Founder Social Movement Institute: Marwah Kampus Mulai Bergeser Akibat Pragmatisme Pendidikan

ILUSTRASI: penyampaian aspirasi mahasiswa melalui aksi demo. (FOTO: BBC) TimesIndonesia – MALANG – Perguruan Tinggi sejatinya mencetak generasi yang tidak hanya unggul pada prestasi akademik, tetapi juga karakter diri sendiri. Namun nyatanya, banyak institusi pendidikan saat ini dinilai hanya sebagai pencetak tenaga kerja saja dibandingkan menjadi ruang pembentukan karakter yang berpihak pada kebenaran. Pandangan tersebut disampaikan Founder Social Movement Institute, Eko Prasetyo, S.H., saat menjadi narasumber dalam Kuliah Tamu yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (13/6/2026). Menurut Eko, saat ini terjadi pergeseran fungsi dan marwah perguruan tinggi yang ditandai dengan semakin menurunnya keberanian generasi muda untuk berpikir kritis dan menyuarakan ketidakadilan. Ia menilai orientasi pendidikan yang semakin pragmatis, menguatnya budaya individualisme, serta dominasi teknologi menjadi faktor yang turut memengaruhi kondisi tersebut. “Hal-hal tersebut secara tidak sadar mulai menggeser marwah kampus. Mahasiswa akan semakin terasing dari tradisi menyuarakan kepentingan publik,” ujarnya. Eko menegaskan bahwa kampus merupakan ruang yang dinamis dan seharusnya dimanfaatkan mahasiswa tidak hanya untuk mengejar prestasi akademik. Lingkungan perguruan tinggi juga harus menjadi tempat berdiskusi, berorganisasi, bertukar gagasan, serta menguji berbagai pemikiran yang berkembang di masyarakat. Menurutnya, keberanian mempertanyakan berbagai persoalan sosial merupakan fondasi penting bagi kaum intelektual yang ingin membawa perubahan. “Berani mempertanyakan persoalan sosial adalah fondasi utama kaum intelektual yang mampu membawa perubahan,” katanya. Dalam kesempatan tersebut, Eko juga menyoroti fenomena komersialisasi pendidikan yang semakin menguat. Ia menilai biaya pendidikan yang semakin tinggi berpotensi mempersempit ruang perjumpaan antarberbagai kelompok sosial dan pada akhirnya mengikis empati mahasiswa terhadap realitas masyarakat. Selain itu, ia mengingatkan bahwa derasnya arus informasi di era digital juga menghadirkan tantangan tersendiri. Mahasiswa kerap memperoleh informasi dalam jumlah besar, namun tidak selalu memiliki kesempatan untuk memahami akar persoalan secara mendalam. Kondisi tersebut, menurutnya, diperparah oleh menurunnya budaya literasi, diskusi yang komprehensif, serta kemampuan berpikir analitis. Otto Media Grup Gandeng Sadewi Essential Care, Perkuat Kolaborasi Brand, Kreator, dan Rantai Pasok Digital “Budaya kepatuhan kini lebih dominan daripada berpikir kritis. Karena itu, kampus harus menjaga tradisi intelektual agar tetap hidup,” jelasnya. Di akhir pemaparannya, Eko mengajak seluruh sivitas akademika untuk merefleksikan berbagai tantangan moral dan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini. Ia mendorong mahasiswa agar tidak bersikap apatis, melainkan terlibat langsung dalam memahami dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, intelektual sejati tidak diukur dari banyaknya gelar akademik yang dimiliki, tetapi dari keberanian untuk memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan dalam kehidupan nyata. Ia juga mengingatkan bahwa kampus harus tetap menjadi ruang tumbuhnya gagasan yang kritis, independen, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas. “Esensi seorang intelektual sejati tidak pernah diukur dari tumpukan gelar akademik, melainkan dari seberapa besar nyali dan keberaniannya dalam mempertahankan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan secara nyata,” ucapnya. (*)
Haedar Nashir: UMM Harus Jadi Kampus Pelopor dan Penggerak Perubahan

Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., menyampaikan tausiiah dan pengarahan di Auditorium Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (11/6/2026). Dalam kesempatan itu, Haedar menantang UMM bertransformasi menjadi kampus pelopor yang mampu memimpin perubahan melalui penguatan ekonomi dan pembangunan SDM unggul. (Tagar.co/Humas UMM) Haedar Nashir meminta UMM tidak berpuas diri dengan capaian saat ini. Ia menegaskan Kampus Putih harus menjadi pelopor dan penggerak perubahan melalui penguatan ekonomi serta pembangunan SDM unggul. Tagar.co – Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menantang Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk naik kelas dari kampus maju menjadi kampus pelopor. Dia menilai, di tengah persaingan perguruan tinggi yang semakin ketat, UMM perlu melahirkan berbagai terobosan agar tetap berada di barisan terdepan. Pesan tersebut disampaikan Haedar saat memberikan tausiah dan pengarahan di Auditorium Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 UMM, Kamis (11/6/2026). Dalam arahannya, Haedar mengingatkan bahwa berbagai capaian yang telah diraih UMM tidak boleh membuat sivitas akademika merasa cukup. Menurutnya, dunia pendidikan tinggi bergerak sangat dinamis. Perguruan tinggi negeri maupun swasta terus mengembangkan inovasi dan model pengelolaan yang lebih adaptif. Karena itu, UMM perlu berani mengambil langkah-langkah progresif agar tidak tertinggal dalam persaingan yang semakin kompetitif. Baca Juga: UMM Salurkan THR Rp314,6 Juta untuk 525 Guru dan Karyawan AUA di Malang “Bagi PTMA dan para rektor, jika tidak berani melakukan langkah yang lebih progresif, kita akan tertinggal, padahal saat ini kita merasa sudah berada di posisi yang cukup maju,” tegas Haedar. Pimpinan dan sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengikuti Tausiyah dan Pengarahan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., di Auditorium GKB 5 UMM, Kamis (11/6/2026). Haedar menekankan pentingnya langkah progresif agar perguruan tinggi Muhammadiyah tetap menjadi pelopor kemajuan bangsa. (Tagar.co/Humas UMM) Dua Fokus UMM Haedar kemudian menjelaskan dua bidang yang perlu menjadi fokus UMM untuk memimpin perubahan. Pertama, penguatan sektor ekonomi. Kedua, pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul. Menurutnya, umat tidak boleh terus berkutat pada sektor ekonomi menengah ke bawah. Perguruan tinggi harus mendorong lahirnya generasi yang mampu menguasai industri, teknologi mutakhir, serta posisi-posisi strategis dalam pengambilan keputusan. Dengan peran tersebut, kampus dapat menjadi motor penggerak kemajuan bangsa. “Siapa yang mampu membangun sumber daya manusia berkarakter kuat, menguasai Iptek, keahlian, dan memiliki jaringan yang luas, ke depan dia yang akan memberi kontribusi besar bagi masa depan Indonesia. UMM harus kembali menjadi pelopor dalam menghadirkan kemajuan tersebut,” papar tokoh kelahiran Bandung itu. Selain memberikan arahan strategis, Haedar juga mengapresiasi perkembangan pesat perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), termasuk UMM. Ia menilai kemajuan infrastruktur pendidikan, penguatan ekosistem akademik, serta perluasan jejaring nasional dan internasional menjadi modal besar untuk menghadapi tantangan masa depan. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil dari dedikasi panjang para kader dan gerakan dakwah perserikatan Muhammadiyah. Berbagai kemajuan yang terlihat saat ini, lanjutnya, lahir melalui proses panjang yang dibangun dengan semangat pengabdian dan keikhlasan. “Kita sungguh bersyukur kepada Allah atas segala anugerah ini. Saya yakin, berbagai capaian yang diraih hari ini lahir dari keikhlasan mereka yang terus berkhidmat membesarkan perserikatan,” ujarnya. (#) Penyunting Mohammad Nurfatoni
Bangun Pabrik Infus, Muhammadiyah Sediakan Lahan Tiga Hektare

INFUS UNTUK BANGSA: Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir (tiga dari kiri) menyampaikan sambutan saat acara peletakan batu bata pertama pem,bangunan pabrik infus di Kabupaten Malang, Jawa Timur. INDOSatu.co – MALANG – Rencana PP Muhammadiyah untuk memiliki pabrik infus dipastikan segera terealisasi. Hal itu dibuktikan dengan kesiapan mengalokasikan lahan untuk pembangunan pabrik. Renacananya, lokasi pabrik tersebut menggunakan lahan milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia bakal menggunakan lahan kurang lebih 3 hektare dari total 14 hektare aset lahan UMM di lokasi tersebut. Untuk merealisasikan misi tersebut, peletakan batu pertama pembangunan pabrik tersebut langsung dilakukan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir. Selain menghadirkan Haedar, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji Prof Muhadjir Effendy, Ketua PP Muhammadiyah DR. Saad Ibrahim, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI sekaligus Sekretaris BPH UMM Prof Fauzan serta Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur Prof. Sukadiono juga tampak menghadiri peletakan batu pertama proyek tersebut pada Kamis (11/6/2026). Pabrik tersebut diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan, baik jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun masyarakat. Hal itu bisa dimaklumi karena Muhammadiyah memang memiliki ratusan rumah sakit dan balai pengobatan yang tersebar di seluruh Indonesia. Prof Haedar mengatakan, pendirian pabrik infus adalah manifestasi dari ekosistem socio-religious corporation yang digagas oleh persyarikatan. Menurut dia, inisiatif tersebut membuktikan organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara, bukan sekadar mencari keuntungan finansial. PT Suyavena Farma Indonesia sendiri ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. ” Ini (PT Suryavena, Red) bukan untuk Muhammadiyah, tetapi juga untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” ucap Haedar. Menurut Haedar, agama tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, melainkan juga urusan muamalah dalam tata kehidupan sosial ekonomi. Karena itu, sambung dia, keterlibatan di sektor industri medis ini diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Wakil Rektor II UMM Dr Ahmad Juanda menjelaskan, kontribusi Kampus Putih tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depannya, kawasan ini akan diintegrasikan menjadi ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang mempertemukan aktivitas industri dengan fungsi tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” ucap Juanda. Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia tahun depan, kata Juanda, langkah itu diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Tanah Air. Kolaborasi lintas sektor menjadi pesan kuat bahwa kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa. (*)
GKB 5 Resmi Beroperasi, UMM Bersiap Jadi Episentrum Medis Nasional

Tagar.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meluncurkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 yang berlokasi di kompleks Rumah Sakit UMM, Dau, Kota Malang. Gedung sebelas lantai setinggi 45 meter berkonsep green building ini diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Kamis (11/6/2026). Fasilitas mutakhir ini didedikasikan sebagai pusat pendidikan medis masa depan. Terutama bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Kehadiran fasilitas megah ini dinilai sebagai penegas dedikasi utuh UMM dalam memajukan peradaban, terutama dunia medis. Haedar, sapaan akrabnya, memberikan apresiasi kepada jajaran pimpinan Kampus Putih. Apresiasi ini dinilai layak karena Ia menilai UMM tidak pernah berhenti berinovasi. Selain itu, UMM juga mampu menyulap kawasan tersebut menjadi pusat pendidikan kedokteran bergengsi. Ia menegaskan bahwa UMM telah membuktikan posisinya sebagai barometer kemajuan bagi 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat. Juga menanamkan tradisi besar bagi seluruh civitas academica (masyarakat akademik, ed.) untuk selalu memiliki visi yang luas ke depan. Menjadi pelopor dalam kemajuan,” tegas Haedar. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. menandatangani prasasti peresmian Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 UMM, Kamis (11/6/2026) (Tagar.co/Humas UMM) Lebih jauh, Haedar menilai kemegahan GKB 5 ini merupakan cerminan tradisi keunggulan Kampus Putih dalam mencetak tenaga kesehatan profesional. Lulusan UMM tidak hanya dituntut cerdas secara keilmuan, tetapi juga wajib memiliki karakter, integritas, dan akhlak mulia. Semuanya itu sebagai landasan utama saat melayani masyarakat. “Gedung GKB 5, Rumah Sakit UMM, dan seluruh ekosistem Kampus UMM menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju. Bukti Islam yang berkemajuan dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” imbuhnya. Dibangun dengan Swadaya-Swakelola Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menjelaskan bahwa keistimewaan utama dari gedung ini terletak pada kemandirian proses pembangunannya. Mahakarya yang dirintis sejak tahun 2023 tersebut dirancang dan dikerjakan langsung oleh para ahli dari internal kampus. “Gedung ini dibangun murni dengan swadaya dan swakelola. Termasuk desain perencanaan sampai dengan pelaksanaannya oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang, beserta beberapa konsultan,” urai Nazaruddin. Gedung yang berdiri di atas lahan seluas dua hektar memiliki konstruksi tahan gempa. Selain itu, gedung tersebut mengusung arsitektur ramah lingkungan yang diformulasikan khusus untuk menekan polusi. Lebih dari itu, juga memaksimalkan pencahayaan alami dan memastikan sirkulasi udara sehat. Nazaruddin melanjutkan, gedung ini dilengkapi dengan puluhan laboratorium berstandar internasional dan sarana olahraga. Termasuk juga memiliki sistem pengolahan limbah khusus yang terpisah hingga auditorium megah. Pembangunan infrastruktur berkualitas tinggi ini menjadi langkah visioner UMM untuk memastikan para lulusannya siap, cerdas, dan tangguh Nazaruddin berharap peresmian ini membawa keberkahan dan menjadi dorongan moral bagi UMM. Utamanya, untuk terus berkontribusi secara nyata bagi negara. “Mudah-mudahan peresmian ini sekaligus menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk berani maju terus. Memberi kontribusi yang terbaik bagi bangsa,” pungkas Nazaruddin. Berdirinya GKB 5 ini tidak hanya menambah daftar panjang prestasi infrastruktur fisik Kampus Putih, tetapi juga menjadi tonggak sejarah baru dalam standar pendidikan medis di Indonesia. Melalui integrasi ilmu kesehatan, teknologi mutakhir, dan nilai-nilai keislaman, UMM semakin memantapkan langkahnya dalam melahirkan generasi tenaga medis prima. Mereka yang siap menjawab tantangan kesehatan global di masa depan.
Sinergi Kampus dan Dunia Kerja, FH UMM Sukses Tuntaskan Magang Mandiri di Maha Patih Law Office

Kampiunnews|Kota Batu – Memasuki babak akhir implementasi kurikulum berbasis industri, Laboratorium Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara resmi menarik kembali para mahasiswanya dari berbagai instansi mitra. Penjemputan massal program Magang Mandiri ini dilaksanakan serentak pada Jumat, 12 Juni 2026. Maha Patih Law Office menjadi salah satu mitra strategis yang merampungkan masa pendampingan terhadap lima mahasiswa semester VI Fakultas Hukum UMM. Kelima mahasiswa yang telah menyelesaikan seluruh target kompetensi tersebut adalah Ainur Rozi, Afril Putra Dewandan, Dimas Satrio Wicaksono, Zulfa Mareta Pancawati, dan Kifayah Insani Kamilia. Prosesi penarikan dan evaluasi di lapangan dipimpin langsung oleh dosen pembimbing magang internal, Fadjar Ramadhani, S.H., M.H., yang kehadirannya disambut hangat oleh jajaran manajemen kantor hukum tersebut. Fadjar Ramadhani menjelaskan bahwa penjemputan ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan bagian penting dari proses monitoring dan evaluasi akhir performa mahasiswa. “Agenda hari ini bertujuan memastikan bahwa seluruh target capaian pembelajaran klinis hukum telah terpenuhi dengan baik. Di samping itu, ini menjadi instrumen penting bagi kami untuk mempererat sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan dunia profesi. Kami sangat mengapresiasi Maha Patih Law Office atas ruang berkembang yang luar biasa bagi mahasiswa kami,” ungkap Fadjar. Sepanjang menjalani program satu semester di kantor hukum tersebut, kelima mahasiswa ini tidak hanya belajar teori, tetapi langsung diterjunkan dalam aktivitas riil. Mereka mendapatkan pengalaman praktis mulai dari penanganan administrasi perkara, penyusunan dokumen hukum (legal drafting), hingga ikut serta dalam proses pendampingan klien. BACA JUGA: Hentikan Pembunuhan Karakter! Kuasa Hukum Sinal Abidin dkk Buka Suara Amir Mahmud, S.H., selaku mentor sekaligus dosen pembimbing lapangan dari Maha Patih Law Office, memberikan rapor positif atas etos kerja dan dedikasi para peserta magang. “Kami sangat berterima kasih atas kepercayaan universitas. Harapan kami, wawasan lapangan yang didapatkan selama satu semester ini bisa menjadi modal berharga bagi mereka, baik untuk menyelesaikan studi akademis maupun saat meniti karier sebagai penegak hukum di masa depan,” ujar Amir, yang saat ini juga sedang menempuh studi pascasarjana di FH Universitas Brawijaya. Sementara itu, Managing Partner Maha Patih Law Office, Andi Rachmanto, S.H., menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan kapasitas calon-calon yuris muda. “Pintu kami selalu terbuka untuk menjadi laboratorium belajar bersama bagi calon penegak hukum. Kita butuh melahirkan praktisi yang tidak sekadar pintar secara akademis, tetapi memiliki kepekaan sosial terhadap keadilan di Indonesia. Jika bukan kita yang peduli untuk membimbing mereka, siapa lagi? Kami berharap gerakan ini memicu instansi hukum lainnya untuk lebih terbuka memberikan ruang praktika bagi mahasiswa,” pungkas advokat berusia 41 tahun tersebut.
Diakui Nasional, RS UMM Raih Pujian Dirut BPJS Kesehatan atas Komitmen Layanan Prima

MALANG, SURYAKABAR.com – Direktur Utama BPJS Kesehatan, Dr. dr. Prihati Pujowaskito, secara langsung mengapresiasi tingginya standar kualitas pelayanan dan tingkat keselamatan pasien di Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (RS UMM). Apresiasi tersebut disampaikan dalam kunjungan kerjanya, Kamis (11/6/2026) sebagai wujud pengakuan atas dedikasi RS UMM dalam mendukung penuh program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Ia mengungkapkan, RS UMM telah membuktikan kapasitasnya sebagai fasilitas kesehatan yang mumpuni dan mematuhi standar ketat sebagai mitra strategis BPJS Kesehatan. “Rumah Sakit UMM bagus, sudah standarisasi, dan sudah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Jadi rumah sakit-rumah sakit yang sudah terstandarisasi ini melakukan pelayanan yang bermutu, menjaga keselamatan pasien. Dan ini penting sekali untuk melaksanakan, mendukung program JKN BPJS, ya,” tegasnya. Pujian tersebut sangat relevan dengan fakta, RS UMM memiliki keunggulan fasilitas dan infrastruktur berskala besar yang dibangun di atas lahan seluas 90.000 meter persegi. Rumah sakit ini telah mengantongi akreditasi tingkat kelulusan “PARIPURNA” (bintang lima) dari Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Indonesia (LARSI). Reputasi unggul ini juga dibuktikan dengan raihan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur sebagai rumah sakit rujukan Tipe C dengan predikat terbaik dalam penanganan pandemi Covid-19 pada 2021. Memegang status Tipe C dengan fasilitas setara rumah sakit Tipe B, layanan prima rumah sakit ini ditopang total 590 Sumber Daya Manusia (SDM), yang di antaranya meliputi 96 tenaga medis, 212 tenaga perawat, serta 150 tenaga kesehatan lain. Guna menunjang kepuasan pasien, RS UMM menghadirkan pelayanan medis yang komprehensif melalui 28 pilihan klinik rawat jalan dan total 150 tempat tidur rawat inap. Menanggapi kunjungan dan apresiasi dari pimpinan BPJS, Direktur RS UMM, Prof. Dr. dr. Djoni Djunaedi, Sp.PD, KPTI, menegaskan komitmen lembaganya dalam menghadirkan pelayanan medis prima yang terpadu. “Kami terus berkomitmen dalam pelayanan. Kerja sama berkelanjutan dengan BPJS Kesehatan adalah bukti nyata dedikasi kami untuk hadir melayani masyarakat luas, memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan terbaik dengan aksesibilitas yang mudah,” ungkapnya. Kunjungan serta atensi langsung dari pucuk pimpinan BPJS Kesehatan ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi RS UMM untuk terus konsisten merealisasikan visinya, yakni menjadi rumah sakit pilihan masyarakat dengan keunggulan pelayanan yang bermutu tinggi, aman, dan efektif. Kolaborasi erat antara penyedia fasilitas kesehatan dengan pemerintah merupakan kunci mutlak guna mewujudkan sistem layanan medis yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
GKB 5 UMM Resmi Beroperasi, Perkuat Ambisi Jadi Pusat Pendidikan Medis Berkelas Nasional

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan langkah strategis dalam pengembangan pendidikan tinggi bidang kesehatan. Kampus Putih resmi meluncurkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 yang berdiri megah di kawasan Rumah Sakit UMM, Kamis (11/6). Gedung setinggi 45 meter dengan 11 lantai tersebut diproyeksikan menjadi pusat pendidikan medis modern bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Penandatanganan prasasti oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir.(Djoko W) Peresmian dilakukan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, yang menyebut kehadiran GKB 5 sebagai bukti nyata konsistensi UMM dalam membangun tradisi kemajuan dan inovasi di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Menurut Haedar, UMM telah menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu kampus yang menjadi rujukan kemajuan bagi PTMA di Indonesia. Berbagai capaian yang diraih UMM dinilai lahir dari budaya akademik yang mendorong sivitas akademika untuk terus berpikir visioner, berinovasi, dan berorientasi pada masa depan. “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat dan menanamkan tradisi besar bagi seluruh sivitas akademika untuk selalu memiliki visi yang luas ke depan serta menjadi pelopor dalam kemajuan,” ujarnya. Lebih lanjut, Haedar menilai GKB 5 bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol komitmen UMM dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul di sektor kesehatan. Di tengah meningkatnya kebutuhan tenaga medis profesional, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas, karakter, dan akhlak yang kuat. Ia menegaskan, keberadaan GKB 5 yang terintegrasi dengan Rumah Sakit UMM akan semakin memperkuat ekosistem pendidikan kesehatan yang mampu melahirkan tenaga medis berkompeten sekaligus berjiwa kemanusiaan. “Gedung GKB 5, Rumah Sakit UMM, serta seluruh ekosistem kampus UMM menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju, Islam yang berkemajuan, dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” tambahnya. Sambutan Rektor UMM, Nazaruddin Malik.(Ist) Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menjelaskan bahwa pembangunan GKB 5 memiliki nilai strategis karena dikerjakan secara mandiri oleh sumber daya internal kampus. Proyek yang mulai dirintis sejak 2023 tersebut merupakan hasil kolaborasi para ahli dan tenaga profesional UMM, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan. “Gedung ini dibangun murni dengan swadaya dan swakelola, termasuk desain perencanaan sampai dengan pelaksanaannya oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang beserta beberapa konsultan,” jelasnya. Berdiri di atas lahan seluas dua hektare, GKB 5 dirancang dengan konsep green building yang mengedepankan efisiensi energi dan keberlanjutan lingkungan. Bangunan tahan gempa tersebut memaksimalkan pencahayaan alami, memiliki sistem sirkulasi udara yang sehat, serta dilengkapi teknologi pengelolaan limbah yang terpisah sesuai standar fasilitas pendidikan kesehatan modern. Tak hanya itu, gedung ini juga menghadirkan puluhan laboratorium berstandar internasional, ruang pembelajaran berbasis teknologi, fasilitas olahraga, hingga auditorium representatif yang mendukung kegiatan akademik maupun pengembangan kompetensi mahasiswa. Bagi UMM, investasi besar pada infrastruktur pendidikan kesehatan merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjawab tantangan dunia medis yang semakin kompleks. Integrasi antara pendidikan, penelitian, dan layanan kesehatan melalui keberadaan Rumah Sakit UMM diyakini akan memperkuat kualitas lulusan sekaligus meningkatkan kontribusi kampus terhadap pembangunan kesehatan nasional. Nazaruddin berharap peresmian GKB 5 menjadi momentum baru bagi UMM untuk terus memperluas kontribusi bagi bangsa melalui pendidikan yang unggul dan berdaya saing global. “Mudah-mudahan peresmian ini sekaligus menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk berani maju terus ke depan memberikan kontribusi yang terbaik bagi bangsa,” pungkasnya. Hadirnya GKB 5 menandai babak baru pengembangan pendidikan kesehatan di UMM. Lebih dari sekadar gedung perkuliahan, fasilitas ini menjadi representasi visi besar kampus dalam membangun pusat pendidikan medis modern yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi kesehatan, riset, serta nilai-nilai keislaman. Dengan langkah tersebut, UMM semakin memantapkan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama dalam mencetak tenaga kesehatan unggul yang siap menjawab tantangan nasional maupun global.
Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus di Malang, Siap Pasok Kebutuhan Medis Nasional

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat peran strategisnya dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional. Komitmen ini diwujudkan melalui penyediaan lahan untuk pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang. Dari total 14 hektare aset lahan milik UMM di lokasi tersebut, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu. Peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek ini resmi dilaksanakan pada Kamis (11/6/2026). Peresmian proyek ini dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr Ahmad Juanda Ak MM CA. Pabrik yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 ini diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan, baik bagi jaringan rumah sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas. Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi menegaskan bahwa pendirian pabrik infus ini merupakan manifestasi dari ekosistem socio-religious corporation yang digagas persyarikatan. Menurutnya, inisiatif ini membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara, bukan sekadar mencari keuntungan finansial. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Lebih lanjut, Haedar menjelaskan bahwa agama tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, melainkan juga urusan muamalah dalam tata kehidupan sosial-ekonomi. Karena itu, keterlibatan di sektor industri medis ini diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor II UMM Dr Ahmad Juanda Ak MM CA menjelaskan bahwa kontribusi Kampus Putih tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depan, kawasan ini akan diintegrasikan menjadi ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang mempertemukan aktivitas industri dengan fungsi tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional. Selain mendukung layanan kesehatan, kawasan ini juga dirancang menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan,” ujarnya. Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia pada 2027 mendatang, langkah ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Tanah Air. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi pesan kuat bahwa kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan untuk menghadirkan manfaat seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa.
Pabrik Infus Muhammadiyah di UMM Siap Pasok Kebutuhan Medis Nasional

MALANG KOTA, RADAR MALANG -Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat peran strategis dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional. Komitmen ini diwujudkan lewat penyediaan lahan untuk pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang. Dari total 14 hektare aset lahan milik UMM di lokasi tersebut, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu. Peletakan batu pertama (ground breaking) proyek ini resmi dilaksanakan pada Kamis kemarin (11/6). Dihadiri sejumlah tokoh penting, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM Prof Dr Fauzan Mpd, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr Ahmad Juanda Ak MM CA. TAMU PENTING: Para Pimpinan Muhammadiyah beserta Direksi PT Suryavena Farma Indonesia hadir dalam acara peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia, kemarin. Pabrik tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027, diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan. Baik bagi jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas. Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir MSi menegaskan, pendirian pabrik infus ini adalah manifestasi dari ekosistem socio-religious corpo ration. Menurutnya, inisiatif ini membuktikan, organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang orientasi utamanya adalah kemaslahatan publik dan kontribusi nyata bagi negara. ”Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Proyek yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya. Dalam pemaparannya, agama disebut tidak sebatas mengatur akidah dan ibadah, melainkan juga urusan muamalah dalam tata kehidupan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, keterlibatan di sektor industri medis ini diposisikan sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan. Guna menopang berbagai layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Senada, Wakil Rektor II UMM Dr Ahmad Juanda Ak MM CA menjelaskan, kontribusi Kampus Putih tidak berhenti pada penyediaan lahan. Ke depannya, kawasan ini akan diintegrasikan menjadi ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM. ”Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional,” katanya. Misinya, selain mendukung layanan kesehatan, kawasan tersebut juga dirancang untuk menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri. Sehingga mampu mencetak sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan.
Kolaborasi Dunia Akademik dan Praktik Hukum: Mahasiswa FH Universitas Muhammadiyah Malang Magang di Agustian Siagian Law Firm

Malang || RADARJATIM.CO ~ Dunia pendidikan tinggi dan praktik hukum profesional merupakan dua hal yang saling melengkapi dalam membentuk calon sarjana hukum yang kompeten. Melalui program magang mandiri yang berlangsung selama satu semester, tiga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yaitu Nabiel Frizzy Kusuma, Sandy Saputra, dan Tegar Putra Dewantara, memperoleh kesempatan untuk belajar secara langsung di lingkungan praktik hukum profesional pada Agustian Siagian Law Firm. Program magang ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan berbagai teori hukum yang telah dipelajari di bangku kuliah ke dalam praktik nyata. Selama menjalani magang, para mahasiswa tidak hanya mengamati proses penanganan perkara, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan yang mendukung pelayanan hukum kepada masyarakat. Dalam pelaksanaannya, Nabiel, Sandy, dan Tegar mendapatkan pengalaman berharga mengenai tata kelola kantor hukum, penyusunan dokumen hukum, penelitian hukum, hingga pendampingan terhadap proses penyelesaian sengketa. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika profesi advokat yang menuntut ketelitian, integritas, serta kemampuan analisis hukum yang kuat. Salah satu aspek penting yang dipelajari selama magang adalah proses penyusunan dokumen hukum, seperti surat kuasa, gugatan, jawaban, replik, duplik, legal opinion, serta berbagai administrasi hukum lainnya. Selain itu, para mahasiswa juga berkesempatan mengikuti konsultasi hukum dan mengamati secara langsung strategi yang digunakan advokat dalam menangani permasalahan hukum klien. Baca Juga : Melanggar Prokes, 22 Karyawan dan 11 Pengunjung Cafe Diamankan Pengalaman yang tak kalah berkesan selama program magang ini adalah kesempatan bagi Nabiel, Sandy, dan Tegar untuk menghadiri persidangan secara langsung di pengadilan. Didampingi oleh advokat dari Agustian Siagian Law Firm, para mahasiswa dapat menyaksikan jalannya proses persidangan secara nyata, mulai dari pembacaan gugatan, tahap mediasi, pemeriksaan saksi dan alat bukti, hingga pembacaan putusan. Pengalaman hadir di ruang sidang memberikan gambaran yang konkret mengenai bagaimana hukum acara diterapkan dalam praktik, sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya tergambarkan hanya melalui pembelajaran teori di kelas. Para mahasiswa juga dapat mengamati secara langsung bagaimana advokat berargumentasi, merespons pertanyaan majelis hakim, serta membangun komunikasi yang efektif dalam forum persidangan resmi. Menurut Nabiel, pengalaman magang memberikan gambaran nyata mengenai tantangan profesi hukum yang tidak sepenuhnya dapat diperoleh melalui pembelajaran di kelas. “Melalui magang ini, kami dapat memahami bagaimana teori hukum diterapkan dalam praktik. Kami belajar bahwa setiap perkara memiliki karakteristik yang berbeda sehingga memerlukan analisis yang mendalam dan pendekatan yang tepat,” ujarnya. Baca Juga : Puskesmas Karang Binangun Diduga Buang Limbah Medis Sembarangan Hal senada disampaikan oleh Sandy yang menilai bahwa magang menjadi wadah untuk mengembangkan keterampilan profesional, khususnya dalam komunikasi hukum dan penyusunan dokumen. “Kami belajar pentingnya ketelitian dalam menyusun dokumen hukum karena setiap detail memiliki konsekuensi hukum yang signifikan,” ungkapnya. Sementara itu, Tegar menambahkan bahwa pengalaman berinteraksi langsung dengan praktisi hukum memberikan wawasan baru mengenai etika profesi dan tanggung jawab advokat dalam memberikan bantuan hukum kepada masyarakat. Ia juga menegaskan bahwa kesempatan menghadiri persidangan menjadi salah satu momen paling berharga selama masa magang, karena memberikan pemahaman utuh mengenai bagaimana sistem peradilan bekerja secara nyata di lapangan. Program magang selama satu semester ini juga menjadi bentuk nyata sinergi antara perguruan tinggi dan dunia profesi. Fakultas Hukum UMM terus mendorong mahasiswanya untuk memperoleh pengalaman praktik guna meningkatkan kesiapan menghadapi dunia kerja setelah lulus. Melalui kerja sama dengan berbagai institusi hukum, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan kompetensi akademik sekaligus keterampilan profesional yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Baca Juga : Sosialisasi Anti Korupsi Mahasiswa Fakultas Hukum UMM di SMP PGRI 3 Karangploso: Tanamkan Nilai Integritas Sejak Dini Sebagai kantor hukum yang aktif menangani berbagai permasalahan hukum, Agustian Siagian Law Firm memberikan ruang pembelajaran yang komprehensif bagi mahasiswa. Lingkungan kerja yang profesional serta bimbingan dari para advokat menjadi bekal penting dalam membentuk karakter dan kompetensi calon penegak hukum masa depan. Melalui program magang ini, Nabiel, Sandy, dan Tegar tidak hanya memperoleh pengalaman praktis, tetapi juga memperkuat pemahaman mengenai nilai-nilai profesionalisme, integritas, dan tanggung jawab dalam penegakan hukum. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi fondasi yang kuat bagi mereka untuk berkontribusi dalam dunia hukum Indonesia di masa mendatang. Kolaborasi antara dunia akademik dan praktik hukum melalui program magang menjadi langkah strategis dalam mencetak lulusan hukum yang tidak hanya unggul secara teoritis, tetapi juga siap menghadapi tantangan profesi secara nyata.