “Skill dan pengetahuan itu penting, tetapi saat ini belum cukup. Mahasiswa juga harus memiliki personal branding, kemampuan berkolaborasi, serta kemauan untuk terus belajar. Dunia kerja membutuhkan individu yang siap berkembang, bukan hanya siap bekerja,” jelas Hikmah. (hud/udi)

Mahasiswa Magang Bakti FH UMM Bantu Percepat Pengurusan Wakaf di BPN Kabupaten Malang

MALANG (SurabayaPost.id) – Tujuh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) terlibat langsung dalam proses percepatan pengurusan wakaf di Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Malang, Jawa Timur. Mereka melaksanakan program Magang Bakti mulai 28 November 2025 hingga 7 Mei 2026. Program Magang Bakti merupakan mata kuliah wajib 2 SKS yang ditempuh mahasiswa FH UMM semester 6, 7, dan 8. Khusus angkatan 2022, magang dilaksanakan pada pertengahan semester 7 hingga pertengahan semester 8. Program ini diselenggarakan Laboratorium Hukum FH UMM agar mahasiswa mempraktikkan teori yang diperoleh di bangku kuliah. Selama enam bulan magang di BPN Kabupaten Malang yang berlokasi di Jl. Terusan Kawi No. 10, Gading Kasri, Klojen, Kota Malang, mahasiswa didampingi Dosen Pembimbing Magang (DPM) Muhammad Luthfi, S.H., S.Sy., M.H. DPM Muhammad Luthfi mengatakan, Magang Bakti tidak hanya melatih keterampilan teknis mahasiswa, tetapi juga menanamkan nilai pengabdian. Tujuh mahasiswa magang FH UMM melaksanakan program Magang Bakti mulai 28 November 2025 hingga 7 Mei 2026. “Melalui magang ini, mahasiswa belajar langsung dinamika kerja di instansi pemerintah. Mereka tidak sekadar mengarsipkan berkas, tapi ikut memahami urgensinya. Apalagi kali ini mereka terlibat dalam program percepatan wakaf yang manfaatnya langsung dirasakan umat,” ujar Luthfi, Selasa (9/6/2026). Ia menambahkan, mahasiswa dibimbing untuk disiplin, teliti, dan adaptif. “Ketelitian dalam menginput data dan mengarsipkan dokumen pertanahan itu krusial. Salah satu angka atau huruf saja bisa berdampak hukum. Ini yang terus kami tekankan ke mahasiswa,” jelasnya. Magang Bakti di BPN ini bekerja sama dengan Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang dan Kementerian Agama Kabupaten Malang. Mahasiswa dilibatkan langsung dalam program percepatan wakaf yang diselenggarakan BPN bersama Kemenag RI Kabupaten Malang. Panduan Kota & Daerah Tujuh mahasiswa yang bertugas yaitu Arikha Faizatul Khoir, Marshanda Febriane Almayra, Syah Aulia Nadila, Roro Hanindyo Kusumawardani, Helga Desifaputri Suryandani, Zulhan Ahmad Maulana, dan Faisal Harits. Selama magang, mereka membantu pekerjaan administratif seperti menyusun berkas, mengarsipkan dokumen pertanahan, dan menginput data. Mahasiswa juga turut menyiapkan dokumen pelayanan masyarakat, seperti berkas pendaftaran tanah dan sertifikat. Mahasiswa didampingi Dosen Pembimbing Magang Muhammad Luthfi, S.H., S.Sy., M.H. Luthfi menilai keterlibatan mahasiswa cukup signifikan membantu beban kerja BPN. “Proses wakaf butuh kecepatan dan akurasi. Kehadiran mahasiswa Magang Bakti terbukti membantu memperlancar alur administrasi, terutama pada tahapan sortir berkas dan entri data awal,” katanya. Tak hanya teknis, mahasiswa juga belajar alur kerja BPN mulai dari pelayanan masyarakat, pengecekan dokumen, hingga sistem kerja pertanahan. Mereka mendapat arahan langsung dari pegawai mengenai pentingnya ketelitian dalam pengelolaan data. Melalui magang ini, mahasiswa memahami secara langsung tugas dan fungsi BPN dalam mengurus administrasi pertanahan. Pengalaman ini juga melatih kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja. Program magang diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menambah wawasan, pengalaman, serta kesiapan menghadapi dunia kerja setelah lulus. (lil).

Bumitama Agro Gandeng UMM, Buka Jalan Talenta Muda Masuk Industri Sawit Modern

Malang, SAWIT INDONESIA — Industri kelapa sawit tidak lagi hanya membutuhkan tenaga kerja yang memahami budidaya di lapangan. Di tengah percepatan transformasi digital dan tuntutan keberlanjutan, sektor ini kini membutuhkan generasi muda yang menguasai teknologi, inovasi, dan manajemen modern. Menjawab kebutuhan tersebut, PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA) memperkuat kolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bersama Center of Excellence (CoE) Sawit UMM pada 29 Mei 2026. Kerja sama yang berlangsung di Aula BAU UMM itu menjadi langkah strategis BGA dalam membangun ekosistem pengembangan sumber daya manusia yang lebih selaras dengan kebutuhan industri perkebunan masa depan. Tidak hanya menandatangani kesepakatan kerja sama, BGA juga memberikan kuliah tamu bertajuk “Level Up Your Career: Peluang Kerja dan Masa Depan Industri Sawit”. Kegiatan tersebut memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai perkembangan industri sawit modern sekaligus kompetensi yang dibutuhkan untuk bersaing di dunia kerja. Melalui kemitraan ini, BGA dan UMM akan mengembangkan berbagai program kolaboratif, mulai dari magang mahasiswa, rekrutmen tenaga kerja, hingga penyelarasan kurikulum agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Program tersebut akan melibatkan mahasiswa Program Studi Agroteknologi dan Teknik Industri UMM. HC & OSM Director PT Bumitama Gunajaya Agro, Agus Sutrisno, S.P., M.M., menegaskan bahwa perubahan yang terjadi di industri sawit menuntut hadirnya SDM yang adaptif dan mampu mengikuti perkembangan teknologi. “Industri kelapa sawit masa depan sangat bergantung pada efisiensi manajerial dan pembaruan teknologi. Oleh karena itu, kami di dunia industri membutuhkan talenta-talenta unggul dari perguruan tinggi seperti UMM yang siap menghadapi tantangan global dan mampu memberikan solusi teknis yang akurat,” ujar Agus, dikutip dari laman resmi UMM. Menurut Agus, pengembangan SDM menjadi salah satu faktor utama untuk menjaga daya saing industri sawit Indonesia di tengah meningkatnya tuntutan efisiensi operasional dan penerapan teknologi cerdas di sektor perkebunan. “Karena itu, sinergi antara dunia pendidikan dan dunia usaha dinilai semakin penting untuk memperkecil kesenjangan kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri. Mahasiswa tidak hanya memperoleh bekal teori di kampus, tetapi juga pengalaman praktis yang memungkinkan mereka memahami tantangan dan dinamika kerja di lapangan,” jelasnya. Bagi Bumitama Agro, investasi pada pengembangan talenta muda merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk mendukung keberlanjutan industri sawit nasional. Perusahaan meyakini bahwa produktivitas dan inovasi sektor sawit ke depan akan sangat ditentukan oleh kualitas SDM yang mengelolanya. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, M. Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menilai kolaborasi dengan industri menjadi langkah penting dalam menyiapkan lulusan yang siap kerja dan mampu memberikan kontribusi nyata sejak awal kariernya. “Kerja sama ini adalah bukti nyata komitmen Kampus Putih dalam mendekatkan mahasiswa dengan dunia profesional. Kami ingin lulusan UMM, khususnya jebolan dari CoE Sawit, tidak lagi canggung saat memasuki dunia kerja, melainkan langsung bisa diserap dan memberikan kontribusi riil bagi industri perkebunan nasional,” ujarnya. Kolaborasi BGA dan UMM menunjukkan bahwa penguatan industri sawit tidak hanya dilakukan melalui peningkatan produktivitas kebun, tetapi juga melalui investasi pada generasi muda. Dengan keterlibatan perguruan tinggi dan pelaku usaha, diharapkan lahir lebih banyak talenta profesional yang siap mendorong transformasi, daya saing, dan keberlanjutan industri sawit Indonesia di masa depan.

Fenomena Cuaca Bediding dan Risiko Gangguan Kesehatan

Selain memengaruhi saluran napas, perubahan suhu yang drastis juga melemahkan sistem kekebalan tubuh. Salah satu penyebabnya ialah berkurangnya produksi Extracellular Vesicles (EVs). Tagar.co – Fenomena cuaca bediding yang terjadi belakangan ini meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan. Suhu udara yang lebih rendah mendorong penyebaran virus dan bakteri penyebab penyakit sehingga masyarakat lebih rentan mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), influenza, maupun keluhan pernapasan lainnya. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan cuaca dingin tidak hanya membantu patogen bertahan lebih lama, tetapi juga dapat menurunkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi. Karena itu, masyarakat perlu menjaga daya tahan tubuh agar tetap sehat selama periode bediding berlangsung. Titik Agustiyaningsih menjelaskan bahwa kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan atau ketika suhu udara menurun. Peningkatan itu terjadi karena faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia saling mendukung penularan penyakit. Udara dingin dan kering membuat virus serta bakteri bertahan lebih lama di luar tubuh manusia. Selain itu, kondisi tersebut memudahkan penyebaran mikroorganisme melalui partikel udara. “Angka kejadian ISPA dan influenza cenderung meningkat saat musim hujan atau ketika suhu udara menurun karena ada kombinasi faktor patogen, lingkungan, kondisi tubuh, dan perilaku manusia yang saling mendukung terjadinya penularan,” ujarnya , kepada Redaksi Tagar.co Senin (8/6/2026). Saluran Pernapasan Sangat Sensitif terhadap Perubahan Suhu Saluran pernapasan memiliki mekanisme pertahanan yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Saat seseorang menghirup udara dingin dan kering secara mendadak, tubuh segera memberikan respons. Tubuh menyempitkan saluran napas, meningkatkan produksi lendir, dan memperlambat kerja silia. Silia merupakan rambut getar yang bertugas membersihkan kotoran serta mikroorganisme dari saluran pernapasan. Penelitian yang dilakukan mahasiswa Farmasi UMM (Tagar.co/Humas UMM) Akibatnya, proses pembersihan alami tubuh menjadi kurang efektif. Kondisi tersebut meningkatkan peluang virus dan bakteri memasuki saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat lebih rentan mengalami batuk, pilek, radang tenggorokan, maupun sesak napas ketika suhu udara menurun. Selain memengaruhi saluran napas, perubahan suhu yang drastis juga melemahkan sistem kekebalan tubuh. Salah satu penyebabnya ialah berkurangnya produksi extracellular vesicles (EVs). Komponen ini berfungsi sebagai pertahanan alami dalam rongga hidung untuk menangkap dan melawan virus. Di sisi lain, penyempitan pembuluh darah pada area hidung mengurangi distribusi sel imun ke saluran pernapasan. “Ketika suhu udara turun drastis, tubuh sebenarnya sedang berusaha mempertahankan suhu inti agar tetap stabil. Namun, proses itu dapat melemahkan pertahanan lokal di saluran pernapasan sehingga virus lebih mudah berkembang,” katanya. Menurut Titik, beberapa virus pernapasan justru berkembang lebih optimal pada suhu rendah. Salah satunya ialah rhinovirus yang menjadi penyebab flu biasa. Masyarakat Perlu Menjaga Hidrasi dan Daya Tahan Tubuh Masyarakat perlu menjaga hidrasi dan daya tahan tubuh selama cuaca dingin berlangsung. Titik mengingatkan agar masyarakat tidak langsung menganggap semua gejala pilek sebagai ISPA. Menurutnya, alergi dingin memiliki karakteristik yang berbeda dengan infeksi saluran pernapasan. Alergi dingin biasanya ditandai bersin berulang, hidung gatal, serta mata berair. Gejala tersebut muncul saat seseorang terpapar udara dingin dan mereda ketika suhu menghangat. Sebaliknya, demam menjadi salah satu tanda yang lebih mengarah pada infeksi saluran pernapasan. Lebih lanjut, Titik menilai penggunaan jaket saja belum cukup untuk mencegah gangguan kesehatan saat cuaca dingin. Masyarakat juga perlu memenuhi kebutuhan cairan dengan mengonsumsi minuman hangat. Selain itu, asupan vitamin A, vitamin D, dan lemak sehat yang mengandung omega-3 penting untuk mendukung fungsi sistem imun. Ia menambahkan bahwa beberapa kelompok perlu meningkatkan kewaspadaan. Kelompok tersebut meliputi lansia, anak-anak, perokok aktif, penderita sinusitis kronis, dan pekerja yang berada di ruangan berpendingin udara dalam waktu lama. “Memakai jaket memang penting untuk melindungi tubuh dari udara dingin. Namun, menjaga hidrasi, nutrisi, dan daya tahan tubuh jauh lebih penting karena pertahanan utama terhadap penyakit sebenarnya berasal dari dalam tubuh,” ujarnya. (#)