WFH Bisa Hemat BBM? Begini Analisa Dua Pakar dari Malang

Ilustrasi work from home (Foto: Pexels) Malang (beritajatim.com) – Wacana penerapan kembali kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan sektor swasta sebagai solusi menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) memicu perdebatan. Meski terlihat solutif, dua pakar dari universitas ternama di Malang sepakat menilai kebijakan ini tidak efektif jika tidak dibarengi dengan sistem pengawasan yang kuat dan perbaikan infrastruktur transportasi. Pakar Kebijakan Publik dari Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB), Andhyka Muttaqin S.AP., M.PA., menegaskan bahwa WFH sebenarnya tidak memberikan dampak signifikan terhadap penghematan BBM secara nasional. Menurutnya, kebijakan ini lebih banyak berdampak pada efisiensi internal instansi, bukan pada cadangan energi negara. “Kebijakan WFH ini memang akan diterapkan untuk ASN, meskipun belum merata. Namun untuk penghematan BBM, ini tidak signifikan. Kebijakan ini justru lebih ke arah penghematan energi lain seperti listrik atau internet di kantor dan efisiensi anggaran,” ujar Andhyka Jumat, (10/4/2026). Andhyka menilai pemerintah seharusnya menyentuh akar permasalahan dengan memperketat kuota penggunaan BBM dan memperbaiki transportasi publik agar masyarakat secara sukarela beralih dari kendaraan pribadi. Ia juga khawatir jika WFH dilakukan di hari-hari tertentu, seperti hari Rabu atau Jumat, justru akan disalahgunakan untuk libur panjang (long weekend) yang berpotensi menurunkan kualitas pelayanan publik. Senada dengan hal tersebut, Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Vina Salviana Darvina Soedarwo, M.Si., memperingatkan adanya fenomena Work From Anywhere (WFA). Jika pekerja tidak tetap tinggal di rumah, maka konsumsi BBM tetap akan tinggi. “Yang dikhawatirkan justru ketika orang yang mestinya WFH berubah jadi WFA. Mereka tetap menggunakan kendaraan bermotor untuk pergi ke kafe atau tempat lain, sehingga tujuan efisiensi energi tidak maksimal,” jelas Prof. Vina. Selain itu, ia menyoroti adanya pergeseran beban ekonomi. Saat WFH, biaya listrik dan internet yang semula ditanggung perusahaan atau negara kini berpindah menjadi beban rumah tangga pekerja. Hal ini dianggap bisa memberatkan kelompok pekerja berpenghasilan rendah jika tidak ada kompensasi yang adil. Kedua pakar sepakat bahwa jika WFH tetap ingin diterapkan, pemerintah harus membangun sistem yang komprehensif, bukan kebijakan yang bersifat parsial. Andhyka menyarankan adanya pengawasan ketat melalui teknologi, seperti absensi berbasis titik koordinat (geofencing) untuk memastikan pegawai tetap berada di rumah. Ia juga menegaskan bahwa WFH tidak boleh menyentuh sektor-sektor krusial. “Kebijakan ini tidak boleh diterapkan pada sektor kesehatan, pendidikan, dan layanan langsung kepada masyarakat,” tegasnya. Di sisi lain, Prof. Vina mengingatkan potensi kecemburuan sosial antara pekerja kantoran dan pekerja lapangan. Menurutnya, pemerintah perlu hadir dengan paket kebijakan yang lebih lengkap, termasuk bantuan atau subsidi bagi mereka yang terdampak secara ekonomi. “Jika tidak dirancang dengan adil dan komprehensif, kebijakan WFH ini justru berisiko melahirkan persoalan sosial baru di tengah masyarakat,” tutupnya. (dan/ian)
Harga Plastik Meroket, Pakar Ekonomi UMM Dorong UMKM Terapkan Budaya Ramah Lingkungan

Untitled design – 1 KLIKMU.CO – Lonjakan harga kemasan plastik hingga 100 persen akibat dampak memanasnya konflik geopolitik global kini mulai menekan operasional Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner di Malang. Kenaikan ini turut dipicu meningkatnya harga bahan baku plastik serta naiknya harga minyak mentah dunia. Menghadapi kondisi tersebut, Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) M Sri Wahyudi Suliswanto SE ME PhD mendesak adanya langkah strategis dari dua arah. UMKM didorong menjadikan situasi ini sebagai momentum untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, sementara pemerintah diminta mencari alternatif pemasok bahan baku dari negara non-konflik. Di lapangan, tren kenaikan harga ini telah menjadi “biaya siluman” yang perlahan menggerus margin keuntungan pedagang kecil. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM tersebut menyoroti posisi UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan karena ketergantungan pada wadah makanan, gelas minuman, dan kantong plastik. Biaya produksi yang meningkat tajam membuat pelaku usaha berada dalam dilema. Jika harga jual dinaikkan, risiko kehilangan pelanggan menjadi besar di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah. Namun jika harga dipertahankan, keberlangsungan usaha terancam. Wahyudi menilai krisis ini membuka fakta lemahnya kemandirian industri dalam negeri. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu distribusi global dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik ikut tertekan,” ujarnya, Rabu (8/4/2026). Kondisi ini semakin diperburuk oleh rantai distribusi yang panjang. Namun di sisi lain, ia melihat peluang perubahan perilaku konsumsi masyarakat sebagai solusi jangka panjang. “Ini saat yang tepat untuk mengurangi kebiasaan penggunaan plastik,” katanya. Ia menyarankan UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga, yakni memberikan harga lebih murah bagi konsumen yang membawa wadah sendiri. Strategi ini dinilai tidak hanya membantu menjaga keberlangsungan usaha, tetapi juga mendorong budaya ramah lingkungan. Meski demikian, Wahyudi menegaskan bahwa beban ini tidak bisa ditanggung pelaku usaha saja. Pemerintah diminta hadir melalui kebijakan stabilisasi harga dan intervensi pasar karena dampaknya meluas ke berbagai sektor industri. “Pemerintah tidak boleh tutup mata. Harus ada intervensi untuk menjaga stabilitas harga plastik,” tegasnya. Ia juga mendorong pemerintah untuk memfasilitasi pencarian pemasok bahan baku dari negara yang lebih stabil secara geopolitik. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen diharapkan tidak hanya menyelamatkan UMKM, tetapi juga menjadi momentum perubahan menuju pola konsumsi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. (Faqih/AS)
Dosen UMM Sholahuddin Al Fatih Raih Pengakuan Akademisi Terbaik Dunia

pria jas berbicara mikrofon podium (Foto: Vstatic) KORAN MANADO – Seorang pengajar dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM), Sholahuddin Al Fatih, berhasil menorehkan prestasi gemilang di tingkat internasional. Namanya kini tercatat dalam daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia untuk bidang Ilmu Sosial yang dirilis oleh measuresHE. Pencapaian bergengsi ini menempatkan Fatih sejajar dengan para peneliti terkemuka dari berbagai perguruan tinggi prestisius dunia, termasuk Oxford University di Inggris dan Deakin University di Australia, sebagaimana dilansir dari Edukasi. Berbeda dari metode pemeringkatan institusi pada umumnya, measuresHE menggunakan pendekatan spesifik untuk menilai rekam jejak individu peneliti. Proses penilaian dilakukan secara objektif tanpa melibatkan skema langganan berbayar. Fatih menjelaskan bahwa pemeringkatan ini menerapkan tiga indikator metrik ketat dalam menentukan siapa saja yang layak disebut sebagai pilar intelektual sejati. Indikator-indikator tersebut dirancang untuk mengukur kualitas dan dampak riset seorang akademisi. Tiga indikator utama yang digunakan meliputi Research Gravitas, yang berfungsi mengukur kedalaman intelektual karya; Olympic Mean, untuk menyaring konsistensi mutu karya yang dihasilkan; serta Interaction Credit, sebagai bentuk apresiasi atas kolaborasi substantif yang dilakukan. Seluruh data yang diperlukan untuk penilaian dilacak secara murni melalui profil akademik yang telah terverifikasi di platform-platform seperti Scopus dan Web of Science. Dampak Riset dan Konsistensi Karya Fatih, yang menempati peringkat ke-91 dalam daftar ini, mengungkapkan apresiasinya terhadap metode yang diterapkan measuresHE. Ia menilai platform tersebut mampu mengkurasi kedalaman substansi tulisan para nominator tanpa terpengaruh oleh label nama besar atau reputasi institusi. Baginya, untuk bisa menembus jajaran elit akademisi tingkat dunia, bukan sekadar memperbanyak jumlah publikasi. Namun, hal itu lebih merupakan pembuktian kedalaman dan dampak nyata dari sebuah karya keilmuan yang dihasilkan. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi, tepatnya saya menempati peringkat ke-91,” tegas Fatih, dikutip dari laman UMM pada Jumat (10/4/2026). Sepanjang kariernya, ia telah berhasil menerbitkan sekitar 60 artikel yang terindeks Scopus, 5 artikel dalam Web of Science Core Collection, serta ratusan karya lain yang terdaftar di Google Scholar. Isu-isu yang diangkat dalam riset-risetnya konsisten bersinggungan langsung dengan masyarakat. Topik tersebut mencakup teknologi, dinamika media sosial, dan perkembangan hukum di tengah disrupsi zaman. “Kami harus menjembatani bagaimana hukum itu lebih aplikatif dan lebih banyak diterapkan. Tidak hanya berkutat di ranah konsep, tapi juga bagaimana implementasi nyatanya di masyarakat,” jelasnya. Salah satu bukti nyata dari risetnya yang berdampak adalah karya unggulannya yang lahir pada masa pandemi 2021. Riset tersebut mengkaji ekspresi masyarakat di media sosial beserta konsekuensi hukum yang menyertainya. Meski topiknya dekat dengan keseharian, riset ini memiliki kekuatan besar dalam menganalisis bagaimana ruang digital dapat memicu tekanan psikologis dan bahkan menjerat individu dalam masalah hukum. Riset tersebut sekaligus menegaskan pentingnya hukum hadir secara praktis, tidak hanya berhenti pada tataran teori. Dukungan Universitas dan Motivasi Kontribusi Fatih melalui berbagai risetnya dirasakan di dua sisi, yaitu memperkaya diskursus akademik dan memberikan sudut pandang solutif dalam praktik lapangan. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan ekosistem riset yang disediakan oleh UMM. Universitas Muhammadiyah Malang telah menyediakan fasilitas mumpuni, mulai dari akses ke jurnal primer, fasilitas internet yang memadai, hingga insentif untuk publikasi. Fatih berharap capaiannya ini dapat semakin mengharumkan nama UMM di kancah internasional. Selain itu, ia juga berharap prestasi ini dapat memotivasi rekan sejawat serta para mahasiswa untuk terus berkarya. Fatih membagikan rahasia suksesnya, yakni dengan merawat konsistensi ide melalui rutinitas mencatat kerangka pemikiran setiap hari.
Mahasiswa UMM Borong 3 Penghargaan Internasional Lewat Aplikasi NutriTrack MBG

pwmu.co –Inovasi mahasiswa kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah global. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, Muhammad Daffa Azmi, sukses meraih tiga penghargaan internasional melalui inovasi aplikasi NutriTrack MBG. Bersama timnya, Daffa meraih penghargaan dalam ajang International Youth Innovation Summit #20 Chapter Malaysia–Singapore yang digelar pada 23–26 Februari 2026. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap menghadapi berbagai kendala di lapangan, seperti keterlambatan distribusi hingga kasus keracunan makanan. Melihat kondisi tersebut, Daffa mengembangkan NutriTrack MBG—aplikasi digital yang dirancang untuk: Memantau kualitas makanan Menjamin keamanan pangan Mencatat distribusi secara real-time “Program MBG ini sangat baik, tapi di lapangan masih ada masalah seperti keterlambatan distribusi hingga makanan yang tidak layak konsumsi,” jelas Daffa. Aplikasi NutriTrack MBG menawarkan sistem pemantauan terintegrasi yang dapat diakses oleh berbagai pihak, mulai dari siswa, orang tua, hingga pengelola program. Fitur unggulan meliputi: Transparansi kandungan gizi (kalori, protein, dll) Pelacakan distribusi makanan secara real-time Monitoring kualitas dan keamanan pangan Sistem ini memungkinkan pengawasan yang lebih transparan, akurat, dan akuntabel. Berkat inovasi tersebut, tim Daffa berhasil meraih tiga kategori bergengsi: First Best Innovation Project Second Best Presentation Project Best Team Kompetisi ini menantang peserta untuk menghadirkan solusi konkret yang selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Bagi Daffa, pencapaian ini menjadi pengalaman berharga sekaligus bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional. “Ini pertama kalinya saya ke luar negeri bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk belajar,” ujarnya. Ia juga berpesan kepada generasi muda untuk berani mencoba hal baru. “Jangan takut bermimpi besar. Kalau tidak mencoba, kita tidak akan tahu hasilnya,” pungkasnya.
Gejolak Geopolitik Picu Lonjakan Harga Kemasan, UMKM Didorong Setop Plastik Sekali Pakai

Foto: Ilustrasi Biji Plastik. (Dok. Freepik) Halopedeka.com – Memanasnya konflik geopolitik global yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia berdampak signifikan terhadap industri plastik dalam negeri. Harga kemasan plastik dilaporkan melonjak hingga 100%, sebuah kondisi yang kini mencekik operasional pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya di sektor kuliner. Menanggapi fenomena tersebut, Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), M. Sri Wahyudi Suliswanto, menyatakan bahwa situasi darurat ini harus dijadikan momentum bagi UMKM untuk memutus ketergantungan pada plastik sekali pakai. Menurutnya, UMKM perlu segera beradaptasi dengan memberikan insentif bagi konsumen yang mendukung gerakan ramah lingkungan. “UMKM kuliner sebagai sektor yang paling rentan akibat ketergantungan absolut mereka pada wadah makanan, gelas minuman, dan tas kresek,” ujar Wahyudi pada Kamis (9/4/2026). Dilema Harga dan Daya Beli Dekan FEB UMM ini menjelaskan bahwa pembengkakan biaya produksi menempatkan pelaku usaha pada posisi sulit. Jika harga produk dinaikkan, ada risiko kehilangan pelanggan di tengah daya beli masyarakat yang masih lesu. Sebaliknya, jika harga dipertahankan, margin keuntungan yang tergerus dapat mengancam keberlangsungan usaha. Wahyudi menilai krisis ini menjadi cermin rapuhnya kemandirian industri nasional yang selama ini terlalu bergantung pada pasokan luar negeri. “Negara kita sangat bergantung pada impor bahan baku plastik. Ketika gejolak geopolitik mengganggu jalur distribusi internasional dan memicu lonjakan harga minyak mentah, harga domestik langsung tercekik,” tegasnya. Strategi Diferensiasi Harga Sebagai solusi praktis, Wahyudi menyarankan UMKM menerapkan strategi diferensiasi harga. Konsumen yang membawa wadah sendiri dari rumah berhak mendapatkan potongan harga atau harga yang lebih murah. Strategi ini dianggap efektif untuk menyelamatkan finansial UMKM sekaligus membangun budaya pro-lingkungan secara jangka panjang. “Ini adalah saat yang paling tepat untuk memukul mundur kebiasaan penggunaan plastik,” tambahnya. Tuntutan Intervensi Pemerintah Meski UMKM didorong untuk berinovasi, Wahyudi menegaskan bahwa beban ini tidak bisa dipikul sendirian oleh pelaku usaha. Mengingat plastik adalah komponen masif di berbagai sektor mulai dari manufaktur hingga otomotif, kehadiran negara sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas. Ia mendesak pemerintah untuk segera mencari penyuplai bahan baku alternatif dari negara-negara non-konflik guna menjamin ketersediaan stok dengan harga terjangkau. “Pemerintah tidak boleh tutup mata melihat penderitaan UMKM. Harus ada intervensi tegas mengamankan stabilitas harga plastik di pasaran karena daya rusaknya sangat luas,” pungkasnya. Melalui kolaborasi antara kebijakan pemerintah yang taktis, adaptasi pelaku UMKM, dan perubahan perilaku konsumen, krisis ini diharapkan menjadi titik balik bagi Indonesia untuk lepas dari ketergantungan limbah plastik.
Dosen UMM Sholahuddin Al Fatih Masuk Jajaran 100 Akademisi Terbaik Dunia

orang presentasi di seminar akademik (Foto: Fsrd) READERS.ID – Sholahuddin Al Fatih, seorang dosen dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM), berhasil mencatatkan prestasi membanggakan di kancah global. Namanya tercantum dalam daftar 100 Akademisi Terbaik Dunia di bidang Ilmu Sosial menurut pemeringkatan measuresHE, sebuah pencapaian yang menempatkannya sejajar dengan peneliti dari institusi bergengsi seperti Oxford University, Inggris, hingga Deakin University, Australia, dilansir dari Edukasi. Pemeringkatan measuresHE memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan penilaian institusi pada umumnya. Mereka secara objektif mengevaluasi rekam jejak individu peneliti tanpa melibatkan skema langganan berbayar. Penilaian ini berfokus pada kualitas dan dampak karya akademik. Fatih menjelaskan bahwa measuresHE menggunakan tiga indikator metrik yang ketat untuk mengidentifikasi akademisi sebagai pilar intelektual sejati. Indikator-indikator tersebut adalah Research Gravitas, yang mengukur kedalaman intelektual suatu penelitian, Olympic Mean untuk menyaring konsistensi kualitas karya ilmiah, serta Interaction Credit sebagai bentuk apresiasi terhadap kolaborasi yang substantif. Data yang digunakan dalam penilaian ini dilacak secara murni melalui profil akademik terverifikasi seperti Scopus dan Web of Science. Fatih mengapresiasi metode yang diterapkan measuresHE, yang dinilainya mampu mengkurasi kedalaman substansi tulisan para nominator tanpa memandang reputasi atau nama besar. Prinsip Riset Berdampak Bagi Fatih, mencapai jajaran elit akademisi dunia bukan sekadar soal memperbanyak publikasi. Ia berpegang pada prinsip bahwa yang terpenting adalah pembuktian kedalaman serta dampak nyata dari sebuah karya keilmuan terhadap masyarakat. “Pengakuan ini memvalidasi upaya pengejaran riset yang menawarkan wawasan mendalam dan berdampak, bukan sekadar mengejar jumlah publikasi, tepatnya saya menempati peringkat ke-91,” ujar Fatih, mengutip laman UMM pada Jumat (10/4/2026). Sepanjang kariernya, Sholahuddin Al Fatih telah menghasilkan sekitar 60 artikel yang terindeks Scopus, 5 artikel di Web of Science Core Collection, serta ratusan karya lain di Google Scholar. Isu-isu yang diangkatnya secara konsisten berkaitan langsung dengan masyarakat, seperti teknologi, media sosial, dan dinamika hukum di tengah disrupsi zaman. “Kami harus menjembatani bagaimana hukum itu lebih aplikatif dan lebih banyak diterapkan. Tidak hanya berkutat di ranah konsep, tapi juga bagaimana implementasi nyatanya di masyarakat,” jelasnya. Salah satu bukti nyata dari risetnya yang berdampak adalah karyanya yang lahir saat pandemi 2021. Riset tersebut membedah ekspresi masyarakat di media sosial serta konsekuensi hukum yang menyertainya. Meskipun topiknya dekat dengan kehidupan sehari-hari, penelitian ini memiliki kekuatan besar dalam mengkaji bagaimana ruang digital memicu tekanan psikologis hingga jeratan hukum. Riset itu sekaligus menegaskan bahwa hukum harus hadir secara praktis, tidak hanya berhenti di tataran teori. Dukungan Universitas dan Motivasi Keberhasilan Fatih tidak lepas dari dukungan ekosistem riset yang disediakan oleh UMM. Kampus ini memberikan fasilitas yang mumpuni, mulai dari akses jurnal primer, fasilitas internet, hingga insentif publikasi. Fatih berharap, pencapaian ini dapat semakin mengharumkan nama UMM di kancah internasional dan memotivasi rekan sejawat serta para mahasiswa.
Inovasi NutriTrack MBG, Mahasiswa UMM Sabet Tiga Penghargaan Internasional

Muhammad Daffa Azmi (kiri) menunjukkan sertifikat penghargaan dalam ajang International Youth Innovation Summit (IYIS) #20 Chapter Malaysia–Singapore setelah timnya meraih tiga kategori prestasi internasional. Aplikasi pemantau kualitas dan distribusi makanan bergizi karya mahasiswa UMM ini sukses mencuri perhatian dunia dalam ajang International Youth Innovation Summit di Malaysia–Singapura. Tagar.co – Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhammad Daffa Azmi, bersama timnya berhasil meraih tiga penghargaan dalam ajang International Youth Innovation Summit (IYIS) #20 Chapter Malaysia–Singapore pada 23–26 Februari 2026 melalui inovasi aplikasi NutriTrack MBG, sistem pemantauan kualitas dan distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemuda asal Banjarbaru tersebut memborong tiga kategori bergengsi, yakni First Best Innovation Project, Second Best Presentation Project, serta Best Team. Kompetisi tingkat internasional ini menantang peserta untuk menghadirkan solusi konkret atas berbagai persoalan global yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Daffa menjelaskan bahwa ide NutriTrack MBG lahir dari evaluasi pelaksanaan program MBG di Indonesia yang masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterlambatan distribusi, makanan yang tidak layak konsumsi, hingga kasus keracunan. Baca Juga: Aisyiyah Jatim Ajak Umat Hadirkan Islam yang Kontekstual “Program MBG ini merupakan langkah pemerintah untuk memberikan gizi terbaik bagi anak-anak. Namun, di lapangan masih ditemukan beberapa permasalahan seperti keracunan, keterlambatan distribusi, hingga makanan yang dilaporkan berbau tidak sedap,” jelasnya, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Jumat (10/4/26). Tampilan aplikasi NutriTrack MBG pada perangkat ponsel yang dirancang untuk memantau kualitas gizi dan distribusi makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara real-time. NutriTrack MBG dirancang sebagai sistem pemantauan terintegrasi yang dapat diakses oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari siswa, orang tua, pemasok bahan pangan, hingga pengelola program. Aplikasi ini menghadirkan transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan MBG. Keunggulan utama aplikasi ini meliputi fitur transparansi informasi gizi yang memungkinkan pengguna mengetahui kandungan nutrisi makanan, seperti jumlah kalori dan protein. Selain itu, fitur pelacakan distribusi secara real-time memastikan ketepatan waktu pengiriman makanan hingga sampai ke tangan siswa. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UMM mampu bersaing di tingkat global. Bagi Daffa, pengalaman tersebut memberikan perspektif baru sekaligus menjadi ajang pembelajaran yang berharga. “Ini pertama kalinya saya ke luar negeri bukan untuk jalan-jalan, tetapi untuk belajar dan mencari pengalaman,” tuturnya. Baca Juga: UMM Salurkan THR Rp314,6 Juta untuk 525 Guru dan Karyawan AUA di Malang Melalui pencapaiannya, Daffa juga menyampaikan pesan inspiratif kepada generasi muda agar berani keluar dari zona nyaman dan tidak takut mencoba hal baru. “Jika kita tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu hasilnya. Jangan pernah takut untuk bermimpi besar,” ujarnya. (*) Penyunting Mohammad Nurfatoni
10 PTS Terbaik di Indonesia Versi UniRanks 2026, Referensi Penting Calon Mahasiswa Baru

Telkomsel University. (Foto Google Maps) JATIMTIMES – Memilih perguruan tinggi swasta (PTS) kini bukan lagi perkara mudah. Jumlah kampus yang terus bertambah di berbagai daerah membuat calon mahasiswa memiliki banyak opsi, namun di sisi lain juga bisa membingungkan. Salah satu cara yang cukup membantu dalam menentukan pilihan adalah dengan melihat hasil pemeringkatan kampus dari lembaga kredibel, seperti UniRanks. Lembaga pemeringkatan internasional ini kembali merilis daftar universitas terbaik tahun 2026, termasuk daftar PTS terbaik di Indonesia. Peringkat ini bisa menjadi acuan awal untuk menilai kualitas kampus dari berbagai aspek. Daftar 10 PTS Terbaik Versi UniRanks 2026 Berdasarkan data terbaru yang dipublikasikan melalui laman resmi UniRanks, berikut 10 perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia tahun 2026: 1. Telkom University Peringkat Indonesia: 11 Peringkat Asia: 395 2. Binus University Peringkat Indonesia: 12 Peringkat Asia: 397 3. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Peringkat Indonesia: 19 Peringkat Asia: 622 4. Universitas Islam Indonesia Peringkat Indonesia: 23 Peringkat Asia: 752 5. Universitas Ahmad Dahlan Peringkat Indonesia: 24 Peringkat Asia: 787 6. Universitas Muhammadiyah Surakarta Peringkat Indonesia: 32 Peringkat Asia: 1086 7. Universitas Dian Nuswantoro Peringkat Indonesia: 33 Peringkat Asia: 1089 8. Universitas Muhammadiyah Malang Peringkat Indonesia: 37 Peringkat Asia: 1120 9. Universitas Mercu Buana Peringkat Indonesia: 38 Peringkat Asia: 1136 10. Universitas Gunadarma Peringkat Indonesia: 41 Peringkat Asia: 1186 Metodologi Penilaian UniRanks UniRanks tidak hanya menilai kampus dari satu sisi saja. Pemeringkatan ini dibuat berdasarkan sejumlah indikator penting yang mencerminkan kualitas perguruan tinggi secara menyeluruh. Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain kesejahteraan mahasiswa, peluang kerja lulusan, kualitas akademik, hingga kemampuan kampus dalam beradaptasi dengan transformasi digital. Selain itu, reputasi global dan inovasi juga menjadi faktor penting dalam menentukan posisi universitas di tingkat internasional. Tujuannya jelas, yakni memberikan gambaran yang lebih komprehensif bagi calon mahasiswa sebelum menentukan pilihan. Dalam proses penyusunannya, UniRanks memanfaatkan teknologi modern seperti analisis berbasis kecerdasan buatan (AI) serta melibatkan penilaian dari para ahli independen. Adapun metode pengumpulan datanya meliputi: • Pengindeksan data berbasis web yang didukung AI • Kerja sama dengan penyedia data pihak ketiga • Pengajuan data langsung dari masing-masing universitas • Survei dan penilaian dari berbagai pemangku kepentingan • Audit oleh tim ahli UniRanks Meski daftar ini dapat dijadikan referensi penting, calon mahasiswa tetap disarankan mempertimbangkan faktor lain seperti minat jurusan, lokasi kampus, biaya kuliah, hingga fasilitas yang ditawarkan. Dengan begitu, keputusan yang diambil tidak hanya berdasarkan peringkat, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pendidikan masing-masing.
Mahasiswa UMM Kembangkan Inovasi NutriTrack MBG, Borong 3 Penghargaan Internasional

Daffa Azmi, mahasiswa UMM yang memborong 3 penghargaan internasional usai mengembangkan inovasi NutriTrack MBG./dok. UMM MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Kabar bahagia bagi warga Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), karena mahasiswa Ilmu Komunikasi, Muhammad Daffa Azmi berhasil meraih prestasi yang membanggakan. Berawal dari keberadaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang acapkali diwarnai kendala di lapangan, mulai dari keterlambatan distribusi hingga kasus keracunan, mahasiswa Ilkom UMM ini berusaha menjawab keresahan tersebut dengan sebuah inovasi. Daffa merancang inovasi NutriTrack MBG, yaitu sebuah aplikasi yang dirancang untuk membantu memantau kualitas makanan, memastikan keamanan pangan, serta mencatat data distribusi makanan secara real-time. Berkat inovasi tersebut, ia bersama timnya sukses membawa tiga penghargaan sekaligus di ajang International Youth Innovation Summit #20 Chapter Malaysia–Singapore pada 23-26 Februari lalu. Pemuda asal Banjarbaru tersebut bersama timnya tak tanggung-tanggung dalam meraih prestasi, sebab ia memborong tiga kategori bergengsi, yakni First Best Innovation Project, Second Best Presentation Project, serta Best Team. Daffa menjelaskan, kompetisi tingkat internasional ini menantang pesertanya untuk merumuskan solusi konkret atas berbagai persoalan global yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Ide timnya murni lahir dari realita evaluasi program MBG di Indonesia. “Program MBG ini adalah langkah pemerintah untuk memberikan gizi terbaik bagi anak-anak. Tapi faktanya di lapangan masih ada beberapa kasus seperti keracunan, keterlambatan distribusi, sampai makanan yang dilaporkan berbau tidak sedap,” ungkap Daffa. Berangkat dari masalah tersebut, Daffa dan timnya mempresentasikan NutriTrack MBG di hadapan dewan juri internasional. Aplikasi digital ini dirancang sebagai sistem pemantauan terintegrasi yang berfokus pada keamanan pangan dan ketepatan sasaran. Agar pengawasan dan evaluasi program MBG berjalan transparan, aplikasi ini dapat diakses oleh berbagai pihak, mulai dari siswa, orang tua, pemasok bahan pangan, hingga pengelola program. Keunggulan utama dari aplikasi ini mencakup transparansi informasi gizi dan pelacakan distribusi secara real-time. Melalui fitur transparansi gizi, pengguna dapat mengetahui secara pasti kandungan nutrisi dari makanan yang diterima, termasuk rincian jumlah kalori dan protein. Kemudian, sistem pencatatan distribusi real-time dirancang untuk memastikan transparansi waktu, yang mencakup informasi detail mulai dari jam keberangkatan pengiriman hingga tenggat waktu pesanan tersebut harus sampai di tangan siswa. Gagasan inovatif dan kerja sama tim yang solid ini pada akhirnya berhasil memukau dewan juri. Bagi Daffa, pencapaian ini membuktikan bahwa mahasiswa UMM mampu bersaing di kancah global. Pengalaman kompetisi ini juga memberinya perspektif baru yang mendalam. “Ini pertama kalinya saya ke luar negeri bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk belajar dan mencari pengalaman,” ujarnya. Melalui keberhasilannya, Daffa menitipkan pesan bagi generasi muda agar berani keluar dari zona nyaman. “Kita tidak boleh takut mencoba hal baru. Kalau kita tidak mencoba, kita tidak akan tahu bagaimana hasilnya. Jangan pernah takut untuk bermimpi besar,” tegasnya. *** Editor: YAN
Kenaikan Harga Plastik Cekik UMKM, Dipicu Konflik Timur Tengah dan Gangguan Pasok Nafta

Salah satu pedagang plastik di Pasar Bauntung Banjarbaru, Kalsel mulai meneguhkan berkurangnya pembeli dikarenakan melonjaknya harga plastik hingga 100 persen, Rabu (8/4/2026). ASATUNEWS – Lonjakan harga plastik yang signifikan telah menimbulkan tekanan besar bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama di bidang makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan sekali pakai. Kenaikan ini, yang dilaporkan mencapai 30 hingga 80 persen pada April 2026, berimbas langsung pada biaya produksi dan profitabilitas UMKM. Menteri UMKM Maman Abdurrahman, seperti dilansir dari Money, menyatakan bahwa meskipun pelaku usaha berupaya menahan harga jual untuk menjaga daya beli konsumen, margin keuntungan mereka menyusut drastis. Situasi ini diperparah oleh ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku plastik. Peningkatan harga plastik disebabkan oleh gangguan rantai pasok global, khususnya pada pasokan nafta, bahan baku utama plastik berbasis petrokimia. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah telah menghambat distribusi nafta, memicu koreksi pasokan di tingkat hulu. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) Fajar Budiono menambahkan bahwa sekitar 70 persen suplai nafta sempat terhenti karena konflik yang mempengaruhi jalur distribusi vital seperti Selat Hormuz. Kelangkaan nafta ini, menurut Maman Abdurrahman, membuat bahan baku plastik sulit didapatkan, mendorong harga naik tajam di pasaran. Di tingkat pedagang, tekanan harga sudah sangat terasa. Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia Reynaldi Sarijowan mengungkapkan bahwa harga plastik telah naik bertahap, mencapai puncak kenaikan sekitar 50 persen dibandingkan periode sebelum Ramadan. Misalnya, harga plastik yang sebelumnya Rp 10.000 per pak terus merangkak naik Rp 500 hingga Rp 700 setiap pekannya. Pemilik toko plastik Restu Anggi juga merasakan hal serupa, dengan lonjakan harga plastik bening untuk pembungkus mencapai 50% di tingkat konsumen, seperti dikutip dari Katadata.co.id. Dampak Kenaikan Biaya pada UMKM Pakar Ekonomi Koperasi dan UMKM Universitas Airlangga (Unair) Atik Purmiyati menegaskan bahwa kenaikan harga plastik akan menambah biaya produksi, berpotensi menggerus keuntungan usaha. Kondisi ini diperburuk oleh keterbatasan modal dan sumber daya manusia di kalangan UMKM. M. Sri Wahyudi Suliswanto, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang, menilai situasi ini sebagai tekanan biaya struktural yang sulit dihindari, menunjukkan kurangnya kemandirian industri dalam negeri. Banyak pelaku UMKM terpaksa memangkas margin keuntungan atau mengurangi ukuran produk (shrinkflation) untuk menjaga harga tetap kompetitif. Beberapa pedagang bahkan mulai beralih ke plastik daur ulang yang lebih murah, meskipun kualitas dan keamanannya untuk kemasan makanan masih diragukan, seperti diberitakan oleh Metro TV. Strategi Industri dan Pemerintah Hadapi Krisis Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah dan industri merancang beberapa strategi. Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita mendorong penggunaan plastik daur ulang berkualitas tinggi sebagai substitusi pasokan. Selain itu, industri aktif mencari sumber pasokan nafta baru di luar kawasan Timur Tengah, seperti dari Asia Tengah, Afrika, dan Amerika, meskipun waktu distribusi bisa lebih lama. Di tingkat pabrik, efisiensi dilakukan dengan mengurangi ketebalan plastik tanpa mengurangi fungsi kemasan. Maman Abdurrahman juga mengemukakan strategi jangka panjang melalui substitusi bahan baku berbasis minyak bumi dengan alternatif nabati seperti rumput laut dan singkong. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor nafta dan memanfaatkan sumber daya domestik. Sementara itu, di sisi pelaku UMKM, adaptasi dilakukan dengan penyesuaian volume produk, diversifikasi pasar, hingga mengganti jenis kemasan dengan bahan ramah lingkungan seperti kemasan biodegradable dari pati jagung atau singkong. Pembelian bahan baku dalam jumlah besar secara kolektif juga menjadi cara untuk menekan biaya. Upaya Menjaga Pasokan dan Stabilitas Pemerintah berupaya memastikan pasokan plastik tetap tersedia di pasar dan masyarakat tidak perlu panik. Menperin Agus Gumiwang menegaskan komitmen pemerintah untuk mengamankan pasokan dengan mengoptimalkan berbagai kanal alternatif. Kementerian Perindustrian juga memperkuat koordinasi dengan pelaku industri manufaktur untuk menjaga daya tahan sektor. Hal ini dilakukan seiring upaya menyeimbangkan ketersediaan pasokan, stabilitas harga, dan keberlanjutan industri di tengah tekanan global terhadap bahan baku plastik. Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk berperan aktif mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan meningkatkan praktik daur ulang. Inisiatif ini tidak hanya mendukung lingkungan, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor, membantu menstabilkan industri di masa mendatang.