Jangan Tergiur Hewan Kurban Jumbo, Dosen UMM Ungkap Ciri Kurban Sehat dan Sah

Malang (beritajatim.com) – Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, M.S., mengimbau agar tidak hanya terpaku pada ukuran tubuh hewan kurban yang jumbo saat Iduladha. Menurutnya, kesehatan hewan menjadi parameter utama agar ibadah kurban dinyatakan sah secara syariat dan dagingnya layak konsumsi. Prof. Lili Zalizar menjelaskan bahwa pendeteksian kesehatan hewan sebenarnya bisa dilakukan melalui pengamatan fisik sederhana oleh orang awam sekalipun. Ia menekankan pentingnya melihat postur dan cara berdiri hewan secara saksama. Menurutnya, calon pembeli harus memastikan hewan dalam kondisi simetris dan mampu menumpu beban tubuh dengan baik. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” terang Prof. Lili pada Jumat (8/5/2026) kemarin. Lebih lanjut, Prof. Lili menegaskan bahwa kecacatan fisik seperti pincang menjadi penggugur syarat sahnya hewan kurban. Selain kaki, bagian mata juga harus jernih. Hewan yang mengalami gangguan penglihatan atau buta biasanya ditandai dengan adanya selaput putih atau kondisi mata yang keruh. Indikator lain yang tidak kalah penting adalah kondisi kulit. Prof. Lili menyarankan masyarakat untuk menjauhi hewan yang memiliki tanda-tanda penyakit kulit menular. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan (scabies) karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya. beritajatim – Masyarakat juga diminta jeli dalam mengidentifikasi gejala penyakit berbahaya seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta antraks. Penyakit ini tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga berisiko bagi kesehatan manusia yang mengonsumsi dagingnya. Tanda PMK biasanya terlihat dari keluarnya lendir berlebihan pada mulut, luka di gusi dan lidah, hingga peradangan kemerahan di sela-sela kuku. Sementara itu, gejala antraks jauh lebih fatal dan harus segera dihindari. “Hewan yang terkena antraks biasanya mengalami kejang-kejang yang kerap disertai pendarahan dari hidung atau anus (rektum). Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegas Prof. Lili. Selain aspek kesehatan, Prof. Lili mengingatkan kembali batas minimal usia hewan kurban sesuai ketentuan agama, yakni dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. Ia juga menyarankan pemilihan hewan yang berbadan gemuk demi memaksimalkan jumlah daging yang akan dibagikan kepada masyarakat. Terakhir, ia menyoroti faktor stres pada hewan yang baru saja menempuh perjalanan jauh ke lokasi penjualan. Hewan wajib diistirahatkan dengan cukup sebelum proses penyembelihan dilakukan. Kurangnya masa istirahat dapat memicu sindrom Dark, Firm, Dry (DFD). Kondisi ini menyebabkan kualitas daging menurun drastis dengan tekstur yang berubah menjadi gelap, keras, dan kering akibat kelelahan fisik hewan. “Melalui edukasi ini, diharapkan masyarakat menjadi pembeli yang cerdas. Sebab, ibadah kurban adalah wujud keikhlasan sekaligus bentuk kepedulian terhadap kualitas pangan yang kita konsumsi bersama,” pungkasnya. (dan/kun)
Akademisi UMM Berikan Panduan Memilih Hewan Kurban Sehat Jelang Iduladha

beritajejakfakta – Dosen Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Lili Zalizar, memberikan panduan teknis pemilihan hewan kurban yang sehat dan sesuai syariat kepada masyarakat pada Kamis (8/5/2026). Langkah ini bertujuan memastikan kualitas daging kurban aman dikonsumsi sekaligus memenuhi rukun ibadah. Kondisi fisik secara menyeluruh menjadi indikator utama yang harus diamati calon pembeli sebelum melakukan transaksi. Pemeriksaan kesehatan hewan meliputi kemampuan berdiri tegak tanpa pincang, kejernihan mata, hingga kebersihan kulit dari berbagai potensi penyakit menular. Pemeriksaan postur tubuh sebaiknya dilakukan dari sudut pandang depan, samping, dan belakang secara detail. Dilansir dari Surabaya, hewan yang mengalami cacat fisik atau pincang dinyatakan tidak memenuhi kriteria sebagai hewan kurban menurut ketentuan syariat Islam. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujar Prof. Lili Zalizar, Dosen Fakultas Pertanian-Peternakan UMM. Ia menegaskan pentingnya memilih hewan dengan kulit mulus yang terbebas dari penyakit kudis atau scabies. Masyarakat juga diminta mewaspadai gejala Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang ditandai dengan air liur berlebih serta luka pada lidah atau gusi. Selain itu, penyakit Antraks harus diwaspadai jika hewan mengalami kejang dan pendarahan pada lubang hidung atau anus karena dagingnya sangat berbahaya. Kriteria usia hewan kurban juga wajib dipatuhi, yakni minimal berumur dua tahun untuk sapi dan satu tahun untuk kambing atau domba. Hewan yang sehat biasanya menunjukkan nafsu makan yang aktif, tampak bugar, dan disarankan memiliki badan yang gemuk agar hasil daging maksimal. Aspek kesejahteraan hewan sebelum penyembelihan turut memengaruhi kualitas daging yang dihasilkan. Hewan yang baru tiba dari perjalanan jauh wajib diistirahatkan untuk mencegah stres yang dapat memicu sindrom Dark, Firm, Dry (DFD) atau daging menjadi gelap dan keras.
Sarjana Pendidikan Terancam Dihapus Demi Industri, Ini Kata Akademisi UMM

MALANG, RADAR MALANG – Dunia pendidikan tinggi Indonesia tengah dihangatkan oleh perdebatan serius menyusul munculnya wacana penghapusan program studi keguruan. Usulan yang dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Sekjen Kemdiktisaintek) RI ini didasarkan pada alasan relevansi lulusan dengan kebutuhan industri. Namun, kebijakan tersebut dinilai berisiko menyederhanakan makna pendidikan dan mengancam masa depan pembentukan karakter bangsa. Kritik tajam datang dari kalangan akademisi yang melihat kebijakan ini sebagai bentuk ‘tragedi kalkulator pendidikan’. Istilah ini merujuk pada cara pandang pragmatis yang menilai keberhasilan sebuah lembaga pendidikan hanya melalui angka statistik dan tingkat serapan kerja semata. Jika logika ini terus digunakan, peran perguruan tinggi dikhawatirkan akan tereduksi menjadi sekadar ‘pabrik’ pemasok tenaga kerja bagi industri. ASPIRASI AKADEMISI: Dr. M. Isnaini, M.Pd memberikan pendapat soal wacana penghapusan sarjana pendidikan. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. M. Isnaini, M.Pd., menyatakan bahwa wacana tersebut menunjukkan ketidaksiapan pemerintah dalam memetakan arah pendidikan nasional secara komprehensif. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab strategis yang jauh lebih besar daripada sekadar mengikuti tren pasar kerja. “Pemerintah melalui pendidikan tinggi tidak selalu harus mengekor pada tren industri. Kampus adalah ruang inkubasi pemikiran kritis. Ketika kebijakan hanya berorientasi pada pasar kerja, fungsi intelektual tersebut akan tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melemahkan posisi pendidikan tinggi sebagai penggerak intelektualitas kritis masyarakat,” ujarnya pada Tim Humas UMM, 29 April lalu. Ia menambahkan bahwa pendidikan sejatinya adalah proses untuk memanusiakan manusia, sebagaimana filosofi yang diusung oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Pendidikan tidak hanya membekali lulusan dengan keterampilan teknis agar siap bekerja, tetapi juga membangun cara berpikir, sikap, estetika, dan tanggung jawab sosial. “Jika guru atau lulusan kependidikan hanya diukur dari serapan kerja, itu sangat tidak ideal. Kalau logikanya hanya soal keterampilan teknis, lebih baik kita cukup membangun Balai Latihan Kerja (BLK) saja, tidak perlu ada perguruan tinggi. Lulusan yang hanya cakap teknis tanpa bekal nilai estetika dan moral berisiko menjadi pekerja yang kehilangan arah,” tegasnya. Lebih lanjut, Isnaini sapaan akrabnya menekankan bahwa sarjana pendidikan memiliki fleksibilitas karier yang luas. Mereka tidak harus selalu menjadi guru formal di kelas. Banyak lulusan prodi kependidikan yang berkontribusi di berbagai sektor industri dengan membawa perspektif humanistik yang tidak dimiliki oleh lulusan non-kependidikan. Sentuhan etika dan moral inilah yang sering kali tidak masuk dalam hitungan statistik serapan kerja, namun sangat krusial dalam dunia profesional. Mengenai isu surplus atau ketidaksesuaian jumlah lulusan, ia menilai persoalan utama bukan pada keberadaan prodinya, melainkan pada sistem distribusi dan rekrutmen tenaga pendidik yang belum optimal secara nasional. Ketimpangan jumlah guru antarwilayah menunjukkan adanya hambatan struktural yang seharusnya dibenahi oleh pemerintah. Sebagai solusi, ia menyarankan agar pemerintah memperketat regulasi melalui sistem on/off program studi berdasarkan akreditasi dan evaluasi kualitas, bukan dengan menutupnya secara menyeluruh. Pengutamaan prodi dengan akreditasi “Unggul” dinilai lebih bijak untuk menjamin kualitas lulusan tanpa menghancurkan ekosistem keilmuan kependidikan. “Yang harus dibenahi adalah sistemnya. Regulasi bisa diperketat dan kualitas dievaluasi secara berkala. Persoalan pendidikan adalah persoalan masa depan peradaban, sehingga tidak bisa hanya dilihat dari kacamata statistik angka semata,” pungkasnya. Jika kebijakan ini terus dipaksakan hanya demi mengejar angka serapan industri, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar keberlanjutan sebuah program studi, melainkan kualitas manusia Indonesia di masa depan.(*)
Kampus Terbaik di Jawa Timur Tahun 2026 Versi THE Asia University Rankings

MAKLUMAT — Sebanyak tujuh kampus di Jawa Timur masuk dalam daftar perguruan tinggi terbaik versi Times Higher Education (THE) Asia University Rankings 2026. THE Asia University Rankings 2026 sendiri merupakan situs pemeringkatan perguruan tinggi di regional Asia, yang menilai 929 perguruan tinggi dari 36 negara di kawasan tersebut. Pemeringkatan ini menggunakan 18 indikator kinerja yang dirancang untuk mengukur kualitas kampus secara menyeluruh. Penilaian tersebut mencakup beberapa aspek penting, di antaranya: kualitas pengajaran, lingkungan penelitian, produktivitas riset, reputasi akademik, jaringan internasional, kerja sama dengan industri, hingga kontribusi riset dan inovasi bagi masyarakat. Melalui indikator tersebut, THE Asia University Rankings menilai kemampuan perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan berkualitas sekaligus mendorong penelitian yang bermanfaat bagi dunia industri dan publik. Iklim Pendidikan Tinggi di Jawa Timur Jawa Timur masih menjadi salah satu daerah favorit jujugan para lulusan SMA/MA/SMK/sederajat yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selain memiliki banyak kampus ternama, provinsi ini juga dikenal menawarkan biaya hidup yang relatif terjangkau dibandingkan sejumlah kota besar lain di Indonesia. Tak heran jika setiap tahun, ribuan calon mahasiswa menjadikan Surabaya, Malang, hingga Jember sebagai tujuan utama untuk kuliah. Apalagi, beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur juga berhasil masuk daftar kampus terbaik tingkat Asia versi THE Asia University Rankings 2026. Kehadiran kampus berkualitas dengan lingkungan belajar yang baik membuat Jawa Timur semakin menarik. Berdasarkan pemeringkatan versi THE Asia University Rankings tahun 2026, Surabaya, Malang, dan Jember, masih menjadi daerah penyumpang kampus-kampus terbaik. Surabaya sebagai ibu kota Jawa Timur dikenal sebagai pusat bisnis dan industri. Banyak kampus besar berada di Kota Pahlawan ini, sehingga mahasiswa memiliki peluang lebih luas untuk magang maupun membangun relasi profesional sejak dini. Sementara, Malang kerap disebut sebagai kota pelajar. Suasana akademik yang nyaman, udara sejuk, serta biaya hidup yang lebih ramah di kantong menjadikan kota ini favorit mahasiswa dari berbagai daerah. Di sisi lain, Jember juga terus berkembang sebagai kota pendidikan dengan kampus-kampus yang memiliki reputasi baik. 7 Kampus Terbaik Jawa Timur Berikut daftar perguruan tinggi di Jawa Timur—negeri maupun swasta—yang masuk dalam pemeringkatan THE Asia University Rankings 2026 dan bisa menjadi referensi para calon mahasiswa dalam memilih kampus: Universitas Airlangga (Unair): Peringkat 201-250; Overall Score 42,8-45,9 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS): Peringkat 601-800; Overall Score 23,3-30,8 Universitas Negeri Malang (UM): Peringkat 601-800; Overall Score 23,3-30,8 Universitas Brawijaya (UB): Peringkat 601-800; Overall Score 23,3-30,8 Universitas Jember (Unej): Peringkat 801+; Overall Score 14,7-23,2 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM): Peringkat 801+; Overall Score 14,7-23,2 Universitas Negeri Surabaya (Unesa): Peringkat 801+; Overall Score 14,7-23,2 Itulah tujuh perguruan tinggi di Jawa Timur—negeri maupun swasta—yang masuk dalam jajaran kampus terbaik versi THE Asia University Rankings 2026. Bagi para calon mahasiswa yang masih mencari kampus, terutama melalui jalur mandiri, daftar perguruan tinggi terbaik di Jawa Timur versi THE Asia University Rankings 2026 ini bisa menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan pendidikan masa depan. ***
Tips Memilih Hewan Kurban Sehat agar Sah Secara Syariat dan Aman Dikonsumsi

Bisnis.com, MALANG — Masyarakat diimbau untuk lebih teliti dan tidak sekadar tergiur oleh ukuran tubuh hewan yang besar atau harga yang mahal, melainkan memperhatikan kondisi kesehatan hewan menjadi faktor paling krusial agar ibadah kurban sah secara syariat dan dagingnya aman dikonsumsi. Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Lili Zalizar, langkah pertama yang bisa dilakukan pembeli adalah mengamati postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. “Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujarnya dikutip Kamis (8/5/2026). Dia menegaskan, hewan dengan cacat fisik, termasuk pincang, tidak diperbolehkan menjadi hewan kurban menurut syariat. Selain postur, kejernihan mata dan kebersihan kulit juga menjadi indikator penting. Hewan kurban tidak boleh buta atau mengalami gangguan penglihatan yang sering kali ditandai dengan selaput putih atau mata yang keruh. Kulit hewan juga harus dipastikan bersih dari penyakit seperti kudis atau scabies. “Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya.
Mahasiswa UMM Tembus Magang Daihatsu Jepang, Nicholas Saputra Bagikan Pengalaman Kerja ala Negeri Sakura

INDOZONE.ID – Sepuluh mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil menembus program magang di perusahaan Daihatsu Kyushu. Salah satu sosok yang menjadi sorotan adalah Nicholas Saputra, mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2022. Nicholas merupakan satu dari sepuluh mahasiswa yang dinyatakan lolos seleksi untuk mengikuti program peningkatan kompetensi selama satu tahun penuh, yang dimulai pada 6 Agustus 2025. Perjalanan Panjang Menuju Jepang Kesempatan untuk magang di Jepang tidak datang begitu saja. Nicholas dan rekan-rekannya mendapatkan informasi peluang emas melalui jalur resmi yang disediakan oleh program studi mereka di UMM. Namun, untuk bisa berangkat ke Jepang, mereka harus melewati rangkaian ujian yang sangat kompetitif dan cukup melelahkan. Proses seleksi mencakup berbagai aspek, mulai dari tes fisik yang memastikan kebugaran tubuh mereka tetap prima, hingga psikotes untuk mengukur kesiapan mental. Selain itu, kemampuan akademik mereka juga dievaluasi secara mendalam, serta diwajibkan mengikuti pelatihan bahasa Jepang dasar agar komunikasi di lokasi kerja nantinya dapat berjalan dengan lancar. Keberhasilan mereka melewati tahapan ini membuktikan bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul secara teori, tetapi juga memiliki kesiapan fisik dan mental dalam menghadapi dunia kerja yang nyata. Pengalaman di Lini Produksi Selama berada di Jepang, sepuluh mahasiswa ini ditempatkan pada posisi-posisi strategis dalam proses pembuatan kendaraan. Mereka terlibat langsung dalam berbagai divisi krusial, seperti divisi welding atau pengelasan yang memerlukan tingkat presisi tinggi dalam menyambung rangka mobil. Ada pula yang ditempatkan di divisi painting untuk mempelajari teknik pelapisan anti-karat dan pewarnaan bodi kendaraan, hingga divisi assembly yang merupakan tahap akhir perakitan ribuan komponen menjadi satu unit mobil yang utuh. Nicholas mengakui bahwa bekerja di lingkungan industri Jepang memberikan pelajaran berharga yang tidak bisa didapatkan hanya dari ruang kelas. “Kalau kerjanya ya disiplin, tepat waktu, terus gak boleh sembarangan, benar-benar harus profesional,” ungkap Nicholas. Menaklukkan Tantangan Budaya Kerja Meskipun membanggakan, Nicholas mengkau bahwa ia sempat mengalami kejutan budaya atau culture shock pada awal masa kerjanya. Ritme kerja di Jepang yang sangat cepat, padat, dan adanya kewajiban lembur hampir setiap hari sempat membuatnya merasa kaget. Namun, sistem kerja yang transparan memberikan motivasi tersendiri, di mana setiap jam lembur diberikan kompensasi upah yang jauh lebih tinggi dibandingkan jam kerja biasa. Selain ritme kerja, kendala bahasa dan adaptasi budaya tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam komunikasi sehari-hari di pabrik. Namun, Nicholas memandang segala hambatan tersebut sebagai proses untuk membentuk mental yang lebih Tangguh. “Kerja di luar negeri itu menarik, buat nyari skill baru, pengalaman baru, biar tahu rasanya kerja sama orang Jepang,” ujarnya. Kisah sukses Nicholas dan rekan-rekannya semakin memperkuat reputasi UMM sebagai institusi pendidikan yang berhasil menghubungkan kurikulum akademik dengan kebutuhan industri dunia. Pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa dari daerah memiliki peluang yang sama untuk bersinar di panggung internasional, asalkan memiliki persiapan yang matang dan dukungan kampus yang kuat.
Seminar PPG UMM Kaji Inklusi Transformatif: Keadilan Pendidikan di Era Polarisasi Global

MALANG, RADAR MALANG – Menguatnya fragmentasi sosial global sekaligus ketimpangan akses terhadap pengetahuan menempatkan pendidikan pada titik krusial. Ketegangan ini mengemuka dalam Seminar Internasional yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) bekerja sama dengan Deakin University Australia dan Universitas Sanata Dharma, 5 Mei 2026. Mengusung tema Inklusi Transformatif: Mewujudkan Keadilan Pendidikan di Era Polarisasi Global, forum ini menegaskan bahwa inklusi tidak cukup berhenti sebagai jargon kebijakan, melainkan harus hadir sebagai praktik yang membongkar ketimpangan secara nyata. Perspektif awal disampaikan oleh, Dirjen GTK Kemendidkdasmen RI, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., yang menjelaskan terkait arah kebijakan makro. Ia menempatkan pendidikan inklusif sebagai keharusan moral sekaligus sistemik di tengah dunia yang kian terpolarisasi. Dapat ditegaskan jika posisi negara dalam memastikan pendidikan sebagai hak fundamental yang harus dijamin secara menyeluruh. Ratusan mahasiswa PPG UMM yang dibekali dan dilengkapi dengan skill global untuk atasi ketimpangan pendidikan. “Pendidikan inklusif adalah sebuah keharusan moral dan sistemik. Kami mengusung visi pendidikan bermutu untuk semua, dengan penegasan bahwa tidak boleh ada satu pun anak yang tertinggal, apa pun latar belakang sosial, budaya, bahasa, maupun kondisinya,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa transformasi menuju keadilan pendidikan memerlukan kolaborasi lintas sektor dan lintas negara. Kebijakan afirmatif, penguatan peran guru pendidikan khusus, serta pengembangan ekosistem inklusif menjadi bagian dari strategi nasional yang terus diakselerasi. “Dengan demikian, keadilan pendidikan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi bergerak menjadi praktik nyata yang menjawab tantangan global secara berkelanjutan,” tegasnya. Dr. Junny Ebenhaezer, Ph.D., dari Daekin University Australia yang menyoroti bahwa eksklusi dalam pendidikan kerap bekerja secara laten melalui praktik pedagogi yang tidak sensitif terhadap keberagaman. Karena itu, transformasi pendidikan harus dimulai bagaimana cara mengajar serta penguatan kapasitas guru. Sehingga mampu merespons kebutuhan belajar yang beragam secara kontekstual. Dari Indonesia hingga Australia, seminar internasional PPG UMM dorong keadilan pendidikan. “Saya meyakini bahwa keadilan pendidikan harus dimulai dari membuka akses yang setara dan memberdayakan guru sebagai kunci perubahan. Jika kita membekali satu guru dengan kompetensi yang tepat, dampaknya dapat menjangkau ratusan bahkan ribuan siswa,” ujarnya. Menurutnya, dalam pedagogi, perlu kembali pada tiga pilar utama, yaitu purpose, process, dan people. Seorang guru tidak hanya dituntut memahami tujuan pembelajaran, tetapi juga proses yang tepat serta siapa peserta didiknya. Ia menyebutkan pertanyaan mendasar yang harus diajukan adalah, apakah kita benar-benar mengenal siswa kita, latar belakangnya, dan cara mereka belajar? Maka dari itu, inklusi tidak boleh berhenti pada tataran simbolik, melainkan harus bergerak menuju praktik yang substantif dan adaptif. Diferensiasi pembelajaran, asesmen yang responsif, serta pemanfaatan teknologi yang mempertimbangkan kesenjangan akses menjadi kunci. Seminar internasional PPG UMM diisi oleh para pakar pendidikan Indonesia-Australia. Sementara itu, Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D., dari Universitas Sanata Dharma yang membahas keadilan pendidikan di dunia yang terpolarisasi dengan menyoroti krisis resiliensi dan kebutuhan inovasi. Ia menempatkan pendidikan sebagai sebagai hal yang membangun ketahanan sosial di tengah tekanan global. Menurutnya, tanpa inovasi yang berkelanjutan, pendidikan beresiko tertinggal dalam merespons dinamika zaman. Sementara itu, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M. M. dari UMM menegaskan bahwa capaian pendidikan tidak dapat semata diukur secara kuantitatif, terutama ketika kesenjangan antar wilayah dan kelompok sosial masih tinggi. Realitas global menunjukkan masih jutaan anak belum memperoleh akses pendidikan yang layak, sehingga transformasi kebijakan menjadi kebutuhan mendesak dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. “Pendidikan berkeadilan merupakan inti dari tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs keempat, yang menegaskan pentingnya pendidikan inklusif, berkualitas, dan pembelajaran sepanjang hayat bagi semua,” tegasnya. Pendidikan inklusif yang transformatif harus dimulai dari perubahan paradigma, yakni memandang perbedaan sebagai sumber daya pembelajaran. “Keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, serta masyarakat sipil menjadi prasyarat penting dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan berdaya saing global,” ujarnya. Pada akhirnya, pandangan pada standar profesi guru dijelaskan oleh Neneng Haryati, S.Si, M.M., ia menjelaskan jika guru harus ditempatkan sebagai fondasi utama dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Dalam hal ini PPG menjadi bagian integral dari tata kelolah guru secara nasional. Guru dituntut untuk terus mengembangkan diri melalui pelatihan pembelajaran yang berkelanjutan, riset praktik pembelajaran, serta kolaborasi riset lintas pendidikan agar mampu menjawab tantangan global. (*)
Mahasiswa dan Dosen UMM Buat Aplikasi Deteksi Anemia

MALANG, KOMPAS.TV – Welldan Yogia dan Lailis Syafa’ah, mahasiswa dan dosen dari Teknik Informatika dan Teknik Elektro UMM berkolaborasi membuat aplikasi pendeteksi anemia. Penggunaannya sangat mudah, cukup membuka aplikasi di ponsel dan memotret bagian konjungtiva mata Aplikasi ini mengambil sampel dari 200 pasien HD dan ibu hamil di RS di Malang. Pembuatan aplikasi ini terinspirasi dari pengecekan kadar HB yang harus dilalui ibu hamil dan pasien HD dengan menggunakan metode tusuk jari untuk mengambil sampel darah. “Cara kerja aplikasi dari foto konjungtiva mata akan dianalisa diprediksi dan mesin learning sudah ditraining dengan data data konjungtiva mata pasien dan dengan data kadar hemoglobin dengan hasil lab. Pengumpulan prosesnya melakukan di beberapa rumah sakit dengan pasien hemodialisa dan kemoterapi, ada kurang lebih 200 sekian pasien” Ujar Welldan. Akurasi aplikasi ini mencapai 86%. Aplikasi ini sudah mulai bekerjasama dengan satu RS di Kabupaten Malang. “Akurasinya 86 persen dibandingkan dengan ditusuk untuk melihat hemoglobin. Proses pengembangan bagaimana menghindari stunting mulai hamil dijaga HB, kemudian orang Hemodialisa mengakibatkan kecemasan, sebelum mereka cuci darah harus dites dulu kadar HBnya. Perlu dan sudah menggandeng rumah sakit” Terang Lailis.
Psikolog UMM Soroti Trauma Berat 50 Santriwati di Pati, Sebut Dampak Tindakan Asusila Bisa Permanen

TRIBUNSUMSEL.COM — Pelarian Ashari, oknum kiai sekaligus pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ndolo Kusumo, Desa Tlogosari, Kabupaten Pati, akhirnya berakhir. Tersangka yang diduga mencabuli sekitar 50 santriwatinya tersebut kini telah diamankan pihak kepolisian setelah sebelumnya sempat buron. Kabar penangkapan ini membawa secercah harapan bagi pemulihan psikis para korban. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Hudaniah, sebelumnya sempat menyoroti bahwa tindakan keji pelaku berdampak sangat serius bagi mental santriwati. Ia menekankan adanya dampak jangka pendek hingga jangka panjang yang menghantui para korban akibat manipulasi yang dilakukan pelaku selama di pesantren. Dalam menjalankan aksinya, Ashari menggunakan kedudukan agamanya untuk memperdaya para santriwati Ia mengeklaim diri sebagai sosok khariqul’adah atau wali dengan kemampuan di luar nalar manusia, serta mengaku sebagai keturunan nabi. Doktrin inilah yang digunakan tersangka agar para korban merasa wajib memuliakannya, yang kemudian disalahgunakan untuk tindakan asusila. Kasus ini sebelumnya memicu kemarahan publik hingga mendapat atensi khusus dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang mendesak tindakan tanpa kompromi. Meski sempat mangkir berkali-kali dari panggilan penyidik dan diduga melarikan diri ke luar wilayah Jawa Tengah, pengejaran intensif kepolisian akhirnya membuahkan hasil. Kini, Ashari harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum, sementara fokus tim pendamping dialihkan pada rehabilitasi mental puluhan santriwati yang menjadi korban aksi bejatnya. Baca juga: Sosok Ashari Pengasuh Ponpes di Pati Tersangka Pelecehan 50 Santriwati, Didesak Menteri PPPA Ditahan Dampak Psikologis Bagi Korban Hudaniah menjelaskan kondisi psikologis tiap korban kemungkinan berbeda-beda, ada yang hanya mengalami trauma sementara adapula yang bisa jadi permanen. “Karena kan pasti 50 korban itu beragam ya, beragam keadaan psikologisnya,” ujar Hudaniah, kepada Tribunnews, dalam acara Diskusi Overview Tribunnews yang ditayangkan di akun YouTube Tribunnews, Rabu (6/5/2026). Ia mengatakan dampak trauma bergantung pada banyak faktor, seperti berapa lama korban mengalami kekerasan, seberapa sering peristiwa itu terjadi, hingga apakah korban sempat menceritakan pengalamannya kepada orang lain atau tidak. Menurutnya, sebagian korban kemungkinan mengalami post traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma. “Jadi, stress disorder atau PTSD. Nah, orang-orang PTSD itu biasanya akan mengalami mimpi buruk, selalu melihat pengalaman-pengalaman masa lalunya, ketakutan ketemu orang,” katanya. Hudaniah menambahkan, korban PTSD umumnya mudah terkejut, mengalami gangguan tidur, serta cenderung menghindari pelaku. “Terus gangguan tidur kemudian dia cenderung menghindari pelaku. Jadi misalnya tiba-tiba mundur misalnya gitu,” ucapnya. Selain itu, korban juga bisa mengalami perubahan emosi seperti menjadi lebih pemarah, memiliki rasa malu mendalam, hingga merasa hina dan tidak berharga. TERSANGKA CABUL DITANGKAP- Ashari, pengasuh Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, tersangka kasus pencabulan terhadap puluhan santriwati, akhirnya ditangkap setelah kabur ke sejumlah kota (Tribunjateng/Mazka Hauzan Naufal) Hudaniah juga menyoroti kemungkinan hilangnya kepercayaan korban terhadap figur otoritas, termasuk guru maupun pembimbing spiritual. “Nah, bisa juga kehilangan kepercayaan terhadap figur otoritas. Apakah itu guru, apakah itu pembimbing spiritualnya atau figur-figur orang dewasa lain yang brandingnya adalah orang-orang dengan keagamaan gitu ya,” katanya. Menurut Hudaniah, korban juga rentan menyalahkan diri sendiri dan merasa takut untuk bercerita karena khawatir mendapat cibiran dari lingkungan sekitar. Ia mencontohkan, korban kerap berpikir, “aku kalau enggak ke situ tadi aku enggak akan mengalami hal ini”, serta merasa takut ditertawakan jika menceritakan kejadian yang dialaminya. “Jadi ketakutan-ketakutan itu membuat orang menjadi merasa tidak berharga,” ujarnya. Hudaniah mengatakan dampak yang paling berat ialah PTSD dan munculnya perasaan tidak berharga. Dalam jangka panjang, korban juga berpotensi mengalami gangguan seksual, trauma seksual, hingga gangguan emosi. Bahkan, menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu keinginan bunuh diri maupun menyakiti diri sendiri. “Itu banyak sekali resiko-resiko yang mereka hadapi, sangat-sangat beratlah resikonya untuk anak-anak ini meskipun keberagamannya juga sekecil apapun tapi itu adalah resikonya berat dan itu tidak sekarang saja tapi sampai mereka ke masa yang akan datang itu,” tutur Hudaniah. (*)
50 Universitas Berprestasi Nasional 2026 Versi Puspresnas, Kampus Favoritmu Nomor Berapa?

sindonews, JAKARTA – Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) melalui Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ( Kemendikdasmen ) merilis daftar universitas berprestasi nasional 2026. Berikut daftar 50 perguruan tinggi dengan capaian prestasi mahasiswa terbanyak di Indonesia. Pemeringkatan ini didasarkan pada jumlah dan kualitas capaian prestasi mahasiswa di berbagai bidang. Data disusun oleh Balai Pengembangan Talenta Indonesia dengan mengacu pada raihan medali dan penghargaan dari berbagai kompetisi resmi tingkat nasional maupun internasional. Dikutip dari laman Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kamis (7/5/2026), penilaian mencakup bidang akademik, riset, seni budaya, hingga olahraga yang seluruhnya dihimpun melalui SIMT sebagai pangkalan data talenta nasional. Sebagai instrumen pemetaan talenta, SIMT digunakan pemerintah untuk menilai rekam jejak prestasi perguruan tinggi secara terukur. Selain merefleksikan keberhasilan pembinaan mahasiswa, data ini juga menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pengembangan talenta nasional dan distribusi insentif pembinaan prestasi di lingkungan pendidikan tinggi. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis UPI Prof Yudi Sukmayadi mengatakan, capaian UPI yang berhasil menembus peringkat enam besar nasional merupakan hasil kerja sama bersama seluruh sivitas akademika. Ke depan UPI akan memperkuat strategi pembinaan talenta berbasis data melalui optimalisasi rumah prestasi, meningkatkan perluasan kemitraan dengan dunia industri dan lembaga internasional, serta peningkatan partisipasi aktif semua komponen sivitas akademika sebagai bagian dari pendampingan mahasiswa. Sementara Kepala UPT Pengembangan Talenta Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Prof. Dr. Eng. Abu Bakar Sambah menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari perubahan proses bisnis kemahasiswaan untuk akselerasi prestasi. “UPT Pengembangan Talenta Mahasiswa berfungsi sebagai training center bagi mahasiswa. Kami tidak hanya mengirimkan mahasiswa untuk lomba, tetapi kami siapkan melalui klasterisasi minat dan bakat, mulai dari penalaran, robotik, hingga seni dan olahraga,” ujarnya, dikutip dari laman UB. Daftar Universitas Berprestasi Nasional Versi Puspresnas 2026 Puspresnas memuat daftar 717 perguruan tinggi berprestasi di laman simt.kemendikdasmen.go.id. Berikut daftar 50 universitas berprestasi nasional versi Puspresnas 2026. 1. Universitas Gadjah Mada: 669 prestasi 2. Institut Teknologi Sepuluh Nopember: 666 prestasi 3. Universitas Brawijaya: 606 prestasi 4. Universitas Negeri Yogyakarta: 504 prestasi 5. Universitas Indonesia: 410 prestasi 6. Universitas Pendidikan Indonesia: 347 prestasi 7. Universitas Negeri Surabaya: 335 prestasi 8. Universitas Diponegoro: 312 prestasi 9. Universitas Katolik Parahyangan: 307 prestasi 10. Institut Pertanian Bogor: 300 prestasi 11. Universitas Telkom: 300 prestasi 12. Universitas Hasanuddin: 281 prestasi 13. Universitas Negeri Malang: 281 prestasi 14. Universitas Sebelas Maret: 261 prestasi 15. Universitas Negeri Jakarta: 250 prestasi 16. Institut Teknologi Bandung: 234 prestasi 17. Universitas Airlangga: 232 prestasi 18. Universitas Negeri Semarang: 215 prestasi 19. Universitas Muhammadiyah Malang: 205 prestasi 20. Universitas Tanjungpura: 197 prestasi 21. Universitas Negeri Padang: 191 prestasi 22. Universitas Sriwijaya: 189 prestasi 23. Universitas Sumatera Utara: 181 prestasi 24. Universitas Tadulako: 179 prestasi 25. Universitas Negeri Medan: 177 prestasi 26. Universitas Kristen Satya Wacana: 177 prestasi 27. Universitas Sam Ratulangi: 175 prestasi 28. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya: 174 prestasi 29. Universitas Jember: 172 prestasi 30. Universitas Negeri Makassar: 170 prestasi 31. Universitas Surabaya: 170 prestasi 32. Universitas Bina Nusantara: 158 prestasi 33. Universitas Muhammadiyah Surakarta: 135 prestasi 34. Universitas Palangka Raya: 135 prestasi 35. Universitas Syiah Kuala: 134 prestasi 36. Universitas Udayana: 133 prestasi 37. Universitas Riau: 132 prestasi 38. Universitas Islam Indonesia: 124 prestasi 39. Universitas Lambung Mangkurat: 120 prestasi 40. Universitas Padjadjaran: 118 prestasi 41. Universitas Ahmad Dahlan: 117 prestasi 42. Politeknik Negeri Malang: 117 prestasi 43. Universitas Musamus Merauke: 109 prestasi 44. Universitas Andalas: 104 prestasi 45. Institut Teknologi Sumatera: 104 prestasi 46. Universitas Mataram: 103 prestasi 47. Universitas Lampung: 103 prestasi 48. Universitas Pattimura: 102 prestasi 49. Politeknik Negeri Bandung: 99 prestasi 50. Universitas Pertamina: 98 prestasi.