Wamen P2MI puji migran center UMM siapkan SDM global

elshintacom – Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Dzulfikar Ahmad Tawalla, memuji keberadaan Migran Center Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sebagai langkah strategis dalam mempersiapkan pekerja migran Indonesia (PMI) yang kompeten dan siap bersaing di pasar kerja internasional. Pernyataan tersebut disampaikan saat memberikan sambutan pada Wisuda ke-122 Universitas Muhammadiyah Malang untuk Program Vokasi, Sarjana, dan Pascasarjana yang berlangsung di Hall Dome UMM. Menurut Dzulfikar, disrupsi teknologi, penetrasi Artificial Intelligence (AI), serta perubahan pasar kerja global telah mengubah kebutuhan kompetensi lulusan perguruan tinggi. “Lulusan masa kini dituntut lebih adaptif, tangguh, dan memiliki daya saing di tingkat internasional,” ujarnya. Dzulfikar menegaskan bahwa perkembangan AI telah mengubah pola komunikasi, sistem kerja, hingga kebutuhan kompetensi di berbagai sektor industri. Karena itu, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik. Mereka juga harus memiliki resiliensi, fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus meningkatkan kompetensi. “Masa depan pekerjaan berubah total dengan adanya artificial intelligence. Cara bekerja tidak lagi sama, kompetensi yang dibutuhkan juga berbeda. Bersyukurlah berada di kampus yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun resiliensi, daya tahan, fleksibilitas, dan kelincahan menghadapi perubahan,” tegasnya. Wamen P2MI juga menyoroti besarnya peluang tenaga kerja Indonesia di pasar internasional, terutama di kawasan Eropa dan Timur Tengah. Menurutnya, bonus demografi Indonesia hanya akan menjadi kekuatan ekonomi apabila lulusan memiliki kompetensi tambahan, khususnya kemampuan bahasa asing dan keterampilan sesuai standar internasional. “Jika tenaga kesehatan atau profesi lainnya menambah kompetensi bahasa dan keterampilan, kemudian masuk ke pasar Eropa atau Timur Tengah, pendapatan tahun pertama bisa mencapai sekitar Rp25 juta per bulan. Karena itu, jangan berhenti belajar setelah lulus,” katanya. Dalam kesempatan tersebut, Dzulfikar memberikan apresiasi kepada UMM yang telah memiliki Migran Center sebagai pusat pembekalan calon pekerja migran Indonesia. Menurutnya, keberadaan Migran Center sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan sekitar 40 ribu pekerja migran Indonesia yang telah menjalani peningkatan keterampilan (upskilling). “Migran Center menjawab tantangan Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan 40 ribu PMI yang telah di-upskill. Keterlibatan perguruan tinggi sangat penting dalam memberikan pembekalan kepada pekerja migran Indonesia,” tandasnya. Menanggapi tantangan tersebut, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan komitmen kampus dalam menyesuaikan sistem pendidikan dengan perkembangan global melalui penguatan akademik dan kolaborasi bersama industri. UMM, kata Nazaruddin, mengembangkan program Center of Excellence (CoE) dan Excellent Solution Center (ESC) sebagai strategi menghasilkan lulusan yang inovatif dan siap menghadapi dunia kerja. Program tersebut mengintegrasikan pembelajaran dengan inkubasi inovasi sehingga mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat. “Prestasi yang sesungguhnya adalah kemampuan alumni untuk terus memberikan manfaat di tengah masyarakat. Pendidikan harus tumbuh bersama masyarakat, bukan berjalan terpisah dari persoalan yang mereka hadapi,” ujar Nazaruddin. Melalui penguatan kompetensi, inovasi, dan kolaborasi dengan dunia industri, UMM berkomitmen mencetak lulusan yang mampu menjawab tantangan era digital sekaligus memanfaatkan peluang kerja global, termasuk sebagai tenaga kerja profesional di berbagai negara.

Industri Soroti Pentingnya Soft Skills, FPP UMM Perkuat Kurikulum Berbasis Kebutuhan Dunia Kerja

  pwmu.co – Kemampuan akademik saja tidak lagi menjadi bekal utama bagi lulusan perguruan tinggi untuk memasuki dunia kerja. Dunia usaha dan dunia industri kini semakin menekankan pentingnya penguasaan soft skills, literasi digital, kemampuan komunikasi profesional, hingga analisis data sebagai kompetensi yang harus dimiliki calon tenaga kerja.Masukan tersebut mengemuka dalam Workshop Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) yang diselenggarakan Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Rayz Hotel UMM, Jumat (4/7/2026). Sebanyak 28 mitra dari perusahaan nasional, multinasional, hingga lembaga pemerintah hadir memberikan rekomendasi untuk penyempurnaan kurikulum enam program studi di lingkungan FPP UMM. Dekan FPP UMM, Prof. Dr. Ir. Warkoyo, M.P., IPM., menjelaskan bahwa forum tersebut menjadi bagian dari evaluasi berkelanjutan terhadap kualitas pendidikan agar tetap selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja. “Kurikulum harus terus berkembang mengikuti dinamika ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan industri. Karena itu, masukan dari para mitra menjadi referensi yang sangat penting dalam memastikan setiap program studi mampu menghasilkan lulusan unggul dan profesional,” ujarnya. Enam program studi yang terlibat dalam penyelarasan kurikulum meliputi Agroteknologi, Agribisnis, Teknologi Pangan, Peternakan, Kehutanan, dan Akuakultur. Selain mengevaluasi capaian pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE), diskusi juga membahas peluang penguatan kerja sama melalui program magang industri, penelitian kolaboratif, hingga pengembangan kelas profesional berbasis Center of Excellence (CoE). Pewujudan Kolaborasi Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa hubungan antara perguruan tinggi dan industri tidak boleh berhenti pada penandatanganan kerja sama semata. Menurutnya, kolaborasi harus diwujudkan dalam penyusunan kurikulum, pelibatan praktisi dalam pembelajaran, serta peningkatan pengalaman industri bagi mahasiswa. “Perguruan tinggi tidak lagi dapat berjalan sendiri. Dunia usaha dan dunia industri merupakan mitra strategis dalam memastikan proses pendidikan tetap relevan dengan perkembangan teknologi, kebutuhan pasar kerja, dan tantangan global,” katanya. Forum tersebut menghadirkan berbagai mitra strategis, di antaranya PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, PT BISI International Tbk, BBPOM Surabaya, serta Nosuta Co. dari Jepang. Beragam masukan yang disampaikan diharapkan dapat memperkuat kualitas lulusan FPP UMM agar lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan industri. Pada penutupan kegiatan, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menyampaikan apresiasi atas kontribusi seluruh mitra yang telah memberikan berbagai rekomendasi. Ia berharap hasil diskusi tidak berhenti sebagai forum evaluasi, melainkan segera diwujudkan dalam penyempurnaan kurikulum dan pengembangan pembelajaran berbasis industri. Melalui penyelarasan kurikulum yang berorientasi pada kebutuhan dunia kerja, FPP UMM menargetkan lahirnya lulusan yang tidak hanya menguasai bidang keilmuan, tetapi juga memiliki kompetensi profesional yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. (*)

UMM Tutup Program BTI 2026, Delapan Karya Pelajar Jawa Timur Raih Hak Kekayaan Intelektual

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menutup rangkaian program Bina Talenta Indonesia (BTI) 2026 dengan capaian membanggakan. Melalui pendampingan intensif, Kampus Putih berhasil mengantarkan delapan karya inovatif pelajar dari berbagai daerah di Jawa Timur memperoleh perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa Hak Cipta.Program yang berakhir pada 6 Juli 2026 tersebut mendapat apresiasi dari Perwakilan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Ulfan Taufiq. Menurutnya, hasil pemantauan dan evaluasi menunjukkan UMM mampu menyelenggarakan program pembinaan talenta muda secara optimal. Ulfan menilai antusiasme peserta menjadi salah satu indikator keberhasilan pelaksanaan BTI 2026. Ia melihat para pelajar tetap menyempurnakan proyek inovasi mereka meski waktu pelatihan telah berakhir. “Semangat membara dari para peserta untuk terus belajar dan berkolaborasi di luar jam pelajaran ini menjadi bukti bahwa program di UMM berjalan sangat apik, sehingga pengalaman berharga ini harus disebarluaskan saat mereka kembali ke sekolah,” ujarnya. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan ekosistem pembelajaran serta fasilitas yang dimiliki UMM mampu mendukung pengembangan kreativitas peserta secara maksimal. Ketua Pelaksana BTI UMM, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., menjelaskan bahwa program tersebut diikuti 37 pelajar dari 11 sekolah yang berasal dari lima kota di Jawa Timur. Selama masa karantina, peserta mendapatkan pembinaan melalui sepuluh modul pembelajaran, observasi lapangan ke kawasan Sumber Maron, hingga praktik penyusunan proyek pemecahan masalah. Hasil evaluasi menunjukkan sekitar 95 persen peserta mengalami peningkatan capaian akademik. Pendampingan tersebut menghasilkan delapan karya inovatif serta satu karya visual kelompok yang berhasil memperoleh Hak Cipta. “Alhamdulillah, berkat dedikasi luar biasa dalam mengerjakan proyek tanpa mengenal lelah dari siang hingga malam hari, adik-adik peserta berhasil menghasilkan delapan karya inovatif yang langsung kami daftarkan dan sukses memperoleh Hak Cipta,” paparnya. Sebagai tindak lanjut program, UMM juga menyiapkan kegiatan pascapelatihan berupa penyusunan karya tulis oleh seluruh peserta. Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., mengatakan seluruh pengalaman dan hasil inovasi peserta akan dihimpun menjadi sebuah book chapter berskala nasional yang juga akan didaftarkan perlindungan Hak Ciptanya. “Sepandai dan setinggi apa pun kecerdasan seseorang, ia tidak akan pernah mencetak sejarah jika tidak menulis. Maka, jadikanlah perolehan Hak Cipta dan tulisan kalian di UMM ini sebagai ukiran prestasi abadi yang terus dikenang serta menebar manfaat nyata,” pesannya. Keberhasilan penyelenggaraan BTI 2026 kembali menegaskan komitmen UMM dalam membina talenta muda Indonesia. Melalui pendampingan, fasilitas, dan ekosistem pembelajaran yang mendukung, UMM berharap semakin banyak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran akan pentingnya perlindungan terhadap karya intelektual. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria

UMM Kawal 8 Karya Inovatif Siswa Jatim Raih HKI, Tuai Apresiasi Puspresnas

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses memfasilitasi para pelajar berprestasi di Jawa Timur dalam mengamankan legalitas karya mereka dengan meraih Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Keberhasilan mengawal delapan karya inovatif siswa ini mendapat respons positif dari Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Perwakilan Puspresnas, Ulfan Taufiq, menyatakan berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi di lapangan, skema pembinaan yang diterapkan UMM berjalan sangat maksimal. Ulfan menggarisbawahi bagaimana atmosfer akademik di UMM mampu memantik semangat belajar peserta yang melampaui target awal. Para siswa dinilai menunjukkan keseriusan tinggi, bahkan rela memanfaatkan waktu di luar jam pelatihan resmi demi menyempurnakan proyek inovasi mereka. “Semangat membara dari para peserta untuk terus belajar dan berkolaborasi di luar jam pelajaran ini menjadi bukti bahwa program di UMM berjalan sangat apik, sehingga pengalaman berharga ini harus disebarluaskan saat mereka kembali ke sekolah,” ujar Ulfan Taufiq dalam sambutannya saat penutupan Program Bina Talenta Indonesia (BTI) 2026 yang digelar pada Senin (6/7/2026). Sementara itu, Ketua Pelaksana BTI UMM, Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, M.Pd., menjabarkan bahwa agenda ini diikuti oleh 37 siswa terpilih. Puluhan pelajar tersebut merupakan delegasi dari 11 sekolah yang tersebar di lima kota di wilayah Jawa Timur. Selama menjalani masa karantina intensif di UMM, para peserta digembleng dengan sepuluh modul keilmuan mutakhir. Tidak hanya teori di dalam kelas, mereka juga diterjunkan langsung untuk melakukan observasi lapangan di kawasan wisata Sumber Maron, sebelum akhirnya masuk ke tahapan rancangan proyek solusi masalah. Dyah menyebutkan, intervensi pembelajaran ini terbukti efektif mendongkrak kapasitas akademik siswa hingga 95 persen berdasarkan hasil evaluasi. Hasil akhir dari kerja keras tersebut terwujud dalam delapan produk inovasi serta satu karya visual kelompok yang kini telah resmi mengantongi perlindungan hak cipta. “Alhamdulillah, berkat dedikasi luar biasa dalam mengerjakan proyek tanpa mengenal lelah dari siang hingga malam hari, adik-adik peserta berhasil menghasilkan delapan karya inovatif yang langsung kami daftarkan dan sukses memperoleh Hak Cipta,” terang Dyah, Rabu (8/7/2026). Pihak universitas pun sudah menyiapkan skema keberlanjutan pascapelatihan. UMM mewajibkan seluruh alumni BTI 2026 untuk menyusun narasi komprehensif terkait pengalaman dan hasil riset mereka ke dalam bentuk karya tulis ilmiah. Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., menegaskan bahwa kumpulan tulisan para siswa tersebut nantinya akan dihimpun dan diterbitkan secara profesional oleh UMM dalam format book chapter berskala nasional. Buku tersebut nantinya juga akan langsung didaftarkan HKI-nya agar memiliki perlindungan hukum yang kuat. “Sepandai dan setinggi apa pun kecerdasan seseorang, ia tidak akan pernah mencetak sejarah jika tidak menulis. Maka, jadikanlah perolehan Hak Cipta dan tulisan kalian di UMM ini sebagai ukiran prestasi abadi yang terus dikenang serta menebar manfaat nyata,” tegas Akhsanul. (dan/kun)

Jawab tuntutan zaman, UMM ganti FKIP jadi FPSH

elshintacom – Sebagai upaya menjawab kebutuhan dan tantangan zaman, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merubah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan Sains dan Humaniora (FPSH). “Ini menjadi jawaban bagaimana UMM menjawab tantangan dan perubahan nama ini tidak hanya didasarkan pada nomenklatur namun transformasi nyata dalam budaya akademik,” kata Rektor UMM, Prof.Dr. Nazaruddin Malik,S.E.,M.Si., seperti dilaporkan Kontributor Elshinta AH Sugiharto, Rabu (8/7). Ditambahkan Rektor, perubahan nama dari FKIP ke FPSH tidak sekadar mengubah papan nama. “Yang lebih penting adalah perubahan substantif mulaibdari pola pikir, kreativitas, inovasi hingga kemampuan menghadirikan solusi bagi masyarakat dan perguruan tinggi harus bisa dan mampu menjadi pusat solusi atas berbagai persoalan yang ada,” jelasnya. Ditanya soal akan adanya perubahan nama di lingkungan Kampus UMM, Rektor memberikan sinyal “lampu hijau” akan adanya lagi perubahan nama fakultas. “Bisa jadi akan ada lagi perubahan nama,” singkatnya. Hanya saja, pihaknya berharap adanya perubahan pola pikir yang selama ini terbangun. “Sehingga dengan transformasi tersebut FPSH menjadi fakultas yang mampu mengintegrasikan pebdidi,sains dan humaniora dalam satu ekosistem pembelajaran yang berdampak pada lulusan yang punya daya saing dan menjawab perubahan,” tandasnya.

Wamen P2MI Ajak Lulusan UMM Lincah Hadapi Perubahan Dunia Kerja

KLIKMU.CO – Disrupsi teknologi, penetrasi Artificial Intelligence (AI), dan perubahan pasar kerja global menuntut perguruan tinggi tidak lagi sekadar mencetak lulusan dengan kompetensi akademik semata. Lulusan masa kini dituntut adaptif, tangguh, dan memiliki daya saing di tingkat internasional. Hal tersebut menjadi sorotan dalam Wisuda ke-122 Program Vokasi, Sarjana, dan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang digelar di Hall Dome UMM, Selasa (7/7). Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla dalam orasi ilmiahnya mengatakan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pola komunikasi, cara bekerja, hingga kompetensi yang dibutuhkan dunia industri. Karena itu, lulusan perguruan tinggi harus terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu beradaptasi dengan perubahan yang berlangsung sangat cepat. “Masa depan pekerjaan berubah total dengan adanya artificial intelligence. Cara bekerja tidak lagi sama, kompetensi yang dibutuhkan juga berbeda. Karena itu, bersyukurlah berada di kampus yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun resiliensi, daya tahan, fleksibilitas, dan kelincahan menghadapi perubahan,” ujar ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah itu. Menurut Dzulfikar, peluang kerja di tingkat global kini semakin terbuka, terutama bagi tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan keterampilan sesuai standar internasional. Bonus demografi Indonesia pun hanya akan menjadi kekuatan ekonomi apabila didukung sumber daya manusia yang berkualitas. Dia mendorong para lulusan untuk terus meningkatkan kemampuan, terutama dalam penguasaan bahasa asing dan keterampilan profesional. “Jika tenaga kesehatan atau profesi lainnya menambah kompetensi bahasa dan keterampilan, kemudian masuk ke pasar Eropa atau Timur Tengah, pendapatan tahun pertama bisa mencapai sekitar Rp25 juta per bulan. Karena itu, jangan berhenti belajar setelah lulus,” pesannya. Sementara itu, Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik menegaskan komitmen kampus dalam menyiapkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat global melalui penguatan akademik dan kolaborasi dengan dunia industri. Menurutnya, UMM mengembangkan program Center of Excellence (CoE) dan Excellent Solution Center (ESC) sebagai strategi untuk mengintegrasikan proses pembelajaran dengan inkubasi inovasi sehingga mahasiswa memiliki bekal yang kuat saat memasuki dunia kerja. “Prestasi yang sesungguhnya adalah kemampuan alumni untuk terus memberikan manfaat di tengah masyarakat. Pendidikan harus tumbuh bersama masyarakat, bukan berjalan terpisah dari persoalan yang mereka hadapi,” ungkapnya. Nazaruddin menambahkan, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan alumninya menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan di masyarakat. Momentum Wisuda ke-122 UMM menjadi pengingat bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi bukan satu-satunya penentu kesuksesan. Kemampuan beradaptasi, semangat belajar sepanjang hayat, penguasaan keterampilan baru, dan keberanian menghadapi persaingan global menjadi modal penting bagi lulusan untuk sukses di era transformasi yang terus berkembang. (Faqih/AS)

Fakultas Pertanian-Peternakan UMM Selaraskan Kurikulum dengan Kebutuhan Industri

Bisnis.com, MALANG — Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng 28 mitra strategis untuk menyelaraskan kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan industri. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, mengatakan implementasi kebijakan link and match tidak boleh berhenti pada kerja sama administratif, melainkan diwujudkan melalui penyelarasan kurikulum, penguatan pengalaman industri, serta pelibatan praktisi. “Perguruan tinggi tidak lagi dapat berjalan sendiri. Dunia usaha dan dunia industri merupakan mitra strategis dalam memastikan bahwa proses pendidikan tetap relevan dengan perkembangan teknologi, kebutuhan pasar kerja, dan tantangan global,” tegasnya, dikutip Rabu (8/7/2026). Dekan FPP UMM, Prof. Warkoyo, menambahkan kurikulum harus terus berkembang mengikuti dinamika ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan industri. Karena itu, menurutnya, masukan dari para mitra menjadi referensi yang sangat penting untuk memastikan setiap program studi mampu menghasilkan lulusan yang unggul dan profesional. Selama diskusi intensif, Warkoyo menegaskan 28 mitra dari perusahaan nasional, multinasional, dan lembaga pemerintah memberikan rekomendasi konkret terkait kompetensi masa depan. Beberapa aspek yang disoroti industri meliputi penguatan soft skills, komunikasi profesional, literasi digital, hingga kemampuan analisis data. Mitra yang hadir antara lain PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, PT BISI International Tbk, BBPOM Surabaya, hingga mitra internasional seperti Nosuta Co. dari Jepang. Selain merumuskan kompetensi berbasis Outcome-Based Education (OBE), forum ini juga membuka berbagai peluang tindak lanjut, mulai dari program magang industri, penelitian kolaboratif, hingga pengembangan kelas profesional unggulan melalui inisiasi Center of Excellence (CoE) di fakultas. Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, mengapresiasi seluruh mitra atas gagasan dan peluang kolaborasi yang diberikan untuk memajukan pendidikan. “Kemitraan antara perguruan tinggi dan dunia industri merupakan investasi jangka panjang dalam menciptakan lulusan berkualitas. Kami berharap hasil Workshop DUDI ini dapat segera diimplementasikan dalam penyempurnaan kurikulum dan penguatan pembelajaran berbasis industri,” tutupnya. Menurutnya, sinergi strategis melalui Workshop DUDI menjadi langkah taktis FPP UMM dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif. Melalui kurikulum yang selaras dengan perkembangan industri terkini, mahasiswa didorong tidak hanya mampu bersaing di tingkat global, tetapi juga siap menjadi talenta penggerak kemajuan bangsa dalam menyambut visi Indonesia Emas 2045.

FPP UMM Gandeng 28 Mitra Industri, Selaraskan Kurikulum demi Cetak Lulusan Siap Kerja

Malangpariwara.com – Perubahan kebutuhan dunia kerja yang bergerak semakin cepat mendorong perguruan tinggi untuk terus beradaptasi. Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (Universitas Muhammadiyah Malang) menggandeng 28 mitra strategis dari dunia usaha dan dunia industri (DUDI) guna menyelaraskan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan riil sektor industri. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop DUDI bertajuk “Membangun Ekosistem Talenta Unggul melalui Kemitraan Strategis Perguruan Tinggi dan Industri” yang digelar di Rayz Hotel UMM, beberapa waktu lalu. Forum ini menjadi ruang dialog antara akademisi, pelaku industri, dan lembaga pemerintah untuk merumuskan arah pengembangan kurikulum yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, pasar kerja, dan tantangan global. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., menegaskan bahwa konsep link and match tidak cukup diwujudkan melalui penandatanganan kerja sama semata. Menurutnya, kolaborasi harus benar-benar diimplementasikan dalam proses pendidikan agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri. “Perguruan tinggi tidak lagi dapat berjalan sendiri. Dunia usaha dan dunia industri merupakan mitra strategis dalam memastikan proses pendidikan tetap relevan dengan perkembangan teknologi, kebutuhan pasar kerja, dan tantangan global,” ujarnya. Ia menilai, keterlibatan industri dalam penyusunan kurikulum akan memperkuat pengalaman belajar mahasiswa, termasuk melalui peningkatan praktik lapangan, magang, hingga keterlibatan praktisi sebagai bagian dari proses pembelajaran. Sementara itu, Dekan FPP UMM, Prof. Dr. Ir. Warkoyo, M.P., IPM., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda rutin fakultas dalam mengevaluasi sekaligus menyempurnakan mutu pendidikan pada enam program studi yang berada di bawah naungan FPP, yakni Agroteknologi, Agribisnis, Teknologi Pangan, Peternakan, Kehutanan, dan Akuakultur. Menurutnya, kurikulum perguruan tinggi harus terus diperbarui agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. “Kurikulum harus terus berkembang mengikuti dinamika ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan industri. Karena itu, masukan dari para mitra menjadi referensi yang sangat penting dalam memastikan setiap program studi mampu menghasilkan lulusan unggul dan profesional,” jelasnya. Dalam sesi diskusi, sebanyak 28 mitra yang berasal dari perusahaan nasional, perusahaan multinasional, hingga instansi pemerintah memberikan berbagai rekomendasi terkait kompetensi yang dibutuhkan pada masa mendatang. Tidak hanya kemampuan teknis, dunia industri juga menekankan pentingnya penguatan soft skills, komunikasi profesional, literasi digital, kemampuan berpikir kritis, serta analisis data sebagai bekal utama lulusan memasuki dunia kerja. Beberapa mitra yang terlibat antara lain PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, PT BISI International Tbk, BBPOM Surabaya, hingga perusahaan internasional Nosuta Co. dari Jepang. Kehadiran para mitra tersebut memperkuat komitmen bersama dalam membangun pendidikan tinggi yang lebih responsif terhadap perkembangan industri global. Workshop tersebut juga menghasilkan sejumlah peluang kerja sama lanjutan, mulai dari program magang industri, penelitian kolaboratif, pengembangan kelas profesional, hingga inisiasi Center of Excellence (CoE) sebagai pusat pengembangan kompetensi unggulan di lingkungan FPP UMM. Di penghujung kegiatan, Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., mengapresiasi kontribusi seluruh mitra yang telah memberikan berbagai masukan strategis bagi pengembangan pendidikan di UMM. Ia berharap hasil pembahasan dalam Workshop DUDI tidak berhenti sebagai rekomendasi, melainkan segera diterapkan dalam penyempurnaan kurikulum sehingga mampu melahirkan lulusan yang memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional. “Kemitraan antara perguruan tinggi dan dunia industri merupakan investasi jangka panjang dalam menciptakan lulusan berkualitas. Kami berharap hasil Workshop DUDI ini dapat segera diimplementasikan dalam penyempurnaan kurikulum dan penguatan pembelajaran berbasis industri,” tuturnya. Melalui sinergi dengan 28 mitra strategis tersebut, FPP UMM menegaskan komitmennya membangun ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif dan berorientasi pada kebutuhan masa depan. Penyelarasan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap berkontribusi dalam pengembangan sektor pertanian, peternakan, pangan, kehutanan, dan akuakultur menuju terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.(Djoko W)

Gandeng Mitra Tiga Negara, UMM Buka Laboratorium Sensori untuk Uji Kualitas Pangan Bertaraf Internasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi membuka Sensory Laboratory berstandar internasional untuk Program Studi Teknologi Pangan pada Rabu (8/7). Berlokasi di kawasan Edupark UMM, fasilitas hasil kolaborasi internasional dalam VLIR-UOS Team Project 2024 ini hadir sebagai solusi pengujian sensori objektif untuk meningkatkan daya saing produk pangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di pasar global. Peresmian laboratorium ini turut dihadiri mitra internasional dari Belgia, Ekuador, Filipina, serta berbagai institusi riset rekanan Kampus Putih. Kehadiran fasilitas ini menjawab tantangan industri pangan saat ini, di mana banyak pelaku usaha mampu membuat produk bercita rasa baik, namun belum memiliki akses uji sensori ilmiah. Kini, ragam produk mulai dari makanan, minuman, hingga camilan dapat diuji di UMM untuk memastikan kualitasnya sejalan dengan preferensi konsumen sebelum dipasarkan. Penanggung jawab Laboratorium Sensorik UMM, Dahlia Elianarni, S.TP., M.Sc., menjelaskan bahwa fasilitas ini dirancang untuk menjembatani kebutuhan dunia akademik dan industri pangan. Mahasiswa dapat mempraktikkan metode pengujian berstandar global, sementara masyarakat dan pelaku usaha akhirnya mendapatkan kemudahan akses layanan pengujian ilmiah yang sebelumnya masih sangat terbatas guna mendongkrak kualitas produk lokal. “Sensory Laboratory ini digunakan untuk menguji berbagai produk, mulai dari makanan, minuman, camilan, hingga produk pangan lainnya. Seluruh fasilitas dirancang mengikuti standar internasional sehingga mahasiswa Teknologi Pangan UMM dapat melakukan pengujian dengan prosedur yang setara dengan laboratorium di berbagai negara. Kami juga membuka layanan bagi masyarakat dan pelaku usaha yang membutuhkan pengujian sensori agar produk yang dikembangkan memiliki kualitas yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan konsumen,” ujar Dahlia. Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Rektor IV UMM, Prof. Dr. Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, menegaskan bahwa laboratorium ini adalah tonggak penting dalam memperkuat inovasi dan kolaborasi riset internasional di bidang ilmu sensorik. Fasilitas tersebut secara khusus difokuskan untuk mendukung pengembangan komoditas unggulan Indonesia, guna mendongkrak kualitas dan nilai tambah produk di kancah internasional. “Kami berharap kolaborasi ini terus diperkuat dari tahun ke tahun. Indonesia memiliki potensi besar pada komoditas cocoa bean, namun daya saingnya perlu terus ditingkatkan melalui penelitian dan inovasi. Sensory Laboratory menjadi salah satu langkah strategis untuk mendukung pengembangan cocoa bean serta berbagai produk pangan Indonesia agar memiliki kualitas yang mampu bersaing di tingkat internasional,” tegas Salis. Ke depannya, Sensory Laboratory ini akan terus diintegrasikan sebagai bagian dari pengembangan kawasan Edupark UMM, termasuk mendukung Center of Excellence (CoE) Kakao. Melalui sinergi erat antara pendidikan, penelitian, dan pelayanan, kehadiran laboratorium ini diharapkan terus melahirkan inovasi pangan berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan industri lokal di Indonesia.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Di Hadapan Ribuan Wisudawan UMM ke-122, Kepala BPOM Wanti-wanti Lulusan UMM Tak Tunduk pada AI

Perkembangan masif teknologi Artificial Intelligence (AI) dan lompatan inovasi bioteknologi kefarmasian menuntut kendali penuh dari kebijaksanaan (wisdom) serta empati manusia. Hal tersebut ditegaskan secara lugas oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD., Ph.D., dalam Orasi Ilmiahnya pada helatan Wisuda ke-122 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome UMM, Kamis (9/7). Dalam orasi bertajuk “Synergizing Breakthrough of Neuroscience and Pharmaceutical Innovation with Regulatory Leadership”, Taruna sapaan akrabnya memaparkan bahwa AI sejatinya adalah sintesis dari kapasitas otak manusia yang canggih, namun memiliki satu kelemahan mendasar. AI bergerak murni berbasis algoritma dan sama sekali tidak memiliki empati terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. “AI bukan hanya untuk menolong kita, tapi bisa membahayakan masa depan dan mengancam keberlangsungan umat manusia sebagai khalifah. Oleh karena itu, AI harus dikontrol oleh manusia yang punya kapasitas emosional dan wisdom,” tegasnya. Selain menyoroti isu AI, ia juga memaparkan realita inovasi kefarmasian yang kini mengarah pada living therapy, di mana penyakit bawaan hingga kerusakan saraf akibat stroke kelak dapat disembuhkan melalui terapi sel hidup. Guna menjembatani percepatan inovasi kesehatan tersebut, BPOM secara strategis mengusung konsep kolaborasi ABG (Academia, Business, Government). Konsep ini dirancang untuk mengintegrasikan riset murni dari kampus, kelengkapan fasilitas industri, serta kepastian regulasi dari pemerintah. “Kami memadukan 187 universitas terbaik di Indonesia dengan sekitar 50.000 industri besar untuk melakukan transfer technology dan saling melengkapi. Salah satu output-nya adalah peluncuran riset vaksin mRNA pertama di dunia untuk demam berdarah,” urai pakar neurosains tersebut. Apresiasi tinggi terhadap langkah taktis UMM dalam memadukan keilmuan dan praktik bisnis turut disampaikan oleh Dewan Pakar Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D. Ia menilai bahwa UMM adalah wujud ideal dari tata kelola kampus Muhammadiyah karena berani melakukan ekspansi usaha komersial sembari terus menjaga muruah dan kualitas akademik. “Saya salut dengan seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang. Ada banyak perguruan tinggi Muhammadiyah, tapi yang berkembang pesat memadukan tempat sains dan tempat mempraktikkan ilmu seperti UMM ini tidak banyak,” ungkap Lincolin. Guna menjawab tantangan era disrupsi dan ketidakpastian global, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menekankan bahwa UMM terus melakukan transformasi masif melalui program Center of Excellence (CoE) serta pembekalan digital dasar bagi mahasiswa. Ia menegaskan, kolaborasi lintas sektoral dengan berbagai pihak, termasuk BPOM, akan semakin memperkuat ekosistem solusi komprehensif di lingkungan kampus. “Ke depan, UMM akan dilandasi tiga fondasi utama yang kami sebut Excellent Solution Center, yaitu pengembangan Service Excellence Hub, Industrial and Business Partnership, serta menjadikan kampus ini sebagai Talent Incubator Pool,” terangnya. Momen wisuda ini bukan sekadar euforia seremonial pelepasan akademik semata. Di pundak para wisudawan kini memikul amanah besar untuk berani bermimpi, gigih berjuang, dan langsung mengabdi. Gelar sarjana, magister, maupun doktor harus menjadi senjata utama yang dipraktikkan secara riil agar mampu menjadi pilar solusi di tengah pusaran tantangan zaman, serta berkontribusi aktif membawa kemajuan dan kemaslahatan bagi bangsa Indonesia.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman